Minggu, 06 Maret 2011

ULUMUL QUR’AN

A. PENGERTIAN ULUMUL QUR’AN
Ungkapan ulumul qur’an berasal dari bahasa arab yaitu dari kata ulum dan al-qur’an. Kata ulum jamak dari ilmu dan al-qur’an. Menurut Abu syahbah ulumul qur’an adalah sebuah ilmu yang memiliki banyak objek pembahasan yang berhubungan dengan al-qur’an,mulai dari proses penurunan, urutan penulisan,kodifikasi,cara pembaca,penafsiran,nasikh mansukh,muhkam mutashabih serta pembahasan lainnya
B. SEJARAH TURUNNYA ALQUR’AN DAN PENULISAN ALQUR’AN
Hikmah diwahyukan alqur’an secara berangsur-angsur adalah al-qur’an diturunkan dalam waktu 22 tahun 2 bulan 22 hari yaitu mulai dari malam 17 romadhan tahun 41 dari kelahiran nabi sampai 9 dzulhijah haji wada’ tahun 63 dari kelahiran nabi atau tahun 10 H. Proses turunnya ql-quran melalui 3 tahapan yaitu
1. Al-qur’an turun secara sekaligus dari Allah ke lauh mahfuzh yaitu tempat yang merupakan catatan tentang segala ketentuan dan kepastian Allah. Dalam firmanya “ Bahkan yang didustakan mereka ialah Al-qur’an yang mulia yang tersimpan dalam lauh al-mahfuzh (Q.S AL-buruuj :21-22)
2. Al-qur’an diturunkan dari lauh al mahfuzh ke bait Al-Izzah ( tempat yang berada di langit dunia )
3. Al-qur’an diturunkan dari bait al-Izzah ke dalam hati nabi melalui malaikat jibril dengan cara berangsur-angsur sesuai dengan kebutuhan. Adakala satu ayat kadang satu surat.
Disamping hikmah diatas ada hikmah yang lainnya yaitu
1. Memantapkan hati nabi
2. Menentang dan melemahkan para penentang Al-qur’an
3. Memudahkan untuk dihafal dan difahami
4. mengikuti setiap kejadian yang menyebabkan turunya ayat-ayat al-qur’an dan melakukan penahapan dalam penetapan syari’at
5. membuktikan dengan pasti bahwa al-qur’an turun dari allah yang maha bijaksana
Penulisan al-qur’an pada masa Abu Bakar termotivasi karena kekwatiran sirnanya al-qur’an dengan syahitnya beberapa penghapal Al-qur’an pada perang yamamah, Abu bakar melakukan pengumpulan al-qur’an dengan mengumpulkan al-qur’an yang terpencar-pencar pada pelepah kurma,kulit,tulang dan sebagainya
C. ASBAB AN-NUZUL
Ungkapan asbab-nuzul merupakan bentuk idhofah dari asbab dan nuzul. Secara etimologi artinya sebab-sebab yang melatar belakangi terjadinya sesuatu. Menurut Az-zargani Asbabuan-nuzul adalah sesuatu yang terjadi serta hubungan dengan turunya ayat Al-qur’an yang berfungsi sebagai penjelas hukum pada saat peristiwa itu terjadi.Menurut Az-zargani urgensi asbab an-nuzul dalam mmahami Al-qur’an adalah
1. Membantu dan memahami sekaligus mengatasi ketidak pastian dalam menangkap pesan ayat-ayat Al-qur’an.
2. Mengatasi keraguan ayat yang diduga mengandung pengertian umum.
3. Mengkhususkan hukum yang terkandung dalam ayat al-qur’an bagi ulama yang berpendapat bahwa yang menjadi pegangan adalah sebab yang bersifat kusus.
4. Mengidentifikasi pelaku yang menyebabkan turunnya ayat al-qur’an.
5. Memudahkan untuk menghapal dan memahami ayat serta untuk memantapkan wahyu ke dalam hati orang yang mendengarnya.
D. MUNASABAH AL QUR’AN
Menurut Manna Al-qathan munasabah adalah sisi keterikatan antara beberapa ungkapan di dalam satu ayat,atau antar ayat pada beberapa ayat atau antar surat dalam al-qur’an. As-Suyuti menjelaskan langkah-langkah yang diperhatikan dalam menemukan munasabah yaitu:
a. Memperhatikan tujuan pembahasan suatu surat yang menjadi objek pencarian
b. Memperhatikan uraian ayat-ayat yang sesuai dengan tujuan yang dibahas dalam surat
c. Menentukan tingkatan uraian-uraian itu apakah ada hubungannya atau tidak
d. Dalam mengambil keputusan,hendaknya memperhatikan ungkapan-ungkspan dengan benar dan tidak berlebihan
Macam-macam munasabah;
1. Munasabah antar surat dengan surat sebelumnya: berfungsi sebagai menyempurnakan surat sebelumnya
2. Munasabah antara nama surat dan tujuan turunya
3. Munasabah antar bagian suatu ayat
4. Munasabah antar ayat yang letaknya berdampingan
5. Munasabah antara suatu kelompok ayat dengan kelompok ayat disampingnya
6. Munasabah antara fashilah (pemisah)dan isi ayat
7. Munasabah antara awal surat dengan akhir surat yang sama
8. Munasabah antara penutup suatu surat dengan awal surat berikutnya
E. MAKIYAH DAN MADANIYAH
“Makiyah ialah ayat – ayat yang diturunkan sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah,kendatipun bukan turun di Mekkah .Madaniyah adalah ayat-ayat yang diturunkan sesudah Rasulullah hijrah ke Madinah,kendatipun bukan turun di madinah.Ayat-ayat yang turun setelah peristiwa hijrah di sebut Madaniyyah walaupun turun di Mekkah atau Arafah.”
Ciri-ciri spesifik makiyah dan madaniyah
1. Makiyah
a. Di dalamnya terdapat sajadah
b. Ayat-ayatnya dimulai dengan kalla
c. Dimulai dengan ya-ayuha an-nas
d. Ayatnya mengandung tema kisah para nabi dan umat- umat terdahulu
e. Ayatnya berbicara tentang kisah nabi Adam dan Idris kecuali surat al-baqoroh
f. Ayatnya dimulai dengan huruf terpotong- potong seperti alif lam mim dan sebagainya
2. Madaniyah
a. Mengandung ketentuan-ketentuan faroid dan hadd
b. Mengandung sindiran-sindiran terhadap kaum munafikkecuali surat al-ankabut
c. Mengandung uraian tentang perdebatan dengan ahli kitab
F. MUHKAM DAN MUTASYABIH
Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang maksudnya dapat diketahui dengan gamblang baik melalui ta’wil ataupun tidak
Ayat mutasyabih adalah ayat yang maksudnya dapat diketahui Allah seperti kedatangan kedatangan hari kiamat, kedatangan dajjal.
Hikmah keberadaan ayat mutasabih dalam Al-qur’an adalah:
1. Memperlihatkan kelemahan akal manusia.
2. Teguran bagi orang-orang yang mengotak atik ayat mutasabih.
3. Memberikan pemahaman abstrak Illahi kepada manusia melalui pengalaman inderawi yang biasa disaksikannya.

G. QIRO’AT AL-QUR’AN
Qiro’at adalah ilmu yng mempelajari cara-cara mengucapkan kata-kata al-qur’an dan perbedaan-perbedaannya dengan cara menisbatkan kepada penukilnya.
Macam-macam qiro’at:
1. Qiro’at Sab’ah ( Qiro’at tujuh ) adalah imam-imam qiro’at ada tujuh orang, yaitu:
a. ‘Abdullah bin Katsir Ad-Dari (w.120 H ) dari Mekkah.
b. Nafi’ bin ‘Abdurrahman bin Abu Na’im (w .169 H ).dari madinah
c. ‘Abdullah Al-yashibi (w.118 H ) dari Syam
d. Abu Amar (w.154 H ) dari Irak
e. Ya’kub (w.205 H ) dari Irak
f. Hamzah (w.188 )
g. ‘Ashim (w.127 H )
2. Qiro’ah Asyiroh adalah qiro’ah sab’ah ditambah dengan 3 imam yaitu: Abu Ja’far, Ya’kub bin Ishaq, kalaf bin hisyam
3. Qiro’ah Arba Asyiroh (qiro’ah empat belas) yaitu qiro’ah sepuluh ditambah dengan 4 imam yaitu Al-hasan al basri, muhammad bin abdul rohman,yahya bin mubarok,Abu fajr muhammad bin ahmad.
Dari segi kualitas qiro’ah dapat dibagi menjadi
1. Qiro’ah Mutawwatir yaitu qiro’ah yang disampakan kelompok orang yang sanatnya tidak berbuat dusta
2. Qiro’ah Mashur yaitu qiro’ah yang memiliki sanad sahih dan mutawatir
3. Qiro’ah ahad yaitu memiliki sanad sahih tapi menyalahi tulisan mushaf usmani dan kaidah bahasa Arab
4. Qiro’ah Maudhu yaitu palsu
5. Qiroah Syadz Yaitu menyimpang
6. Qiro’ah yang menyerupai hadist mudroj (sisipan)

SEJARAH RINGKAS ILMU KALAM

. Sejarah Ringkas इल्मुकलम


Kajian Islam terbagi kepada berbagai bidang ilmu yang antara lain adalah ilmu tafsir, ilmu hadis, ilmu tawhid, ilmu kalam,
dan ilmu fikih. Ilmu kalam membahas tentang Tuhan, rasul-rasul, wahyu, akhirat, iman dan hal-hal yang berkaitan
dengan itu. Ilmu kalam disebut juga ilmu usuluddin, ilmu ‘aqa’id, dan teologi. Dalam mengkaji dan
membahas materi ilmu kalam ini terdapat bermacam-macam cara memahaminya di kalangan umat Islam. Paham yang
lahir dari suatu cara memahami materi ilmu kalam ini dalam bahasa Arab disebur firqah yang jamaknya firaq. Firqah
dalam bahasa Indonesia disebut aliran. Aliran-aliran dalam ilmu kalam disebut dalam bahasa Arab al-firaq al-Islamiyah.


Untuk aliran dalam fikih disebut mazhab. Namun, belakangan penggunaan sebutan-sebutan ini sudah tidak terlalu ketat
lagi sehingga kata mazhab kadang-kadang sudah digunakan oleh sementara orang untuk maksud aliran dalam ilmu
kalam. Persoalan yang pertama-tama muncul dalam Islam adalah persoalan di bidang politik. Waktu Nabi Muhammad
Saw. wafat, muncul persoalan siapa yang berhak menjadi penggantinya sebagai khalifah. Menurut sejarah, Abu Bakar
disetujui menjadi Khalifah pertama. Khalifah kedua, Umar, ketiga Usman, dan keempat Ali. Terbunuhnya Usman dan
naiknya Ali menjadi Khalifah keempat kemudian menimbulkan masalah.

Pada tahun 37 H, terjadi perang antara Ali sebagai Khalifah dan Mu‘awiyah sebagai Gubernur Syam. Perang ini
terjadi di Siffin sehingga perang ini dikenal dengan perang Siffin. Karena pasukan Mu‘awiyah terdesak dan sudah
siap untuk mundur, tangan kanannya yang terkenal licik, ‘Amr ibn al‘Ash minta berdamai dengan
mengangkatkan Al-Quran ke atas. Para qari di barisan Ali minta agar perdamaian itu diterima Ali. Ali dan sebagian
pengikutnya keberatan. Tapi, karena desakan, akhirnya Ali menyetujuinya. Disepakati bahwa Abu Musa alAsy‘ari
mewakili Ali dan ‘Amr ibn al‘Ash mewakili Mu‘awiyah. Dengan alasan menghormati orang tua,
‘Amr meminta Abu Musa lebih dahulu berdiri memakzulkan Ali dan kemudian ‘Amr memakzulkan
Mu‘awiyah. Setelah Abu Musa memakzulkan Ali, ‘Amr berdiri mengukuhkan Mu‘awiyah menjadi
Khalifah.


Kekacauan terjadi. Pasukan Ali yang sejak semula tidak setuju dengan perdamaian tipu itu keluar dari barisan ‘Ali
dan menjadi penentangnya dan sekaligus penentang Mu‘awiyah. Kelompok yang keluar ini disebut Khawarij.
Mereka memandang Ali, Mu‘awiyah, Abu Musa, ‘Amr ibn al‘Ash dan orang-orang yang setuju
dengan perdamaian yang disebut dalam sejarah arbitrase sebagai kafir. Tak berapa lama, Khawarij ini pecah pula
kepada beberapa sekte yang antara satu dengan lainnya saling mengkafirkan dan menghalalkan darahnya. Persoalan
kafir pun berkembang. Kalau tadinya kafir itu berarti orang yang tidak berhukum kepada Al-Quran, maka kemudian
pelaku dosa besar (murtakib alkabirah), yakni pembunuh Usman pun dihukum kafir. Ternyata, persoalan ini
menimbulkan tiga aliran.

Pertama Khawarij yang memandang pelaku dosa besar kafir. Kedua aliran Murji’ah yang memandang pelaku
dosa besar tetap mukmin dan hukumannya ditangguhkan kepada Mahkamah Allah untuk mengampuninya atau tidak
mengampuninya. Ketiga aliran Muktazilah yang memandang pelaku dosa besar berada di antara dua posisi mukmin dan
kafir (almanzilah bain almanzilatain). Di luar tiga golongan ini, masih tinggal golongan yang mengikuti paham mayoritas

Kembali Ke Atas Go down

Lihat profil userhttp://alumnifiad.youneed.us

Admin
Admin
Admin


Jumlah posting: 136
Age: 30
Registration date: 26.10.08

PostSubyek: Re: SEJARAH SINGKAT ALIRAN-ALIRAN DALAM ISLAM Tue Dec 16, 2008 3:25 pm


umat Islam yang kemudian dikenal dengan golongan Ahlus Sunnah wa alJama‘ah. Al Hasan al Basri (w. 110 H)
Imam Malik (w. 179 H) dan Imam Ahmad ibn Hanbal (w. 241 H) adalah di antara tokoh-tokoh Ahlus Sunnah.

Paham Ahlus Sunnah ini kemudian dipertegas oleh Abu al Hasan al Asy‘ari (w. 330 H). Menurut dia, Allah
mengetahui dengan ilmu, hidup dengan hayah, menghendaki dengan iradah. Ilmu Allah esa dan ta‘alluq
(berobjek) kepada segala yang maklum. Setiap yang wujud dapat dilihat. Karena itu, Allah dapat dilihat karena Ia wujud.
Pelaku dosa besar jika tidak taubat, maka hukumannya terserah kepada Allah. Manusia mujbar (terpaksa), tetapi Allah
memberi kasab baginya. Alquran adalah kalam Allah yang qadim. Selain Abu al Hasan al Asy‘ari, dikenal pula
Ahmad at Tahawi (w. 322 H) di Mesir dan Abu Mansur al Maturidi as Samarkandi (w. 333 H) yang ketiganya disebut
dalam sejarah sebagai pendiri aliran Sunni. Namun karena antara mereka terdapat juga perbedaan, maka yang lebih
tepat paham mereka dibanggakan kepada masing-masing. Misalnya, paham Asy‘ariyah, paham Maturidiyah dan
paham Tahawiyah.

Pendiri paham Mu‘tazilah adalah Wasil ibn ‘Ata’ (w. 131 H) di Basrah. Ia adalah murid al Hasan al
Basri. Ketika mendiskusikan hukum pelaku dosa besar, Wasil berdiri dari majlis alHasan dan pergi ke satu sudut dari
Masjid Basrah.Di sana ia berkata bahwa pelaku dosa besar tidak kafir dan tidak Mukmin, melainkan almanzilah bain
almanzilatain (posisi di antara dua posisi). Sejak itu, paham ini berkembang menjadi satu aliran. Di atas telah disebutkan
pokok ajaran mereka. Menurut mereka, Al-Quran makhluk, manusia berbuat dengan kehendaknya sendiri, tidak ada
takdir, Tuhan tidak dapat dilihat, mengutus Rasul wajib bagi Allah.

Sebagai pengaruh penggunaan akal yang semakin besar dalam memahami nas, muncul pula paham Qadariyah dan
Jabariyah. Menurut Qadariyah, manusia mempunyai kemerdekaan dalam berkehendak dan berbuat (free will and free
act). Orang pertama berpaham Qadariyah adalah Ma‘bad alJuhani yang terbunuh pada tahun 80 H. Menurut
Jabariyah, manusia tidak mempunyai kebebasan dalam berkehendak dan berbuat (predestination atau fatalism). Orang
pertama berpaham Jabariyah adalah Ja‘d ibn Dirham (w. 124 H). Kemudian, paham ini dikembangkan oleh
muridnya Jahm ibn Safwan yang dihukum mati dan dibunuh pada tahun 127 H karena menurut dia sorga dan neraka
akan binasa atau tidak kekal. Sekarang Agus Mustafa lahir di Indonesia membawa paham Jahm ibn Safwan ini dalam
bukunya yang berjudul, Ternyata Akhirat Tidak Kekal.

Pendukung Ali dalam bahasa Arab disebut Syi‘ah ‘Ali. Syi‘ah ‘Ali juga membentuk aliran
yang memiliki paham yang berbeda dengan lainnya. Syiah pun memiliki sekte-sekte. Ahlus Sunnah pun bermacammacam
pula yang pada garis besarnya ada dua, Salaf atau Salafi dan Khalaf. Paham Salaf diwakili Imam Ahmad ibn
Hambal (w.241 H), Abu al Hasan al Asy‘ari (w. 330 H) dan Syekh Ibn Taimiyah (w. 728 H), sedang paham Khalaf
diwakili al Baqillani (w.403 H) dan al Juwaini (w. 478 H). Perbedaan pokok antara Salaf dan Khalaf adalah soal takwil.
Takwil berarti memberi makna kepada nas Alquran dan Hadis dengan makna yang jauh, tidak makna zahirnya.
Misalnya, yadullah diartikan oleh Salaf dengan ‘tangan Allah.’ Khalaf mengartikannya dengan
‘kekuasaan Allah.’

Demikianlah lahir dan berkembang aliran-aliran dalam Islam. Masing-masing berkembang menjadi sekte-sekte.
Sebagian sekte ini masih dalam lingkaran Islam dan sebagian lagi sudah tergelincir dari Islam. Misalnya, sekte
‘Ajaridah dari Khawarij tidak mengakui surat Yusuf sebagi bagian dari Alquran. Sebab, menurut mereka cerita
porno tidak layak menjadi isi Kitab Suci Alquran. Sekte Saba’iyah dari Syi‘ah yang berpendapat bahwa
wahyu itu seharusnya diturunkan kepada Ali, tetapi Jibril tersalah menurunkannya kepada Muhammad Saw. Tentunya
paham-paham seperti ini sudah tergelincir dari Islam.

SEJARAH PERADABAN ISLAM DI INDONESIA

SEJARAH PERADABAN ISLAM DI INDONESIA

Berbicara tentang peradaban sangat menarik (interestable), karena ia menjadi bagian dari kehidupan umat manusia yang signifikan. Sejarah manusia penuh dengan berbagai peradaban yang silih berganti, tergantung para penguasa dan para pemimpin dunia. Mereka yang kuat akan menentukan model peradaban umat manusia. Apalagi di era global ini, model peradaban hampir menjadi seragam karena sekat-sekat teritorial, nasional, budaya, agama, dan ras tidak mampu membentengi dirinya dari upaya memasarkan model peradaban yang menjadi trend di pihak-pihak yang kuat dan berkuasa. Sehingga pada gilirannya, corak-corak budaya, agama, nasional, dan ras menjadi luntur dan akhirnya hancur, kemudian diganti dengan model paradaban yang mendunia.

Peradaban islam adalah terjemahan dari kata Arab al – hadha- rah al – islamiyah.Kata arab ini juga sering di artikan dalam bahasa indonesia dengan kebuayaan islam “kebudayaan” dalam bahasa arab adalah al-tsaqafa, di indonesia,sebagai mana juga di arab dan barat.

Kalau kita baca definisi kebudayaan (culture), misalnya dalam Kamus yang sama: (1). The totality of socially transmitted behavior patterns, arts, beliefs, institutions, and all other products of human work and thought…., maka kebudayaan memiliki makna yang hampir sama dengan peradaban. Keduanya adalah hasil kerja manusia pada suatu zaman. Namun, dalam pembicaraan secara umum, peradaban nuansanya lebih luas, lebih menyeluruh, lebih sophisticated, dan lebih mentereng.

Disamping itu, berbeda dengan kebudayaan, peradaban lebih dekat dengan struktural (kekuasaan), bahkan melingkupinya. Sedang kebudayaan, biasanya malah sering disebut sebagai antitesa dari kekuasaan (struktural), sehingga sering muncul istilah ‘pendekatan struktural’ dan ‘pendekatan kultural’. Belum lagi dalam keseharian, kebudayaan malah dipersempit lagi dengan aspek2 kesenian belaka. Bahkan kedua aspek itu sering digabung menjadi seni-budaya. Karenanya berbeda dengan kebudayaan yang bisa dibiarakan relatif terlepas dari kekuasaan, peradaban hampir selalu terkait dengan kekuasaan.

