Kamis, 31 Desember 2009

Novel Spesies Santri

BAGIAN 1
KEMUNAFIKAN YANG PERCUMA

Pelajaran bahasa Arab adalah salah satu mata pelajaran yang kami takuti ketika sedang belajar madrasah
ibtidaiyah Nidhomuddin. Entah mengapa, namun ketakutan itu hampir dirasakan oleh sebagian besar murid
yang masih berusia antara 5 sampai 12 tahun di madrasah tersebut, termasuk aku. Entah atas dasar motif,
cita-cita, keinginan, atau kebiasaan apa, sehingga aku dikirim untuk belajar tingkat dasar di sekolah tersebut,
padahal sebelumnya aku belajar di TK Dharma Wanita, TK yang lebih ”nasionalis” dibanding MI
Nidhomuddin yang jelas dari namanya saja mampu memberi cerminan bahwa sekolah tersebut adalah jenis
lembaga pendidikan yang kuat mengusung nilai-nilai agama, khususnya Islam.
Secara geografis, sekolah tersebut juga terbilang lebih jauh dari rumahku jika dibandingkan dengan sekolah
dasar lain, yaitu SDN Santri Rejo I yang hanya berjarak 200 meter dari rumahku, sedangkan MI
Nidhomuddin berjarak kurang lebih 500 meter dari rumah. Untuk sampai ke Nidhomuddin, aku harus
berjalan menyusuri jalan kampung ke arah timur, menyeberang jalan raya yang waktu itu menjadi perlintasan
bus dari Jembatan Merah ke kota sekitar Surabaya karena terminal Purabaya belum ada. Tiap hari kecuali
hari Jum’at –karena hari itu adalah hari libur di MI Nidhomuddin —aku berjalan dengan dua teman lelaki
satu kampung dan satu kelas denganku, Mahudi dan Marwan menuju sekolah agama tersebut.
Cemas, sangat berhati-hati, mencoba selalu awas, dan bahkan sering juga datang ketakutan ketika aku dan
kedua sahabatku tersebut menyeberang dari jalan yang membelah arah utara-selatan tepat disamping barat
MI Nidhomuddin. Bukan ketakutan akan jalan raya, pada bus, sepeda motor yang masih jarang, sepeda
onthel, atau apapun yang melintas di jalan tersebut.
Namun ketakutan itu selalu muncul karena memori kognisi otakku --sebagai anak yang kerap kali mendapat
informasi atau cerita yang selayaknya belum layak aku dengarkan--, pasti ingat akan sebuah tragedi yang
menyebabkan wafatnya adik buyutku, kiai Sim, begitu ibu, abah, dan keluarga kami menyebutnya. Tepat 50
meter di sebelah utara MI Nidhomuddin terdapat sebuah pertigaan –yang kini sudah menjadi perempatan—
yang mempertemukan arus lalu lintas dari timur, barat, dan selatan. Di pertigaan inilah pada tahun 1979 lalu
ketika aku masih bayi beberapa bulan, kiai Sim ditabrak oleh seseorang yang tidak dikenal ketika melintasi
jalan tersebut dengan sepeda kebo selepas pulang ikut kuliah subuh di pesantrennya salah seorang kiai. Beliau
lalu meninggal –yang katanya-- dengan batok kepala pecah dan selalu mengeluarkan cairan. Sampai-sampai
tragedi tersebut sempat memberikan oleh-oleh luka fisik pada bibir atasku ketika bayi dulu.
”Bibir atas kamu dulu pernah biru warnanya ketika kamu masih berumur 3 atau 4 bulan Ri”, ujar ibuku
ketika mengawali ceritanya sambil sekaligus mungkin mengenangnya.
”Biru kenapa Bu ...?”, sahutku tanpa beban selayaknya akan kecil yang kerap kali cuek dan remeh pada
persoalan yang dianggap orang tua sebagai hal yang serius.
”Biru memar karena kejatuhan pemean1 dari bambu”, jawab ibuku.
”Kenapa memangnya bu?, kejarku sambil mulai penasaran.
”Dulu ketika kamu masih berusia 3 atau 4 bulan, sehabis subuh kamu ibu gendong sambil menjemur
popokmu yang sudah ibu cuci. Sedang asyik menjemur, tiba-tiba buyutmu datang ndak tahu dari mana
arahnya karena masih agak gelap sambil marah campur agak menangis. Beliau bilang kalau kiai Sim, adiknya
baru saja meninggal karena ditabrak seseorang tidak dikenal dan saat itu jenazahnya sedang dalam perjalanan
diantar ke rumah buyutmu”, ucap ibuku agak berusaha mengingat dengan agak detail.
”Kontan ibu kelabakan karena kamu masih kecil, takut nanti sawanen, lalu kamu ibu dekap sambil menaruh
popok yang masih basah itu. Karena amat tergesa-gesa, pemean itu tersenggol ibu dan jatuh tepat dibibir
atasmu, sehingga berwarna biru untuk beberapa bulan”, kenangnya.
”Kenapa memangnya dengan kiai Sim yang telah mati?”, aku berusaha mendapat konfirmasi.
1 Pada tahun-tahun itu, ibu rumah tangga di desaku memakai bambu sebagai tempat jemuran baju. Biasanya
pemean dibuat dari bambu yang berdiameter kecil, tapi kuat dan relatif lebih berat karena lobang tengahnya
kecil serta batang kayunya padat berisi.
1
”Orang mati itu katanya orang tua tidak hanya membawa yang baik saja seperti pahala ibadah sehari-hari,
namun juga yang buruk dari amal perbuatan jahatnya selama hidup di dunia. Yang jahat pasti ingin
mengalahkan yang baik, sedang yang baik juga ingin mengalahkan yang jahat. Meskipun fitrah kamu saat itu
adalah bayi yang baik, namun jika Allah mengizinkan, apa tidak mungkin kamu terkena akibat buruk dari
kematian kiai Sim”, ibu coba menjelaskan.
Informasi tentang tragedi yang memilukan itu terekam jelas di memori hypotalamus otakku, dan untuk saat
itu sangat jitu menciptakan stigma ketakutan akan kematian pada sistem kepercayaan diriku, bukannya takut
pada Pencipta dan Pencetus ide kematian itu sendiri.
Rasanya seperti baru saja keluar dari ancaman hidup yang sangat besar ketika sudah menginjakkan kaki di
trotoar jalan sebelah timur, karena hal itu menandakan bahwa aku telah berhasil menyeberang dengan
selamat. Hal yang sama juga kurasakan ketika pulang sekolah sekitar jam 12.00 WIB. Amanlah dunia bagiku
ketika kaki sudah menginjak bibir jalan sebelah barat, berarti untuk sementara aku telah selamat dari
ancaman ”orang-orang tak dikenal” yang menewaskan adik buyutku.
***
Malam itu aku tidak dapat tidur karena esok aku harus setor hafalan shorof pada kiai Lukman, guruku yang
saat itu sangat aku takuti. Berbagai kekhawatiran muncul bertamu pada sistem imajinasiku. Desas-desus
bahwa leher, pantat, dan iga, adalah sasaran cubitan kiai Lukman mempengaruhi kepercayaan diriku. Bahkan
menurut desas-desus juga, bagi murid yang menurut kiai Lukman sangat nakal dan tidak dapat menghafap
nadzom shorof seperti yang beliau titahkan, maka bergegaslah membuka mulut, dan sejurus kemudian
bersiaplan menerima air ludah kiai Lukman membasahi mulut mereka. Bukan untuk dimuntahkan kembali
air ludah tersebut karena sangat tidak sopan meludah dalam kelas, tapi harus ditelan. Piala dan penghargaan
bagi yang tidak hafal. Sebaliknya, jika mampu hafal bait-bait nadzoman tersebut, bersiaplah mendapat uang
25.00 dari kiai Lukman untuk dibelikan ote-ote di warung wak Jalal yang berada didepan sekolah.
Kucoba sesekali lari dari kegundahan tersebut, namun bayangan ketakutan akan hukuman bagi yang tidak
hafal terus mengikuti, walaupun terkadang juga muncul imajinasi akan keberhasilan mendapat uang 25.00
karena mampu melaksanakan tugas hafalan tersebut. Hal itu selalu berakhir dengan bertambahnya ketakutan
akan hukuman pada diriku. Begitulah malam kulalui jika pagi esoknya ada pelajaran bahasa Arab, terutama
ketika aku berada di kelas tiga.
Agak malas kucium tangan ibuku, tangan abahku yang sedang istirahat kuraih dan kucium dengan takzim
sambil berkata lirih ”saya berangkat Bah...” karena kuatir membangunkan beliau yang sedang beristirahat.
Namun anehnya dalam kondisi yang pasti selalu terpejam tidur, pada moment-moment seperti itu, abahku
lalu merogohkan tangannya kebawah bantalnya dan mengeluarkan uang recehan 100.00 dan memberikannya
kepadaku sambil berpesan ”iya, hati-hati, ini uang sakunya”. Dua tahun sebelumnya ketika kelas satu dan dua
di MI Nidhomuddin uang sakuku tiap berangkat sekolah sebesar 25.00, tidak kurang, apalagi lebih.
Seringkali uang saku itu terdiri dari dua keping pecahan 10.00, dan sekeping pecahan 5.00.
Aku berjalan kerumah Mahudi yang ternyata disana telah menunggu sahabatku satunya Marwan. Mahudi
merupakan anak kedua dari seorang sopir truk, sedangkan Marwan adalah anak dari seorang satpam.
Keduanya bukanlah keluarga atau kelompok masyarakat santri jika meminjam penggolongan Geertz pada
masyarakat Jawa. Keduanya bertempat tinggal sedesa sekampung denganku, Santri Rejo Barat tepatnya.
Kampung didalam bagian wilayah desa Santri Rejo yang karakter keagamaan masyarakatnya lebih tidak saleh
jika dibanding dengan Santri Rejo Timur, dimana disitulah kami sekolah tingkat dasar. Sebenarnya ada lagi
perkampungan di wilayah selatan yang disebut Santri Rejo Kidul, dinamakan demikian karena mungkin
dinisbahkan pada lokasinya yang berada di sebelah selatan dari balai desa.
Mahudi lahir tahun 1978, lebih tua setahun dariku, sedangkan Marwan lahir pada tahun yang sama dengan
kelahiranku. Dibanding keduanya, aku lebih hitam, lebih kecil dan lebih pendek secara fisik. Maka dari itu
jika berjalan beriringan, aku selalu berposisi di tengah kedua sahabat kecilku tersebut. Marwan paling putih
kulitnya diantara kami, sedang Mahudi, yang paling kuingat adalah dikelasku dia termasuk pesebakbola
handal.
2
”Kamu sudah hafal Hud”, tanyaku memulai pembicaraan sambil berharap dia juga belum hafal, sama
denganku.
”Jangankan hafal, membacanya aja aku kesulitan Ri”, jawab Mahudi setengah menggerutu. ”Kamu
bagaimana Wan?”, tanyanya pada Marwan.
”Sama saja Hud, kita harus bersiap dapat hukuman nanti”, jawab Marwan pesimis.
”Aku berdoa semoga kiai Lukman tidak masuk nanti, jadi kita aman”, aku coba besarkan hati.
”Moga-moga aja Ri”, mereka menjawab serempak.
”Tapi jika tetap masuk bagaimana?”, tanyaku kemudian.
”Kita duduk ndempis2 saja agar tidak ketahuan dan ditunjuk maju kedepan”, usul Mahudi.
”Tapi kalau masih ditunjuk juga Hud?”, kejar Marwan.
”Moga aja kiai Lukman tertidur ketika mendengar kita menghafal, khan beliau sering begitu. Kita berusaha
ingat-ingat nanti jika ditunjuk, tidak lama, beliau pasti tertidur. Setelah kita yakin beliau tertidur, lalu kita
bangunkan dan berkata bahwa tugas hafalan kita sudah selesai. Pasti beliau percaya.”, ujar Mahudi
menjelaskan skenario dramaturgisnya.
”Tapi aku takut lho Hud...”, sahutku.
”Sudaaaaah, kita coba dulu”, dia mempertahankan.
Sesampai di sekolah, aku kaget karena ketika kami memasuki kelas, kulihat banyak teman-teman kami yang
telah datang duduk di bangkunya masing-masing sambil membuka-buka kitab shorofnya dan sesekali
menghafalkan nadzoman di dalamnya. ”Fa’ala yaf’ulu fa’lan... wamaf’alan... fahuwa faa’ilun... wadzaka
maf’uulun... uf’ul la taf’ul maf’alun maf’alun mif’aluuun...”3, terdengar suara mereka saling bersahutan antara
satu dengan yang lainnya. Dan terkadang suara yang saling bersahutan tersebut terdengar sangat simpangsiur,
dan tidak berirama lagi. Ada yang terlihat resah menunggu bel masuk jam pertama dengan semakin berusaha
serius menghafalkan tugasnya yang belum selesai. Tapi ada juga yang merasa sudah hafal sepenuhnya dengan
tugas kiai Lukman. Mereka terlihat lebih santai dan sesekali merecoki teman yang masih merasa belum hafal.
”Sudah hafal Ri?”, tanya Tomi, temanku yang kebetulan anaknya salah seorang kiai di Santri Rejo.
”Belum Tom”, jawabku lesu.
”Hati-hati kamu, nanti dapat hukuman dari kiai Lukman”, ancamnya.
”Hhhhhhhhh...”, desahku pelan.
Jam pertama pelajaran hari itu telah usai, tibalah giliran pelajaran bahasa Arab yang diasuh oleh kiai
Lukman. Waktu sudah menunjukkan jam 08.15. WIB, tapi sosok guru yang dimaksud belum juga tampak.