Islam diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa bangsa arab yang semula terkebelakang, bodoh, tidak terkenal,dan di abaikan oleh bangsa- bangsa lain,menjadi banngsa yang maju.Ia dengan cepat bergerak mengembangkan dunia, membina suatu kebudayaan dan pradaban yang sangat penting artinya dalam sejarah manusia hingga sekarang.bahkan kemajuan wilayah barat bersumber dari peradaban islam yang masuk ke Eropa melalui Spayol.

Ketika berbicara tentang masa lalu kaum muslimin bisa jadi sebagian orang –muslim- merasa kurang tertarik bahkan terkesan tidak mau membicarakannya. Inilah buah dari pendidikan kita yang sekuler, Islam tidak diperkenalkan secara komprehensif sebagai peradaban yang agung dan mulia namun hanya diperkenalkan sebagai sebuah ‘agama’ belaka, bukan sebagai sebuah aturan hidup di segala bidang (Idiologi).

Gambaran Islam sebagai sebuah peradaban secara objektif yang terdiri dari aspek kebudayan materi (madaniah) dan kebudayaan inmateri (Tsaqafah) sedikit sekali kita temukan dibuku-buku standar pendidikan kita hingga hari ini.

Peradaban Islam yang dibangun oleh kebudayan materi (madaniah) yaitu hasil karya fisik yang disyariatkan maupun yang bersifat mubah, yaitu produk ilmu pengetahuan dan teknologi. Adapun kebudayaan inmateri (Tsaqafah) yaitu berupa pemikiran yang berfondasikan aqidah dan syariah islam yaitu aturan beribadah dengan sang pencipta, aturan pergaulan, ilmu ekonomi, pendidikan, aturan pemerintahan, kemiliteran, aturan hukum, hingga aturan berhubungan dengan luar negeri.

Dalam ranah sejarah, harapan membangun kaum muslimin bangga terhadap Agamanya sehingga ingin mengamalkan agamanya dan memperjuangkannya, justru terbalik, karena yang ditemukan dalam sejarah Peradaban Islam ternyata kejumudan, penindasan, pengkhianatan, pembunuhan, kerakusan, dsb. Apa sebab? Ternyata yang kita baca selama ini referensinya kebanyakan dari para orientalis barat yang jelas-jelas membenci islam.

Imbas dari pandangan negatif terhadap Sejarah Peradaban Islam adalah dimarjinalkannya ilmu-ilmu islam lainnya. Aqidah dikaji secara dangkal, difahami sebagai Rukun Iman belaka yang dicukupkan untuk dihapal dan dilisankan, bukannya untuk perlihatkan, diamalkan. Syariah sering didengung-dengungkan tetapi mengkajinya jarang-jarang.Bahasa arab dipinggirkan. Al-Qur’an lebih banyak dilagukan daripada dijadikan petunjuk dan pedoman kehidupan. As-Sunnah sering diperbincangkan namun contoh Rasulullah seringkali diacuhkan. Padahal tidak akan terlihat idealitas keagungan dan kemuliaan Islam tersebut apabila tidak difaktual dalam kehidupan. Saya rasa sedang kita rasakan saat ini. Itulah kiranya fakta kemunduran umat muslim saat Ini.

Barat menuduh kaum muslimin sebagai kaum yang bengis, dan agamanya adalah agama yang jumud, anti ilmu, anti pemikiran serta kreatifitas dalam seluruh segemen. Ini adalah penghinaan murni kepada Islam dan umatnya. Kaum muslimin terdahulu, adalah pembawa obor ilmu pengetahuan, membangun pilar-pilar peradaban Islam yang telah menerangi dunia ini, dan hingga sekarang tetap meneranginya.Memang benar, kaum muslimin mengetahui peradaban-peradaban umat sebelumnya, dan mereka mengambil manfaat pelajaran darinya dan bahkan menambahkannya, membenarkan yang benar, lalu mereka membuat kreasi baru di setiap lapangan ilmu pengetahuan dan kemanusiaan di saat Eropa dalam kegelapan. Kemajuan Eropa di segala bidang yang telah diraihnya pun tak terlepas dari peradaban Islam dan kaum muslimin.

Kejadian-kejadian dan penemuan-penemuan yang telah ditemukan oleh tokoh-tokoh ilmuwan muslim terdahulu jarang diwacanakan atau diinformasikan kepada kita. Sebaliknya, – pada masa kejayaan islam- dimanipulir oleh Barat., lalu mereka menisbatkan penemuan-penemuan tersebut kepada tokoh-tokoh mereka. Sebagai contoh, Isaac Newton, , Barat menobatkan ia sebagai penemu teori gravitasi bumi. Padahal, Tsabit bin Qarah telah menemukan teori itu seratus tahun sebelumnya daripada Newton.

Dimanakah Sejarah Peradaban Islam Indonesia?

Peradaban yang dibangun oleh Nabi Muhammad Saw. adalah peradaban yang dibangun di atas pijakan pandangan dunia agama bukan materi. Islam lebih mengedepankan nilai-nilai ruhani dan kemanusiaan. Materi – termasuk teknologi – bukan tujuan utama tetapi hanya aksidental. Keberhasilan menurut Islam tidak diukur dengan perolehan materi yang banyak tetapi diukur dengan pendekatan diri kepada Allah dan memperbanyak bekal untuk hari akhir. Imam Ali as. di saat kepalanya ditebas oleh seorang Khawarij secara spontan berkata, “Demi Tuhan Ka’bah, aku telah berhasil !”. Sampainya seseorang kepada Allah Swt dan berkhidmat kepada manusia adalah prestasi yang dituntut oleh Islam. Materi sebagai materi tidak mempunyai nilai apapun di mata Islam. Materi akan berarti jika dimaknai dengan tujuan-tujuan akhirat. Dalam tulisan ringkas ini, saya tidak perlu mengutip ayat maupun hadis tentang iman dan amal kebaikan, karena sangat banyak ayat dan hadis yang menjelaskan hal tersebut.

Nabi Muhammad Saw. dengan peradaban yang berdasarkan nilai-nilai agama dan kemanusiaan berhasil mengalahkan dua kekuatan yang kuat; Persia dan Romawi yang membangun peradaban dengan kekuatan materi. Meskipun pada perkembangan berikutnya para pemimpin Islam, khususnya khilafah Abbasiyyah, lebih concern pada pembangunan materi bukan pengembangan nilai-nilai agama dan kemanusiaan.

Jauh sebelum Islam masuk ke Indonesia, bangsa Indonesia telah memeluk agama hindu dan budha disamping kepercayaan nenek moyang mereka yang menganut animisme dan dinamisme. Setelah Islam masuk ke Indonesia, Islam berpengaruh besar baik dalam bidang politik, sosial, ekonomi,maupun di bidang kebudayaan yang antara lain seperti di bawah ini.

Pengaruh Bahasa dan Nama
Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan sangat banyak dipengaruhi oleh bahasa Arab. Bahasa Arab sudah banayk menyatu dalam kosa kata bahasa Indonesia, contohnya kata wajib, fardu, lahir, bathin, musyawarah, surat, kabar, koran, jual, kursi dan masker. Dalam hal nama juga banyak dipakai nama-nama yang berciri Islam (Arab) seperti Muhammad, Abdullah, Anwar, Ahmad, Abdul, Muthalib, Muhaimin, Junaidi, Aminah, Khadijah, Maimunah, Rahmillah, Rohani dan Rahma.

Pengaruh Budaya, Adat Istiadat dan Seni
Kebiasaan yang banyak berkembang dari budaya Islam dapat berupa ucapan salam, acara tahlilan, syukuran, yasinan dan lain-lain. Dalam hal kesenian, banyak dijumpai seni musik seperti kasidah, rebana, marawis, barzanji dan shalawat. Kita juga melihat pengaruh di bidang seni arsitektur rumah peribadatan atau masjid di Indonesia yang banayak dipengaruhi oleh arsitektur masjid yang ada di wilayah Timur Tengah.

Pengaruh dalam Bidang Politik

Pengaruh ini dapat dilihat dalam sistem pemerintahan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia seperti konsep khilafah atau kesultanan yang sering kita jumpai pada kerajaan-kerajaan seperti Aceh, Mataram. Demak, Banten dan Tidore

Pengaruh di bidang ekonomi

Daerah-daerah pesisir sering dikunjungi para pedagang Islam dari Arab, Parsi,dan Gujarat yang menerapkan konsep jual beli secara Islam. Juga adanya kewajiban membayar zakat atau amal jariyah yang lainnya, seperti sedekah, infak, waqaf, menyantuni yatim, piatu, fakir dan miskin. Hal itu membuat perekonomian umat Islam semakin berkembang.

Ulama dan Intelektual; Simbol Peradaban Islam Indonesia

Sangat disayangkan.. “penglihatan” sejarah Islam di Indonesia tidak memunculkan “periodisasi keemasan” peradaban Islam dalam kurun waktu abad 16 sampai 18 M, karena periodisasi yang muncul adalah masa “prakolonialis”. Padahal pada masa ini tumbuh peradaban Islam yang setaraf dengan sejarah peradaban Islam di Timur Tengah masa Daulah Abassiyah. Bukti-bukti yang menunjukan lahirnya peradaban Islam di Indonesia adalah dengan munculnya para Ulama dan Intelektual Islam di seluruh penjuru Nusantara. Mereka diantaranya :
- Syeikh Hamzah al-Fansuri (Sasterawan sufi agung)
- Syeikh Nuruddin ar-Raniri (Ulama ahli debat,tersohor di Aceh)
- Habib Husein al-Qadri (Penyebar Islam Kalimantan Barat)
- Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari (Pengarang Sabil al-Muhtadin)
- Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari (Ulama sufi dunia Melayu)
- Syarif Abdur Rahman al-Qadri (Sultan pertama kerajaan Pontianak)
- Syeikh Abdul Rahman Minangkabau (Mursyid Thariqat Naqsyabandiyah)
- Mufti Jamaluddin al-Banjari (Ahli undang-undang Kerajaan Banjar)
- Ahmad Khathib Sambas (Mursyid Tariqat Qadiriyah)
- Syeikh Nawawi al-Bantani (Digelar Imam Nawawi kedua)
- Muhammad Khalil al-Maduri (Guru ulama Jawa, Madura)
- Saiyid Utsman Betawi (Mufti paling masyhur)
- Tuanku Kisa-i al-Minankabawi lahirkan tokoh besar Hamka
- Raja Muhammad Sa’id – Cendekiawan Istana Riau
- dll

….. sayang sedikit pengetahuan tentang mereka..padahal mereka telah memberikan andil besar dalam peradaban Islam di Indonesia dengan karya-karya kitab yang mereka tulis. Tulisan tangan asli para ulama yang disebut manuskrip, merupakan bukti sejarah perkembangan Islam di kawasan ini. DR H Uka Tjandrasasmita, seorang Arkeolog Islam menyatakan ; Di Aceh, pada abad 16–17 terdapat cukup banyak penulis manuskrip. Misalnya, Hamzah Fansuri, yang dikenal sebagai tokoh sufi ternama pada masanya. Kemudian ada Syekh Nuruddin ar-Raniri alias Syeikh Nuruddin Muhammad ibnu ‘Ali ibnu Hasanji ibnu Muhammad Hamid ar-Raniri al-Quraisyi. Ia dikenal sebagai ulama yang juga bertugas menjadi Qadhi al-Malik al-Adil dan Mufti Muaddam di Kesultanan Aceh pada kepemimpinan Sultan Iskandar Tsani abad 16. Salah satu karyanya yang terkenal berjudul ”Bustanul Salatin.” Syeikh Abdul Rauf al-Singkili yang juga ditetapkan sebagai Mufti dan Qadhi Malik al-Adil di Kesultanan Aceh selama periode empat orang ratu, juga banyak menulis naskah-naskah keislaman.

Karya-karya mereka tidak hanya berkembang di Aceh, tapi juga berkembang seluruh Sumatera, Semenanjung Malaka sampai ke Thailand Selatan. Karya-karya mereka juga mempengaruhi pemikiran dan awal peradaban Islam di Pulau Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara, kepulauan Maluku, Buton hingga Papua. Sehingga di daerah itu juga terdapat peninggalan karya ulama Aceh ini. Perkembangan selanjutnya, memunculkan karya keislaman di daerah lain seperti, Kitab Sabilal Muhtadin karya Syekh al Banjari di Banjarmasin. Di Palembang juga ada. Di Banten ada Syekh al Bantani yang juga menulis banyak manuskrip. Semua manuskrip ini menjadi rujukan umat dan penguasa saat itu.

Taufik Abdullah (2002) membagi sejarah peradaban Islam di Nusantara dari abad ke-13 hingga pertengahan abad ke-19 M ke dalam tiga gelombang, yaitu :

  1. Gelombang Pertama adalah gelombang diletakkannya dasar-dasar kosmopolitanisme Islam, yaitu sikap budaya yang menjadikan diri sebagai bagian dari masyarakat kosmopolitan dengan referensi kebudayaan Islam. Gelombang ini terjadi sebelum dan setelah munculnya kerajaan Samudra Pasai hingga akhir abad ke-14 M.
  2. Gelombang Kedua terjadi proses islamisasi kebudayaan dan realitas secara besar-besaran. Islam dipakai sebagai cermin untuk melihat dan memahami realitas. Pusaka lama dari zaman pra-Islam, yang Syamanistik, Hinduistik dan Buddhistik ditransformasikan ke dalam situasi pemikiran Islam dan tidak jarang dipahami sebagai sesuatu yang islami dari sudut pandang doktrin. Gelombang ini terjadi bersamaan dengan munculnya kesultanan Malaka (1400-1511) dan Aceh Darussalam (1516-1700).
  3. Gelombang Ketiga, ketika pusat-pusat kekuasaan Islam di Nusantara mulai tersebar hampir seluruh kepulauan Nusantara, pusat-pusat kekuasaan ini ‘seolah-olah’ berlomba-lomba melahirkan para ulama besar. Dalam gelombang inilah proses ortodoksi Islam mengalami masa puncaknya. Ini terjadi pada abad ke-18 – 19 M.

…… semoga kita bisa menghargai jasa besar ulama indonesia masa lalu….

Materi Psikologi Perkembangan

Materi Psikologi Perkembangan

Oleh: Jamaluddin

PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN 1. PERTUMBUHAN § Pertumbuhan adalah Perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal pada anak yang sehat dalam passage ( kurun waktu tertentu). § Pertumbuhan dapat diartikan pula sebagai proses transmisi dari konstitusi fisik (keadaan jasmaniah) yang herediter/ turun temurun dalam bentuk proses aktif secara berkesinambungan. PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN • 1. PERTUMBUHAN • Pertumbuhan adalah Perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal pada anak yang sehat dalam passage ( kurun waktu tertentu). • Pertumbuhan dapat diartikan pula sebagai proses transmisi dari konstitusi fisik (keadaan jasmaniah) yang herediter/ turun temurun dalam bentuk proses aktif secara berkesinambungan • Pertumbuhan = berakar pada organisme yang selalu berproses untuk menjadi, mekar, beroperasi/ berfungsi, dinamis, komplit = Perubahan dan pematangan fisik. • Takaran / Ukuran Pertumbuhan dalam bentuk : • berat, panjang, ukuran lingkaran : kepala, dada, pinggul, lengan, dll. • Hasil Pertumbuhan berwujud : • bertambah panjang badan anak, tambah berat, tulang-tulang jadi tambah besar, panjang, kuat, perubahan dlm system syaraf dan struktur jasmani lainnya. Contoh Pertumbuhan : • Pertumbuhan alat kelamin • Pertumbuhan susunan syaraf pusat • Pertumbuhan kepala • Indera penglihatan/ mata lebih cepat dari tangan dan kaki. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan : • Prenatal, seperti peristiwa kekurangan nutrisi pada ibu dan janin, janin terkena virus, keracunan dlm kandungan, infeksi oleh bakteri syphilis, terkena penyakit gabag, TBC, cholera, typhus, gondok, gula dll. • Natal, seperti pendarahan pada bagian kepala bayi, disebabkan oleh proses kelahiran yang kurang lancer, defek pada bagian susunan syaraf pusat karena bantuan tang/ vacuum. • Pasca natal, seperti pengalaman traumatik pada kepala, bayi jatuh, kepala terpukul, penyinaran, infeksi pada otak(celebral meningitis, malaria tropika,dll), kekurangan nutrisia, • Psikologis, seperti bayi yg ditinggalkan ibu/ ayahnya atau keduanya, bayi yg dibuang,anak-anak yang dititipkan di institusionalia. Hukum-hukum yang mengatur pertumbuhan • 1. Pertumbuhan itu kuantitatif dan kualitatif. • 2. Proses yg berkesinambungan dan teratur. • 3. Tempo pertumbuhan adalah tidak sama. • 4. Taraf perkembangan berbagai aspek pertumbuhan berbeda-beda. • 5. Kecepatan serta pola pertumbuhan dapat dimodifikasi oleh kondisi di dalam dan luar • 6. Pertumbuhan tiap individu menurut caranya sendiri yang unik. • 7. Kompleks dan semua aspeknya saling berhubungan. Aspek yang mempengaruhi pertumbuhan • Anak sebagai keseluruhan. • Umur mental anak • Permasalahan tingkah laku dan pola-pola pertumbuhan • Penyesuaian pribadi dan sosial. 2. PERKEMBANGAN • Pengertian Perkembangan *Objek perkembangan : perkembangan manusia sebagai pribadi / person. *Pengertian perkembangan menunjuk pada suatu proses ke arah yang lebih sempurna dan tdk begitu saja dpt diulang kembali (Werner, 1969) *Ediasri (dikutip Gunarsa, 1995) : perkembangan tdk terbatas dlm arti tumbuh mjd besar ttp mencakup rangkaian perubahan yg bersifat progresif, teratur, koheren dan berkesinambungan. * Kartini Kartono,1995 : Perkembangan ialah perubahan-perubahan psiko-fisik sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi psikis dan fisik pada anak,ditunjang oleh faktor lingkungan dan proses belajar.dalam pasage waktu tertentu,menuju kedewasaan. • Perkembangan dalam pengertian sempit disebut proses pematangan fungsi-fungsi non fisik. ANAK ---- STIMULASI LINGKUNGAN/ BELAJAR --- DEWASA. * Perkembangan anak tidak berlangsung scr mekanis otomatis. Sebab perkembangan tsb sangat bergantung pada beberapa faktor : 1. Herediter (bawaan) 2. Lingkungan 3. Kematangan 4. Aktivitas Contoh Perkembangan § Bayi usia 3 bulan memiringkan badan. § Usia 1 tahun anak mampu melangkahkan kaki tanpa bantuan. § Usia 2 tahun anak mulai fasih berbicara meski belum jelas. § Anak 3 tahun mulai menarik garis dan menggoreskan alat tulis,dll. Hukum-hukum Perkembangan • Perkembangan adalah kualitatif • Perkembangan sangat dipengaruhi proses dan hasil belajar • Usia ikut mempengaruhi perkembangan • Masing-masing individu memiliki tempo perkembangan yang berbeda-beda • Dalam keseluruhan periode, setiap spesies individu mengikuti pola umum yang sama. • Perkembangan yg lambat dpt dipercepat. • Meliputi proses Individuasi dan integrasi. TEORI-TEORI PERKEMBANGAN 1. Nativisme Nativis(pembawaan) : Anak sejak lahir membawa sifat-sifat dan dasar2 tertentu (sifat pembawaan).Oleh Schopenhauer-Lombrase. 2. Empirisme Manusia tidak memiliki pembawaan, perkembangan hidup manusia ditentukan oleh faktor dari luar/ ling hidup dan pendidikan.Oleh John Locke (T.Tabularasa), Watson. 3. Naturalisme Rousseau,Manusia itu pada dasarnya baik, ia jadi buruk/ jahat krn pengaruh kebudayaan. 4. Rekapitulasi Perkemb individu mrp ulangan dr perk sebelumnya.Oleh Stanley Hall. 5. Konvergensi Dalam perkembangannya manusia dipengaruhi oleh bakat/ pembawaan dan lingkungan.Oleh Stern. Periodesasi menurut Tokoh-tokoh Perkembangan 1. Menurut Aristoteles § - Periode anak kecil, usia sampai 7 th § - Periode anak sekolah, usia 7 – 14 th § - Periode pubertas (remaja), usia 14 – 21 th § Peralihan masa pertama ke kedua ditandai pergantian gigi. § Peralihan masa kedua ke ketiga ditandai tumbuhnya bulu-bulu menjelang masa remaja 2. Menurut Comenius § Masa sekolah ibu, sampai usia 6 th § Masa sekolah bahasa ibu, usia 6 – 12 th § Masa sekolah bahasa Latin, usia 12 – 18 th § Masa sekolah tinggi, usia 18 – 24 th 3. Menurut Kohnstamm § Masa vital (penyusu), sampai 1½ th § Masa anak kecil (estetis), 1½ - 7 th § Masa anak sekolah (intelektual), 7-14 th § Masa remaja, usia 14 – 21 th § Masa dewasa (matang), usia 21 th ke atas 4. Menurut Jean Piaget § Fase sensori motorik Pengalaman langsung panca indera, blm menggunakan bahasa § Fase pra operasional Suka meniru, mampu menerima khayalan, suka cerita ttg hal fantastik § Fase operasi konkret Berpikir mulai logis. Berpikir harafiah sesuai dgn tugas yg diberikan § Fase operasi formal Mengembangkan pola berpikir formal, logis, rasional dan abstrak Keterkaitan antara Pertumbuhan dan Perkembangan § Pertumbuhan berkat pematangan fungsi-fungsi fisik, § Pematangan fungsi-fungsi psikis, § Untuk optimalisasi potensi individu diperlukan proses belajar. Secara harfiah : Psikologi = ILMU JIWA)= KEHIDUPAN MENTAL (the science of mental life) = PIKIRAN (the science of mind) = TINGKAH LAKU (the science of behavior) BELAJAR - Merupakan proses penting bagi perubahan perilaku manusia dan ia mencakup segala sesuatu yang dipikirkan dan dikerjakan.(Catharina dkk,2006) - Suatu usaha atau kegiatan yg bertujuan mengadakan perubahan di dalam diri seseorang, mencakup perubahan tingkah laku, sikap, kebiasaan, ilmu pengetahuan, keterampilan,dsb.( M.Dalyono). - Proses Belajar,dikemukakan prinsip-prinsip belajar dan TL,remidial,Punishment dan belajar, nilai,pengalaman,kemajuan dan tujuan., - Kematangan : tugas-tugas hidup. - Perbedaan-perbedaan individual - Tantangan - Metode Mengajar - Disiplin dan Belajar - Hubungan kelompok - Mata Pelajaran - Sikap dan Belajar - Stratifikasi Sosial KONSEP BELAJAR § GAGNE dan BERLINER menyatakan bahwa belajar merupakan proses dimana suatu organisme mengubah perilakunya karena hasil dari pengalaman. § MORGAN : Belajar merupakan perubahan relatif permanen yang terjadi karena hasil dari praktek dan pengalaman § SLAVIN : Belajar merupakan perubahan individu yang disebabkan oleh pengalaman. § GAGNE : Belajar merupakan perubahan disposisi / kecakapan manusia, yang berlangsung selama periode waktu tertentu. Belajar Konsep Belajar mengandung 3 Unsur : n Belajar berkaitan dengan perubahan perilaku n Perubahan didahului oleh proses pengalaman n Perubahan perilaku karena belajar bersifat permanen. Unsur-unsur Belajar : • Pembelajar • Stimulus • Memori • Respon TUJUAN DALAM PEMBELAJARAN • Memberikan arah kegiatan pembelajaran • Mengetahui kemajuan belajar dan remidial theaching. • Bahan komunikasi HASIL BELAJAR Merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar. Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar 1. Kondisi internal pembelajar. Terdiri dari : fisik, psikis, sosial. 2. Kondisi eksternal pembelajar. Terdiri dari : variasi dan derajat kesulitan materi, tempat belajar, iklim, suasana lingkungan dan budaya belajar masyarakat. FAKTOR2 LAINNYA: 1. Sikap 2. Minat 3. Kebiasaan belajar 4. Motivasi 5. Konsep diri. 1.GURU DAN BELAJAR MENGAJAR • Guru sebagai pribadi kunci membawa pengaruh pada faktor imitasi, sugesti, identifikasi dan simpati : “identifying figure” *Peran Guru sebagai pengajar dan pembimbing. Peran guru sebagai pembimbing : - data siswa - tingkah laku siswa - siswa dgn bantuan khusus - komunikasi dan hub ortu - kerjasama masyarakat - catatan pribadi siswa - bimbingan kelompok / individu - kerjasama dgn pihak terkait - program bimb sekolah - mengukur kemajuan siswa GURU KREATIF Guru yang memiliki bnyk akal/ cara dlm melaksanakan tugas kesehariannya sbg tenaga kependidikan. 1. CIRI GURU TIDAK KREATIF 1. mengajar hanya sekedar mengajar 2. merasa pintar 3. penampilan santun sbg guru drpd kemampuannya. 4. berjarak dgn murid 5. tertib waktu, jadwal 6. semakin kuat pendirian, tidak mengenal perubahan. 2. CIRI GURU KREATIF 1. mengajar penuh keprihatinan 2. selalu merasa kurang 3. tidak amat santun, pemalu krn serba tidak tahu. 4. tidak berjarak dgn murid 5. tertib,kompromis 6. panik jika ada perubahan. Menjadi guru profesional Syarat menjadi guru yang baik, menguasai : - bahan belajar - keterampilan pembelajaran - evaluasi pembelajaran 1.Penguasaan bahan belajar Bahan belajar merupakan rangsangan yang dirancang oleh guru berupa stimulus pengetahuan, keterampilan dan sikap yang tidak/ sedikit oleh siswa. 2. Penguasaan keterampilan pembelajaran. Guru mampu mengaitkan kemampuan yg dimiliki dan akan dipelajari siswa. Pembelajaran yang efektif menuntut kemampuan guru : - merancang bahan belajar yg menarik - mggnakan pelbagai strategi pembelajaran - kemampuan mengelola kelas - membimbing akhlak - menjadi nara sumber, fasilitator dan motivator - memperhitungkan karakteristik intelektual,sosial dan kultural siswa - terampil bertanya dan memberi balikan - mereview pelajaran 3. Penguasaan evaluasi pembelajaran. EP Merupakan strategi yang digunakan oleh guru utk mengetahui efektivitas pembelajaran. Karenanya guru harus mampu : - menyusun instrumen evaluasi - melaksanakan ujian secara tertib/ teratur - menganalisis data hasil ujian - menafsirkan data hasil analisis - keputusan/ kelulusan scr obyektif (grading). Tujuan evaluasi: - mengetahui kesiapan belajar siswa - tingkat keberhasilan siswa - menemukan hambatan - klasifikasi karakteristik kemampuan siswa. - Uraikan tentang : 1. Kesiapan belajar siswa. 2. Siswa berprestasi. 3. Hambatan2 siswa. PRINSIP, FUNGSI DAN TEORI Belajar : - Usaha - Perubahan, peningkatan - Mengubah habit, sikap - Keterampilan, pengetahuan dan bidang ilmu. meliputi : • Kematangan jasmani dan rohani • Memiliki kesiapan • Memahami tujuan • Kesungguhan • Ulangan dan latihan. PRINSIP BELAJAR 1. Penguatan (Reinforcement) 2. Hukuman (Punishment) 3. Kesegaran pemberian penguatan Kesulitan Belajar dan Cara Mengatasinya Untuk apa belajar? * seni hidup,cahaya,luas,sikap mental * ILMU PENGETAHUAN * derajat, sukses Ragu? Yakin? *KUNCI Sikap mental cendekia: PD, optimis, no ragu, berani, tabah/sabar, manfaatkan kesempatan,action, skenario waktu dll, doa,tidak cepat puas. Strategi 1. Teratur 2. Disiplin bersemangat: sadar dan paksa 3. Konsentrasi Sebab- sebab susahnya konsentrasi : - kurang minat - banyak urusan - gangguan - kondisi fisik Hasbullah Thabrany (1994) : - internal :minat, emosi,sifat,fisik,target,masalah. - eksternal :gangguan luar,sarana,obyek, kondisi lingk, cuaca,jaduwal, prioritas. Tips : % Minat % ruang % kondusif % jauhi masalah kecil % alat tulis,rangkuman % istirahat % vitalitas. 4.Waktu Berhubungan dengan jadual. Sistematika pengaturan jadual: ü Perhitungan waktu dan kegiatan ü Tentukan alokasi sistematika ü Rencana ü Checking ü Efektifitas Why to effectively? ! Be adult,complicated ! So difficult ! So slowly 5.Istirahat dan tidur Kiat Menghindari Kesulitan Belajar a. Tentukan tujuan belajar b. Kenali sistem ingatan sdri - mudah ingat mudah lupa - sukar ingat mudah lupa - sukar menerima mudah ingat - mudah menerima mudah ingat c. Kenali rentang konsentrasi serta upaya d. Kenali tipe belajar sendiri e. Kenali sifat buku f. Jauhi sifat malas g. Penuhi keinginan sesaat h. Catat keinginan mendatang i. Catat tugas yang belum selesai j. Belum siap jangan belajar k. Jaga kondisi tubuh l. Istirahat m.Kosongkan pikiran dari kesan lain n. Kuasai bahasa KIAT BELAJAR SENDIRI • A. Mempunyai fasilitas dan perabot belajar • B. Mengatur waktu belajar • C. Mengulangi bahan • D. Menghafal Materi: * Menguji diri * Penggolongan, irama * Arti dan asosiasi(menghubungkan) * Memusatkan, jgn terlelap. • E. Membaca buku • F. Ringkasan dan ikhtisar • G. Mengerjakan tugas. • H. Memanfaatkan perpustakaan. MOTIVASI BELAJAR MOTIVASI merupakan konsep yg menjelaskan alasan seseorang berperilaku. Unsur motivasi : * Dimulai dari adanya perubahan energi pribadi * Ditandai dgn timbulnya perasaan * Ditandai oleh reaksi-reaksi untuk mencapai tujuan. Komponen motivasi : 1. Inner component 2. Outer component Inner component (hendak dipuaskan) Perubahan dlm diri seseorang, keadaan tidak puas, ketegangan psikologis. 2. Outer component (dicapai) Apa yg diinginkan seseorang, tujuan yg menjadi arah kelakuannya. Motivasi dan kebutuhan Kebutuhan ad kecenderungan2 permanen dlm diri seseorg yg menimbulkan dorongan dan kelakuan utk mencapai tujuan.Terjadi krn adanya internal change. Tugas guru ad bukan hnya meningkatkan motivasi siswa,ttp jg menemukan, memprakarsai, dan mendorongnya (merencanakan cara2). Fungsi Motivasi 1. Mendorong timbulnya kelakuan/ perbuatan 2.Pengarah, mengarahkan perbuatan kpd pencapaian tujuan 3. Penggerak, mesin bg mobil.Besar kecilnya menentukan cepat lambatnya pekerjaan. Prinsip Motivasi 1. Pujian lebih efektif 2. Setiap siswa memiliki kebutuhan psikologis 3. Motivasi dr dlm individu lebih efektif dr yg dipaksakan dr luar dirinya 4. Jawaban yg sesuai memerlukan usaha penguatan. 5. Motivasi mudah menular kpd orang lain 6. Pemahaman yg jelas akan akan menstimulasi motivasi 7. Tugas yg bersumber dr dirinya menimbulkan minat yg besar untuk mengerjakannya. 8. External Rewards itu penting 9. Teknik dan prosedur yg bervariatif akan efektif. 10. Minat khusus siswa berdaya guna untuk mempelajari hal lain. 11. Aktivitas yg mendorong minat siswa yg kurang tdk mempengaruhi siswa yg pandai 12. Tekanan dr kel siswa lbh efektif dr guru 13. Motivasi tinggi berhubungan dg kreativitas. 14. Kecemasan menyebabkan kesulitan belajar. 15. Kecemasan dan frustasi membantu siswa berbuat baik. 16. Tugas yg sukar mengakibatkan frustasi 17. Tiap siswa mempunyai tingkat frustasi dan toleransi yg beda. TEKNIK MOTIVASI • Pemberian penghargaan atau ganjaran • Pemberian angka atau grade • Keberhasilan dan tingkat aspirasi • Pemberian pujian • Kompetisi dan kooperasi • Pemberian harapan. TEORI –TEORI BELAJAR 1. IVAN PAVLOV Dikemukakan oleh para psikolog Behavioristik “Contemporary behaviorists” mereka berpendapat bhw Tingkah laku manusia itu dikendalikan oleh ganjaran (reward) atau reinforcement dari lingkungan. Guru-guru berpendapat bahwa tingkah laku murid merupakan reaksi2 thd lingkungan mereka pd masa lalu dan masa sekarang. § Teori Classical Conditioning Ivan Pavlov § Menyebutkan bahwa TL belajar memiliki hubungan yg erat antara reaksi behavioral dengan stimulasinya. 2. SKINNER (Operant Conditioning) § Tokoh kontroversial dgn teori pembiasaan perilaku responnya, mrp teori belajar yg paling muda dan msh berpengaruh smp kini. Skinner memikirkan TL sbg hubungan antara perangsang dan respon. • Respondent Response Mrp respon yg ditimbulkan oleh perangsang tertentu.Ex : keluarnya air liur stlh melihat makanan tertentu. Perangsang mendahului respons yg ditimbulkannya. • Operant Response Mrp respons yg timbul dan berkembangnya diikuti oleh perangsang tertentu dinamakan reinforcing stmuli, karena perangsang itu memperkuat respons yg telah dilakukan oleh organisme. Ex : seorang anak yg belajar, lalu mendapatkan hadiah kemudian ia menjadi lebih giat belajar (responsnya mjd lebih intensif/ kuat). 3. T.CONDITIONING GUTHTRIE n Mengemukakan bagaimana cara atau metode utk mengubah kebiasaan yg kurang baik .Untuk mggunakan kebiasaan yg tidak baik hrs dilihat dr rentetan unit TLnya. Lalu menghilangkan dan menggantinya dgn yg seharusnya. n Metode Mengubah TL 1. Reaksi Berlawanan (Incompatible Response Method) Reaksi yg tjd krn kebiasaan cr mengubahnya dgn menghub stimulus dgn reaksi buruk yg dihilangkan. • Ex : 1. Takut pd kelinci ---------- mjd tdk takut dgn cr memberinya makanan yg disukai berkali-kali. • 2. Pemabuk ------ sembuh, memberi suntikan yg menyebabkan muntah sblm disodori minuman berkali-kali, shg org tsb ingin muntah kalau melihat minuman. • 2. M.Membosankan (Exhaustive Method) TL buruk dibiarkan saja sampai pelaku bosan sendiri. • 3. Mengubah Lingkungan (Change of Enfironment Method) Memisahkan hub antr respon dan TL yg buruk dgn menghilangkan kebiasaan buruk yg disebabkan oleh suatu perangsang dgn dgn mengubah perangsangnya sdr. 4.JOHN B. WATSON Merupakan org pertama AS yg mengembangkan teori belajar berdasarkan hasil penelitian Ivan Pavlov. Watson berpendapat bahwa belajar mrp proses terjadi refleks atau respon bersyarat melalui stimulus pengganti. Refleks man berupa takut, cinta dan marah. Semua TL terbentuk oleh stimulus respons baru melalui Conditioning. Perasaan takut pada anak2 dapat diubah atau dilatih. Belajar mrp suatu proses perubahan yg tjd krn adanya syarat2 (condition) yg kemudian menimbulkan reaksi. Yg penting adalah latihan yg kontinyu. Teori ini mengatakan sgl TL man mrp hasil latihan. Kelemahannya belajar hanyalah tjd scr otomatis dan pembiasaan biasanya pd anak kecil. § 5. THORNDIKE Thorndike dikenal dgn teori belajarnya CONNECTIONISM karena belajar merupakan proses pembentukan koneksi antara stimulus dan respons. Teori ini disebut Trial and Error dalam rangka memilih respons yg tepat. Ciri-ciri belajar adalah adanya motif pendorong aktifitas,respon dan kemajuan reaksi. Thorndike menemukan hukum2 sbb : 1. Law of readines : jk reaksi thd stimulus didukung oleh kesiapan bertindak mk reaksi mjd memuaskan. 2. Law of Exercise, semakin banyak digunakannya hub stimulus-respons, makin kuat hubungan itu. Praktik perlu disertai reward. 3. Law of Efffect : apabila tjd hub antara stimulus dan respons diikuti state of affairs yg memuaskan, mk hub itu mjd lebih kuat. Jika sebaliknya,kekuatannya mjd berkurang. Proses belajar melalui trial and error dan law of effect, mrp TL yg berakibat suatu keadaan yg memuaskan(cocok) akan diingat dan dipelajari sebaik2nya. Kelemahannya : 1. Memandang man sbg mekanistis otomatis= hewan, tdk sll TL dpt dipengaruhi TE (tdk mutlak) 2. Belajar hanya mrp asosial belaka antara stimulus dan respons, shg yg dipentingkan memperkuatnya dgn latihan2 atau ulangan. 3. Karena belajar berlangsung scr mekanistis,mk tdk memandang pengertian tdk dipandang sbg hal yg pokok dlm belajar. § 6. CLARK C HULL Menggunakan prinsip yg mirip dgn behavioris lainnya yaitu dasar stimulus-respons dan reinforcement. Prinsip penguat ( reinforcer) mengghunakan seluruh situasi yang memotivasi, mulai dari gorongan biologis, yang merupakan kebutuhan utsma seseorang sampai pada hasil-hasil yang memberikan ganjaran bagi seseorang, misalnya uang, perhatian, afeksi, dan aspirasi sosial tingkat tinggi. Jadi, prinsip utama adalah suatu kebutuhan tau motif harus ada pada seseorang sebelum belajar itu terjadi; dan bahwa apa yang dipelajari itu harus diamati oleh orang yang belajar sebagai sesuatu yang dapat mengurangi kekuatan atau memuaskan kebutuhannya. Dua hal yang sangat penting dalam proses belajar dari Hull, yaitu adanya motif atau motivation (motivasi insentif), dan drive stimulus reduction (pengurangan stimulus pendorong). Kecepatan merespon berubah bila besarnya hadiah (reward) berubah. § 7. Piaget Cognitive Development. Piaget memandang bahwa proses berpikir merupakan aktivitas gradual dari fungsi intelektual, yaitu dari berpikir konkret menuju abstrak.Perkembangan kapasitas mental memberikan kemampuan baru yg sebelumnya tidak ada. Perkembangan intelektual ad kualitatif. Intelegensi terrdiri dr 3 aspek : 1. Struktur / scheme ialah pola TL yg dpt diulang. 2. Isi / content, pola TL spesifik, ketika seseorang menghadapi suatu masalah. 3. Fungsi/ fungtion, berhubungan dgn cara seseorang mencapai kemajuan intelektual. Terdiri dari 2 macam fungsi invarian, yaitu organisasi dan adaptasi. - Organisasi - Adaptasi : *asimilasi *akomodasi Perkembangan kognitif tergantung dari akomodasi.siswa hrs diberi areal yg blm diketahui agar ia dpt belajar.Dgn area tsb siswa akan mengadakan usaha utk dpt mengakomodasi.situasi tsb akan mempermudah perk kognitif. Perkembangan sosial remaja Dorongan utk dpt berdiri sendiri Ø Dlm perkembangan sosial remaja ada 2 macam gerak : memisahkan diri dari org tua dan menuju ke arah teman2 sebaya. Ø Anak laki2 & anak wanita sama2 berusaha utk mencapai kebebasan, punya kecenderungan yg sama utk menghayati kebebasan sesuai dg usia & jenis seksnya. Ø Utk itu mrk korbankan sebagian besar hub emosi mrk dg org tua dlm usaha utk mjd anggota kelompok teman sebaya. Pelepasan emosi dg ortu pd anak wanita lebih sulit terjadi, krn ada interaksi ant sifat khas wanita & nilai2 masyarakat sekeliling. Maccoby : sistem hub ortu anak dlm keluarga berubah dr regulasi oleh ortu (8-12 th) mjd coregulasi (menentukan bersama). Ortu makin memberikan kebebasan menentukan sendiri pd anak dlm situasi regulasi diri (self-regulation • Erikson : usaha remaja utk melepaskan diri dr pengaruh milieu ortu dg maksud menemukan dirinya disebut proses mencari identitas ego. • Marcia : perkembangan identitas itu terjadi selain dr mencari scr aktif (eksplorasi) juga tergantung dr adanya “commitments”. • Dalam proses perkembangan identitas, maka seseorang dpt berada dlm status yg berbeda-beda Status proses perkembangan individu menurut Marcia Achievement : menemukan identitas sesudah mengadakan eksplorasi. Moratorium : menggambarkan remaja masih sedang sibuk2nya mencari identitas. Foreclosure : menemukan identitas tanpa mengalami krisis atau eksplorasi lebih dulu. Identity diffussion / role confusion : tanpa bisa menemukan identitas sesungguhnya. Krisis Originalitas Debesse : sebetulnya remaja menonjolkan apa yg membedakan dirinya dr org dewasa yaitu originalitas- nya & bukan identitasnya. Usaha remaja utk mencapai originalitas sekaligus menunjukkan pertentangan thd org dewasa & solidaritas thd teman sebaya shg muncul generation gap / jarak antar generasi. Sebenarnya jarak antar generasi tdk ada, yg ada adl perselisihan paham ant remaja & ortu, ttp adanya perselisihan paham belum menentukan adanya jarak antar generasi. Konformitas kelompok remaja Usaha ke arah originalitas (+) bila usaha utk melepas pengaruh orang dewasa, (-) bila mrk membentuk kelompok. Kelompok dgn kohesi kuat, berkembang iklim & norma kelompok yg ditentukan oleh pimpinan kelompok. Konformitas kelompok adl positif sbg bantuan menemukan identitas diri. Konformitas kelompok ada hub dg kontrol eksternal. Remaja yg kontrol eksternalnya lebih tinggi akan lebih peka thdp pengaruh kelompok. Remaja dg kls sosial yg lebih rendah mempunyai kecenderungan konformitas dg kelompoknya. Di sekolah, kelp remaja akan menimbulkan kesukaran bila pemimpin nonformal dlm klas bertentangan dg pemimpin formal (guru). Remaja di Sekolah Pengaruh sekolah thdp perkembangan jiwa remaja cukup besar krn ⅓ dr waktunya setiap hari dilewatkan remaja di sekolah. Fungsi sekolah sbg pembentuk nilai dlm diri anak byk menghadapi tantangan krn ada pengaruh lingkungan lain, terutama bila letak sekolah tdk kondusif. Salah satu faktor yg dianggap menurunkan motivasi siswa utk belajar adalah guru yg menyampaikan materi pelajaran. Pengaruh lingkungan thd perkembngan kepribadian tdk hanya berasal dr lingkungan budaya pada umumnya, melainkan dpt juga datang dr lingkungan sekolah. Kasus Kobe Jepang Anak usia 14 diskors krn berkelahi kmd ia menyiksa kucing & membunuh temannya dg memotong kepala & ditulisi “ini adl balas dendam pd sistem sekolah yg kelewat memaksa & masyarakat yg menciptakannya” Kasus di Indonesia Ó Rizal (pelajar SMU di Medan) membunuh ayah, ibu dan tiga saudaranya krn dimarahi ayahnya. Ó Selain krn adanya pengaruh dr penyalah gunaan obat, Rizal adl anak bungsu dr keluarga yg semuanya sarjana. Ó Kedua kasus tsb & masih byk lagi kasus sejenis mengindikasikan adanya stress mental yg dialami oleh remaja. Laporan Majalah Time • Stress mental disebabkan sistem pendidikan di Asia. • Sangat mengutamakan prestasi sekolah • Tolok ukurnya adl nilai bagus di bidang matematika & ilmu pasti (IPA) Dampaknya Bagi Remaja Ortu memacu anak utk jd juara kelas dg prestasi di bidang matematika & IPA. Tdk berprestasi di bidang tsb adl pecundang walaupun bagus di bidang seni atau olah raga. Remaja jd acuh tak acuh & menimbulkan agresi (spt contoh) pd org lain maupun pd diri sendiri (bunuh diri) ASPIRASI PADA REMAJA § Pengertian Aspirasi Cita-cita = aspirasi Aspirasi : sasaran yg ditentukan utk diri sendiri dlm suatu tugas yg melibatkan diri sepenuhnya. Sasaran dr aspirasi adl keberhasilan Perkembangan Aspirasi § Tingkat aspirasi berkembang dr latihan di rumah (reward and punishment). Dipengaruhi ambisi ortu. § Apa yg bernilai bagi org luar. Cronbach : norma yg ditetapkan oleh kelp mempunyai pengaruh thd sasaran sso. § Rasa persaingan. Aspirasi didasarkan keinginan utk melebihi org lain. § Tradisi budaya. Masy yg demokratis memberi kesempatan utk mencapai hasil yg setinggi mungkin. § Pengaruh media massa. Berita atau cerita dr media massa memberi inspirasi utk meraih aspirasi. § Pengalaman masa lalu. Aspirasi yg tdk realistis krn kurang pengalaman shg tdk mengukur kapasitas diri. § Minat & nilai. Minat yg berdasar pd kecakapan akan lebih mantap dlm mencapai cita2 tp minat berdasar nilai kelp maka bisa mjd tdk realistis. Akibat keberhasilan 1. Tingkat aspirasi mjd bertambah 2. Mjd gemar akan kegiatan tsb. 3. Memperkuat motivasi 4. Keinginan utk memperlihatkan keberhasilannya 5. Menimbulkan kepuasan 6. Gambaran diri 7. Mempengaruhi perkembangan keberhasilan yg lebih kompleks (yakin sekali dg diri sendiri / mjd congkak) Sebab Kegagalan 1. Terbatasnya kemampuan mental / fisik 2. Kekurangan pengenalan thd potensi diri 3. Kekurangan kesempatan utk berlatih 4. Rendahnya motivasi 5. Tingkat aspirasi yg tinggi ttp tdk realistik Akibat Kegagalan Reaksi indvidu thd kegagalan bermacam2 & sukar diduga. Ortu & pendidik hrs mendorong utk bercita2 yg lebih realistis Bila selalu berhasil akan timbul rasa diri hebat & tingkat aspirasi yg tinggi ttp tdk realistis Remaja yg selalu sukses akan tdk memiliki toleransi thdp kegagalan. PERILAKU MENYIMPANG PADA REMAJA DEFINISI : Perilaku menyimpang dlm arti kenakalan remaja (juvenile delinquency) menurut M Gold dan J Petronio : Tindakan oleh sso yg blm dewasa yg sengaja melanggar hukum & yg diketahui oleh anak itu sendiri bhw jika perbuatannya diketahui petugas hukum, ia bisa dikenai hukuman. Menurut Sarlito : semua tingkah laku yg menyimpang dr ketentuan yg berlaku dlm masyarakat (norma agama, etika, peraturan sekolah dan keluarga. Faktor Penyebab 1. Faktor lingkungan : a. malnutrisi (kekurangan gizi) b. kemiskinan di kota-kota besar c. gangguan lingkungan d. migrasi e. sekolah (kesalahan mendidik, kurikulum) f. Keluarga yg tercerai berai) g. gangguan dlm pengasuhan oleh keluarga. 2. Faktor pribadi : § Faktor bakat yg mempengaruhi temperamen (menjadi pemarah, hiperaktif) § Cacat tubuh § Ketidakmampuan utk menyesuaikan diri Kenakalan remaja menurut Jensen : 1. Menimbulkan korban fisik pd org lain : perkelahian, perkosaan, perampokan dll 2. Menimbulkan korban materi : perusakan, pencurian, pemerasan, pencopetan dll 3. Kenakalan sosial yg tdk menimbulkan korban di pihak lain : pelacuran, penyalahgunaan obat. 4. Kenakalan yg melawan status : bolos sekolah, minggat dr rmh, membantah perintah ortu. Hipoaktivisme Pengertiannya : remaja yg sangat kurang aktivitasnya. Hipoaktif krn gangguan jiwa : autisme (tdk peduli dg keadaan sekitar) & katatonia ( berdiam dlm posisi tubuh aneh selama berjam-jam). Hipoaktif jg bisa krn IQ rendah atau tergolong retardasi mental (IQ kurang dr 70) Hipoaktif krn faktor bawaan (trait), bisa diatasi dg mengembangkan segi positif dr diri pribadi. Kultisme • Cultism : kepercayaan thdp kult (cult) tertentu yaitu sejenis agama / kepercayaan baru yg menyimpang dr ortodoksi yg mapan • Remaja yg menggunakan agama sbg pelarian ini berkembang mjd pengikatan diri yg mutlak & menolak segala sesuatu yg berbeda • Jika tingkah laku beragamanya sudah menyimpang dr kelaziman menurut norma umum bahkan bertentangan, remaja tsb mungkin sudah terlibat dlm “kultisme”. PENANGANAN TERHADAP PERILAKU MENYIMPANG 1. Kepercayaan : remaja hrs percaya kpd orang yg mau membantunya. Utk itu tenaga profesional (psikolog, konselor) lebih efektif dr pd ortu atau guru. 2. Kemurnian hati : remaja hrs merasa bahwa penolong itu sungguh2 mau membantunya tanpa syarat. 3. Kemampuan mengeti dan menghayati perasaan remaja. 4. Kejujuran : remaja mengharapkan penolongnya menyampaikan apa adanya saja, termasuk hal-hal yg kurang menyenangkan. 5. Mengutamakan persepsi remaja sendiri. Remaja akan memandang segala sesuatu dr sudutnya sendiri. Kemampuan utk mengerti pandangan remaja itu berikut seluruh perasaan yg ada dibalik pandangan itu meerupakan modal utk membangun empati thdp remaja. TENGKIYYUU SEKIAN MATUR NUWUN SEE YOU NEXT TIME MUACCHH…