Kami satu kelas, terutama aku, mulai bersuka cita karena hari itu kemungkinan besar kami tidak akan kena
hukuman karena belum mampu menghafal nadzoman shorof. Kelas mulai terdengar gaduh karena temantemanku
saling bergurau dan tidak lagi membuka kitab shorofnya atau menghafal nadzoman didalam kitab
tersebut.
Namun tiba-tiba, ditengah kegaduhan tersebut, terdengar suara serak datar dari pintu, ”assalaamu alaikum...”,
kami serentak menoleh ke arah suara itu tanpa dikomando.
Terlihat sosok pria tua berkopyah, bersarung dan berbaju koko di pintu kelas. Tangan kanannya mendekap
sebuah kitab kecil berwarna kuning, bertuliskan huruf Arab, sedangkan tangan kirinya memegang sebuah
botol alumunium berkapasitas sekitar 1000 ml. Kopyah hitamnya runcing pada bagian depan atas dan agak
miring kekanan. Gaya berjalannya –maaf kiai-- agak terseok karena tubuhnya yang tambun ditambah dengan
adanya kelemahan fisik di salah satu kakinya. Sosok lengkap seorang kiai Lukman. Dengan suara lirih dan
tidak bersemangat, serempak kami jawab ucapan itu ”wa ’alaikum salaaam...”. Beliau lalu berjalan agak
tertatih ke kursi guru, duduk bersandar dan mengajak berdoa dengan membaca surat al Fatihah.
Kecemasan di hatiku –dan mungkin semua temanku di kelas itu-- mulai muncul kembali. Tanpa basa-basi,
beliau membuka absensi, dan mulai menyebut nama kami satu persatu secara berurutan yang tertulis di
absen tersebut.
Tiba giliran murid nomor lima. ”Tomi...”, suara kiai Lukman datar.
2 Berusaha menyembunyikan diri
3 Tata gramatika kata dalam bahasa Arab.
3
”Hadir kiai”, sahut Tomi.
”Ayo maju, hafalan”, perintah kiai Lukman.
Dengan sigap Tomi berdiri dan melangkah ke sisi kiri kiai Lukman dan berbalik menghadap kami. Aku
mulai menyembunyikan diriku diantara tubuh teman-temanku yang duduk didepanku dengan harapan tidak
kelihatan mata sendu kiai Lukman.
Tomi mulai mengeluarkan hafalannya, ”Fa’ala yaf’ulu fa’lan... wamaf’alan... fahuwa faa’ilun... wadzaka
maf’uulun... uf’ul la taf’ul maf’alun maf’alun mif’aluuun...”. Tomi menghela nafas dan melanjutkan, ”nashoro
yanshuru nashron... wamanshoron... fahuwa naashirun... unshur la tanshur manshorun manshorun minshoruuun...”.
Kepala kiai Lukman mulai terlihat goyah dan tertunduk, beliau rupanya tertidur. Tomi yang terlihat sangat
lancar, sebelum menyelesaikan hafalannya tidak terduga menyentuh paha kiai Lukman yang sudah lelap.
”Sudah kiai”, bisiknya.
Kiai Lukman terbangun dan bertanya.
”Sudah Tom?”. ”Sudah kiai”, jawab Tomi walaupun kami tahu betul bahwa Tomi belum sepenuhnya
menyelesaikan hafalannya.
”Ya sudah”, jawab kiai Lukman sambil merogoh saku kanan baju kokonya dan mengeluarkan uang logam
pecahan 100.00 lalu memberikannya ke Tomi.
”Ini untuk beli ote-otenya wak Jalal”.
”Matur nuwun kiai”, Tomi menerimanya dengan takzim lalu kembali ke tempat duduknya.
”Qusyairi...”, suara kiai Lukman menyebut namaku.
”Hadir kiai”, aku menjawab dengan mengacungkan tangan kananku tapi tetap berusaha menyembunyikan
diriku dari tatapan mata kiai Lukman.
”Ayo maju”, titah kiai Lukman. Sebagian pasang mata teman sekelas menatapku dengan agak iba sekaligus
penasaran, sedangkan aku mulai beranjak dari tempat dudukku dan berjalan ke samping kiri kiai Lukman
dengan berusaha tenang dan berdoa dalam hati agar beliau cepat terserang rasa kantuk, tertidur dan tidak
mendengar hafalanku.
Kali ini aku ingin bernasib seperti Tomi. Tanpa menunggu perintah selanjutnya, aku mulai membuka
mulutku.
”Fa’ala yaf’ulu fa’lan... wa fa’lan...”, ”sebentar... salah itu, ulangi!!!”, sela kiai Lukman.
Aku mulai mencoba lagi, ”Fa’ala yaf’ulu fa’lan... wa fa’lan...”, ”masih salah, ulangi!!!”, sela kiai Lukman untuk
kedua kali.
”Fa’ala yaf’ulu fa’lan... wa... wa... wafa’lan...”, suaraku terbata-bata.
”Kamu tidak menghafalkan ya...?”, tanya kiai Lukman padaku.
”Sudah kiai”, jawabku.
”Tapi koq belum bisa?”, kejarnya.
Aku tertunduk diam dan semakin bertambah takut.
”Ayo coba lagi”, perintahnya.
”Fa’ala yaf’ulu fa’laaan... wa... wa... wa...”, suaraku seperti tersumbat oleh kekuatan sangat besar.
”Kamu ini nakal ya...”, komentar kiai Lukman sambil tangan kirinya mencubit pinggang kananku.
Beberapa saat jepitan ibu jari dan telunjuk kiai Lukman mendarat di pinggang kananku. Sakit terasa cubitan
tersebut.
”Sudah, kembali duduk sana”, suaranya agak kecewa.
”Iya kiai...”, jawabku dengan berusaha takzim sambil mengusap-usap bekas cubitan kiai. Pengalaman seperti
ini di tahun itu tidak lagi langka kualami.
***
Panas terik matahari kurasakan bertambah menyiksa kulit kepalaku ketika berjalan pulang dari sekolah
dengan dua temanku, Mahudi dan Marwan. Mulut kami terbungkam rapat. Biasanya kami saling berbincang,
bersenda gurau, dan berkomentar terhadap keadaan sekeliling yang kami temui. Bahkan, kami sering
berlomba lari dengan untuk mendapatkan tumpangan dari mobil yang lewat di jalan tempat kami pulang
4
kerumah. Jika ada mobil box milik pabrik kayu di depan rumahnya Marwan lewat, kami langsung berlarian
mengejarnya dan nggandol4 dibelakangnya dengan berdiri dan turun di sebelah masjid al Ismailiyah. Dari situ
kami berjalan kaki pulang. Tapi siang ini terasa lain dari biasanya. Saat itu kami tidak saling berbicara,
berkomentar dan tidak sekalipun menoleh kebelakang dengan harapan makhluk yang disebut mobil box
tersebut lewat dan memberikan jasanya pada kami. Aku masih teringat kiai Lukman, cubitannya, dan tentu
saja Tomi, temanku.
Sesampainya dirumah, seperti biasa, atas kewajiban yang diundang-undangkan oleh abahku, setelah ucapkan
salam, kucium tangan keduanya, kulepas sepatu, seragam dan tasku, dan kuganti dengan baju yang seharihari
sering kupakai bermain dengan teman sekampungku. Kucuci tangan, kaki, kubasuh wajah dan
kubersihkan lobang hidungku dengan menghirup air dan mengeluarkannya seperti paus menyemburkan air
laut.
”Cepat makan Ri, sholat, dan istirahat...”, perintah ibuku dengan sapaan kasihnya.
”Iya bu...”, jawabku agak malas.
”Kamu kenapa, apa baru berantem tadi di sekolah?”, tanya ibu.
”Tidak bu...”, jawabku.
”Tidak bisa kerjakan soal ya, atau disetrap gurumu?”, selidik ibuku.
”Tidak bu...”, jawabku berusaha menyembunyikan kegundahan.
Lalu kuambil piring keramik putih kesukaanku, kuambil nasi dan sayur lodeh faforitku dengan rasa khas
buatan ibuku. Untuk sementara aku tidak terbayang pelajaran bahasa Arab yang menyebabkan kulit
pinggangku merona kemerah-merahan.
Setelah makan, aku pamit pada ibuku untuk bermain-main dengan teman-teman sebayaku satu kampung
dibawah pohon asem di depan rumah tua milik buyutku. Walau agak terpaksa, akhirnya rengekanku
berhasil, dan larilah aku dari hadapan ibuku untuk bersua teman-temanku. Hampir maghrib aku baru pulang
bermain. Aku langsung mandi membersihkan diri dan berganti baju lalu ke musholla Manarul Ilmi di depan
rumahku. Kuambil sapu dan mulai membersihkan lantai musholla tersebut. Tidak lama setelah selesai tugas
wajibkuku tiap sore itu, terdengar suara azan dari kejauhan.
Kuambil anak pemukul kentongan yang terbuat dari akar pohon nangka dan menabuhkannya ke kentongan
dari kayu pohon jati yang setia menandai datangnya tiap waktu sholat.
”Tung tung... tung tung... tung tung tung tung tung tung tung tung!!!”, suaranya bertalu-talu.
Tanpa pengeras suara –karena memang masih jarang masa itu—aku mulai adzan sekeras-kerasnya. Sepintas
melintas sosok kiai Lukman dalam aktifitasku menjalankan tugas tersebut. Sedang apa ya... guruku itu
sekarang, apa juga sedang bersiap melaksanakan sholat maghrib. Terlintas juga sosok Tomi. Sedang apa dia
kini, apa juga beraktifitas sama denganku, menjadi muadzin di masjid Santri Rejo Timur yang menjadi pusat
ibadah disana, apa sedang di pesantrennya.
Atau mungkin masih lebih baik aku, karena dia sore ini masih belum masuk ke masjid Santri Rejo Timur
maupun musholla di pesantrennya.
”Laaa ilaaha illallaaaaah...”, akhir dari suara adzanku.
Suara pujian5 jamaah yang datang terdengar seperti suara koor dengan nada yang tidak indah, namun syahdu
terasa. ”Allaahumma shoolli ala Muhammad, yaa robbi shoolli alaa Muhammad...”, begitu suara paduaan suara
pujian tersebut terus menerus, sampai aku dikode untuk melakukan iqomat.
Tidak lama kemudian aku ikut sholat berjamaah di musholla tersebut dan meneruskannya dengan membaca
wirid sebagaimana yang dilakukan oleh jamaah sholat di kampung-kampung kecil. Kuisi waktuku dengan
belajar mengaji pada pamannya ibuku, mbah Mad namanya. Waktu itu beliau berusia sekitar 15-16 tahun.
Aku pulang dari musholla selepas ikut berjamaah sholat Isya’. Kusiapkan buku-buku pelajaran yang akan
kubawa esok pagi ke sekolah.
Tanpa kuminta, ingatanku kembali menampilkan sosok kiai Lukman, kitab shorof, dan Tomi.
4 Menumpang
5 Bacaan doa dan sholaat yang dilakukan untuk menunggu datangnya iqomat.
5
Ahmad Wastomi adalah nama lengkap kawanku itu. Ia adalah salah satu anak lelaki dari seorang kiai yang
mengasuh salah satu pesantren di Santri Rejo Timur. Misbahul Ulum adalah nama pesantren yang diasuh
oleh abahnya Tomi. Jika harus dirunut secara detail, Tomi dan abahnya masih memiliki hubungan
kekerabatan dengan kiai Lukman yang juga menjadi pengasuh pesantren bernama Darul Arqom.
Antara kiai lukman dan Tomi, adalah sosok dua manusia beda usia yang lahir dan dibesarkan dalam dunia
pesantren. Hati kecilku agak protes –meskipun juga tidak tahu dialamatkan pada siapa atau pada apa protes
itu-- ketika melihat keberuntungan yang diperoleh Tomi dengan kebohongannya. Sebagai seorang kerabat,
sebagai murid, dan sebagai santri, menurutku tidak layak Tomi melakukan kebohongan tersebut kepada
siapapun, apalagi kepada kiai Lukman yang kiai dan telah berjasa menyuntikkan pengetahuan pada otak
kami yang bodoh. Kebohongan yang seharusnya tidak perlu di lakukan oleh seorang gus kepada orang yang
selevel dengan abahnya. Kepalsuan yang hanya berharga 100.00, tidak lebih. Kemunafikan yang sempurna
tapi percuma.
6

BAGIAN 2
DARAH BIRU

Aku dilahirkan dalam keluarga yang tidak santri. Secara matrilinial, aku adalah anak dari seorang perempuan
putri dari Marmah, Marmah putri dari Mar’ah, Mar’ah inilah yang –konon katanya orang— dulu memiliki
tanah terluas di Santri Rejo Barat, baik berupa tanah hunian maupun tanah sawah. Mar’ah inilah yang
kemudian menikah dengan seorang lelaki bernama Murad Ali dari desa tetangga, Nawangsari. Nawang berarti
melihat, sari berarti inti pati. Murad Ali inilah yang kusebut dengan buyut. Beliau masih memiliki jalinan
kekerabatan dengan keluarga kiai di Nawangsari, sehingga belakangan beliau juga dipanggil dengan sebutan
kiai oleh orang kampungku, walaupun beliau juga tidak mengasuh pesantren. Mungkin karena itu pula
jenazah beliau tidak dimakamkan di pemakaman umum di Santri Rejo Barat, namun dikebumikan tepat
sebuah lokasi khusus di sisi barat paimaman masjid Al Badri di Nawangsari. Sampai kini ada sembilan orang
termasuk buyutku yang telah dimakamkan disana, dan mungkin tidak akan ada lagi jenazah yang
dimakamkan disana. Komplek makam tersebut dipagari tembok berbentuk segi empat, bercat putih dan
hanya tanah sebagai lantainya. Komplek itu tidak beratap, dan tinggi temboknya sekitar 1 ½ meter. Pada sisi
luar tembok sebelah utara dan selatan terdapat beberapa pohon pisang dan singkong yang melampaui tinggi
tembok makam. Sedangkan sebelah baratnya berbatasan langsung dengan tembok madrasah tsanawiyah al
Badri. Sisi timur bergandengan langsung dengan tembok luar paimaman1 dan mimbar khutbah masjid al
Badri dengan pintu di sebelah selatannya. Makam terdekat dengan orang yang memasuki komplek tersebut
dari pintu makam adalah makam buyutku. Aku tidak tahu persis siapa saja yang dimakamkan ditempat itu,
kecuali bahwa mereka adalah generasi pendahulu dari buyutku.