PENGELOLAAN KELAS

PENGELOLAAN KELAS

Oleh: jamal siap

Pengelolaan Kelas

Sekolah sebagai organisasi kerja terdiri dari beberapa kelas, baik yang bersifat paralel maupun yang menunjukkan penjenjangan. Setiap kelas merupakan untuk kerja yang berdiri sendiri dan berkedudukan sebagai sub sistem yang menjadi bagian dari sebuah sekolah sebagai total sistem. Pengembangan sekolah sebagai total sistem atau satu kesatuan organisasi, sangat tergantung pada penyelenggaraan dan pengelolaan kelas. Baik di lingkungan kelas masing-masing sebagai unit kerja yang berdiri sendiri maupun dalam hubungan kerja antara kelas yang satu dengan kelas yang lain.
Oleh karena itu setiap guru kelas atau wali kelas sebagai pimpinan menengah (middle manager) atau administrator kelas, menempati posisi dan peran yang penting, karena memikul tanggung jawab mengembangkan dan memajukan kelas masing-masing yang berpengaruh pada perkembangan dan kemajuan sekolah secara keseluruhan, setiap murid dan guru yang menjadi komponen penggerak aktivitas kelas, harus didayagunakan secara maksimal agar sebagai suatu kesatuan setiap kelas menjadi bagian yang dinamis di agar sebagai suatu kesatuan setiap kelas menjadi bagian yang dinamis di dalam organisasi sekolah.
Dari uraian di atas jelas bahwa program kelas akan berkembangan bilamana guru/wali kelas mendayagunakan secara maksimal potensi kelas yang terdiri dari tiga unsur yakni: guru, murid dan proses atau dinamika kelas.
1. Kelas dalam arti sempit yakni ruangan yang dibatasi oleh empat dinding, tempat sejumlah siswa berkumpul untuk mengikuti proses mengajar belajar. Kelas dalam pengertian tradisional ini mengandung sifat statis karena sekedar menunjuk pengelompokan pada batas umur kronologis masing-masing.
2. Kelas dalam arti luas adalah suatu masyarakat kecil yang merupakan bagian dari masyarakat sekolah, yang sebagai satu kesatuan diorganisir menjadi unit kerja yang secara dinamis menyelenggarakan kegiatan-kegiatan mengajar belajar yang keratif untuk mencapai suatu tujuan.
Beberapa faktor yang mempengaruhi perwujudan management kelas dalam pengertian kelas adalah:
a. Kurikulum
b. Bangunan dan Sarana
c. Guru
d. Murid
e. Dinamika Kelas
f. Lingkungan Sekitar
Keenam faktor tersebut tidak berdiri sendiri, akan tetapi saling bertautan atau saling mempengaruhi, walaupun untuk kepentingan uraian secara teoritis akan diketengahkan satu persatu di bawah ini.
A. Kurikulum
Sebuah kelas tidak boleh sekedar diartikan sebagai tempat siswa berkumpul untuk mempelajari sejumlah ilmu pengetahuan. Demikian juga sebuah sekolah bukanlah sekedar sebuah gedung tempat murid mencari dan mendapatkan ilmu pengetahuan. Sekolah dan kelas diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam mendidik anak-anak, yang tidak hanya harus didewasakan dari aspek intelektualnya saja, akan tetapi dalam seluruh aspek kepribadiannya. Untuk itu bagi setiap tingkat dan jenis sekolah diperlukan kurikulum yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks dalam perkembangannya. Kurikulum yang dipergunakan di sekolah sangat besar pengaruhnya terhadap aktivitas kelas dalam mewujudkan proses belajar mengajar yang berdaya guna bagi pembentukan pribadi siswa. Dengan kata lain aktivitas sebuah kelas sangat dipengaruhi oleh kurikulum yang dipergunakan di sekolah. Suatu kelas akan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat apabila kurikulum yang dipergunakan di sekolah dirancangkan sesuai dengan dinamika masyarakat.
Sekolah yang kurikulumnya dirancangkan secara tradisional akan mengakibatkan aktivitas kelas berlangsung secara statis. Kurikulum tradisional diartikan sebga sejumlah materi pengetahuan dan kebudayaan hasil masa lalu yang harus dikuasai murid untuk mencapai suatu tingkat tertentu, yang dinyatakan dengan ketentuan kenaikan kelas atau pemberian ijazah kepada murid tersebut. Di dalam kurikulum seperti itu mata pelajaran diberikan secara terpisah-pisah (subject certerd curriculum0 yang pada umumnya bersifat intelektualistis.
Sekolah yang diselenggarkan dengan kurikulum modern pada dasarnya akan mampu menyelenggarakan kegiatan kelas yang bersifat dinamis. Kurikulum modern diartikan sebagai semua kegiatan yang berpengaruh pada pembentukan pribadi murid, baik yang berlangsung di dalam maupun di luar kelas/sekolah, termasuk di dalamnya lingkungan sekitar yang bersifat non edukatif seperti warung sekolah, pesuruh, kondisi bangunan dan sarana sekolah lainnya, masjid/Gereja d an lain-lain.
Kedua kurikulum tersebut di atas kurang serasi dengan kondisi masyarakat Indonesia yang memiliki pandangan hidup Pancasila. Di satu pihak kurikulum tradisional yang berpusat pada guru akan diwarnai dengan sikap otoriter yang mematikan inisiatif dan kreativitas murid. Kurikulum itu tidak akan mampu memenuhi tuntutan pembentukan pribadi berdasarkan minat, bakat, kemampuan dan sifat-sifat kepribadian yang berbeda-beda. Antara murid yang satu dengan murid yang lain dalam satu kelas. Segala sesuatu yang menyangkut isi kurikulum untuk dilaksanakan di kelas sudah diatur dan ditetapkan oleh pihak instansi atasan, yang bahkan menutup kemungkinan guru mengembangkan kegiatan berdasarkan inisiatif dan krativitasnya sesuai dengan kebutuhan anak-anak dan masyarakat sekitar. Dipihak lain kurikulum modern yang menekankan pada perkembangan individu secara maksimal, akan mencerminkan kebebasan atas dasar demokrasi liberal sehingga tidak memungkinkan diselenggarakannya secara efektif kegiatan belajar secara klasikal untuk pengembangan pribadi sebagai makhluk sosial dan makhluk Tuhan Yang maha Esa.
Oleh karena itu diperlukan usaha mengintegrasikan kedua kurikulum tersebut dalam kehidupan lembaga pendidikan formal di Indonesia agar serasi dengan kebutuhan dan dinamika masyarakat. Kurikulum harus dirancang sebagai sejumlah pengalaman edukatif yang menjadi tanggungjawab sekolah dalam membantu anak-anak mencapai tujuan pendidikannya, yang diselenggarakan secara berencana, sistematik dan terarah serta terorganisir. Sekolah yang dirancang dengan kurikulum seperti itu, memungkinkan kegiatan kelas tidak sekedar dipusatkan pada penyampaian sejumlah materi pelajaran/pengetahuan yang bersifat intellectualistic, akan tetapi juga memperhatikan aspek pembentukan pribadi, baik sebagai makhluk individual dan makhluk sosial maupun sebagai makhluk bermoral.
Dengan kurikulum seperti disebutkan terakhir berarti isi pendidikan di dalam kegiatan kelas untuk setiap jenjang/tingkat sekolah harus dirancangkan sebagai berikut:
1. Tingkat Taman Kanak-Kanak
Kurikulum pada tingkat ini harus dirancang untuk memungkinkan kelas menyelenggarakan kegiatan agar anak-anak belajar bergaul, belajar mempergunakan alat-alat yang sederhana, memperoleh ketrampilan dasar atau tingkat permulaan dan dapat bekerja sama dalam bermain walaupun pada tingkat ini kecenderungan dalam bermain masih bersifat individual.
2. Tingkat Sekolah Dasar
Kurikulum pada tingkat ini pada tahap permulaan atau kelas-kelas rendah harus dirancangkan untuk memungkinkan kelas melanjutkan kegiatan-kegiatan atau program-program di taman kanak-kanak. Selanjutnya sesuai dengan kematangan anak-anak, secara bertahap kurikulum harus dengan kematangan anak-anak, secara bertahap kurikulum harus dikembangkan juga untuk mempelajari fakta-fakta pengetahuan yang sederhana, pengembangan kebiasaan berpikir secara kreatif dan pembentukan watak berdasarkan sistem nilai-nilai tertentu. Untuk itu dapat dilaksanakan berbagai kegiatan kelas baik yang dilakukan secara individual maupun secara bersama-sama.
3. Sekolah Lanjutan/menengah
Kurikulum pada tingkat ini harus dirancangkan untuk memungkinkan diselenggarakannya kegiatan kelas dalam memenuhi kebutuhan melakukan eksplorasi dan eksperimentasi guna memberikan pengalaman intelektual dan sosial yang terpadu dalam rangka realisasi diri.
4. Tingkat Perguruan Tinggi
Kurikulum pada tingkat ini dirancangkan untuk memungkinkan kelas menyelenggarakan kegiatan membantu perkembangan individual secara maksimal dalam rangka menguasai keahlian profesional tertentu.
B. Bangunan dan Sarana
Perencanaan dalam membangun sebuah gedung untuk sebuah sekolah berkenaan dengan jumlah dan luas setiap ruangan, letak dan dekorasi nya yang harus disesuaikan dengan kurikulum yang dipergunakan. Akan tetapi karena kurikulum selalu dapat berubah sedangkan ruang/gedung bersifat permanen, maka diperlukan kreativitas dalam mengatur pendayagunaan ruang/gedung yang tersedia berdasarkan kurikulum yang dipergunakan.
Sekolah yang mempergunakan kurikulum tradisional pengaturan ruangan bersifat sederhana karena kegiatan belajar mengajar diselenggarakan di kelas yang tatap untuk sejumlah murid yang sama tingkatannya.
Bagi sekolah yang mempergunakan kurikulum modern, ruangan kelas diatur menurut jenis kegiatan berdasarkan program-program yang telah dikelompokkan secara integrated. Di samping ruangan disusun berdasarkan bidang studi yang bersifat integrated itu disediakan juga ruangan untuk kegiatan bersama berupa ruang kelas untuk mendengarkan ceramah dan ruangan lain seperti perpustakaan, ruang olahraga dan lain-lain.
Bagi sekolah yang mempergunakan kurikulum gabungan pada umumnya ruangan kelas masih diatur menurut keperluan kelompok murid sebagai satu kesatuan menurut jenjang dan pengelompokan kelas secara permanen. Ruang khusus biasanya disediakan secara terbatas berupa laboratorium, perpustakaan, sebuah aula untuk kegiatan olah raga, kesenian dan kegiatan ekstra kelas lainnya.
Dari uraian-uraian di atas jelas bahwa bagi sekolah yang mempergunakan kurikulum tradisional dan kurikulum gabungan (tradisional dan modern), jumlah kelas sangat dipengaruhi oleh perencanaan penerimaan murid atau jumlah murid yang dimiliki. Oleh karena itu dalam rencana pembangunan gedung atau penambahan ruang kelas, diperlukan catatan kependudukan yang teliti dengan memperkirakan juga berapa jumlah yang telah terserap oleh sekolah lain dalam suatu wilayah tertentu.
Untuk mendirikan sebuah sekolah diperlukan perencanaan yang fisibel (layak) sebagai hasil penelitian atau survey yang teliti terutama untuk memperoleh lokasi yang tepat. Penelitian itu selain mengenai aspek kependudukan harus dilakukan juga terhadap situasi lingkungan, kondisi tanah, pendapat masyarakat, kemungkinan berkomunikasi dengan sumber-sumber kependidikan di lingkungan sekitar yang sesuai dengan kurikulum/program yang akan dilaksanakan dan lain-lain.
Setelah sebuah gedung sekolah berdiri diperlukan sarana belajar mengajar yang dapat menunjang efisiensi perwujudan kurikulum/program sekolah atau kelas perlengkapan minimal bagi sebuah sekolah yang mempergunakan salah satu bentuk kurikulum tersebut di atas adalah meja dan kuris murid. Meja dan kuris guru, papan tulis dan kapur tulis. Selanjutnya bagi sekolah yang mempergunakan kurikulum tradisional dan kurikulum gabungan (tradisional dan modern) sekurang-kurangnya diperlukan sejumlah alat peraga sedang bagi sekolah yang mempergunakan kurikulum modern diperlukan saran yang lebih banyak lagi sesuai dengan jenis program yang menjadi tanggung jawabnya.

C. Guru
Program kelas tidak akan berarti bilamana tidak diwujudkan menjadi kegiatan. Untuk itu peranan guru sangat menentukan karena kedudukannya sebagai pemimpin pendidikan diantara murid-murid suatu kelas . secara etimologi atau dalam arti sempit guru yang berkewajiban mewujudkan suatu program kelas adalah orang yang kerjanya mengajar atau memberikan pelajaran di sekolah atau kls. Secara lebih luas guru berarti orang yang bekerja dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang ikut bertanggung jawab dalam membantu anak-anak untuk mencapai kedewasaan masing-masing. Guru dalam pengertian terakhir bukan sekedar orang yang berdiri di depan kels untuk menyampaikan materi pengetahuan tertentu, akan tetapi adalah anggota masyarakat yang harus ikut aktif dan berjiwa bebas serta kratif dalam mengarahkan perkembangan akan didik nya. Untuk menjadi anggota masyarakat sebagai orang dewasa.
Setiap guru harus memahami fungsinya karena sangat besar pengaruhnya terhadap cara bertindak dan berbuat dalam menunaikan pekerjaan sehari-hari di sekolah maupun di kelas. Pengetahuan dan pemahamannya tentang kompetensi guru akan mendasari pola kegiatannya dalam menunaikan profesi sebagai guru. Kompetensi guru yang dimaksud antara lain mengenai kompetensi-komptensi pribadi, kompetensi profesi dan kompetensi kemasyarakatan. Kompetensi itu berkenaan dengan kemampuan dasar teknis edukatif dan administratif sebagai berikut:
1. Penguasaan bahan
2. Pengelolaan program belajar mengajar
3. mengelola kelas
4. Penggunaan media/sumber
5. Mampu mengelola dan mempergunakan intraksi belajar mengajar
6. Memiliki kemampuan melakukan penilaian prestasi belajar siswa secara obyektif.
7. Memahami fungsi dan program layanan bimbingan dan penyuluhan di sekolah.
Setiap guru sebagai petugas profesional ikut bertanggung jawab pada tercapainya tujuan pendidikan secara efektif. Oleh karena itu guru harus ikut dalam menentukan kebijakan kependidikan di kelas/sekolah.
Guru yang memahami kedudukan dan fungsinya sebagai pendidik profesional, selalu terdorong untuk tumbuh dan berkembang sebagai perwujudan perasaan dan sikap tidak puas terhadap pendidik persiapan yang telah diterimanya. Dan sebagai pernyataan dari kesadarannya terhadap perkembangan dan kemajuan bidang tugasnya yang harus diikuti, sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

D. Murid
Murid merupakan potensi kelas yang harus dimanfaatkan guru dalam mewujudkan proses belajar mengajar yang efektif. Murid adalah anak-anak yang sedang tumbuh dan berkembang baik secara fisik maupun psikologis dalam rangka mencapai tujuan pendidikannya melalui lembaga pendidikan formal, khusus nya berupa sekolah.
Murid sebagai unsur kelas memiliki perasaan kebersamaan yang sangat penting artinya bagi terciptanya situasi kelas yang dinamis. Setiap murid harus memiliki perasaan diterima (membership) terhadap kelasnya agar mampu ikut serta dalam kegiatan kelas.
Kelas merupakan unit tersendiri yang pengelolaannya secara maksimal harus dilakukan dengan mengikutsertakan murid. Pengelolaan kelas yang berhasil akan menumbuhkan kebanggaan kelas sehingga meningkatkan rasa solidaritas dan keinginan untuk ikut berpartisipasi di kalangan murid di kelas tersebut.

E. Dinamika Kelas
Kelas adalah kelompok sosial yang dinamis yang harus dipergunakan oleh setiap wali/guru kelas untuk kepentingan murid dalam kependidikannya. Dinamika kelas pada dasarnya berarti kondisi kelas. Yang meliputi dorongan untuk aktif secara terarah yang dikembangkan melalui kreatifitas dan inisiatif murid sebagai suatu kelompok.
Dinamika kelas dipengaruhi oleh cara wali/guru kelas menerapkan administrasi pendidikan dan kepemimpinan pendidikan serta dalam mempergunakan pendekatan pengelolaan kelas, penerapan kegiatan itu antara lain sebagai berikut.
1. Kegiatan administratif management
Pengelolaan kelas memerlukan tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, koordinasi, komunikasi dan kontrol sebagai langkah-langkah kegiatan management admnistratif.
2. Kegiatan Operatif management kelas
Kegiatan management administratif kelas harus ditunjang dengan kegiatan management operatif agar seluruh program kelas berlangsung efektif bagi pencapaian tujuan. Kegiatan management operatif kelas meliputi
a. Tata usaha kelas
b. Kegiatan Pembekalan kelas
c. Kegiatan keuangan kelas
d. Kegiatan pembinaan personal atau kepegawaian dikelas.
e. Humas dilingkungannya kelas
3. Kepemimpinan wali/guru kelas
Dinamika kelas dipengaruhi secara langsung oleh kepemimpinan wali atau guru kelas, untuk itu kepemimpinan diartikan sebagai proses mengarahkan, membimbing, mempengaruhi, atau mengawasi pikiran, perasaan atau tindakan dan tingkah laku orang lain.
Tiga bentuk kepemimpinan mungkin diwujudkan wali/guru kelas dalam usaha menggerakkan personal di lingkungan kelas masing-masing adalah:
a. Wali atau guru kelas sebagai pemimpin yang bersifat otoriter
b. Wali atau guru kelas sebagai pemimpin yang bersifat laissez faire.
c. Wali atau guru kelas sebagai pemimpin yang bersifat demokratif

4. Disiplin kelas
Disiplin kelas merupakan bagian yang penting dalam dinamika kelas, disiplin kelas diartikan sebagai usaha mencegah terjadinya pelanggaran-pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan yang telah disetujui bersama dalam melaksanakan kegiatan kelas, agar pemberian hukuman pada seorang atau sekelompok orang dapat dihindari.
Disiplin kelas dapat diartikan juga sebagai suasana tertib dan terpaut akan tetapi penuh dinamika dalam melaksanakan program kelas terutama dalam mewujudkan proses belajar mengajar.
5. Beberapa pendekatan dalam pengelolaan kelas
Seorang wali atau guru kelas harus mampu menetapkan pilihan yang tepat dalam melakukan pendekatan untuk mewujudkan pengelolaan kelas yang efektif. Untuk memperjelas masalah pendekatan yang akan dipergunakan itu, di bawah ini akan diketengahkan beberapa alternatif yang dapat dipilih diantaranya:
a. Pendekatan berdasarkan perubahan tingkah laku (behaviorisme)
b. Pendekatan berdasarkan suasana emosi dan hubungan sosial (sosio emosional climate approach)
c. Pendekatan berdasarkan proses kelompok (group process approach)
d. Pendekatan electis (electic approach)

Ditulis dalam Makalah ilmu Pendidikan, Makalah Pengelolaan Kelas, makalah Manajemen Pendidikan. 7 Komentar »


Pengelolaan Kelas

Pengelolaan Kelas

Sekolah sebagai organisasi kerja terdiri dari beberapa kelas, baik yang bersifat paralel maupun yang menunjukkan penjenjangan. Setiap kelas merupakan untuk kerja yang berdiri sendiri dan berkedudukan sebagai sub sistem yang menjadi bagian dari sebuah sekolah sebagai total sistem. Pengembangan sekolah sebagai total sistem atau satu kesatuan organisasi, sangat tergantung pada penyelenggaraan dan pengelolaan kelas. Baik di lingkungan kelas masing-masing sebagai unit kerja yang berdiri sendiri maupun dalam hubungan kerja antara kelas yang satu dengan kelas yang lain.
Oleh karena itu setiap guru kelas atau wali kelas sebagai pimpinan menengah (middle manager) atau administrator kelas, menempati posisi dan peran yang penting, karena memikul tanggung jawab mengembangkan dan memajukan kelas masing-masing yang berpengaruh pada perkembangan dan kemajuan sekolah secara keseluruhan, setiap murid dan guru yang menjadi komponen penggerak aktivitas kelas, harus didayagunakan secara maksimal agar sebagai suatu kesatuan setiap kelas menjadi bagian yang dinamis di agar sebagai suatu kesatuan setiap kelas menjadi bagian yang dinamis di dalam organisasi sekolah.
Dari uraian di atas jelas bahwa program kelas akan berkembangan bilamana guru/wali kelas mendayagunakan secara maksimal potensi kelas yang terdiri dari tiga unsur yakni: guru, murid dan proses atau dinamika kelas.
1. Kelas dalam arti sempit yakni ruangan yang dibatasi oleh empat dinding, tempat sejumlah siswa berkumpul untuk mengikuti proses mengajar belajar. Kelas dalam pengertian tradisional ini mengandung sifat statis karena sekedar menunjuk pengelompokan pada batas umur kronologis masing-masing.
2. Kelas dalam arti luas adalah suatu masyarakat kecil yang merupakan bagian dari masyarakat sekolah, yang sebagai satu kesatuan diorganisir menjadi unit kerja yang secara dinamis menyelenggarakan kegiatan-kegiatan mengajar belajar yang keratif untuk mencapai suatu tujuan.
Beberapa faktor yang mempengaruhi perwujudan management kelas dalam pengertian kelas adalah:
a. Kurikulum
b. Bangunan dan Sarana
c. Guru
d. Murid
e. Dinamika Kelas
f. Lingkungan Sekitar
Keenam faktor tersebut tidak berdiri sendiri, akan tetapi saling bertautan atau saling mempengaruhi, walaupun untuk kepentingan uraian secara teoritis akan diketengahkan satu persatu di bawah ini.
A. Kurikulum
Sebuah kelas tidak boleh sekedar diartikan sebagai tempat siswa berkumpul untuk mempelajari sejumlah ilmu pengetahuan. Demikian juga sebuah sekolah bukanlah sekedar sebuah gedung tempat murid mencari dan mendapatkan ilmu pengetahuan. Sekolah dan kelas diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam mendidik anak-anak, yang tidak hanya harus didewasakan dari aspek intelektualnya saja, akan tetapi dalam seluruh aspek kepribadiannya. Untuk itu bagi setiap tingkat dan jenis sekolah diperlukan kurikulum yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks dalam perkembangannya. Kurikulum yang dipergunakan di sekolah sangat besar pengaruhnya terhadap aktivitas kelas dalam mewujudkan proses belajar mengajar yang berdaya guna bagi pembentukan pribadi siswa. Dengan kata lain aktivitas sebuah kelas sangat dipengaruhi oleh kurikulum yang dipergunakan di sekolah. Suatu kelas akan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat apabila kurikulum yang dipergunakan di sekolah dirancangkan sesuai dengan dinamika masyarakat.
Sekolah yang kurikulumnya dirancangkan secara tradisional akan mengakibatkan aktivitas kelas berlangsung secara statis. Kurikulum tradisional diartikan sebga sejumlah materi pengetahuan dan kebudayaan hasil masa lalu yang harus dikuasai murid untuk mencapai suatu tingkat tertentu, yang dinyatakan dengan ketentuan kenaikan kelas atau pemberian ijazah kepada murid tersebut. Di dalam kurikulum seperti itu mata pelajaran diberikan secara terpisah-pisah (subject certerd curriculum0 yang pada umumnya bersifat intelektualistis.
Sekolah yang diselenggarkan dengan kurikulum modern pada dasarnya akan mampu menyelenggarakan kegiatan kelas yang bersifat dinamis. Kurikulum modern diartikan sebagai semua kegiatan yang berpengaruh pada pembentukan pribadi murid, baik yang berlangsung di dalam maupun di luar kelas/sekolah, termasuk di dalamnya lingkungan sekitar yang bersifat non edukatif seperti warung sekolah, pesuruh, kondisi bangunan dan sarana sekolah lainnya, masjid/Gereja d an lain-lain.
Kedua kurikulum tersebut di atas kurang serasi dengan kondisi masyarakat Indonesia yang memiliki pandangan hidup Pancasila. Di satu pihak kurikulum tradisional yang berpusat pada guru akan diwarnai dengan sikap otoriter yang mematikan inisiatif dan kreativitas murid. Kurikulum itu tidak akan mampu memenuhi tuntutan pembentukan pribadi berdasarkan minat, bakat, kemampuan dan sifat-sifat kepribadian yang berbeda-beda. Antara murid yang satu dengan murid yang lain dalam satu kelas. Segala sesuatu yang menyangkut isi kurikulum untuk dilaksanakan di kelas sudah diatur dan ditetapkan oleh pihak instansi atasan, yang bahkan menutup kemungkinan guru mengembangkan kegiatan berdasarkan inisiatif dan krativitasnya sesuai dengan kebutuhan anak-anak dan masyarakat sekitar. Dipihak lain kurikulum modern yang menekankan pada perkembangan individu secara maksimal, akan mencerminkan kebebasan atas dasar demokrasi liberal sehingga tidak memungkinkan diselenggarakannya secara efektif kegiatan belajar secara klasikal untuk pengembangan pribadi sebagai makhluk sosial dan makhluk Tuhan Yang maha Esa.
Oleh karena itu diperlukan usaha mengintegrasikan kedua kurikulum tersebut dalam kehidupan lembaga pendidikan formal di Indonesia agar serasi dengan kebutuhan dan dinamika masyarakat. Kurikulum harus dirancang sebagai sejumlah pengalaman edukatif yang menjadi tanggungjawab sekolah dalam membantu anak-anak mencapai tujuan pendidikannya, yang diselenggarakan secara berencana, sistematik dan terarah serta terorganisir. Sekolah yang dirancang dengan kurikulum seperti itu, memungkinkan kegiatan kelas tidak sekedar dipusatkan pada penyampaian sejumlah materi pelajaran/pengetahuan yang bersifat intellectualistic, akan tetapi juga memperhatikan aspek pembentukan pribadi, baik sebagai makhluk individual dan makhluk sosial maupun sebagai makhluk bermoral.
Dengan kurikulum seperti disebutkan terakhir berarti isi pendidikan di dalam kegiatan kelas untuk setiap jenjang/tingkat sekolah harus dirancangkan sebagai berikut:
1. Tingkat Taman Kanak-Kanak
Kurikulum pada tingkat ini harus dirancang untuk memungkinkan kelas menyelenggarakan kegiatan agar anak-anak belajar bergaul, belajar mempergunakan alat-alat yang sederhana, memperoleh ketrampilan dasar atau tingkat permulaan dan dapat bekerja sama dalam bermain walaupun pada tingkat ini kecenderungan dalam bermain masih bersifat individual.
2. Tingkat Sekolah Dasar
Kurikulum pada tingkat ini pada tahap permulaan atau kelas-kelas rendah harus dirancangkan untuk memungkinkan kelas melanjutkan kegiatan-kegiatan atau program-program di taman kanak-kanak. Selanjutnya sesuai dengan kematangan anak-anak, secara bertahap kurikulum harus dengan kematangan anak-anak, secara bertahap kurikulum harus dikembangkan juga untuk mempelajari fakta-fakta pengetahuan yang sederhana, pengembangan kebiasaan berpikir secara kreatif dan pembentukan watak berdasarkan sistem nilai-nilai tertentu. Untuk itu dapat dilaksanakan berbagai kegiatan kelas baik yang dilakukan secara individual maupun secara bersama-sama.
3. Sekolah Lanjutan/menengah
Kurikulum pada tingkat ini harus dirancangkan untuk memungkinkan diselenggarakannya kegiatan kelas dalam memenuhi kebutuhan melakukan eksplorasi dan eksperimentasi guna memberikan pengalaman intelektual dan sosial yang terpadu dalam rangka realisasi diri.
4. Tingkat Perguruan Tinggi
Kurikulum pada tingkat ini dirancangkan untuk memungkinkan kelas menyelenggarakan kegiatan membantu perkembangan individual secara maksimal dalam rangka menguasai keahlian profesional tertentu.
B. Bangunan dan Sarana
Perencanaan dalam membangun sebuah gedung untuk sebuah sekolah berkenaan dengan jumlah dan luas setiap ruangan, letak dan dekorasi nya yang harus disesuaikan dengan kurikulum yang dipergunakan. Akan tetapi karena kurikulum selalu dapat berubah sedangkan ruang/gedung bersifat permanen, maka diperlukan kreativitas dalam mengatur pendayagunaan ruang/gedung yang tersedia berdasarkan kurikulum yang dipergunakan.
Sekolah yang mempergunakan kurikulum tradisional pengaturan ruangan bersifat sederhana karena kegiatan belajar mengajar diselenggarakan di kelas yang tatap untuk sejumlah murid yang sama tingkatannya.
Bagi sekolah yang mempergunakan kurikulum modern, ruangan kelas diatur menurut jenis kegiatan berdasarkan program-program yang telah dikelompokkan secara integrated. Di samping ruangan disusun berdasarkan bidang studi yang bersifat integrated itu disediakan juga ruangan untuk kegiatan bersama berupa ruang kelas untuk mendengarkan ceramah dan ruangan lain seperti perpustakaan, ruang olahraga dan lain-lain.
Bagi sekolah yang mempergunakan kurikulum gabungan pada umumnya ruangan kelas masih diatur menurut keperluan kelompok murid sebagai satu kesatuan menurut jenjang dan pengelompokan kelas secara permanen. Ruang khusus biasanya disediakan secara terbatas berupa laboratorium, perpustakaan, sebuah aula untuk kegiatan olah raga, kesenian dan kegiatan ekstra kelas lainnya.
Dari uraian-uraian di atas jelas bahwa bagi sekolah yang mempergunakan kurikulum tradisional dan kurikulum gabungan (tradisional dan modern), jumlah kelas sangat dipengaruhi oleh perencanaan penerimaan murid atau jumlah murid yang dimiliki. Oleh karena itu dalam rencana pembangunan gedung atau penambahan ruang kelas, diperlukan catatan kependudukan yang teliti dengan memperkirakan juga berapa jumlah yang telah terserap oleh sekolah lain dalam suatu wilayah tertentu.
Untuk mendirikan sebuah sekolah diperlukan perencanaan yang fisibel (layak) sebagai hasil penelitian atau survey yang teliti terutama untuk memperoleh lokasi yang tepat. Penelitian itu selain mengenai aspek kependudukan harus dilakukan juga terhadap situasi lingkungan, kondisi tanah, pendapat masyarakat, kemungkinan berkomunikasi dengan sumber-sumber kependidikan di lingkungan sekitar yang sesuai dengan kurikulum/program yang akan dilaksanakan dan lain-lain.
Setelah sebuah gedung sekolah berdiri diperlukan sarana belajar mengajar yang dapat menunjang efisiensi perwujudan kurikulum/program sekolah atau kelas perlengkapan minimal bagi sebuah sekolah yang mempergunakan salah satu bentuk kurikulum tersebut di atas adalah meja dan kuris murid. Meja dan kuris guru, papan tulis dan kapur tulis. Selanjutnya bagi sekolah yang mempergunakan kurikulum tradisional dan kurikulum gabungan (tradisional dan modern) sekurang-kurangnya diperlukan sejumlah alat peraga sedang bagi sekolah yang mempergunakan kurikulum modern diperlukan saran yang lebih banyak lagi sesuai dengan jenis program yang menjadi tanggung jawabnya.

C. Guru
Program kelas tidak akan berarti bilamana tidak diwujudkan menjadi kegiatan. Untuk itu peranan guru sangat menentukan karena kedudukannya sebagai pemimpin pendidikan diantara murid-murid suatu kelas . secara etimologi atau dalam arti sempit guru yang berkewajiban mewujudkan suatu program kelas adalah orang yang kerjanya mengajar atau memberikan pelajaran di sekolah atau kls. Secara lebih luas guru berarti orang yang bekerja dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang ikut bertanggung jawab dalam membantu anak-anak untuk mencapai kedewasaan masing-masing. Guru dalam pengertian terakhir bukan sekedar orang yang berdiri di depan kels untuk menyampaikan materi pengetahuan tertentu, akan tetapi adalah anggota masyarakat yang harus ikut aktif dan berjiwa bebas serta kratif dalam mengarahkan perkembangan akan didik nya. Untuk menjadi anggota masyarakat sebagai orang dewasa.
Setiap guru harus memahami fungsinya karena sangat besar pengaruhnya terhadap cara bertindak dan berbuat dalam menunaikan pekerjaan sehari-hari di sekolah maupun di kelas. Pengetahuan dan pemahamannya tentang kompetensi guru akan mendasari pola kegiatannya dalam menunaikan profesi sebagai guru. Kompetensi guru yang dimaksud antara lain mengenai kompetensi-komptensi pribadi, kompetensi profesi dan kompetensi kemasyarakatan. Kompetensi itu berkenaan dengan kemampuan dasar teknis edukatif dan administratif sebagai berikut:
1. Penguasaan bahan
2. Pengelolaan program belajar mengajar
3. mengelola kelas
4. Penggunaan media/sumber
5. Mampu mengelola dan mempergunakan intraksi belajar mengajar
6. Memiliki kemampuan melakukan penilaian prestasi belajar siswa secara obyektif.
7. Memahami fungsi dan program layanan bimbingan dan penyuluhan di sekolah.
Setiap guru sebagai petugas profesional ikut bertanggung jawab pada tercapainya tujuan pendidikan secara efektif. Oleh karena itu guru harus ikut dalam menentukan kebijakan kependidikan di kelas/sekolah.
Guru yang memahami kedudukan dan fungsinya sebagai pendidik profesional, selalu terdorong untuk tumbuh dan berkembang sebagai perwujudan perasaan dan sikap tidak puas terhadap pendidik persiapan yang telah diterimanya. Dan sebagai pernyataan dari kesadarannya terhadap perkembangan dan kemajuan bidang tugasnya yang harus diikuti, sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

D. Murid
Murid merupakan potensi kelas yang harus dimanfaatkan guru dalam mewujudkan proses belajar mengajar yang efektif. Murid adalah anak-anak yang sedang tumbuh dan berkembang baik secara fisik maupun psikologis dalam rangka mencapai tujuan pendidikannya melalui lembaga pendidikan formal, khusus nya berupa sekolah.
Murid sebagai unsur kelas memiliki perasaan kebersamaan yang sangat penting artinya bagi terciptanya situasi kelas yang dinamis. Setiap murid harus memiliki perasaan diterima (membership) terhadap kelasnya agar mampu ikut serta dalam kegiatan kelas.
Kelas merupakan unit tersendiri yang pengelolaannya secara maksimal harus dilakukan dengan mengikutsertakan murid. Pengelolaan kelas yang berhasil akan menumbuhkan kebanggaan kelas sehingga meningkatkan rasa solidaritas dan keinginan untuk ikut berpartisipasi di kalangan murid di kelas tersebut.