Menurut orang kampungku dan orang Nawangsari sendiri, jenazah yang dimakamkan di tempat itu adalah
jasad mati dari orang yang semasa hidupnya memiliki kelebihan derajat disisi Allah, mereka biasa disebut
dengan wali2 atau auliya3. Buyutku meninggal ketika usiaku baru tujuh tahun dan saat itu masih berada di
kelas dua madrasah ibtidaiyah. Jadi sangat minim fakta empiris yang masuk ke sistem inderaku tentang
kekeramatan dari beliau seperti yang dikabarkan orang, walaupun rumah beliau hanya terpaut satu rumah di
sebelah barat rumahku. Jangankan hal tersebut, gambaran seksama dari tubuh buyutkupun aku mulai tidak
ingat, kecuali badan kurus, kulit kuning, wajah tegar, mata sayu tapi tajam menusuk relung hati, dan –ini
yang penting—sifat dermawan yang dimilikinya. Beliau adalah orang yang sangat memanjakan aku ketika kecil
dengan pemberian uang, dan makanan tanpa aku minta. Beliau juga salah satu orang yang aku belajar akan
perasaan segan dengan ketegasan sikapnya.
”Mad...!!! cepat bawa korek api kesini, akan kubakar rambutnya fahri yang sudah panjang itu”, bentak
buyutku pada puteranya, Ahmad.
Beliau ada didalam rumah dan tidak kelihatan olehku yang saat itu berjalan di sebelah dapur rumahnya.
Sosok tubuhnya tidak terlihat, hanya suaranya yang terdengar parau menakutkan. Aku yang tanpa sadar
sebelumnya, kontan berlari menjauh dari lokasi tersebut. Dari kejadian itu, dari kecil aku mulai berpikir
bahwa rambut panjang bagi lelaki adalah larangan. Namun sering juga aku dipanggil dari serambi sepan
rumahnya yang dipagari potongan bambu yang ditata berdiri sedemikian rupa seperti tirai untuk kemudian
aku diberi uang, makanan, atau buah-buahan. Aku tidak tahu persis darimana uang dan makanan itu karena
buyutku tidak bekerja saat itu. Yang jelas hampir tiap hari ada tamu yang datang padanya, dan kebanyakan
mereka selalu membawa barang-barang yang diberikan kepada buyutku. Tidak hanya orang yang berpakaian
bagus yang datang, namun ada juga yang datang dengan pakaian compang-camping datang padanya. Bahkan,
masih kuat dalam ingatanku, beliau pernah memarahiku karena karena aku mengolok-olok seseorang yang
biasa dipanggil Yek Amang.
”Yek Amang gilaaa... Yek Amang gilaaa... Yek Amang gilaaa...”, ledekanku kepada seorang lelaki berbaju
kumal, dan berbau busuk, namun berkulit kuning, bercelak mata, berambut ikal keriting dan berhidung
1 Tempat imam memimpin jamaah shalat.
2 Wakil Allah yang dikasihiNya di dunia.
3 Jamak wali.
mancung. Lelaki bernama Yek Amang adalah momok bagiku waktu kecil, karena menurut teman-teman dan
kebanyakan orang di kampungku, dia tidak waras, alias gila. Aku dan teman-temanku di sekolah, juga sering
lari terbirit-birit jika Yek Amang terlihat melintas di sekitar kami. Perilakunya juga aneh dan tidak
menghiraukan sekitarnya. Ledekanku tersebut terlontar dari mulutku dan teman-temanku sepermainan
karena melihat Yek Amang tetap saja tidur dipojok langgar dibawah kentongan sambil berselimut sarung
dekilnya yang berbau busuk ketika buyutku mengimami sholat maghrib berjamaah di langgar tersebut. Sudah
dua hari dia menjadi tamu buyutku dan selalu terlihat tidur di langgar, tidak pernah terlihat makan, minum,
kencing, mandi, apalagi gosok gigi. Sampai jamaah sholat usai, dia tetap saja tidur seenaknya dan tidak ikut
sholat berjamaah. Selesai membaca wiridan bersama-sama dan berdoa, satu persatu jamaah undur diri dan
kami yang masih kanak-kanak mengambil dampar untuk tempat belajar ngaji. Kami tata sedemikian rupa
berbentuk segi empat dampar-dampar tersebut dan duduk di masing-masing sisi luarnya seraya mulai
membaca pelajaran kami terdahulu. Sesekali kami melirik Yek Amang yang masih asyik cuek dengan
tidurnya.
Tak terduga keluar suara dari mulut Yek Amang yang tidur itu. ”Alam nasyroh laka shodrok... wawadlo’naa ’anka
wizrok... alladzii ’angqodlo dhohrok... warofa’naa laka dzikrok”, begitulah suaranya terdengar dengan fasih dengan
makhorijul huruf4 dan tajwid5 yang mengesankan bagi kami. Lantunan yang belakangan kuketahui adalah
penggalan ayat-ayat al Quran surat al Insyiroh yang waktu itu belum kami pelajari. Sejurus kemudian, kami
sepakat bahwa perilaku Yek Amang tersebut layak diberi label sebagai kegilaan. Tanpa dikomando, kamipun
mulai mengolok-oloknya.
”Yek Amang gilaaa... Yek Amang gilaaa... Yek Amang gilaaa...”, ledekan kami mulai memprovokasi.
Aneh, dia tidak bergeming sedikitpun. Kamipun mulai meneruskan provokasi ke arah lebih serius. Sambil
terus meledek dengan kata-kata yang sama, kami mendekat, dan mulai menarik-narik sarungnya, karena
selama itu yang kami ketahui Yek Amang tidak pernah memakai celana dalam. Kami sering melihat –maaf—
kelaminnya tanpa sengaja ketika dia jongkok atau sedang duduk kebingungan di pinggir jalan.
Diapun mulai terusik. Badannya mulai bergerak, tapi tetap tidak bangun dari tidurnya. Kami semakin
penasaran dan bersemangat memprovokasi.
”Yek Amang gilaaa... Yek Amang gilaaa... Yek Amang gilaaa...”, ledekan kami mulai terdengar keras dan
mungkin terdengar dari rumah buyutku yang hanya berjarak 2 meter sebelah utara dari langgar tersebut.
Bahkan mungkin juga terdengar dari rumahku sendiri yang berjarak 10 meter sebelah timur langgar.
Tengah asyik meledek Yek Amang, tiba-tiba sosok buyutku sudah ada dibelakang kami. Berkopyah hitam,
berkaos gulon, bersarung hijau tua lengkap dengan sabuk kulit berwarna hitam selebar tinggi kopyahnya
melingkar di pinggangnya yang kerempeng. Kemurkaan terlihat jelas sela-sela keriput raut wajahnya yang
renta.
”Berhenti!!!”, teriak buyutku murka.
Kamipun lari berhamburan tunggang langgang. Semua temanku kontan berlari keluar langgar dan ngeloyor
pulang tanpa permisi. Bahkan ada beberapa temanku yang tidak sempat mengenakan sandalnya karena
sangat ketakutan. Ketika aku mau lari dari tempat itu, tengkukku telah berada dalam cengkeraman tangan
beliau yang terasa kuat dan menyakitkan. Aku mulai berpikir bahwa tidak lama lagi pasti kena hukuman
berat. Muncul ide untuk berteriak memanggil abah dan ibuku, namun kuurungkan niat itu karena aku tahu
betul bahwa kedua orang tuaku juga tunduk pada buyutku. Jika mereka tahu, mungkin tambah
menghukumku karena telah membuat buyut murka.
Perlahan-lahan cengkeraman tangan buyut di tengkukku mulai melemah.
”Mau lari kemana???!!!”, tanyanya dengan nada tinggi.
”Tidak yut... kapoook... kapoook..., rengekku seraya melemaskan diri.
”Kamu tahu dia (Yek Amang) itu siapa???!!!”, sekali lagi buyut menginterogasiku. Aku diam saja karena
ketakutan. Dia bertanya lagi sambil kembali menguatkan cengkeramannya.
”Kamu tahu dia (Yek Amang) itu siapa???!!!”.
4 Tempat keluarnya huruf ketika disuarakan.
5 Ilmu tentang seni tata baca al Qur’an.
Aku yang takut dan mulai merasa kesakitan menjawab, ”orang gila yuuut...”.
”Siapa yang bilang dia orang gila!!! Kamu diajari siapa!!!”, bentak buyutku.
”Tidak ada yuuut...”, jawabku dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
”Sudah Rad... kasihan dia khan masih kecil, anak kecil tidak punya dosa”, tiba-tiba suara Yek Amang
terdengar walaupun dia tidak terlihat bangun dari tidurnya, dan kelihatannya suara tersebut Yek Amang
alamatkan kepada buyutku.
Perlahan-lahan buyut melepaskan cengkeramannya dari tengkukku lalu memalingkan badanku ke arahnya,
jadilah aku membelakangi Yek Amang. Kucuri pandang ke arah wajahnya, masih terlihat murka dengan alis
mata yang mulai agak mengambung.
”Kamu tahu Ri, dari semua yang ikut sholat maghrib berjamaah tadi, tidak ada orang yang lebih baik dari
Yek Amang”, tutur buyutku dengan mata tajam ke arahku.
Ketika tutur kata itu memasuki gendang telingaku, kontan aku protes diam-diam pada buyutku. Jelas-jelas
Yek Amang tidak sholat maghrib, aku dan teman-temanku ikut sholt maghrib. Mengapa dia lebih baik dari
kami? Tapi mungkin hanya Tuhan yang tahu kata-kata protesku itu.
”Dia (Yek Amang) yang kamu ledek, kamu ganggu, kamu dzolimi dirinya, tadi jelas membelamu agar tidak
kuhukum. Apakah kamu merasa lebih baik darinya?”, tanya buyut padaku.
”Cepat minta maaf padanya sekarang!!!”, perintah buyut sambil membalikkan tubuhku menghadap Yek
Amang.
Karena takut, aku menuruti perintahnya, kudekatkan diriku dan kuraih tangah Yek Amang dan
kupaksanakn diriku menciumnya sambil berkata, ”maafkan saya Yek”.
Tercium busuk bau tangan Yek Amang, tapi aku sempat kaget karena tangannya halus dan empuk sekali. Ada
desiran aneh di sanubariku ketika aku mencium tangan Yek Amang. Baru kali itu aku bersentuhan langsung
dengan Yek Amang.
”Hhhhm”, timpal Yek Amang.
”Maafkan cucuku Yek”, suara buyut juga memohon Yek Amang.
Kulirik buyutku bersikap takzim pada Yek Amang, padahal jarang-jarang aku melihatnya kecuali ketika buyut
kedatangan tamu orang-orang bersorban dari Santri Rejo Timur.
”Iya, aku ya minta maaf Rad”, sahut Yek Amang tanpa beranjak bangun.
Setelah itu aku disuruh pulang kerumah oleh buyut, sedangkan beliau kulihat malah duduk bersila
menghadap Yek Amang yang masih terlihat tidur.
Dirumah, aku bertanya-tanya dalam hatiku, mengapa aku tidak boleh merasa lebih baik bari Yek Amang.
Nalarku masih tidak dapat menerima perintah tersebut. Mengapa juga buyut bersikap takzim pada Yek
Amang. Yang kiai khan buyutku, bukan Yek Amang. Kenapa yang tidak sholat dibela, dan yang sholat
disalahkan? Kenapa yang orang lain dihormati, sedangkan yang jelas cucu sendiri disakiti? Tak paham aku
pada yang barusan kualami.
***
Sekelumit kisah tentang keluarga dari ibu yang menyisakan pertanyaan tersebut, terbawa ketika aku secara
tidak sengaja berdialog dengan abahku yang dilahirkan di kota Lamongan. Kota pesisir yang dari Surabaya –
bila ingin kesana—satu arah jalur kendaraan darat dengan kota Gresik dan Tuban. Beliau anak dari seorang
lelaki bernama Qosim yang telah tutup usia ketika aku masih berumur setahun, dan putera dari seorang
wanita bernama Ati’ah. Tiada informasi lengkap yang kuterima –sampai kini—tentang blue-print lengkap
nuclear family abahku. Yang kutahu kakekku bernama Qosim, anak dari Hamid, anak dari Nadzir, selebihnya
aku tidak tahu. Wajah orang-orang tersebut juga tidak pernah terekam di otakku, baik dari foto atau gambar
lain yang bisa kulihat. Informasi tentang ibunya abahku juga tidak banyak kuterima kecuali beliau bernama
Ati’ah dan berasal dari kawasan Ampel Kertopaten. Jika melihat nama-nama yang mereka miliki, aku
berhipotesis bahwa keluarga abahku terbiasa dengan istilah Arab, dan Arab –walaupun tidak dapat
dipastikan-- identik dengan Islam. Maka keluarga abahku adalah jenis keluarga yang akrab dengan tradisi
Islam, walaupun juga bukan santri, bukan kiai, bukan muballigh, dan bukan pula keluarga ustadz.
Dengan agak mengadu, aku mengadukan buyut ke abahku. ”Tadi saya dimarahi buyut bah”, ucapku memulai
pembicaraan sambil memijit-mijit betis abahku yang tengkurap di ruang tamu kami –yang waktu itu-- seluas
4X4 meter berdinding sesek. Maklum, memijat adalah tugas rutinku untuk abah, ibu, buyut, dan terutama
mbah Dhok (nenek dari ibuku).
”Dimarahi bagaimana Ri?”, tanya abahku.
”Ya dimarahi bah, kemarin di langgar saat saya ngaji ke mbah Mad (putera buyutku)”, aku mulai mengadu.
”Memangnya kamu salah apa”, abahku mencoba klasifikasi.
”Saya meledek Yek Amang kemarin karena dia tidak ikut sholat maghrib berjamaah, tapi tidur di pojok
langgar”, aku mulai bersemangat.
”Ah... masak tidur di langgar saat orang sedang berjamaah Ri? Dimana letak tidurnya?”, abahku bertanya lagi.
”Ya di langgar bah, dibawah kentongan langgar itu”, jelasku.
”Ooooo, disitu ya...?”, gumam abahku dengan nada datar. “Terus kamu diapakan buyutmu?”, tanya abahku
dengan sedikit menoleh dan melirikku, walau beliau masih dalam posisi tengkurap, tidak berbaju dan hanya
mengenakan sarung saja.
“Dimarahi bah, tengkukku ini dicengkeram sampai sakit rasanya”, suaraku meninggi.
“Tapi ndak apa-apa toh?”, kata abahku.
”Ya tidak bah”, jawabku.
”Terus kamu diapakan lagi nak”, tanya abahku sambil kaki kanannya digerak-gerakkan sebagai tanda
kepadaku untuk berpindah lokasi pijitannya. Maklum, tadi aku hanya memijit bagian betis kirinya dengan
pola pijitan naik-turun dari tapak kaki ke lutut, lalu turun lagi secara berulang-ulang. Bentuk pijitan
favoritnya abahku.
Dengan mengatur posisi, aku mulai memijit kaki kanan abahku seraya menjawab, ”yaaa ndak diapa-apakan
lagi, saya hanya disuruh minta maaf pada Yek Amang dan disuruh cium tangan Yek Amang. Bayangkan bah,
cium tangan Yek Amang yang gila dan tidak pernah mandi itu, abah bisa bayangkan betapa bau tangan Yek
Amang. Wong pakaiannya saja berbau anyir, apalagi tubuhnya. Mungkin hanya saya satu-satunya anak di
kampung ini yang pernah cium tangan Yek Amang”. Aku sangat bersemangat menceritakannya, harapanku
abah dapat membelaku di hadapan buyutku, walaupun mungkin sudah tiada arti lagi.
Abahku terlihat menyimak dan berusaha memahami tiap ucapanku dengan seksama. Sambil tengkurap dan
menolehkan kepalanya ke arah kiri, matanya tajam menyorot, walau yang tampak olehnya mungkin tikar dari
daun pandan yang kami jadikan alas bagi aktifitas tersebut. Dahinya mengkerut yang menyebabkan dua alis
tebalnya seakan-akan mau bersambung menjadi satu. Melihat respon abah, aku semakin bersemangat
memijitnya. Tekanan tangan dan jari terbaik yang kugunakan untuk memijat abah saat itu, karena biasanya –
seperti momen-moment yang lain—boleh dibilang kalau aku hanya terpaksa memijit abahku. Terpaksa karena
waktunya lama, dan sangat melelahkan setelah memijit abah. Maklum, kaki –terutama betisnya-- yang banyak
ditumbuhi bulu-bulu, sangat kenyal terasa.
”Kamu tidak membantah buyutmu?”, tanya beliau yang kini memejamkan matanya.
”Tidak bah, saya takut”, jawabku.
”Tapi kamu merasa benar khan?”, dia membuka kelopak matanya lagi.
”Ya jelas bah, lagian saya khan cucunya buyut, Yek Amang khan orang lain. Buyut khan kiai, sakti, dan
banyak muridnya. Masak saya tidak dibela, malah orang lain yang dibela, gila lagi. Sudah gila, tidak sholat,
tidur di langgar, ndak pernah mandi ......”
”Kamu dendam ya...?”, tanya abah memotong ucapanku. Aku terdiam sejenak, lalu kembali bersuara.
“Pada buyut tidak bah, tapi pada Yek Amang iya”, jawabku tegas.
“Kenapa pada buyut kamu tidak dendam, tapi pada Yek Amang kamu dendam”, ujar abah sambil menepuknepukkan
tangan kirinya ke bahunya sebagai tanda aku harus beralih memijit bahunya.
“Buyut khan buyut saya. Apalagi beliau kiai, muridnya banyak, orangnya sakti, tiap hari menjadi imam sholat
di musholla. Jika ada undangan, beliau selalu duduk di depan, berkumpul dengan lurah dan kiai-kiai lain.
Orang lain cium tangannya, bahkan saya pernah menjumpai seorang kiai di Ngelom Santren yang cium
tangannya buyut. Nanti khan kualat kalau saya punya dendam pada beliau, karena orang dendam khan
berarti bermusuhan. Mana mungkin saya berani bermusuhan dengan buyut”, kata-kataku meluncur deras.
”Terus...”, pancing abah.
”Sedangkan Yek Amang khan orang lain yang tidak punya hubungan apa-apa dengan buyut, apalagi kita bah.
Yek Amang bukan paman, mbah, atau famili kita khan? Dia juga gila, sering berperilaku aneh dimanapun,
dijalan, dipinggir rumah orang-orang, diwarung, bahkan dilanggar dia juga kurang ajar. Sudah tidak pernah
mandi, ndak pernah ganti baju, ndak pernah mengaji, ndak sholat lagi. Khan tiap orang Islam itu berdosa
bila tidak sholat bah? Orang yang berdosa khan nanti masuk neraka. Neraka itu khan kata guru saya adalah
sejelek-jelek tempat. Berarti Yek Amang adalah orang jelek yang berdosa dan nanti pasti masuk neraka. Apa
salah jika saya membenci atau memusuhi orang yang akan masuk neraka?”, aku bertutur tanpa berkeinginan
membendungnya, padahal orang yang kami bicarakan mungkin sedang tidur di bawah kentongan langgar yang
berjarak hanya 10 meter dari balai-balai dimana kami berada.
”Sudah... sudah Ri”, ucap abahku seraya mengubah posisinya menjadi terlentang, dan sejurus kemudian
duduk berhadapan denganku dan menyandarkan punggungnya ke dinding sisi barat dari ruang tamu kami.
”Ambilkan rokok dan kopinya abah di meja”, perintahnya tanpa menoleh ke arahku sambil menjangkau
asbak dan meletakkan di depannya.
Aku semangat berdiri, memperbaiki posisi sarungku dan bergegas mengambil benda-benda yang sesuai yang
diperintahkan abahku. Aku berpikir bahwa kali ini abah akan membelaku dan besok pagi mungkin akan
menegur Yek Amang, atau mungkin beliau akan sedikit protes pada buyut atas perlakuannya padaku.
Senyum simpul tersungging di mulutku dan batinku berkata, ”awas kau Yek Amaaang...”
Dengan sikap takzim kuletakkan segelas kopi dan sebungkus rokok kretek serta koreknya dihadapan abah.
Yah, abahku seorang perokok berat. Wedang kopi adalah minuman rutin beliau. Seringkali ketika pagi,
sebelum berangkat ke sekolah, aku mengendap-endap dan meminum sisa kopi milik abah. Entah beliau tahu
atau tidak, tapi yang jelas aku merasa bahwa tindakan tersebut bukanlah sebuah pencurian karena dilakukan
pada orang tua sendiri. Apalagi kopi yang aku sruput, bukanlah wedang kopi yang masih banyak, tapi sudah
hampir habis. Bahkan lebih banyak lethek dibanding wedangnya.
”Duduk situ”, abah menyuruhku duduk didepannya.
Akupun melakukan perintah beliau dan duduk bersila sekitar 1 meter di hadapan beliau. Aku menantikan
pembelaan abah atas nasibku yang merasa didholimi oleh buyut karena seseorang yang gila, Yek Amang.
Terlihat abahku mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusnya. Sebelum menyulutnya, abah lalu meminum
wedang kopi buatan ibu yang –menurutku-- kental manis dan nendang rasa khasnya.
”Sruuup...”, begitu bunyi sruputan abah pada kopinya. Lalu dia sulut rokok kreteknya tersebut dan menghirup
asapnya dalam-dalam. ”Crek crek crek... shshshshshshshsh....hhhhhhh...”, begitu kurang lebih bunyi khas dari gaya
abahku ketika melakukan sulutan pertama dalam aktifitas merokoknya. Kebiasaan yang kini juga aku lakukan
sehari-hari.
Beliau terlihat menerawang. Pandangan beliau seperti berusaha mengingat-ingat sesuatu sambil menatap
dinding sesek rumah kami. Matanya sesekali berkedip-kedip dengan ritme lebih cepat dari biasanya.
Hidungnya yang mancung berujung agak melengkung terlihat jelas mengkilat terkena sinaran lampu
petromak yang waktu itu masih menjadi sumber penerangan terbaik di kampung kami. Maklum, aliran listrik
belum terpasang di rumah kami. Jambang dan kumis –walau tidak lebat—terlihat hitam menghiasi wajah
beliau. Walau tidak terlihat, gugusan gigi abahku terlihat kokoh berdiri diatas gusinya. Sampai kini, setahuku
gigi beliau masih kokoh berjumlah 32 biji dan setia membantunya mengunyah makanan. Dada bidang nan
lebar beliau ber-simbar6 dan terlihat naik turun oleh hela’an nafas yang beliau lakukan. Fonem suaranya
mantab dan utuh terdengar. Maklumlah, menurut cerita dari beberapa saudaranya yang berjumlah 15 orang,
abahku adalah seorang qori’ dan muadzin handal di desanya, Kauman. Tugas beliau ketika muda di desa itu
adalah menjadi muadzin tiap sholat lima waktu dan bilal pada saat sholat Jumat. Sosok yang menimbulkan
kesan padaku bahwa abahku adalah lelaki sejati dengan segala ciri fisiknya. Beberapa saat lamanya
kuperhatikan abah dengan keasyikannya merokok, dan aku hanya diam menunggu.
”Sebenarnya buyutmu dulu punya seorang saudara bernama Habib Mukhtar”, ujar abah.
Informasi yang belum pernah kuketahui sebelumnya.
6 Bulu di dada lelaki
”Kamu tahu kenapa saudara buyutmu diberi nama Habib Mukhtar?”, tanya abah padaku. Pertanyaan yang
belum pernah diajukan olehnya padaku. Saat itu juga aku berpikir bahwa pertanyaan abah tiada
berhubungan sama sekali dengan apa yang barusan kami bicarakan. Tapi hal itu tidak kupikirkan lebih jauh.
”Tidak tahu bah”, jawabku.
”Kamu tahu apa artinya Habib Mukhtar?”, abahku bertanya lagi tanpa menoleh ke arahku.
”Tidak tahu bah”, jawabku mulai dijangkiti penasaran. Penasaran karena dua pertanyaan tersebut –
kuanggap—tidak berhubungan sama sekali dengan harapanku dan perbincangan kami sebelumnya.
”Kamu tahu Ri...”, ujar abahku sambil tetap tidak menoleh padaku. Aku mengangguk dan berusaha
mendengarkan dengan seksama. Kulihat kini wajahnya lebih serius menerawang. Rokok yang terjepit jempol
dan telunjuk dari tangan kanannya, kembali dihisap dengan dalam, dan lebih dalam dari biasanya.
”Shshshshshshshshshshsh....hhhhhhhhhhh.....”, begitulah kira-kira desahnya. Posisi duduknya berubah. Kaki
kirinya tetap siku sejajar dengan datarnya lantai seperti orang bersila, sedang kaki kanannya diberdirikan
dengan posisi siku tegak lurus dengan lantai. Kami biasa menyebutnya dengan posisi jeglang. Selesai
menghisap rokok, lengan kanannya disandarkan ke lutut kanannya yang mengahadap keatas, jadilah otot
trisep dilengan kanan tersebut tertopang oleh lutut yang tertutup sarung beliau. Perasaanku berkata ”abah
akan mengatakan sesuatu yang serius dan penting tentang diriku, tapi apa hubungannya dengan pembicaraan
tadi?”.
”Kamu tahu, yang memberi nama Habib Mukhtar pada sudaranya buyutmu bukan abahnya, bukan ibunya,
tapi seorang Habib”, suara abah terdengar memulai ceritanya. Meskipun kebenaran kabar tersebut baru
kuketahui saat itu, tapi aku tidak begitu terkejut karena memang biasanya –setahuku-- nama seseorang tidak
harus diberikan oleh orang tuanya. Bisa jadi dari orang lain yang dianggap memiliki kedalaman ilmu oleh
orang tua seseorang tersebut.
”Kenapa bah?”, tanyaku mengimbangi.
”Kamu tahu artinya Habib Mukhtar?”, tanya balik abah tanpa lebih dulu menjawab pertanyaanku.