E. Dinamika Kelas
Kelas adalah kelompok sosial yang dinamis yang harus dipergunakan oleh setiap wali/guru kelas untuk kepentingan murid dalam kependidikannya. Dinamika kelas pada dasarnya berarti kondisi kelas. Yang meliputi dorongan untuk aktif secara terarah yang dikembangkan melalui kreatifitas dan inisiatif murid sebagai suatu kelompok.
Dinamika kelas dipengaruhi oleh cara wali/guru kelas menerapkan administrasi pendidikan dan kepemimpinan pendidikan serta dalam mempergunakan pendekatan pengelolaan kelas, penerapan kegiatan itu antara lain sebagai berikut.
1. Kegiatan administratif management
Pengelolaan kelas memerlukan tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, koordinasi, komunikasi dan kontrol sebagai langkah-langkah kegiatan management admnistratif.
2. Kegiatan Operatif management kelas
Kegiatan management administratif kelas harus ditunjang dengan kegiatan management operatif agar seluruh program kelas berlangsung efektif bagi pencapaian tujuan. Kegiatan management operatif kelas meliputi
a. Tata usaha kelas
b. Kegiatan Pembekalan kelas
c. Kegiatan keuangan kelas
d. Kegiatan pembinaan personal atau kepegawaian dikelas.
e. Humas dilingkungannya kelas
3. Kepemimpinan wali/guru kelas
Dinamika kelas dipengaruhi secara langsung oleh kepemimpinan wali atau guru kelas, untuk itu kepemimpinan diartikan sebagai proses mengarahkan, membimbing, mempengaruhi, atau mengawasi pikiran, perasaan atau tindakan dan tingkah laku orang lain.
Tiga bentuk kepemimpinan mungkin diwujudkan wali/guru kelas dalam usaha menggerakkan personal di lingkungan kelas masing-masing adalah:
a. Wali atau guru kelas sebagai pemimpin yang bersifat otoriter
b. Wali atau guru kelas sebagai pemimpin yang bersifat laissez faire.
c. Wali atau guru kelas sebagai pemimpin yang bersifat demokratif

4. Disiplin kelas
Disiplin kelas merupakan bagian yang penting dalam dinamika kelas, disiplin kelas diartikan sebagai usaha mencegah terjadinya pelanggaran-pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan yang telah disetujui bersama dalam melaksanakan kegiatan kelas, agar pemberian hukuman pada seorang atau sekelompok orang dapat dihindari.
Disiplin kelas dapat diartikan juga sebagai suasana tertib dan terpaut akan tetapi penuh dinamika dalam melaksanakan program kelas terutama dalam mewujudkan proses belajar mengajar.
5. Beberapa pendekatan dalam pengelolaan kelas
Seorang wali atau guru kelas harus mampu menetapkan pilihan yang tepat dalam melakukan pendekatan untuk mewujudkan pengelolaan kelas yang efektif. Untuk memperjelas masalah pendekatan yang akan dipergunakan itu, di bawah ini akan diketengahkan beberapa alternatif yang dapat dipilih diantaranya:
a. Pendekatan berdasarkan perubahan tingkah laku (behaviorisme)
b. Pendekatan berdasarkan suasana emosi dan hubungan sosial (sosio emosional climate approach)
c. Pendekatan berdasarkan proses kelompok (group process approach)
d. Pendekatan electis (electic approach)

Ditulis dalam Makalah ilmu Pendidikan, Makalah Pengelolaan Kelas, makalah Manajemen Pendidikan. 7 Komentar »


STRATEGI PENGELOLAAN KELAS DALAM PENGEMBANGAN BUDAYA DAN IKLIM SEKOLAH

Sabtu, 26 Juni 2010 Label: Inovasi Pendidik

Pengelolaan kelas dalam pengembangan budaya dan iklim sekolah adalah segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan suasana dan kondisi belajar di dalam kelas agar menjadi kondusif dan menyenangkan serta dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan baik sesuai dengan kemampuan. Dengan kata lain pengelolaan kelas merupakan usaha dalam mengatur segala hal dalam proses pembelajaran, seperti lingkungan fisik dan sistem pembelajaran di kelas. Pembelajaran yang efektif membutuhkan kondisi kelas yang kondusif. Kelas yang kondusif adalah ling¬kungan belajar yang mendorong terjadinya proses belajar yang intensif dan efektif. Strategi belajar apapun yang di¬tempuh guru akan menjadi tidak efektif jika tidak didukung dengan iklim dan kondisi kelas yang kondusif. Oleh karena itu guru perlu menata dan mengelola lingkungan belajar di kelas sedemikian rupa sehingga menyenangkan, aman, dan menstimulasi setiap anak agar terlibat secara maksimal dalam proses pembelajaran.

Pengaturan lingkungan belajar sangat diperlukan agar anak mampu melakukan kontrol terhadap pemenuhan kebutuhan emosionalnya. Lingkungan belajar yang memberi kebebasan kepada anak untuk melakukan pilihan-pilihan akan mendorong anak untuk terlibat secara fisik, emosional, dan mental dalam proses belajar, dan karena itu, akan dapat memunculkan kegiatan-kegiatan yang kreatif-produktif. ltulah sebabnya, mengapa setiap anak perlu diberi kebebasan untuk melakukan pilihan-pilihan sesuai dengan apa yang mampu dan mau dilakukannya.

Pengelolaan kelas yang baik, dapat dilakukan dengan enam cara sebagai berikut; (1) penciptaan lingkungan fisik kelas yang kondusif (2) penataan ruang belajar sebagai sentra belajar (3) penciptaan atmosfir belajar yang kondusif, (4) penetapan strategi pembelajaran dan (5) pemanfaatan media dan sumber belajar, dan (6) penilaian hasil belajar.


Untuk lebih jelasnya ke enam cara tersebut di atas akan dijelaskan dalam uraian berikut.
A.Lingkungan Fisik Kelas

Lingkungan fisik di kelas meliputi pengaturan ruang belajar yang didesain sedemikian rupa sehingga tercipta kondisi kelas yang menyenagkan dan dapat menumbuhkan semangat dan keinginan untuk belajar dengan baik seperti: pengaturan meja, kursi, lemari, gambar-gambar afirmasi, pajangan hasil karya siswa yang berprestasi, alat-alat peraga, media pembelajaran dan jika perlu di iringi dengan nuansa musik yang sesuai dengan materi pelajaran yang diajarkan atau nuansa musik yang dapat membangun gairah belajar siswa. Disain ruang kelas yang baik dimaksudkan untuk menanamkan, menumbuhkan, dan memperkuat rasa keberagamaan dan perilaku-perilaku spritual siswa. Dengan ruang kelas yang baik, para siswa dapat berkomunikasi secara bebas, saling menghormati dan menghargai pendapat masing-masing. Di samping itu, dengan ruang kelas yang tertata dengan baik, guru akan leluasa memberikan perhatian yang maksimal terhadap setiap aktivitas siswa.


1.Pengaturan meja-kursi

Susunan meja-kursi hendaknya memungkinkan siswa-siswa dapat saling berinteraksi dan memberi keluasaan untuk terjadinya mobilitas pergerakan untuk melakukan aktivitas belajar. Meja-kursi juga hendaknya dapat digerakkan, dipindahkan, dan disusun secara fleksibel. Beri keleluasaan siswa mengatur sendiri atau memilih meja-kursinya masing-masing, walaupun mungkin akan tampak acak-acakan dan tidak beraturan. Prinsip pokok yang perlu diperhatikan dalam pengaturan meja-kursi adalah tatanan mana yang dapat menstimulasi dan mempertahakan tingkat keterlibatan belajar yang tinggi. Selain itu juga posisi tempat duduk siswa sebaiknya tidak tetap pada posisi tertentu, akan lebih baik jika posisi tempat duduk siswa di rubah setiap saat agar interaksi diantara siswa dalam kelas lebih terasa dan hal ini akan menumbuhkan sosialisasi diantara mereka serta mengatasi kebosanan siswa dengan posisi tempat duduk yang tetap.

Berikut dikemukakan beberapa bentuk penataan meja-kursi yang dapat dipilih oleh guru guna meningkatkan keterlibatan dan interaksi antar siswa dalam proses pembelajaran.


a.Model huruf U

Model susunan meja-kursi model U dapat dipilih untuk berbagai tujuan. Dalam model ini, para siswa memiliki alas untuk menulis dan membaca, dapat melihat guru atau media visual dengan mudah, dan memungkinkan mereka bisa saling berhadapan langsung. Susunan model ini juga memudahkan untuk membagi bahan pelajaran kepada siswa secara cepat, di mana guru dapat masuk ke dalam huruf U dan berjalan ke berbagai arah.

Dalam menyusun meja-kursi model U, sediakan ruangan yang cukup antara satu tempat duduk dengan yang lainnya sehingga kelompok kecil siswa yang terdiri atas tiga orang atau lebih dapat keluar-masuk dari tempatnya dengan mudah.


b.Model Corak Tim

Pada model ini, meja-meja dikelompokkan setengah lingkaran atau oblong di ruang tengah kelas agar memungkinkan guru melakukan interaksi dengan setiap tim (kelompok siswa). Guru dapat meletakkan kursi-kursi mengelilingi meja-meja guna menciptakan suasana yang akrab. Siswa juga dapat memutar kursi melingkar menghadap ke depan ruang kelas untuk melihat guru atau papan tulis.


c.Model Meja Konferensi

Model ini cocok jika meja relatif persegi panjang. Susunan ini mengurangi dominasi pengajar dan meningkatkan keterlibatan siswa.


d.Model Lingkaran

Dalam model ini, tempat duduk siswa disusun dalam bentuk lingkaran sehingga mereka dapat berinteraksi berhadap-hadapan secara langsung. Model lingkaran seperti ini cocok untuk diskusi kelompok penuh. Sediakan ruangan yang cukup, sehingga guru dapat menyuruh siswa menyusun kursi-kursi mereka secara cepat dalam berbagai susunan kelompok kecil. Jika mereka ingin menulis, mereka dapat menghadap ke meja masing-masing, namun jika mereka berdiskusi, mereka dapat memutar kursi untuk berhadap-hadapan satu sama lain.


e.Model Fishbowl

Susunan ini memungkinkan guru melakukan kegiatan diskusi untuk menyusun permainan peran, berdebat, atau mengobservasi aktivitas kelompok. Susunan yang paling khusus terdiri atas dua konsentrasi lingkaran kursi. Guru juga dapat meletakkan meja pertemuan di tengah-tengah, dikelilingi oleh kursi-kursi pada sisi luar.


f.Model Breakout groupings

Jika kelas cukup besar atau jika ruangan memungkinkan, letakkan meja-meja dan kursi di mana kelompok-kelompok kecil siswa dapat melakukan aktivitas belajar yang didasarkan pada tugas tim. Tempatkan susunan pecahan-pecahan kelompok saling berjauhan sehingga tim-tim itu tidak saling mengganggu. Tetapi hindarkan penempatan ruangan kelompok-kelompok kecil terlalu jauh dari ruang kelas utama sehingga hubungan di antara mereka dapat tetap terjaga.


g.Model Workstation

Susunan ini tepat untuk lingkungan tipe laboratorium, di mana setiap siswa duduk secara berpasangan pada meja tertentu untuk mengerjakan suatu tugas (seperti mengoperasikan komputer, mesin, melakukan kerja laboral, dsb) sesaat setelah dimenostrasikan. Meja diatur sedemikian rupa, sehingga siswa dapat bekerja secara berpasangan sebagai partner belajar. Susunan seperti ini tepat digunakan bila pokok bahasan melibatkan tugas mandiri (seat work) sekaligus tugas kelompok kecil.


Beberapa hal yang perlu diperhatikan berikut ini dalam menerapkan model ini.

• Pengaturan meja-kursi sebaiknya dapat digerakkan, dipin¬dahkan, dan disusun secara fleksi¬bel.

• Memberikan keleluasaan siswa mengatur sendiri atau memilih meja-kursinya masing-masing, walaupun mungkin akan tampak acak-acakan dan tidak beraturan.

• Susunan meja-kursi yang baik adalah yang memung¬kinkan siswa dapat saling berinteraksi dan memberi keluasaan untuk terjadinya mobilitas pergerakan untuk melakukan aktivitas belajar. Prinsip pokok yang perlu diperhatikan dalam pengaturan meja-kursi adalah tatanan mana yang dapat menstimulasi dan mempertahakan tingkat keterlibatan belajar yang tinggi.


2.Pemajangan gambar dan warna
Pemajangan gambar dan pemilihan warna perlu mempertimbangkan saran-saran berikut.

a.Siswa perlu dilibatkan dalam pengadaan dan penataan pajangan-pajangan yang dibutuhkan dalam kelas. Siswa, misalnya, dapat diminta membuat gambar, poster, motto, puisi, atau petikan ayat, hadis, dan pesan tokoh tertentu, untuk dipilih dan dipajang dalam kelas.

b.Guna menghin¬dari kejenuhan terha¬dap gambar dan isi poster afirmasi yang sama, guru perlu secara priodik mengganti gambar-gambar atau poster-poster tersebut.

c.Guna mengoptimalkan penataan ruang, maka hasil-hasil pekerjaan siswa sebaiknya dipajangkan untuk memenuhi ruang kelas. Yang dipajang¬kan dapat berupa hasil kerja perorang¬an, berpa¬sang¬an, atau kelompok. Pajangan dapat berupa gambar, peta, diagram, model, benda asli, puisi, karangan, dan sebagainya. Ruang kelas yang penuh dengan pajangan hasil pekerjaan siswa, dan ditata dengan baik, dapat membantu guru dalam proses pembelajaran karena dapat dijadikan rujukan ketika membahas suatu masalah. Di samping itu itu, karya-karya terpilih siswa yang dipajang dapat berfungsi sebagai reward dan praise yang dapat memotivasi siswa untuk bekerja lebih baik dan menimbulkan inspirasi bagi siswa lain.


3.Pemanfaatan musik

Kehadiran suara musik lembut di kelas juga diyakini dapat memperkuat daya tahan dan konsentrasi belajar siswa. Di samping itu, belajar sambil mendengar musik dapat menciptakan suasana menyenangkan dan rasa betah tinggal di kelas. Oleh karena itu, jika dana memungkinkan, di setiap kelas dapat disediakan radio tape untuk memutar dan memperdengarkan musik-musik lembut, khususnya saat siswa mengerjakan tugas-tugas yang menuntut konsentrasi dan daya pikir yang tinggi. Akan lebih baik, jika di kelas telah dipersiapkan dengan sound-system yang baik. Secara umum, semua pilihan musik untuk menopang aktivitas pembelajaran di kelas adalah jenis musik instrumentalia. Hanya pada saat jeda atau untuk maksud memberi efek khusus dapat dipilih musik yang berisi lirik lagu. Dan jika harus meng¬gunakan musik dengan lirik, pilihlah yang me¬ngandung pesan positif.



B.Penataan Ruang Kelas sebagai Sentra Belajar

Sentra belajar merupakan area khusus di ruang kelas untuk menata materi, perlengkapan, peralatan, dan karya siswa yang terkait dengan pokok bahasan, keterampilan atau kegiatan tertentu. Sentra belajar bisa berlokasi di atas meja, rak buku, sudut ruang, atau bahkan di kolong meja. Sentra belajar bisa bersifat permanen atau hanya terkait dengan kegiatan atau bidang pembelajaran tertentu, misalnya sentra penerbitan, sentra pembelajaran matema¬tika, kafe baca, dsb. Sentra belajar juga bisa bersifat fleksibel dan sementara (ditata untuk keperluan tema atau unit tertentu yang dipelajari).

Di samping itu, pelibatan siswa tersebut juga membantu membangun keterampilan “perawatan rumah” yang dipelukan untuk mempertahankan suasana kelas yang aktif dan berorientasi pada siswa. Untuk masud tersebut, guru dapat mendorong siswa untuk memiliki dan mengemukakan beberapa pilihan dalam menyusun aturan dasar bagi kegiatan berbasis-sentra mereka.

Beberapa praktik yang baik dalam menata sentra-sentra belajar (good practice) dikemukakan berikut ini:

•Dalam menata kelas menjadi sentra belajar, sejumlah guru bidang studi melibatkan siswa terutama dalam perencanaan dan pengadaan sumber-sumber belajar yang diperlukan. Pelibatan siswa dalam merancang ruang kelas menjadi sentra-sentra belajar dapat membangun rasa kebanggaan dan kebersamaan di kalangan siswa.

•Sistem moving-class (kelas berpindah) merupakan alternatif yang dapat ditempuh untuk mengefektifkan penataan ruangan kelas sebagai sentra belajar. Dalam sistem moving-class ini, ruang-ruang kelas tertentu ditata khusus untuk mendukung pembelajaran mata pelajaran tertentu. Ada kelas sains, kelas bahasa, kelas matematika, kelas kesenian, dan sebagainya. Kelas-kelas ini ditata menjadi semacam home-room atau sentra belajar khusus. Meja, kursi, peralatan, media, pajangan, dan berbagai aspek yang ada di kelas diatur sedemikian rupa sesuai kebutuhan dan karaketeristik pembelajaran mata pelajaran tertentu.


Penggunaan sistem moving-class seperti itu memiliki beberapa keuntungan, sebagai berikut:

•Atmosfir dan tatanan kelas dapat memperlancar aktivitas dan proses pembelajaran. Semua elemen dalam kelas menjadi semacam reinforcer (penguat) dan stimulator untuk membangkitkan gairah dan aktivitas belajar terhadap mata pelajaran tertentu.

•Memungkinkan penggunaan sarana, fasilitas, serta berbagai media dan peralatan belajar secara lebih efisien. Media dan peralatan pembelajaran Sains, misalnya, tidak perlu ada di semua kelas, semua kebutuhan pembelajaran mata pelajaran tersebut cukup ditempatkan dan ditata khusus pada kelas tertentu. Demikian pula kebutuhan media dan alat bantu belajar pada mata-mata pelajaran lainnya ditata khusus pada kelas-kelas tersendiri.

•Setiap hari, siswa dapat menikmati dan mengalami proses belajar pada tempat dan lingkungan belajar yang bervariasi. Mobilitas gerak seperi Ini dapat menghindar¬kan siswa dari kejenuhan akibat tata ruang kelas yang monoton.

•Pergerakan-pergerakan yang dialami siswa saat perpindahan kelas memungkinkan terjadinya interkasi yang lebih aktif dan hidup di kalangan siswa. Ini dapat menstimulasi dan mengembangkan sikap-sikap empati, kerjasama, kepedulian, dan berbagai sikap prososial siswa lainnya.


1.Pengelolaan Aktivitas Belajar Siswa

Biasanya, pengelolaan aktivitas belajar siswa dilakukan dalam be¬ragam bentuk seperti individual, berpasangan, kelompok kecil, atau klasikal. Beberapa pertimbangan perIu diperhitungkan sewaktu melakukan penge¬lolaan siswa. Antara lain jenis kegiatan, tujuan kegiatan, keterlibatan siswa, waktu belajar, dan ketersediaan sarana/prasarana. Hal yang sangat penting perIu diperhitungkan adalah keberagaman karakteristik siswa. Guru harus memahami bahwa setiap siswa memiliki karakter yang berbeda-beda. Untuk itu, perlu dirancang kegiatan belajar mengajar dengan suasana yang memungkinkan setiap siswa memperoleh peluang sama untuk menunjukkan dan mengembangkan potensinya. Berikut ini beberapa contoh perbedaan karakteristik masing-masing siswa.