”Tidak tahu bah”, jawabku. Yang kuketahui kata itu adalah bahasa Arab, dan bahasa Arab adalah pelajaran
yang kutakuti di madrasah tempat aku sekolah.
”Habib itu bahasa Arab yang artinya kekasih, Mukhtar itu juga bahasa Arab artinya yang terpilih. Jadi nama
saudara buyutmu itu berarti kekasih yang terpilih. Kamu tahu siapa manusia yang terpilih itu?”, tanya abah
sekali lagi.
”Ya saudaranya buyut bah, namanya khan Habib Mukhtar, artinya kekasih yang terpilih. Berarti dia khan
manusia yang terpilih”, jawabku kontan dengan logika verbal yang bersumber pada premis-premis dari
ucapan abahku.
”Begitu ya....?”, gumam abah dengan sikap cuek.
”Semoga kamu bisa seperti itu”, lanjutnya. Aku semakin penasaran. Kembali abah menghisap batang
rokoknya, asap terlihat mengelilingi kami dengan aroma khasnya.
”Hanya ada beberapa keluarga Arab saja yang memakai kata Habib untuk menamakan keturunan mereka.
Keluarga yang menamakan anak lelakinya dengan nama Habib adalah keluarga yang memiliki garis
keturunan kepada Nabi Muhammad SAW. Bila keluarga semacam ini memiliki anak perempuan, maka
anaknya dinamakan dengan Sayyidah atau Syarifah. Istilah yang biasa digunakan selain Habib bagi nama anak
lelaki adalah Sayyid. Jadi bila ada orang Arab yang namanya ada kata Habib, Sayyid bila lelaki, dan Sayyidah
atau Syarifah bila perempuan, maka orang Arab tersebut adalah keturunan mulia dari Nabi Muhammad. Ada
seorang sahabat sekaligus guru dari buyutmu bernama Habib Umar al Attas di desa Wonocolo sebelah pasar
sana, Habib adalah nama sandangan nasab7 beliau dari Nabi Muhammad, Umar adalah namanya sendiri,
sedangkan al Attas adalah nama marganya”, abah memberi pemahaman baru padaku. Beliau lalu
menghadapkan wajahnya ke arahku dan menatap tajam ke kedua biji mataku. Akupun memperhatikan dan
mulai ge er setelah mendengar perkataan abahku. Berarti aku ini keturunan Nabi Muhammad yang mulia,
nabi akhir zaman, penerang semesta yang jangankan manusia, batupun ikut mengucapkan salam padanya
ketika beliau digendong Halimatus Sa’diyah untuk diasuh di kampung Bani Sa’ad ketika masih bayi. Nabi
7 Keturunan atau silsilah keturunan, bahasa Arab
yang jangankan pada kawan, tawanan perangpun beliau perlakukan dengan hormat dan penuh kasih-sayang.
Aku merasa bangga.
”Berarti saya ini keturunan Nabi Muhammad bah?, tanyaku berseri-seri.
”Tidak sama sekali”, jawab abah. Jawaban yang mengejutkanku. ”Kenapa jika aku bukan keturunan Nabi
Muhammad, beliau menceritakan itu?”, batinku mempersoalkan namaku sendiri.
”Abahnya buyutmu seorang wara’8 yang memiliki banyak sahabat di kalangan haba’ib9. Abahnya buyutmu
sangat menghormati sahabatnya yang golongan haba’ib. Menghormati ilmu dan nasab keluarganya yang
bersambung langsung kepada Nabi Muhammad. Mereka adalah kelompok orang-orang suci yang mewarisi
darah Nabi dari putri Fatimah al Zahro yang menikah dengan sayyidina Ali bin Abi Tholib. Abahnya
buyutmu ingin kita sebagai keturunannya mendapat kemuliaan hidup seperti golongan mereka baik itu
hidup didunia maupun nanti ketika di akhirat. Buyutmu menghormati keinginan abahnya tersebut sampai
kini. Buyutmu ingin kita dapat barokah bi al intisab dari golongan haba’ib ini”, abah berkata-kata dan aku
mendengarkannya.
”Menurutmu, lebih mulia mana, kelompok haba’ib yang ’alim10 ini dengan ustadz dari kalangan kita yang
tidak sanak tidak saudara dengan Nabi Muhmmad?”, tanya abah padaku.
”Ya tentu saja mulia mereka bah, sudah alim, keturunan nabi lagi”, jawabku mantab.
Abah kembali berkata-kata. ”Kemuliaan mereka tidak hanya ditentukan oleh ilmunya semata, tapi juga oleh
nasabnya. Walaupun mereka tidak berilmu, tapi mereka tetap mulia dan berpangkat tinggi diantara umat
manusia karena titisan darah dalam tubuhnya. Titisan darah yang pernah didoakan secara khusus oleh Nabi
Muhammad. Buyutmu pernah bilang pada abah bahwa seorang habib bagaimanapun rusak tingkah lakunya,
dia tetap seorang habib. Habib yang perilakunya rusak, maka dia seperti al Qur’an yang sudah usang atau
rusak. Apakah al Qur’an yang rusak atau usang tulisannya dapat kamu baca?”, tanya beliau padaku.
”Ya tidak bah”, jawabku.
”Tapi bagaimana jika kamu injak al Qur’an yang rusak atau usang dan tidak dapat dibaca itu?”, tanya beliau
mengejarku.
”Ya ndak boleh bah, kualat, khan berdosa nantinya”, jawabku mendasarkan jawaban tersebut pada
pengalamanku yang pernah menjatuhkan al Qur’an ketika mengaji di langgar suatu ketika, aku lalu disuruh
buyut menciumi kitab tersebut dan mengucapkan istighfar 3 kali dan syahadat juga 3 kali.
”Begitu pula dengan golongan haba’ib yang menurut orang-orang mereka itu rusak perilakunya, golongan ini
tetap menjadi kelompok mulia diantara manusia. Memang tidak dapat dicontoh tindakannya, tapi jika
dilecehkan, kita akan berdosa. Minimal berdosa bukan karena mereka haba’ib, tapi kita telah berdosa
melecehkan sesama manusia yang memiliki hak sama dengan kita, walaupun perilaku mereka rusak menurut
kita”, abah meneruskan pelajarannya.
”Koq bisa begitu bah”, kuberanikan bertanya.
”Assalaamu ’alaikum....”, pintu rumah kami terbuka dan terlihat sosok ibuku dipintu sambil membawa
tumbu11.
Kamipun serentak menjawab bersamaan sambil memandang sosok ibuku yang telah mengulurkan tumbunya
padaku tanpa menutup pintu yang tadi dibukanya, ”wa ’alaikum salaaam...”.
8 Salah satu istilah dalam maqom (level) kehidupan sufistik. Seorang yang waro’ atau wira’i adalah orang
yang berani. Berani mengalahkan dorongan nafsunya dan memiliki kekuatan berdasarkan keyakinannya
pada Allah untuk mengendalikan nafsu duniawinya.
9 Bentuk jamak dari term habib.
10 Istilah yang menunjukkan bahwa orang tersebut memiliki kedalaman ilmu agama dan mampu
memanifestasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
11 Adalah tempat makanan dari daun pandan atau nyiur kelapa. Saat aku kecil, tempat ini kerap kali dipakai
wadah makanan yang akan diberikan pada tamu undangan pada acara seperti tahlilan, khaul, atau
walimahan.
”Ada apa ini bah, koq serius kelihatannya?”, tanya ibu pada abah karena beliau baru pulang menghadiri
jamiyah rutin ibu-ibu dikampungku dan tidak mengikuti plot cerita dari awal. Jam dinding rumahku
menunjukkan waktu itu sudah pukul 21.10 WIB.
”Ndak ada apa-apa, aku dan anakmu sedang ngobrol”, jawab abahku.
”Buka Ri tumbunya, itu makan dengan abahmu”, perintah ibuku.
”Iya bu”, jawabku sambil membuka tumbu tersebut dan menyodorkannya ke hadapan abah tanpa
menyentuhnya. Dalam tradisi keluargaku, tidaklah sopan jika mendahului yang lebih tua. Kulihat ibu lalu
berjalan kekamarnya.
”Ini bah”, ujarku.
”Iya, makanlah”, jawab abah singkat. Aku lalu mengambil kue brubi atau nogosari12 yang dibungkus dengan
daun pisang dan memakannya setelah mengucapkan ”bismillah”.
”Apakah kamu sekarang bernafas?”, tanya abahku melanjutkan pembicarannya.
”Iya bah”, jawabku.
”Mengapa kamu bisa bernafas?”, tanya abahku menyambung pertanyaannya dari.
”Karena saya punya hidung”, jawabku.
”Betul, lalu siapa yang memberimu hidung dan mengijinkannya dapat bernafas?”, kejarnya.
”Allah bah”, jawabku mantab karena memoriku dapat bocoran soal dari materi pelajaran Tauhid yang
diajarkan di madrasah ibtidaiyahku.
”Bagus....”, jawab beliau sambil tersenyum.
”Kamu pernah menjumpai orang yang berdosa, mabuk, berjudi, dan berbohong misalnya?”, tanya abah
kemudian.
”Pernah bah”, aku menjawab pasti.
”Apakah mereka juga bernafas?”, tanya abah kemudian.
”Iya jelas bah, jika tidak khan mereka mati”, jawabku.
”Itu khan berarti Allah tidak hanya welas-asih pada orang baik, sholeh dan taat kepadaNya saja, melainkan
juga welas-asih pada yang tidak taat padanya. Buktinya, meskipun mereka melanggar perintahNya, mereka
tetap dapat bernafas menghirup udara Allah tanpa bayar sepeserpun”, kali ini mata abah tajam menyorot
mataku dan tersenyum. Senyum yang bagaikan air sejuk dari telaga tenang nan indah dimana aku sedang
berenang-renang didalamnya. Aku terkena bubuh perangkap logika dialog abah. Perangkap dengan umpan
yang indah dan mutiara pelajaran berharga bagi hidupku.
”Ting!!!!! iya ya...” ada pencerahan didalam sistem keyakinanku. untuk kesekian kalinya abah menghisap
batang rokok ditangannya yang bara apinya mungkin hanya berjarak sekitar 1 cm dari jempol dan
telunjuknya. Abahku mempercepat tempo hisapan rokoknya dan mematikan batang rokok tersebut lalu
mengambil sebatang lagi dan menyulutnya tanpa menunggu jedah sedikitpun. Benar-benar seorang perokok
berat.
Ibu yang telah berganti baju, lalu menghampiri kami dan duduk di sebelah kiri abahku, bersandar di dinding
rumah dan tanpa berkata sepatah katapun, beliau memeriksa isi tumbu yang dibawanya tadi. Beliau agaknya
paham bahwa abah sedang membicarakan sesuatu yang penting dan sedang menginjeksi nalarku. Maka ibu
tidak berkata sepatah apapun seakan mempersilahkan abah melakukan tugasnya sebagai ayah yang baik.
”Kamu tahu siapa Yek Amang?”, abahku mulai menyinggung ”musuh”ku.
”Ya... orang gila bah”, jawabku enteng, ibu menoleh ke abah, lalu menoleh kepadaku seperti menanti
jawabanku.
”Hhhhhhh...”, abahku mendesah sambil menghisap rokoknya dalam-dalam, sedangkan wajah ibu terlihat
penuh pengharapan bahwa aku tidak menjawab dengan kata-kata tersebut. Tapi beliau tetap diam.
”Di Jawa, terutama dalam kebiasaan hidup kita, kamu, abah, ibu, buyutmu, dan orang-orang di daerah sini,
panggilan atau sapaan Yek hanya diberikan kepada mereka yang berada dalam golongan haba’ib”, kata-kata
12 Salah satu jenis makanan tradisonal berbahan dasar tepung beras dan pisang. Biasanya dikampungku kue
tersebut dibuat dengan dibungkus daun pisang kluthuk karena –katanya—dapat menambah kelezatan
rasanya.
abahku seakan menghunjam dadaku dan meruntuhkan monumen ananiyah13 kesombonganku. Seakan tidak
percaya, suara abah menyingkap jati diri Yek Amang sesungguhnya.
”Jadi... Yek Amang itu seorang dari golongan haba’ib bah?”, tanyaku tidak percaya.
”Iya”, jawab abah yang telah memalingkan pandangannya dariku dan menerawang memandang keadaan
diluar rumah dari pintu yang masih terbuka.
”Betul bah?”, tanyaku tidak percaya.
”Kamu pikir abah bohong ya?”, abah balik bertanya sambil menoleh padaku.
”Sudah bah, biar dia tidur duluuu, sudah malam, besok khan dia sekolah. Sudah Ri, kamu tidur dulu sana,
sudah malam”, ujar ibuku menyela perbincangan kami.
”Iya bu..., saya tidur dulu ya bah...”, pamitku pada abah.
“Hhhhm…, wudlu berdoa dulu, baru tidur”, perintah abahku. Aku mengangguk dan undur diri dari hadapan
keduanya.
Sepanjang berjalan menuju kamar mandi, berwudlu, merebahkan diri, berdoa dan berusaha memejamkan
mataku, aku masih teringat kata-kata abah padaku barusan. Tidak boleh melecehkan dan menghina orang
lain walaupun mereka berdosa, karena Allah juga masih menyayangi mereka, masih dapat kuterima dengan
baik dalam nalarku. Pengetahuan tentang golongan haba’ib dan keutamaan yang melekat pada mereka, aku
ingat betul. Pemahaman bahwa meskipun pendahuluku ada yang bernama Habib, tapi tidak masuk golongan
ini karena buyutku ingin aku mendapat barokah bi al intisab, juga dapat kuterima. Namun, fakta yang
menyebutkan bahwa Yek Amang adalah seseorang dari golongan haba’ib masih belum dapat aku terima.
Kerlap-kerlip kelopak mataku seakan-akan menemani kegelisahanku setelah berdialog dengan abah. Aku
tidak dapat langsung memejamkan mata. Kuingat betapa buyutku murka ketika aku menghina Yek Amang,
menghormati Yek Amang, dan memuliakannya melebihi tamu-tamu lainnya. Dalam hati kecilku ada
perasaan tidak terima akan fakta tersebut, karena bagiku –saat itu-- Yek Amang adalah orang gila. Titik.
“Lhap…”, seperti kilat menyambar buana ingatanku. Terngiang jelas di telingaku Yek Amang melantunkan
bait-bait ayat dari al Quran dengan fasih tanpa cela sedikitpun. Terpampang jelas wajah dekilnya menyimpan
guratan ketampanan dalam kuning kulitnya. Tergambar hidung mancungnya yang tidak biasa dimiliki oleh
orang Jawa sebanyak yang aku ketahui. Guratan celak hitam di matanya menambah daya tarik pancaran di
sorot matanya yang cuek dengan sekelilingnya. Tangannya yang halus empuk, seakan menjadi saksi bahwa
sanubariku berdesir aneh ketika menciumnya, walau terpaksa. Kurasakan sensasi tersendiri ketika Yek
Amang melarang buyutku karena memarahiku. Buyut khan memarahiku karena aku dianggap berbuat salah
padanya. Tapi kenapa dia yang kusakiti malah membelaku?
”Jangan-jangan yang dikatakan abah benar tentang Yek Amang”, benakku mulai bertanya-tanya sendiri. ”Jika
benar, berarti aku tidak hanya telah menghina seorang manusia. Tapi aku telah menghina atau bahkan
menyakiti hati seorang keturunan Nabi Muhammad. Bagaimana aku dapat menghormati Nabi Muhammad
jika aku menghina anak turunannya? Jika Yek Amang adalah seorang habib, maka aku telah berani lancang
menghina dan menginjak-injak kemuliannya. Jika betul yang dikatakan abah tentangnya, maka aku seperti
telah menginjak al Quran, kitab suciku sendiri. Orang Islam macam apa aku ini?”, deretan pertanyaan
tersebut silih berganti mengantarkanku ”mati sementara” dalam tidurku.
***
Pagi-pagi aku sudah terbangun karena kokok ayam dikandangnya yang hanya berjarak 10 meter di depan
rumahku. Jam menunjukkan pukul 04.00 WIB. Walau masih gelap, aku ambil wudlu, dan sholat shubuh
dirumahku, tidak ikut berjamaah di langgar. Kulihat ibu sudah diatas sajadahnya sambil menggerak-gerakkan
tasbihnya. Abahku tidak terlihat, mungkin beliau sedang di langgar.
Aku ingat memori terakhir yang terekam di otakku semalam, Yek Amang adalah kata kunci memoriku.
Entah mengapa, diriku bersepakat bahwa aku harus secepatnya menemui Yek Amang dan meminta maafnya
secara lebih khusus atas perlakuanku padanya. Tapi jujur saja aku agak takut. Takut karena dia gila, jangan-
13 Sifat keakuan, bahasa Arab.
jangan nanti aku dihajarnya. Kurancang rencana. Aku akan minta tolong abahku agar mengantarkanku ke
Yek Amang untuk minta maaf. Mungkin nanti sekitar jam 6 pagi sebelum berangkat sekolah. Jika seandainya
Yek Amang mau menghajarku, khan ada abah yang akan melindungiku, pikirku.
Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi, tapi abah tidak juga kelihatan di rumah. Aku bertanya pada ibu
tentang abah, ternyata kata ibu, abah ada dirumah buyutku dari jam 1 malam tadi dan sampai saat itu belum
pulang. Aku lalu pamit ke ibu untuk pergi kerumah buyut menemui abah. Minta uang saku adalah alasanku.
Ibu lalu mengijinkanku ke rumah buyut.
Aku sengaja tidak masuk dari pintu depan karena terlihat sepertinya buyut sedang ada tamu. Aku lewat pintu
belakang, kulihat mbah Mad, mbah Mud dan adiknya mbah Du’ah bersiap-siap berangkat sekolah karena
memang –walau kupanggil mbah-- ketiganya masih sekolah. Aku mengintip ke ruang tamu dari kelambu di
pintu tengah dan ternyata kuketahui abahku diruang tamu itu dengan buyutku. Abah duduk menghadap
utara, sedangkan buyut beberapa meter didepannya sedang duduk di sebuah kursi yang alas duduknya dari
kulit domba. Kursi kebesaran buyutku ketika menemui tamu siapapun. Keduanya perokok berat, jadi aroma
rokok di ruang itu tercium jelas di hidungku. Tapi siapa orang ketiga yang bersama mereka? Aku masih
belum dapat melihat jelas sosoknya. Tanpa terduga, abah melihatku, padahal aku sudah berusaha
menyembunyikan diri.
”Bah... ada Qusyairi di belakang”, kata abahku kepada buyut.
”Iya toh, apa ndak sekolah, suruh kesini”, titah buyut untuk abahku, walau aku juga mendengarnya.
”Ri, ayo kesini, salim14 pada buyutmu dan Yek Amang”, perintah abah padaku tanpa beranjak dari duduknya.
Aku kaget karena Yek Amang juga di tempat itu, aku mengintip lagi. Terlihat abahku melambai ke arahku
dan buyut menoleh kepadaku. Tertangkaplah mataku oleh tatapan pasang dua orang tersebut. Akupun
beranikan diri melangkah sambil tertunduk ke arah buyut dan mencium tangannya. Selesai kucium
tangannya, beliau tidak melepaskan genggamannya tapi membimbingku untuk ke arah Yek Amang yang
duduk di sebelah barat dan menghadap ke timur. Sejurus kemudian kulihat sosok Yek Amang.
Seketika aku terkejut, Yek Amang yang gila, lusuh, dekil, bau, tidak pernah mandi, tidak pernah ganti baju,
hanya tidur dan berperilaku aneh seringkali kusaksikan, kini berubah menjadi sosok yang tidak dapat
kupercaya. Bajunya gamis putih bersih yang walaupun berjarak 3-4 meter dariku, sudah tercium minyak
wangi jenis ja’faron yang juga biasa buyutku pakai ketika sholat jumat. Sarungnya hijau tua menambah
kewibawannya. Kopyah bundar putihnya melingkar menutupi sebagian kepala dan rambutnya yang saat itu
tidak terlihata kumal, tapi hitam mengkilap seperti baru keramas. Wajahnya bersih, teduh berseri. Matanya
dikelilingi celak hitam tajam bersinar-sinar, walaupun terlihat cekung. Bulu matanya lentik semakin
menambahnya menarik. Kedua bibirnya merah merekah menebar senyuman. Senyum yang sebelumnya tidak
pernah kudapatkan dari seorang Yek Amang. Kumisnya tipis menghiasi bibir atasnya. Jenggotnya hitam
tertata rapi menghiasi janggut wajahnya. Yek Amang yang ini tidak seperti Yek Amang yang kukenal.
”Ta’ala ya akhiiiy..., anta min zumrotiiiy...”15, ucapnya padaku sambil melambaikan tangannya padaku.
Aku menoleh pada abah dan buyutku.
Beliau berbisik lembut ke telinga kananku, ”ayo sana kamu dipanggil Yek Amang itu lho”.
”Dia itu Yek Amang yut...?”, tanyaku.
Beliau mengangguk.
Aku lalu melangkahkan kaki ke Yek Amang, kuucapkan salam, kuraih dan kucium tangannya. Aneh, aku
seperti ingin mengatakan permintaan mafku, tapi tidak mampu berkata-kata. Mulutku terkunci dan lidahku
keluh. Selesai kucium tangannya, dia bimbing aku untuk duduk diatas pangkuannya. Aku menurut saja.
Buyut dan abah memandangiku dengan senyum diwajah mereka masing-masing.
Yek Amang lalu menengadahkan kedua tangannya dan berdoa. Abah dan buyutku mengamininya tanpa
dikomando. Abah memandangku dan memberikan kode kepadaku dengan menggerak-gerakkan kedua
tangannya agar aku meniru mereka mengamini doanya Yek Amang. Doa Yek Amang berbahasa Arab, dan
14 Istilah yang kami gunakan untuk menandai jabat tangan sambil mencium tangan yang kami jabat
tangannya.
15 Kemari wahai saudaraku, wahai keluargaku, Arab.
akupun tidak hafal atau ingat sampai saat ini. Selesai berdoa, Yek Amang mengambil secangkir minuman
yang kelihatan disuguhkan untuknya dan mengarahkannya ke mulutku. Kelihatannya dia bermaksud gar aku
meminumnya. Aku menoleh ke abah dan beliau menganggukkan wajahnya, tanda persetujuan dari abah.
Akupun meminumnya, ”bismillaahirrohmaanirrohiiim”, ujarku. ”Habiskan Ri”, perintah buyutku. Tanpa
berkata, wedang teh-nya Yek Amang itupun kuhabiskan.
Keikutsertaanku di majlis tersebut tidak lama karena ibu menjemputku dan mengingatkan agar aku
berangkat sekolah. Setelah berpamitan pada abah, buyut, ibu dan tentu saja Yek Amang, akupun berjalan ke
sekolah. Tidak sarapan terlebih dahulu karena sudah sangat terbatas waktunya.
Itulah momen terakhir aku melihat Yek Amang karena sampai kini aku tidak pernah melihatnya lagi.
Mutiara berbaju batu. Intan bersorban lumpur. Emas bersepuh tembaga. Pewaris darah biru kenabian yang
rela dan ikhlas dihinakan oleh lingkunganku. Terima kasih Yek...
Bagian 3
Sangkar Emas
Jum’at adalah hari istimewa bagiku ketika kecil, karena di hari itulah aku libur sekolah. Dihari itu juga aku
tidak harus sibuk dan pening memikirkan pelajaran di sekolah madrarah ibtidaiyahku. Aku bisa mulai pagi
memancing ikan air tawar seperti bethik, sepat atau belut di rawa-rawa sekitar rumahku, bahkan –bila gairah
memuncak-- sampai ke rawa di Kalijaten, tetangga desa selatan desaku. Ikan hasil pancinganku tidak pernah
masuk kerumahku, karena abah dan ibuku sangat-sangat melarangku untuk berkeliaran di sekitar yang berair,
apakah itu sungai, balong1, rawa atau kubangan yang sangat dangkal sekalipun. Ikan-ikan itu aku bakar
dengan ranting-ranting bambu kering yang memang banyak ditemui di kawasan rumahku. Aku makan tanpa
bumbu spesial seperti para bakul sate atau kedai makan lainnya yang sengaja berprofesi sebagai pedagang.
Satu hal yang membuat rasa ikan pancinganku –secara subyektif-- terasa nikmat melebihi masakan cepat saji
saat ini, keroyokan adalah kata kuncinya.
Tiada kenikmatan, keindahan, dan kebebasan yang dapat kutafsirkan secara lebih mendalam ketika kecil
selain moment makan ikan hasil pancingan secara beramai-ramai dengan kawan-kawan sebayaku di pinggir
sawah, di tengah-tengah barongan2, atau bahkan didalam kebun seseorang tanpa sepengetahuannya.
Umumnya kami memancing tidak sendirian, karena hal itu membosankan. Kami berangkat dengan
berombongan, kebanyakan lebih dari 3 orang personil pemancing dengan variasi komposisi crew yang
berbeda-beda. Aku sendiri punya walesan3, tapi tidak kusimpan di rumah karena itu mungkin akan membawa
murka abah dan ibuku ketika mereka tahu. Walesan itu aku titipkan ke rumah kawanku atau kusisipkan
diantara tumpukan potongan bambu yang akan dibuat kayu bakar oleh mbah Dhok, nenekku. Bahkan
senjata pusaka untuk mengelabuhi ikan itu sering kutinggalkan begitu saja diantara semak-semak pohon
kumis kucing di sekitar rumahku yang masa itu adalah rumah paling timur di perkampungan Ngelom
Megare dan berbatasan langsung sisi timurnya dengan sawah mbah Dhok. Meskipun kutinggalkan benda
pusaka masa kecilku ditempat seperti itu, aku belum pernah merasa tidak dapat tidur karena khawatir jika
pusaka itu hilang diambil orang. Jangankan walesanku yang tidak ada harganya, sepeda jengki milik buyutku
saja tidak pernah dimasukkan rumah siang malam tidak pernah hilang. Satu mur atau bautpun tidak hilang
karena diambil orang. Tapi itu masa tahun 1980-an, sekarang.....
Memancing adalah salah satu aktifitasku mengisi masa bermain ketika kecil. Sebenarnya ada sekian banyak
bentuk aktifitas yang lebih pantas disebut sebagai permainan yang mengisi file memori psikhomotorikku,
walau kesempatan untuk bermain relatif sedikit bagiku ketika kecil dulu. Karena minimnya kesempatan
bermain, maka aku terbiasa menciptakan kesempatanku sendiri, dengan nyelinap dari rumah dan pergi
bermain sepuasnya. Sering wajah masam abah yang menyambutku setelah pulang bermain dengan momen
yang kuciptakan tersebut. Ada tempak tekong, bla kothak, boi-boian, jumplo, blak sodhor, pate lele, semut-semutan,
jumpritan, wok-wo’an, srambangan, gapro’an, engkle, jumpritan, loncatan, dan beberapa bentuk permainan lain
yang kini aku sudah agak lupa-lupa ingat merekamnya. Mungkin sampai kini aku masih ingat betul bentuk
tiap-tiap permainan jika dulu akses interaksiku pada sebaya tidak tersumbat sedikitpun.