2.Pengelolaan Waktu

Pembelajaran berlangsung selama priode waktu tertentu. Waktu me¬ru¬pakan sumber terbatas yang perlu dialokasi dan dimanfaatkan secara efesien dan efektif. Alokasi waktu pelaksanaan pembelajaran setiap mata pelajaran telah dialokasikan dalam satuan jam tertentu. Alokasi jam pembelajaran tersebut harus dapat digunakan secara optimal untuk menghasilkan perubahan belajar pada diri siswa.

Guna mengoptimalkan pemanfaatan waktu yang tersedia untuk ke¬butuhan pembelajaran, guru perlu memperhatikan beberapa petunjuk be¬rikut ini.

•Hindari waktu terbuang akibat keterlambatan penyiapan sumber atau media, penundaan memulai awal pembelajaran, atau terlalu banyak meng¬gunakan waktu untuk menyelesaikan tugas administratif. Guru perlu menemukan cara-cara kerja yang efisien dalam menyelesaikan tugas-tugas administratif yang memang perlu

Isi (by content): Memberikan peluang kepada siswa untuk mempelajari materi yang berbeda dalam sasaran kompetensi yang sama ataupun berbeda.

Minat dan motivasi siswa (by interest) Memberikan peluang kepada siswa untuk berkreasi sesuai dengan minat dan motivasi belajar terlepas dari kompetensi yang sama atau berbeda. Hal ini diharap¬kan mampu me¬macu motivasi siswa untuk belajar lebih lanjut secara mandiri.

Kecepatan tahapan belajar (by piece): Memberikan peluang kepada siswa untuk belajar (bekerja) sesuai dengan kecepatan belajar yang dimili-kinya. Keberagaman bisa pada kompetensi dan/atau isi materi pelajaran, serta kegiatan yang dilakukan siswa.

Tingkat kemampuan (by level):Memberikan peluang kepada setiap siswa untuk men¬ca-pai kompetensi secara maksimal sesuai dengan ting¬kat ke¬mam¬¬pu¬an yang dimiliki. Keberagaman bisa pada kompetensi dan/ atau isi materi pelajaran serta kegiatan yang dilakukan siswa.

Reaksi yang diberikan siswa (by respond): Memberikan kesempatan atau peluang kepada siswa untuk menunjukkan respon melalui presentasi/penyajian hasil karyanya secara lisan, tenulis, benda kreasi, dan sebagainya.

Siklus cara berpikir (by circular sequence):Memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk mengua¬sai materi melalui cara-cara berdasarkan perspektif yang mereka pilih. Struktur pengetahuan (by structure) memberikan kesempatan kepada siswa untuk memilih (menyeleksi) materi berdasarkan cara yang dikuasai, misalnya: dari yang mudah ke sulit, dari yang diketahui ke yang tidak diketahui, dari dekat ke jauh.

Waktu (by time):Memberikan perhatian kepada setiap individu siswa yang kemungkinannya memiliki perbedaan durasi untuk mencapai ketuntasan dalam belajar.

Pendekatan pembelajaran (by teaching style):Memberikan perlakuan yang berbeda kepada setiap indi¬vidu sesuai dengan keadaan siswa.

•Dilakukan untuk menunjung program pembelajarannya. Penggunaan komputer merupakan salah satu cara yang dapat ditempuh.

•Mulai pembelajaran pada waktunya. Hindari menghabiskan terlalu banyak waktu menghadapi siswa terlambat atau problem siswa lain. Guru terkadang terlalu banyak menghabiskan waktu mengurusi siswa-siswa terlambat atau menampilkan perilaku salah-suai lainnya. Siswa-siswa semacam itu sebaiknya ditangani setelah waktu pembelajaran, atau dilimpahkan ke konselor sekolah.

•Hindari meng¬hentikan PBM sebelum waktunya. Jika skenario pembel¬ajaran disiapkan dengan baik, guru dapat mememperkirakan macam dan kuantitas kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan alokasi waktu yang ditetapkan. Dengan demikian, sumber-sumber waktu yang disediakan un¬tuk setiap jam pembelajaran dapat digunakan secara efektif dan efisien.

•Hindari terjadinya hal-hal yang dapat mengganggu selama proses pembelajaran. Kondisikan agar prosedur dan kegiatan rutin siswa di kelas dapat dilakukan dengan lancar dan cepat. Gunakan petunjuk tertulis, denah, atau gambar untuk membantu siswa memahami apa yang harus dilakukan, bagaimana dan di mana suatu tugas harus dilakukan. Tata peralatan dan bahan yang diperlukan sedemikian rupa di lokasi yang mudah dijangkau dan digunakan oleh semua siswa saat dibutuhkan. Penataan ruang kelas yang baik, sebagaimana diuraikan sebelumnya, dapat membantu memperlancar aktivitas pembelajaran di kelas.

•Tingkatkan time on-task setiap siswa untuk mengikuti setiap sesi pembelajartan. Time on-task siswa, yaitu curah waktu dimana siswa secara aktif terlibat secara mental pada proses belajar. Ini dapat dilakukan dengan mengaitkan pelajaran dengan hal-hal yang menarik, bersifat melibatkan, dan sesuai dengan minat siswa.

•Pertahankan momentum belajar. Momentum belajar adalah momen, kesempatan, atau saat khusus tertentu di mana kelas sedang berada pada kondisi sangat kondusif dan terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Setiap siswa bergiat untuk saling belajar. Mempertahan momentum belajar selama proses pembelajaran merupakan salah satu kunci untuk menjaga tingkat keterlibatan belajar yang tinggi. Dalam kelas yang menjaga momentum dengan baik, siswa selalu memiliki sesuatu untuk dilakukan dan begitu pekerjaan dimulai tidak ada lagi gangguan yang merusak konsentrasi belajar.



C.Penciptaan Atmosfir Belajar

Lingkungan sistem pembelajaran meliputi berbagai hal yang dapat memperlancar proses belajar mengajar dikelas seperti: Kompetensi dan kreativitas guru dalam mengembangkan materi pembelajaran, penggunaan metode dan strategi belajar yang bervariasi, pengaturan waktu dalam proses belajar mengajar dan pengunaan media dan sumber pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran serta penentuan evaluasi untuk mengukur hasil belajar siswa. Keselurahan aspek yang dijelaskan di atas didesain sedemikian rupa dalam proses pembelajaran.

Yang menjadi penekanan dalam penciptaan atmosfir belajar yang kondusif adalah penciptaan suasana pembelajaran yang (1) menyenangkan, (2) mengasyikkan, (3) mencerdaskan, dan (4) menguatkan.

1.Menyenangkan dan mengasyikkan

Menyenangkan dan mengasyikkan terkait dengan aspek afektif pera¬saan. Guru harus bera¬ni meng¬ubah iklim dari suka ke bisa. Guru hendak¬nya da¬pat me¬ngundang dan mencelupkan siswa pada suatu kondisi pembel¬ajaran yang disukai dan menantang siswa untuk berkreasi secara aktif. Rancangan pembelajaran terpadu dengan materi pembelajaran yang kontekstual harus dikembangkan secara terus menerus de¬ngan baik oleh guru. Untuk keperluan itu guru-guru dilatih:

• bersikap ramah
• membiasakan diri selalu tersenyum
• ber¬komunikasi dengan santun dan patut
• adil terhadap semua siswa
• senantiasa sabar menghadapi berbagai ulah dan perilaku siswanya.

• menciptakan kegiatan belajar yang kreatif melalui tema-tema yang menarik yang dekat dengan kehidupan siswa.


2.Mencerdaskan dan menguatkan

Mencerdaskan bukan hanya terkait dengan aspek kognitif, melainkan juga dengan kecerdasan majemuk (multiple intelligence). Tidak kalah pentingnya adalah bagaimana guru dapat mengalirkan pendi¬dikan normatif ke dalam mata pelajaran sehingga menjadi adaptif dalam kese¬harian anak. Inilah yang merupakan tujuan utama dari fundamen pendidikan ke-cakapan hidup (life skill). Oleh karena itu, guru dilatih:

•Memilih tema-tema yang dapat mengajak anak bukan hanya sekedar berpikir, melainkan juga dapat merasa dan bertindak untuk menyelesaikan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawab¬nya.

•Teknik-teknik penciptaan suasana yang menyenangkan dalam pembelajaran, karena jika anak senang dan asyik, tentu saja bukan hanya kecerdasan yang diperoleh, melainkan juga mekarnya “kepribadian anak” yang menguatkan mereka sebagai pembelajar.

•Memberikan pemahaman yang cukup akan pentingnya memberikan keleluasaan bagi siswa dalam proses pembelajaran.

•Jangan terlalu banyak aturan yang dibuat oleh guru dan harus ditaati oleh anak akan menyebabkan anak-anak selalu diliputi rasa takut dan sekaligus diselimuti rasa bersalah.

Beberapa praktik penciptaan atmosfir belajar yang baik (good practice) dikemukakan berikut ini.

•Sebelum memulai pelajaran, dengan sikap yang ramah dan penuh senyuman guru menyapa beberapa orang siswa dan menanyakan mengenai keadaan dan kesiapan masing-masing siswa untuk belajar. Bahkan ada guru yang membuka pelajaran diawali dengan nyanyian pendek dan selanjutnya menugaskan seseorang siswa melanjutkan lagu tersebut.

•Di awal pelajaran, guru membiasakan siswa untuk berdoa secara bersama agar Tuhan senantiasa memberikan kesehatan dan kemudahan dalam memahami pelajaran. Selanjutnya, guru juga tidak lupa memberikan pencerahan-pencerahan rohani kepada para siswa agar mereka senantiasa saling menghormati dan menghargai, kejujuran dan tanggung jawab bagi setiap tugas yang diberikan.

•Selama proses pembelajaran berlangsung, guru senantiasa mengembangkan bentuk komunikasi yang efektif, agar siswa dapat bertanya atau mengemukakan pendapat dalam suasana yang menyenangkan dan merasa tidak tertekan, tidak takut atau merasa bersalah.


D.Penerapan Strategi Pembelajaran

Sebelum membahas tentang strategi pembelajaran, terlebih dahulu perlu dipahami tentang konsep belajar seperti berikut ini.

• Siswa akan lebih mudah membangun pemahaman apabila dapat meng-komunikasikan gagasannya kepada siswa lain atau kepada gurunya. Dengan kata lain, membangun pemahaman akan lebih mudah melalui interaksi dengan ling-kungan sosialnya.

• Interaksi memungkinkan terjadinya perbaikan terhadap pemahaman siswa melalui diskusi, saling bertanya, dan saling menjelaskan. Interaksi dapat ditingkatkan dengan belajar kelompok.

• Penyampaian gagasan oleh siswa dapat mempertajam, memperdalam, memantapkan, atau menyempumakan gagasan itu karena memperoleh tanggapan dari siswa lain atau gurunya.

• Dalam proses pembelajaran siswa senantiasa perIu dido¬rong untuk mengkomuni-kasikan gagasan, hasil kreasi dan temuannya kepada siswa lain, guru atau pihak-pihak lain. Dengan demikian pembelajaran memungkinkan siswa bersosialisasi dengan menghargai perbedaan (pendapat, sikap, kemampuan, prestasi) dan berlatih untuk bekerjasama. Artinya, pembelajaran itu diharapkan dapat mendorong siswa untuk mengembangkan empatinya sehingga dapat terjalin saling pengertian dengan menyelaraskan pengetahuan dan tindakannya.

Dengan pemahaman seperti hal tersebut di atas, guru-guru menyadari bahwa strategi pembelajaran merupakan hal yang penting dalam kegiatan belajar mengajar di kelas, karena strategi dapat menciptakan kondisi belajar yang mendukung pencapaian tujuan pem-belajaran. Selain itu, strategi pembelajaran yang dipilih dan dipergunakan dengan baik oleh guru dapat mendorong siswa untuk aktif mengikuti kegiatan belajar di dalam kelas, dan penggunaan strategi pembelajaran secara baik dapat berdampak pada meningkatnya keterampilan mengajar guru dan rasa percaya dirinya.

Beberapa strategi pembelajaran yang dapat menciptakan budaya dan iklim sekolah dapat dikemangkan antara lain (1) pembelajaran berbasis masa¬lah, (2) pembelajaran inquiry, (3) pembelajaran berbasis proyek/tugas, (4) pembelajaran kooperatif, (5) pembelajaran partisipatory, dan (6) pembelajaran scaffolding.


1.Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah

Untuk dapat menerapkan strategi pembelajaran berbasis masalah, maka seorang guru sebaiknya menggunakan masalah dunia nyata se¬bagai kon¬teks pembelajaran. Melalui dunia nyata yang terjadi di sekitar mereka, maka siswa dapat belajar mengembangkan cara berpikir kritis dan kete¬rampilan pemecahan masalah serta memperoleh pengetahuan dan konsep esen¬sial dari materi pelajaran. Pembelajaran bermakna hanya dimungkinkan terjadi bila siswa dapat mengerahkan proses berpikir tingkat tinggi, seperti pada level analisis, sintesis, dan evaluasi. Ka¬rena itu, guna merang¬sang kemampuan berpikir tingkat tinggi dari siswa, mereka perlu di¬orientasikan pada situasi/dunia nyata dengan segala problemanya. Para siswa akan tertantang bagaimana belajar, dengan menggunakan fenomena di dunia nyata sekitarnya.

Pembelajaran berbasis masalah dapat ditempuh melalui lima tahap sebagai berikut.

Tahap 1: orientasi siswa kepada masalah.Þ

Guru menjelaskan tujuan pem¬belajaran dan logistik yang dibutuhkan, serta memotivasi siswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilih.

Tahap 2: mengorganisasi siswa untuk belajar.Þ

Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasi tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut.

Tahap 3: membimbing penyelidikan individual dan kelompok.Þ

Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai dan meaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalahnya

Tahap 4: mengembangkan dan menyajikan hasil karya.Þ

Guru membantu siswa merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model, serta membantu mereka mambagi tugas dengan temannya.

Tahap 5: menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.Þ

Guru membantu siswa melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan dan proses-proses yang mereka gunakan.


2. Strategi Pembelajaran Inquiri

Pembelajaran inquiry mendorong siswa untuk mengalami, melakukan percobaan, dan menemukan sendiri prinsip-prinsip dan konsep yang diajarkan. Strategi pembelajaran inquiry & discovery memiliki beberapa keuntungan, seperti dapat membangkitkan curiosity, minat, dan motivasi sis¬wa untuk terus belajar sampai dapat menemukan jawaban. Di samping itu, melalui penerapan strategi inquiry & discovery, siswa juga dapat belajar memecahkan masalah secara man¬diri dan mengembangkan keterampilan berpikir kritis sebab mereka harus menganalisis dan mengutak-atik data dan informasi.

Secara operasional, pembelajaran inquiry & discovery dapat ditempuh melalui tahapan berikut:

Þ Sajikan situasi teka-teki (puzzling situation) yang sesuai dengan tahapan perkembangan siswa. Jelaskan prosedur inkuiri dan sajikan masalah.

Minta siswa mengumpulkan informasi melalui observasi atau berdasar pengalaman masing-masing.Þ

Minta siswa menganalisis dan menyajikan hasil dalam bentuk tulisan, gambar, bagan, tabel, atau karya lain.Þ

Þ Minta siswa mengkomunikasikan dan menyajikan hasil karyanya, misalnya dalam bentuk penyajian di kelas, menempelkan di majalah dinding, menulis di koran, dsb.

Þ Dalam penyajian di kelas, bangkitkan tanggapan dan penjelasan siswa lain. Minta tanggapan balik (counter-suggestions) dan selidiki tanggapan siswa. Hadapkan mereka dengan demonstrasi-demonstrasi tambahan untuk mengeksplorasi lebih jauh fenomena.

Þ Ciptakan lingkungan yang dapat menerima jawaban salah tapi masuk akal. Selalu minta siswa memberi alasan atas jawaban-jawaban mereka. Sajikan tugas-tugas yang berkaitan kemudian cermati dan beri balikan atas pemikiran yang diajukan siswa.


3.Strategi Pembelajaran Berbasis Proyek/Tugas

Pembelajaran berbasis proyek/tugas (project-based/task learning) ditandai dengan pengelolaan lingkungan belajar yang memungkinkan siswa melakukan penyelidikan terhadap masalah otentik termasuk pen¬dalaman materi dari suatu topik mata pelajaran, dan melaksanakan tugas bermakna lainnya. Dalam pembelajaran berbasis proyek, siswa diberikan tugas atau proyek yang kompleks, cukup sulit, lengkap, tetapi realistik dan kemudian diberikan bantuan secukupnya agar mereka dapat menyelesaikan tugas. Di sam-ping itu, penerapan strategi pembelajaran berbasis proyek/tugas ini mendorong tumbuhnya kompetensi pengiring (nurturant) seperti kreativitas, kemandirian, tanggung jawab, keper-cayaan diri, dan berpikir kritis dan analitis.

Implementasi pembelajaran berbasis proyek/tugas didasarkan kepada empat prinsip berikut ini.

Membuat tugas bermakna, jelas, dan menantangÞ

Guna mempertahankan tingkat keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran, maka tugas yang diberikan kepada siswa harus cukup ber¬makna dan memiliki tujuan yang jelas. Siswa perlu mengetahui dengan tepat apa yang mereka harus kerjakan, mengapa mereka mengerjakan pekerjaan itu, dan apa yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan itu.

Menganekaragamkan tugas-tugasÞ

Pilihan tugas yang beraneka ragam dapat menambah daya tarik tugas pekerjaan kelas dan pekerjaan rumah. Jika tugas belajar yang diberikan cukup bervariasi, siswa dapat lebih termotivasi dan lebih terlibat aktif dalam menger¬jakannya. Pilihan mengenai tugas belajar tidak terbatas dan tidak ada alasan bagi guru untuk membuat jenis tugas yang sama dari hari ke hari.

Menaruh perhatian pada tingkat kesulitanÞ

Menetapkan tingkat kesulitan yang cocok atas tugas-tugas yang diberikan kepada siswa merupakan satu bahan baku penting untuk menjamin keterlibatan berkelanjutan yang dibutuhkan untuk penyelesaian tugas-tugas tersebut. Jika siswa diharapkan untuk bekerja secara mandiri, tugas yang diberikan harus memiliki tingkat kesulitan yang menjamin kemungkinan berhasil tinggi. Siswa tidak akan tertantang ketika tugas-tugas yang diberikan terlalu mudah. Tugas yang baik perlu memiliki tingkat kesulitan cukup sehingga kebanyakan siswa me¬mandangnya sebagai sesuatu yang menantang, namun cukup mudah sehingga kebanyakan siswa akan menemukan pemecahannya dan mengerjakan tugas tersebut atas jerih payah sendiri.

Memonitor kemajuan siswaÞ

Salah satu tugas penting guru adalah memonitor tugas-tugas pekerjaan kelas dan pekerjaan rumah. Monitoring tersebut bertujuan untuk mengetahui apakah siswa memahami tugas mereka melalui pemeriksaan pekerjaan siswa dan pengembalian tugas dengan umpan balik? Guru harus selalu menyediakan waktu 5 atau 10 menit untuk berkeliling di antara siswa yang bekerja untuk memastikan apakah mereka memahami dan mengerjakan dengan benar tugas yang diberikan. Apabila siswa bekerja berkelompok, maka guru hendaknya berada dalam kelompok tersebut secara bergantian dan berkeliling di antara siswa yang bekerja secara mandiri. Selanjutnya, guru perlu menyiapkan waktu untuk mengoreksi pekerjaan yang dihasilkan siswa dan mengembalikan kepada mereka dengan umpan balik, termasuk memberi reinforcement dalam bentuk reward bagi hasil karya yang baik dan catatan-catatan penyempurnaan bagi karya yang belum optimal.


4.Strategi Pembelajaran Kooperatif

Dalam pembelajaran kooperatif, siswa bekerja dalam ke¬lom¬pok kecil untuk saling membantu belajar satu sama lain. Strategi pem¬belajaran ini, me¬mungkinkan pengembangan sejumlah kompetensi nurtu¬rant pada diri siswa, seperti:

Mengembangkan keterampilan komunikasi, kerja sama, kepekaan sosial, tanggung jawab, tenggang rasa, dan penyesuaian sosial.Þ

Membangun persahabatan, rasa saling percaya, kebiasaan bekerjasama, dan sikap prososial.Þ

Memperluas perspektif wawasan, keyakinan terhadap gagasan sendiri, rasa harga diri, dan penerimaan diri.Þ

Memungkinkan sharing pengalaman dan saling membantu dalam memecahkan masalah pembelajaran.Þ

Mengoptimalkan penggunaan sumber belajar dan pencapaian hasil belajar.Þ

Secara operasional, pembelajaran kooperatif dapat diterapkan melalui metode Student Teams Achievement Divisions (STAD) dan metode Inves¬tigasi Kelompok (Group Investigation)

Pelaksanaan metode STAD ditempuh de¬ngan beberapa tahapan sebagai berikut:
Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, masing-masing terdiri atas 4 atau 5 anggota.Þ
Setiap tim memiliki anggota heterogen (jenis kelamin, ras, etnik, kemampuan belajar).Þ
Tiap anggota menggunakan lembar kerja akademik.Þ
Tiap anggota saling membantu untuk menguasai bahan ajar melalui tanya jawab atau diskusi.Þ
Þ Secara individual atau tim, tiap minggu atau tiap dua minggu dilakukan eva¬luasi oleh guru untuk mengetahui penguasaan mereka terhadap bahan yang telah dipelajari.
Setiap siswa dan setiap tim diberi skor atasÞ penguasaannya terhadap bahan ajar. Siswa atau tim yang meraih prestasi tertinggi atau mencapai standar tertentu diberi penghargaan.
Metode Invistigasi Kelompok dapat ditempuh dengan cara sebagai berikut:
Seleksi topik, para siswa memilih berbagai sub-topik dalam satu wilayah ma¬salah umum terkait dengan tujuan pembelajaran.Þ
Þ Organisasi, para siswa dibagi ke dalam kelompok yang berorientasi pada tugas dan beranggotakan 2 - 6 orang dengan komposisi heterogen.
Þ Merencanakan kegiatan kerjasama, siswa bersama guru merencanakan berbagai prosedur belajar khusus, tugas, dan tujuan umum yang sesuai dengan sub-topik yang telah dipilih.
Tahap implementasi. SiswaÞ melaksanakan rencana yang telah disusun. Dorong siswa menggunakan berbagai sumber, baik di dalam maupun di luar sekolah.
Analisis danÞ sintesis, siswa menganalisis dan mensintesiskan berbagai informasi yang diperoleh dan membuat ringkasan untuk disajikan di depan kelas.
Penyajian hasil akhir, setiap kelompok menyajikan hasil investigasi kelompoknya di depan kelas.Þ
Þ Evaluasi, guru beserta siswa melakukan evaluasi mengenai kontribusi tiap kelompok terhadap pekerjaan kelas sebagai suatu keseluruhan. Evaluasi dapat mencakup siswa secara individu atau secara berkelom¬pok, atau keduanya.



5. Strategi Pembelajaran Partisipatori

Pembelajaran partisipatori menekankan pelibatan siswa untuk berpartisipasi dan ikut menentukan berbagai aktivitas pembelajaran. Setiap siswa adalah subjek yang kepentingannya perlu diperhatikan dan diakomodasi dalam proses pembelajaran. Pelibatan siswa dalam perencanaan dan penentuan berbagai pilihan tindakan pembelajaran dapat meningkatkan motivasi dan komitmen siswa untuk menekuni setiap tugas pembelajaran. Di samping itu, strategi ini dapat mendorong tumbuh dan berkembangnya jiwa demokratis serta kemampuan mengemukakan dan menerima pendapat di kalangan siswa.

Pelaksanaan pembelajaran partisipatori dapat ditempuh melalui strategi sebagai berikut:

Þ Libatkan siswa dalam membuat perencanaan dan pilihan tindakan yang diperlukan dalam proses pembelajaran. Misalnya, dalam memutuskan mengenai strategi umum yang perlu ditempuh, sumber pembelajaran, cara-cara menyelesaikan tugas, bentuk dan tugas kelom¬pok, dsb.

Þ Gunakan berbagai teknik, seperti brainstorming, metaplan, diskusi kelompok fokus untuk mendorong semua siswa mengemukakan gagasan masing-masing.
Evaluasi setiap alternatif berdasarkan kelayakanÞ (kemampuan, sumberdaya, waktu, fasilitas), kemudian sepakati pilihan yang dapat diterima semua pihak. Dimungkinkan setiap individu atau kelompok memilih caranya masing-masing untuk mencapai tujuan sepanjang berkontribusi pada pencapaian tujuan pembelajaran.
Dorong siswaÞ melaksanakan alternatif tindakan secara konsisten, namun tetap memberi peluang dilakukannya refleksi, revisi, dan perubahan rencana tindakan.

6. Strategi Pembelajaran Scaffolding

Pembelajaran scaffolding merupakan praktik assisted learning, yakni teknik pemberian dukungan belajar yang pada tahap awal diberikan secara lebih terstruktur, kemudian secara berjenjang sebagai peranan guru dalam mendukung perkembangan siswa dan menyediakan struktur dukungan untuk mencapai tahap atau level berikutnya. Ketika pengetahuan dan kompetensi belajar siswa meningkat, guru secara berangsur-angsur mengurangi pemberian dukungan. Sesungguhnya, strategi pembelajaran scaffolding mendorong siswa menjadi pelajar yang mandiri dan mengatur diri sendiri (self- re¬gulating). Jika siswa belum mampu mencapai kemandirian, guru kembali ke sistem dukungan untuk membantu siswa memperoleh kemajuan sampai mereka mampu mencapai kemandirian.

Beberapa keuntungan pembelajaran Scaffolding adalah:
Memotivasi dan mangaitkan minat siswa dengan tugas belajar.Þ
Menyederhanakan tugas belajar sehingga bisa lebih terkelola dan bisa dicapai oleh anak.Þ
Memberi petunjuk untuk membantu anak berfokus pada pencapaian tujuan.Þ
Secara jelas menunjukkan perbedaan antara pekerjaan anak dan solusi standar atau yang diharapkan.Þ
Mengurangi frustasi dan resiko.Þ
Memberi model dan mendefenisikan dengan jelas harapan mengenai aktivitas yang akan dilakukan.Þ

Teknik pembelajaran scaffolding dapat dilakukan dengan format: (1) pemberian model perilaku yang diharapkan, (2) pemberian penjelasan, (3) mengundang siswa berpartisipasi, (4) menjelaskan dan mengklarifikasi pema¬haman siswa, dan (5) mengundang siswa untuk mengemukakan pendapat.

Secara operasional, strategi pembelajaran scaffolding dapat ditempuh melalui tahapan berikut.
Asesmen kemampuan dan taraf perkembangan setiap siswa untuk me¬nen¬tukan Zone of Proximal Development (ZPD).Þ
Þ Jabarkan tugas pemecahan masalah ke dalam tahap-tahap yang rinci se¬hingga dapat membantu siswa melihat zona yang akan di-scaffold.
Þ Sajikan tugas belajar secara berjenjang sesuatu taraf perkembangan sis¬wa. Ini dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti melalui penjelasan, peringatan, dorongan (motivasi), penguraian masalah ke dalam langkah pemecahan, dan pembe¬rian contoh (modeling).
Dorong siswa untuk menyelesaikan tugas belajar secara mandiri.Þ
Þ Berikan dukungan dalam bentuk pemberian isyarat, kata kunci, tandamata (reminders), dorongan, contoh, atau hal lain yang dapat memancing siswa bergerak ke arah kemandirian belajar dan pengarahan diri.

Dalam mengimplementasikan strategi-strategi pembelajaran yang disarankan, guru harus selalu mengingat bahwa kegiatan pembelajaran yang dilaksanakannya senantiasa diarahkan untuk pencapaian dampak instruksional dan dampak pengiring. Dampak instruksional bermuara pada kecerdasan intelektual (IQ), sedangkan dampak pengiring bermuara pada kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ). Untuk keperluan itu, diharapkan guru dapat memilih dan me¬rancang serta mengembangkan media pembelajaran agar dapat memudahkan pencapaian IQ, EQ, dan SQ tersebut.

Beberapa praktik penerapan strategi pembelajaran yang baik (good practice) yang telah dilaksanakan di sekolah dikemukakan berikut ini.

•Dalam memilih dan menentukan strategi pembelajaran, pada umumnya guru bidang studi melibatkan siswa, serta menyesuaikan dengan tingkat kesulitan kompetensi dasar yang terdapat dalam kurikulum. Di samping itu, dalam menentukan strategi pembelajaran, guru juga mencermati tujuan pembelajaran yang hendak dicapai, jumlah siswa yang terlibat di dalam pro¬ses pem¬bel¬ajar¬an, serta lama waktu yang tersedia untuk mencapai tujuan yang dimaksud.

•Pada umumnya guru bidang studi menyadari sepenuhnya bahwa strategi pembelajaran yang dipilih ada¬lah strategi yang dapat membuat siswanya mempunyai keyakinan bahwa dirinya mampu belajar dan dapat memanfaatkan potensi siswa seluas-luasnya.

•Sejumlah guru telah berhasil menggunakan berbagai variasi strategi pembelajaran dalam pencapaian kompetensi dasar tertentu yang terdapat di dalam kurikulum. Misalnya dalam pembelajaran bidang studi IPA, IPS, kesenian, atau olah raga memadukan strategi kooperatif dengan berbasis masalah dan strategi inquiry.

•Dengan memadukan strategi partisipatorik-penugasan, siswa mampu berkreasi seni suara dengan baik serta menanggapi beragam karya musik sesuai sifat dan karakteristik setiap jenis musik.

•Semua strategi yang dipilih dan diterapkan oleh guru, senantiasa diawali dengan pembacaan doa sebelum dan sesudah berolahraga.

•Meskipun belum semua guru SMA unggulan telah menerapkan strategi pembelajaran seperti yang diharapkan, namun sejumlah guru telah berhasil menerapkan berbagai strategi pembelajaran di sekolah masing-masing. Mereka mengakui bahwa selama ini, strategi pembelajaran yang diberikan hanya sebatas pada ceramah, diskusi, dan pemberian tugas.


E.Pemanfaatan Media dan Sumber Belajar

Untuk mendukung pembelajaran dengan baik, maka guru perlu dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan menggunakan berbagai media dan sumber belajar. Pengetahuan dan pengalaman tersebut akan membantu guru dalam menentukan media yang sesu-ai dengan kebutuhan pembelajaran.

Media dan sumber belajar yang disediakan guru hendaknya dapat mendorong dan membantu siswa untuk melibatkan mental secara aktif melalui beragam kegiatan, seperti kegiatan mengamati, bertanya, mempertanyakan, menjelaskan, berkomentar, mengajukan hipote¬sis, mengumpulkan data, dan sejumlah kegiatan mental lainnya.

Untuk keperluan itu, materi penggunaan media dan sumber belajar yang diberikan dalam pelatihan tersebut meliputi:

•Pengenalan berbagai jenis media pembelajaran dan fungsinya masing-masing dalam pembelajaran.

•Latihan mencari berbagai sumber belajar yang sesuai dengan kompetensi dasar yang akan dicapai.

1.Sumber Situasi Nyata (Sumber Berbasis Lingkungan)

Situasi kehidupan nyata dan lingkungan sekitar yang ada di sekitar siswa merupakan sumber belajar yang sangat penting dan dapat memberi informasi dan pengalaman belajar yang tidak terbatas bagi siswa. Ada banyak informasi, fakta, dan pengetahuan yang dapat digali situasi nyata dan lingkungan sekitar guna mendukung rekonstruksi dan mempekaya pemahan dan pengalaman belajar siswa.


2.Sumber Menggunakan Situasi Buatan

Guru tidak selalu mampu menyediakan situasi nyata. Kesempatan untuk mengunjungi tempat-tempat yang menyajikan situasi nyata untuk belajar seringkali tidak tersedia atau sulit dilakukan. Dalam keadaan seperti ini, guru tetap dapat menghadirkan situasi kehidupan dan fenomena lingkungan dengan membuat situasi buatan. Situasi dan aktivitas kelas ditata sedemikian rupa menyerupai apa yang terjadi dalam lingkungan nyata. Dengan demikian, peningkatan pemahaman siswa tentang berbagai ihwal kehidupan pasar, misalnya, dapat dilakukan guru dengan menyediakan kegiatan simulasi, yakni membuat situasi buatan. Pada kondisi ini, kelas dapat dirancang seperti pasar, sebagian siswa berperan sebagai pembeli dan sebagian lainnya sebagai penjual.

Seperti juga pada model situasi nyata, pada model ini pun dapat dibedakan menjadi situasi buatan dengan siswa terlibat langsung dan situasi buatan dengan siswa tidak terlibat langsung.


3.Penggunaan Media Audio-Visual

Sumber belajar dapat pula dihadirkan melalui berbagai media, seperti media audio-visual. Cara ini menya¬jikan contoh situasi nyata atau contoh situasi buatan dalam sajian tayangan hidup (film, video). Tentu saja, cara ini lebih mudah menjadi pengalaman belajar kalau sajian tayangan mengandung unsur cerita yang berkaitan dengan pengalaman dan imajinasi siswa. Guru dapat mencari dan menyeleksi film atau video yang berisi ceritera atau laporan dokumenter yang sesuai atau ada kaitan dengan pokok bahasan tertentu dalam mata pelajaran yang diasuh. Film atau video seperti itu kemudian ditayangkan di kelas atau temta khusus tertetu diikuti dengan diskusi bersama siswa sekaitan dengan tema dan spot-spot ceritera serta kaitannya dengan pokok bahasan mata pelajaran.


4.Penggunaan Media Visualisasi Verbal

Sumber belajar yang paling umum digunakan dalam mendukung pemahaman mengenai pokok bahasan adalah melalui media visu¬alisasi-verbal. Cara ini banyak berkaitan dengan membaca buku pelajaran, buku sumber, ensiklopedia, lembar kegiatan/kerja, cart, grafik, tabel. Pada beberapa buku biasanya tidak hanya menyajikan uraian teks, tetapi juga dilengkapi dengan beragam ilustrasi (gambar). Dengan demikian, siswa yang memiliki daya abstraksi lemah dapat terbantu dengan keberadaan ilustrasi/gambar tersebut.


5.Penggunaan Media Audio Verbal

Guru terbiasa menggunakan cara audio-verbal dalam bentuk ceramah. Pada keadaan ini, siswa senantiasa diam-pasif sambil mendengarkan penjelasan guru. Kekurangan atau kelemahan cara ini adalah sebagian siswa tidak mudah untuk menyamakan informasi yang diceramahkan guru dengan pengetahuan awal siswa. Kalau keadaan ini berkelanjutan, peristiwa belajar cenderung tidak berlangsung. Untuk mengatasinya, guru harus mengurangi cara ini, atau kalau terpaksa perIu berceramah cukup antara 20 - 25 menit saja dan diselingi dengan kegiatan yang mendorong penggunaan indera “Lihat, Raba, Penciuman, Rasa”. Materi yang diceramahkan pun perlu bersifat kontekstual dengan pengalaman sebagian besar siswa.


6.Media Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)

Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) atau Information and Communication Technology (ICT) berfungsi sebagai bahan dan alat pembelajaran. Sebagai bahan, TIK menjadi sebuah mata pelajaran yang diperkenalkan mulai pada jenjang sekolah dasar sampai pada sekolah menengah atas. Sebagai alat pembelajaran, guru dianjurkan untuk memanfaatkan fasilitas TIK untuk memfasilitasi pembelajaran di kelas. Beberapa jenis yang potensial dan sering digunakan sebagai alat bantu pembelajaran, misalnya radio, televisi, dan komputer.

Media komputer memiliki banyak kelebihan dibandingkan media lainnya. Di samping memudahkan dan memperlancar pekerjaan, seperti mengetik, menganalisis, atau mendokumentasi data dan informasi, media komputer juga dapat berfungsi sebagai perangkat untuk jaringan komunikasi, seperti melalui internet, intranet, email, dan sebagainya. Oleh karena itu, akhir-akhir ini komputer telah banyak dimanfaatkan sebagai media pembelajaran, yang biasa disebut sebagai pembelajaran berbasis komputer (PBK). PBK meliputi berbagai kegiatan belajar dan aplikasi dengan menggunakan komputer. Dalam kegiatan pembelajaran, komputer dapat berfungsi sebagai tutor, alat (tool), atau stumulator.

Penggunaan komputer sebagai media pembelajaran memiliki beberapa keuntungan sebagai berikut:
•Siswa belajar sesuai kemampuan dan kecepatan masing-masing.
•Siswa belajar menurut masalah yang dihadapinya.
•Siswa menerima balikan segera (instant feedback).
•Siswa merasa lebih bebas tanpa merasa diamati oleh orang lain.
•Format pembelajaran dapat mencakup semua indera dan aktivitas belajar, yaitu visual, audio, oral, dan gerak (kinestetik).
•Peluang untuk mengyulang materi terbuka luas dan lebih banyak.

•Penjadwalan bisa lebih fleksibel apabila laboratorium komputer diperlakukan sebagai sumber yang dapat diakses sendiri oleh setiap siswa (self-acces learning resources).

•Menawarkan materi dan kegiatan yang otentik dan interaktif.

Dari hasil pendampingan dan refleksi terhadap kemampuan guru menggunakan media dan sumber belajar di dalam proses pembelajaran, ditemukan sejumlah keberhasilan di samping sejumlah kendala sebagaimana yang dipaparkan berikut ini.


F.Penilaian Hasil Belajar

Penilaian hasil belajar sebaiknya ditekankan pada proses pembelajaran yang dilakukan oleh siswa, bukan untuk mengukur pada hasil semata. Bentuk penilaian yang dianjurkan dalam pembelajaran efektif adalah penilaian sebenarnya (authentic assessment). Yang paling ditekankan adalah bagaimana guru senantiasa menyadari sejak awal bahwa tujuan akhir dari penilaian pembelajaran adalah agar untuk mengukur dan menilai keberhasilan pencapaian tiga jenis kecerdasan secara seimbang, yakni kecerdasan IQ, EQ, dan SQ.

Beberapa prinsip penilaian dalam pembelajaran efektif yang perlu diketahui oleh guru dalam menyusun dan melaksanakan penilaian sebagai berikut berikut.

•Harus mengukur semua aspek pembelajaran, yaitu proses, kinerja, dan produk.
•Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembel¬ajaran berlangsung.
•Menggunakan berbagai cara dan berbagai sumber. Tes hanya salah satu alat pengumpul data penilaian.

•Menstimulasi muncul dan digunakannya cara berpikir divergen (berpikir lateral, horisontal, sebagai lawan cara berpikir konvergen dan vertikal) oleh siswa. Soal-soal atau tugas memancing munculnya cara jawab atau cara penyelesaian yang bervariasi, bukan hanya satu jawaban kunci.

•Tugas-tugas yang diberikan dan dijadikan bahan evaluasi siswa haruslah mencerminkan bagian-bagian kehidupan siswa yang nyata setiap hari. Mereka harus dapat menceritakan pengalaman atau kegiatan yang mereka lakukan setiap hari.
•Penilaian harus menekankan pada kedalaman pengetahuan (kualitas) dan keahlian siswa, bukan keluasannya (kuantitas).
Untuk menjalankan prinsip-prinsip penilaian, guru harus mempertim¬bangkan beberapa hal penting antara lain; (1) penilaian proses dan hasil, (2) pe¬ni¬laian berkala dan berkesinambungan, (3) penilaian yang jujur dan adil, dan (4) memberikan penilaian secara seimbang terhadap kecerdasan IQ, EQ, dan SQ.
Komponen proses dan hasil belajar yang penting dinilai antara lain:
•Hasil ulangan harian dan ulangan umum. Biasanya dicatat dalam buku rapor siswa.
•Tugas-tugas terstruktur biasanya dikumpulkan oleh guru dan disimpan dalam map atau loker khusus.
•Catatan perilaku harian para siswa, biasanya tersimpan pada buku khusus (catatan anekdot).
•Laporan kegiatan siswa di luar sekolah yang menunjang kegiatan belajar, biasanya dikumpulkan oleh guru dan didokumentasikan.

Penilaian secara umum bertujuan untuk mengetahui kemajuan hasil belajar siswa dan menetapkan tingkat penguasaan kompetensi suatu keahlian tertentu sesuai dengan indikator yang dipersyaratkan standar kompetensi. Berdasarkan hasil penilaian itu diberikan penghargaan kepada peserta didik dalam bentuk rapor, ijazah, paspor keterampilan, atau sertifikat kompetensi. Bentuk penilaian meliputi jenis tagihan seperti kuis, pertanyaan lisan di kelas, ulangan harian, tugas individu, tugas kelompok, ulangan semester, kerja praktik/unjuk kerja, pekerjaan rumah, atau bentuk tagihan pilihan ganda, uraian singkat, laporan untuk kerja, portofolio, serta tagihan dalam bentuk soal yang akan diberikan pada peserta didik.


G.Bahan Diskusi/Tugas

Diskusikan dengan kelompok Anda mengenai berbagai masalah yang dihadapi dalam pengelolaan kelas dalam menciptakan budaya dan iklim yang inovatif dan kondusif. Kemukakan berbagai alternatif untuk mengatasi masalah tersebut beserta pihak-pihak yang bertanggung jawab langsung dalam mengatasi masalah tersebut. Pihak yang bertanggung jawab dapat dipilih di antara guru, kepala sekolah, siswa, komite sekolah, orangtua, dan sebagainya.