Alat utama dari permainan tempak tekong adalah bola dimana ada seseorang --setelah kalah hom pim pah-- dia
bertugas sebagai penjaga sarang, yaitu bola itu sendiri. Anak yang kalah berjaga-jaga layaknya seorang kiper
dalam sepak bola, lalu salah satu dari anak lainnya menendang bola sekeras-kerasnya. Anak yang kalah lalu
berusaha menangkap bola tersebut dan meletakkan pada tanda lingkaran diatas tanah yang telah dibuat
sebelumnya. Ketika anak yang kalah berusaha menangkap bola, anak-anak yang lain berlarian sembunyi ke
1 Empang
2 Kawasan yang banyak ditumbuhi pepohonan. Umumnya barongan dalam fonem-foklor kami adalah
daerah disekitar rumah yang banyak ditumbuhi rimbunan pohon bambu.
3 Kayu untuk memancing. Walesan adalah batang pancing tempat mengikatkan senar yang ujungnya telah
dipasang mata kail. Umumnya walesan yang kami maksud terbuat dari batang bambu yang diraut
sedemikian rupa sehingga bagian pangkal lebih besar dari ujungnya. Panjang dan besar diameter sebuah
walesan tergantung dari selera pemiliknya. Umumnya berdiameter 2-4 cm.
suatu tempat yang –menurut mereka—dapat menyembunyikan tubuhnya dari pandangan anak kalah tersebut.
Tugas utama dari anak yang kalah adalah menjaga bola agar tidak ditendang lagi oleh anak-anak lain,
sedangkan anak-anak yang sembunyi tugasnya adalah berusaha menendang bola sebelum anak kalah tersebut
mengetahui dan menyentuhnya. Jika semua anak yang bersembunyi berhasil ditemukan oleh anak yang
kalah, maka permainan usai, dan digantikan dengan babak selanjutnya dimana anak pertama yang berhasil
ditemukan akan menjadi anak yang kalah dan bertugas sama dengan anak kalah sebelumnya.
Bla kothak berprinsip sama dengan tempak tekong, tapi alat permainannya adalah pecahan genteng atau
tembikar yang biasa kami sebut kereweng. Semua anak yang ikut bla kothak, diharuskan melemparkan satu
kerewengnya yang disebut –gaco—ke garis kotak di tanah. Siapa yang terjauh posisi kerewengnya dari kotak
tersebut, maka dialah yang kalah. Anak yang kalah dalam permainan ini, sama dengan tugas anak yang kalah
dalam tempak tekong. Hanya pada permainan ini anak yang kalah bertugas menyusun kereweng yang
berserakan terlebih dahulu, lalu menjaganya. Istilah yang dipakai jika kereweng atau bola dalam dua
permainan ini tercuri adalah colong. Kerap kali anak yang dapat mencuri bola atau kereweng –termasuk aku—
berlari sekencang-kencangnya berlomba dengan anak yang berjaga untuk menendang bola atau kereweng
tersebut seraya berteriak ”colooooong!!!!!” sekeras-kerasnya. Bahkan teriakan tersebut lebih mirip kusamakan
dengan suara adzan. Bedanya, jika dalam permainan ini suaraku lebih mudah keluar dan tidak setengah hati
karena tidak takut salah, sedangkan dalam adzan suaraku terkadang berhenti di tengah-tengah nada karena
takut salah. Salah dalam adzan akan mendapat malu, bukan hanya aku, termasuk orang tuaku.
Sensasi kepuasan yang kurasakan dalam permainan ini adalah ketika berhasil melakukan ”colong” pada
siapapun anak yang kalah. Yang selalu kalah dalam tiap babak permainan, biasa kami sebut dengan –maaf—
keceret. Bagi kami, mahluk yang paling jelek, naas, dan sial adalah anak yang keceret dalam permainan.
Sampai-sampai diantara kami –ndak tahu darimana asalnya—ada lagu khusus dengan irama khas untuk anak
seperti ini sebagai bahan olok-olok. ”Ceret tempeee... bole ale-aleee...”, begitu baitnya.
Boi-boian lebih panas dan menguras tenaga dari dua permainan sebelumnya. Alat utama permainan ini
adalah bola tenis lapangan yang biasa kami sebut “bal mutho”, dan beberapa kereweng. Cara menentukan
anak yang kalah dengan hom pim pah. Anak yang kalah hom pim pah, akan berjaga di sisi dekat kereweng
yang telah disusun dari bawah ke atas seperti dalam bla kothak. Seorang anak lagi –biasanya—yang kami
anggap paling cekatan lemparannya bertugas menghantamkan bal mutho tersebut ke tumpukan kereweng tadi
sekeras-kerasnya. Jika ia tidak berhasil, maka ia harus berganti posisi jadi yang kalah dan anak lainnya akan
mencoba melempar tumpukan kereweng tersebut. Begitu dilakukan secara terus menerus. Jarak lemparan
sangat bervariasi, tergantung dari kesepakatan peserta permainan ini. Bila suatu ketika lemparan berhasil dan
mencerai-beraikan tumpukan kereweng, maka secepatnya anak yang kalah menata kembali ceceran kereweng
dan mengambil bal mutho setelah dilemparkan, sedangkan anak-anak lain berlarian disekitar lokasi tersebut.
Tugas anak yang kalah adalah bagaimana lemparannya dapat mengenai tubuh salah satu anak lain yang
berlarian tersebut, karena jika salah satu terkena, maka ia akan menjadi anak yang kalah.
”Bug!!!”, begitu kira-kira bunyi yang muncul ketika bal mutho yang dilempar mengenai anggota tubuh.
Larangan moral dari permainan ini adalah ”ngeceng”, yaitu keadaan dimana anak yang kalah hanya mengincar
satu orang anak saja untuk dilempar dengan bal mutho agar anak tersebut berubah status menggantikan
dirinya. Aku sering memainkan permainan ini dengan kawan-kawan masa kecilku, sesering itu pula bal
mutho leanding di tubuhku. ”Bug!!!, Qusyairi kalaaah... Qusyairi kalaaah, dhadhi Riiii... dhadhi Riii...”, begitu
sorak kawan-kawanku jika aku kena. Personifikasi status bagi yang kalah adalah sandangan kata ”dhadhi”.
Panas dan agak nyeri terasa kulit tubuhku jika terkena lemparan bal mutho. Sakit tapi asyik.
Jumplo adalah jenis permainan lari. Prinsip permainan ini adalah menentukan siapa anak yang ”dhadhi”, dan
mewajibkannya mengejar anak-anak yang tidak ”dhadhi”. Bila yang ”dhadhi” berhasil menyentuh anggota
tubuh anak-anak lain, maka yang tersentuh menjadi ”yang dhadhi”. Peserta permainan ini tidak terbatas,
terserah komunitas. Cara menentukan ”yang dhadhi” dengan berdiri melingkar dan salah seorang –yang
biasanya lebih tua umurnya—melagukan sebuah lagu ”jumplo paku dheluwang kertaaas... biyen koncoku...
saiki tak lepas” sambil menunjuk anak-anak yang ikut secara berurutan. Jika kata ”lepas” diucapkan pada
salah seorang anak, maka anak tersebut tidak menjadi ”yang dhadhi”, dan foklor lagu tersebut dilantunkan
lagi sampai dari komunitas tersisa dua anak. Dua anak inilah yang kemudian diundi dengan lagu lain lagi,
”benda bendi sing ketiban dhadhi”. Ketika kata ”dhadhi” selesai diucapkan seiring dengan tunjukan tangan pada
salah satu dari keduanya, maka anak tersebut yang berstatus ”dhadhi”. Dia lalu berhitung sampai sepuluh,
sedangkan anak-anak lain menjauh darinya. Setelah selesai hitungan ke sepuluh, maka ”yang dhadhi” berlari
mengejar salah seorang anak dan berusaha menyentuh tubuhnya. Hal utama dari permainan ini adalah lari,
siapa yang kencang dan kuat berlari, dia akan terus menang. Meskipun menjadi ”yang dhadhi”, tapi itu
mungkin tidak berlangsung lama karena dia dapat mengejar dan menyentuh salah seorang anak lainnya.
Mungkin ada baiknya jika pemain sepak bola kita dianjurkan untuk melakukan permainan ini untuk
menjaga stabilitas dan kebugaran fisiknya. Tapi apakah mereka mau?
Blak sodor adalah jenis permainan yang juga dikenal dengan sebutan galah asin. Permainan ini dilakukan
secara beregu dengan jumlah berimbang dan bervariasi tiap kali permainan. Permainan dilakukan di garisgaris
bujur sangkar saling berhubungan yang sengaja dibuat diatas tanah. Umumnya kami waktu itu
membuat garis dengan mengucurkan air secara teratur diatas tanah dan membentuknya seperti sebuah garis
sebagai tanda permainan. Bahkan –karena nakal atau kreatif—aku dan kawan-kawan terkadang membuat
garis dari air seni kami, tapi yang lelaki. Ada regu yang menjaga tiap garis didalam bujur sangkar agar tidak
dilewati oleh regu satunya yang berusaha melewatinya tanpa tersentuh regu yang menjaga. Jika regu yang
berjuang melewati galah asin tersebut telah berhasil bolak balik melewati tiap garis dan kembali keluar,
mereka akan berteriak ”sodoooooor”, dengan keras dan bersemangat. Jika salah satu anggota regu yang
memasuki garis tersebut tersentuh oleh regu yang menjaga, maka mereka akan bertugas sebagai penjaga garis
menggantikan regu yang sebelumnya telah menyentuh tubuh salah seorang regu tersebut. Kerjasama tim
adalah inti permainan ini.
Pate lele adalah permainan yang pernah menyebabkan mbah Mad dimarahi oleh buyutku karena sebab
permainan inilah mbah Mad ketika kecil dulu melukai wajah misanannya, neng Nur, putri dari kiai Sim.
Permainan ini juga dilakukan oleh dua regu, regu pemain dan regu penjaga. Alat utama permainan adalah
sebuah tongkat kayu bulat –umumnya—sepanjang 50 cm berdiameter –kira-kira—3-5cm. Ada juga anak kayu
dengan diameter sama, tapi panjangnya kira-kira 10 cm. Penilaian pemenang adalah dengan sistim skor yang
ditentukan berdasarkan kesepakatan dua tim. Kami buat lubang berbentuk seperti sebuah perahu ditanah,
kami taruh anak tongkat di ujung depan garis tersebut secara melintang, lalu kami –yang menjadi regu
pemain-- menghentakkan anak tongkat tersebut dengan tongkat induknya kedepan sekuat-kuatnya seorang
demi seorang. Jika anak tongkat yang melayang di udara berhasil ditangkap oleh regu penjaga, maka mereka
akan dapat angka (10). Namun jika tidak berhasil ditangkap, anak tongkat akan diambil oleh regu penjaga
dan dilemparkan untuk mengenai induk tongkat yang diletakkan oleh regu pemain di atas lubang perahu
secara melintang. Jika kena, maka giliran pemain telah usai, dan diganti orang lain dalam regu pemain itu
sampai semua orang dalam regu pemain dapat giliran bermain. Jika tidak kena, maka jarak jatuhnya anak
tongkat dengan lubang perahu akan dihitung sesuai dengan panjangnya anak tongkat tersebut. Cara
mengukurnya dengan merotasi anak tongkat dari posisi tempat benda tersebut terjatuh, sampai menyentuh
sisi luar lubang perahu. Regu yang kalah akan dihukum regu yang menang biasanya hukuman permainan ini
disebut ”cokot balung”. Tiap orang di regu pemenang akan memukul anak tongkat dengan induk tongkat
sekuat-kuatnya. Anak tongkat tersebut harus diambil tiap regu yang kalah secara bergantian dari lokasi
pemukulan, mengambil, dan kembali ke lokasi pemukulan dengan berjalan satu kaki dan menggigit anak
tongkat tersebut. Insiden seperti ini mirip dengan orang yang melatih anjingnya. Tapi anehnya, tiada satupun
moment perasaan didalam hatiku yang mengatakan bahwa aku diperlakukan seperti anjing ketika kalah
dalam permainan ini.
Permainan semut-semutan umumnya dilakukan oleh anak-anak perempuan. Alat permainan ini adalah
potongan lidi dan lokasi khusus di tanah yang ditandai oleh sebuah garis. Potongan lidi adalah stereotype
dari semut. Tugas tiap orang adalah menyenbunyikan ”semut”nya di lokasinya masing-masing agar tidak
ketahuan teman yang lain. Setelah usai saling menyembunyikan, kesemua anak yang ikut permainan ini,
akan berusaha menemukan ”semut” kawannya secara acak. Pemenang adalah mereka yang dapat menemukan
”semut” kawannya secepat mungkin. Kesabaran adalah kunci permainan ini, walau kadang-kadang ada cara
jitu memenangkan permainan. Ngintip. Kreatifitas yang kini kehilangan orientasinya.
Jumpritan adalah permainan beregu dan tidak mengenal pemilahan gender. Permainan ini dilakukan oleh
dua regu yang masing-masing memiliki jumlah personil yang sama. Tiap regu memilih markasnya sendiri, bisa
pohon, tiang rumah, atau bahkan tubuh salah seorang anggota tim. Masing-masing tim akan berusaha
menyentuh markas lawan dengan sumber daya yang mereka miliki. Ada yang bertugas menjaga markas
sebagai benteng pertahanan, dan ada yang bertugas merangsek markas lawan sebagai penyerang. Jika salah
seorang dari satu regu berhasil menyentuh markas lawan, maka mereka dianggap menang. Moment ketika
seseorang berhasil menyentuh markas lawan kerap kali diiringi teriakan kolektif ”jumpriiiiit”, dari seluruh
personil regu tersebut. Strategi dan pembagian tugas adalah kunci permainan ini.
Salah satu permainan yang tidak banyak menyita tenaga adalah wok-wo’an. Permainan ini menggunakan
kelereng dan bisa dilakukan secara individual tapi beramai-ramai, bisa juga secara beregu dengan sistim
skoring. Sebelum permainan dimulai, dibuat terlebih dahulu cekungan ditanah yang biasanya berdiameter
antara 2-5 cm, tidak lebih. Permainan dimulai dengan masing-masing orang melemparkan kelerengnya –yang
disebut gaco--masing-masing ke arah lubang tersebut. Siapa yang kelerengnya paling dekat, atau berhasil
memasuki lubang, maka dialah yang mendapat giliran bermain lebih dahulu. Anak yang mendapat giliran
bermain, maka ia harus menyentilkan kelerengnya mengenai kelereng lawan mainnya. Skor (1) jika dia
berhasil mengenai kelerang lawan. Skor ini akan terus bertambah sampai batas akhir skor yang telah
disepakati oleh tiap pemain jika pemain yang sedang bermain berhasil mengenai kelereng lawan. Jika
sentilannya tidak kena, maka jatah mainnya untuk sementara usai, dan diganti oleh pemain lain. Istilah
untuk menyentil kelerang ada dua cara, kipot atau ngipot dan nongki’. Kipot adalah cara menyentil kelerang
dengan jempol dan telunjut atau jari tengah dari satu tangan ke kelerang sasaran. Nongki’ adalah cara
menyentil kelereng dengan telunjuk atau jari tengah tangan kanan, sedangkan kelerang ditopang tangan kiri,
atau sebaliknya. Yang paling akhir melampai batas skor adalah yang kalah. Anak yang kalah akan mendapat
hukuman ”gendher”. Tangannya ditaruh telungkup diatas lubang permainan, sedangkan pemain yang menang
akan menjatuhkan kelereng seluruh pemain satu persatu dari atas dengan posisi berdiri dan berupaya
mengenai punggung tangan pemain yang kalah. Posisi melepas kelereng sejajar dengan arah mata pemain
yang menang. ”Tok”, bunyi yang muncul ketika kelereng menghunjam punggung tangan. Sakit dan ngilu
rasanya. Insting, keyakinan, dan konsentrasi adalah kunci permainan
Jenis permainan lain yang menggunakan alat kelereng adalah srambangan. Permainan ini agak mirip dengan
perjudian karena ada yang naruh beberapa kelereng di sebuah garis panah, sedang yang lain akan berusaha
melemparkan kelerengnya ke beberapa kelereng tersebut. Jika gaco kelerang salah seorang mengenai
kumpulan kelerang yang ditaruh di garis, maka kelereng yang kena akan dimiliki pelempar tadi. Tapi jika
tidak, maka yang menaruh beberapa kelerang tadi akan mengambil gaco pelempar tersebut sebagai haknya
yang dimilikinya.
Gapro’an adalah permainan yang sering dilakukan oleh anak-anak lelaki. Masing-masing pemain dituntut
memiliki gaconya masing-masing, biasanya diambil dari batu kali yang sangat keras. Masing-masing pemain
akan mendapat kesempatan dihantam dan menghantam. Gaco yang dihantam, diletakkan disebuah garis,
lalu tiap-tiap pemain akan menghantam gaco tersebut dengan gaconya secara bergantian. Namun hantaman
tersebut tidak dilakukan dengan tangan, tapi dengan kaki. Gaco yang akan digunakan menghantam diapit
oleh engkel tungkai kaki depan dan dihentakkan ke gaco lawan. Jika gaco yang diahntam pecah, maka dia
kalah. Sebaliknya, jika gaco yang menghantam pecah, maka dialah pemain yang kalah. Tidak ada hukuman
dalam permainan ini, hanya muncul kebanggaan maskulin bagi pemenang.
Engkle lebih banyak dimainkan teman-teman perempuan. Alat utama permainan ini adalah gaco dari
kereweng atau pecahan keramik yang dilemparkan lalu diambil sambil meloncat-loncat dalam media garis
kota-kotak diatas tanah. Siapa yang kaki atau gaconya menyentuh garis, maka dia kalah. Loncatan juga jenis
permainan yang biasa dimainkan oleh teman-temanku perempuan masa kecil. Bahan utama permainan ini
adalah karet yang dirangkai sedemikian rupa sampai memanjang. Karet ini kemudian direntangkan oleh dua
anak sebagai penjaga, sedang anak-anak lain akan berusaha meloncatinya. Fase ketinggian yang menjadi
halangan utama permainan ini ditentukan dari jenjang mata kaki, lutut, perut, bahu, kepala, sampai
jangkauan tangan terjauh ketika dijulangkan keatas. Pemain akan gagal jika tidak berhasil meloncati karet
tersebut.
Sekian banyak pilihan permainan yang sanggup memberikan suguhan pelajaran alternatif pada kami anakanak
Ngelom Megare yang belum banyak –atau hampir tidak ada—yang memiliki pesawat televisi
dirumahnya. Permainan yang kini tidak kujumpai lagi hidup di desaku. Permainan yang tersubstitusi oleh
film-film kartun impor, sinetron percintaan remaja, film-film antagonis berlipstik heroisme, dan infotainment
yang begitu merasa bangga dan berhasil mengungkap kehidupan privasi masing-masing selebritis.
Tiada pernah terlintas pikiran porno didalam otakku ketika sedang bermain –dengan segala jenis
permainan—dengan teman kecilku yang berkelamin wanita. Tidak ada terlontar ledekan diantara kami yang
saling menyebut nama-nama kami secara berpasang-pasangan layaknya dua orang yang pacaran. Tidak ada
dalam referensiku untuk membenci salah seorang kawan kecilku layaknya pertikaian anak manusia yang
kerap ditampilkan di sinetron televisi kita saat ini. Aku dan kawan-kawanku hanya akan benci pada siapapun
teman yang tidak mengikuti kesepakatan komunal yang telah kami buat sebelumnya. Tapi itupun tidak
berlangsung lama, paling cuma 1 sampai 3 hari saja. Setelah itu kita bersatu lagi dalam permainan yang kami
lakukan bersama-sama.
***
Walau hari Jum’at aku libur sekolah, bukan berarti aku bebas melakukan segalanya, karena hari itu aku wajib
melaksanakan Jum’atan, atau sholat Jum’at di masjid. Waktu itu di desaku hanya ada dua masjid yang
digunakan sebagai Jum’atan. Masjid Nidhomuddin di sebelah timur madrasahku, masjidnya warga Santri
Rejo Timur, dan masjid Da’watul Muttaqin di Santri Rejo Kidul. Ketika kecil aku sering sholat Jum’at di
masjid Da’watul Muttaqin atau di masjid al Badri di Nawangsari, desa kelahiran buyutku.
Bagaimanapun sibuknya aku bermain dengan kawan sebayaku, aku harus bergegas mandi, keramas, pakai
bajuku yang terbaik dan terbagus dan segera berangkat ikut sholat Jum’at. Walaupun bagiku saat itu, bermain
lebih menjanjikan karena dapat memberikan kesenangan dibanding sholat Jum’at. Senang dan puas ketika
memenangkan sebuah permaian, apalagi lawan-lawan mainku adalah mereka yang usianya lebih tua dariku.
Ditambah dengan sorak-sorai penonton amatir dari ibu-ibu yang dedes, cari kutu rambut, dan ngerumpi
memperhatikan kami. Bangga ketika aku mampu menghukum lawanku dengan segala otoritasku. Akulah
penguasa mereka, minimal untuk moment itu. Penguasa yang dikuasai.
”Brakkkk!!!”, suara yang keluar dari tumbukan kakiku ketika melakukan colong pada beberapa gaco para
pemain yang ikut bla kothak. Jum’at siang itu aku dan belasan kawan-kawanku sedang asyik memainkan bla
kothak. Keasyikan yang membuat kami ”sengaja” melupakan bahwa hari itu adalah Jum’at.
”Colooooooooong!!!”, suaraku kemudian meluncur lepas dari mulutku sambil berlari menyembunyikan diri
dari hamburan gaco yang telah tercerai berai. Marwan, kawanku yang sedang dhadi, hanya terpaku atas
perbuatanku. Sedangkan teman-teman yang telah diketahui persembunyiannya oleh Marwan dengan seketika
mengikuti upayaku menyembunyikan diri. Marwan lalu menata kembali gaco-gaco tersebut sedangkan aku dan
kawan-kawan lain kembali bersembunyi.
”Kamu tadi sembunyi dimana Ri?”, tanya Mahudi, temanku yang juga ikut permainan tersebut waktu itu.
”Aku tiarap di bawah pohon talas di sebelah surau Hud”, jawabku.
Kami lalu mengendap-endap untuk menemukan tempat persembunyian sekaligus pengintaian yang strategis
demi melakukan colong selanjutnya. Tubuh kami merapat di dinding-dinding rumah buyutku dan menyelinap
di tempat persembunyianku semula. Kami berupaya dengan segala kemampuan untuk menutupi tubuh kami
dari pandangan mata orang lain, terutama Marwan.
”Srak srak... krosak...”, bunyi dedaunan kering ketika bersentuhan dengan tubuh kami.
Aku dan Mahudi lalu duduk berdua di tempat persembunyian kami dan memperhatikan Marwan yang telah
selesai menata gaco dan waspada menebarkan pandangan pa keadaan sekitarnya dengan harapan menemukan
sosok-sosok teman kami dalam permainan itu. Rupanya dia tidak mau kecolongan untuk sekali lagi. Kira-kira
jarak kami dengan Marwan sekitar 30-an meter.
”Hi hi hi hi hi, lihat tuh Marwan, seperti orang bingung”, bisik Mahudi padaku.
Aku hanya tersenyum manggut-manggut mendengarnya. Beberapa saat kami asyik mengamati Marwan dari
persembunyian kami. Sampai tiba-tiba...
”Qusyairiiiii... Qusyairiiiii”, terdengar suara ibu memanggil namaku. Tapi aku diam saja, tidak menjawabnya.
Sejurus kemudian sosok beliau tampak melintas di sebelah rumah buyutku. Rupanya beliau mencariku
untuk disuruh sholat Jum’at.
”Qusyairiiii.... Qusyairiiiii”, suara ibu terdengar lagi.
”Ri! Dipanggil ibumu itu lho”, Mahudi memperingatkanku.
”Aaaaaah, biar saja laaaah, sedang asyik nih”, jawabku sambil menyikut lengannya.
”Kamu nanti dimarahi lho, ayo sana jawab”, Mahudi kembali menganjurkanku memenuhi panggilan ibu.
”Aaaaaah, sekali-kali nggak jum’atan khan ndak apa-apa tho Hud”, aku menjawab dengan agak kesal.
”Kamu ini bagaiamana sih. Iya kalau disuruh Jum’atan, kalau mau diberi uang untuk jajan bagaimana?”,
elaknya.
”Ndak mungkin, sudahlah”, aku tetap teguh pada pendirianku untuk tidak penuhi panggilan ibu.
”Qusyairiiii.... Qusyairiiiii”, suara ibu terdengar lagi untuk ketiga kalinya. Lalu tidak terdengar lagi suara
panggilan karena beliau telah memasuki rumahku.
”Apa katakuuu, tidak memanggil lagi khan? Berarti aku boleh tetap bermain”, ucapku setelah suara ibu tidak
terdengar lagi.
”Awas lho, jangan sampai aku nanti juga dimarahi abahmu jika ketahuan”, Mahudi memperingatkanku.
”Bereeeesss”, timpalku.
Kamipun kembali fokus pada apa yang kami lakukan. Bersembunyi dan mengintai untuk mendapatkan
kesempatan melakukan colong.
Beberapa saat kemudian kulihat abahku keluar rumah dengan mengenakan pakaian muslim lengkap dengan
kopyah dan sorbannya. Rupanya beliau akan berangkat Jum’atan. Didepan rumah, abahku menebarkan
pandangan sejenak ke sekelilingnya seperti mencari sesuatu. Tapi sejenak kemudian beliau lalu berjalan
menuju arah selatan. Mungkin abah akan Jum’atan di Nawangsari.
”Itu lho abahmu Ri, kamu ndak ikut Jum’atan tuh?”, tanya Mahudi.
”Ndak”, jawabku singkat.
”Kamu tidak dimarahi tho nanti?”, tanyanya kembali.
”Tidaaaak”, jawabku agak ragu-ragu karena pasti nanti juga aku dimarahi. Sekarangpun jika aku keluar dan
menghampiri abah, aku mungkin akan dimarahi karena lalai tidak Jum’atan dan lebih asyik bermain.
”Sama-sama dimarahi, mendingan terus main saja”, gumamku dalam hati.
Mahudi seperti tidak percaya melihat sikapku waktu itu. Baginya, aku terlalu berani tidak mengindahkan
panggilan ibuku. Baginya, aku terlalu penurut untuk melakukan keberanian seperti itu pada abahku.
”Iya, tapi aku jangan dibawa-bawa nanti jika kena marah lho!”, Mahudi memperingatkan.
”Bereeesss”, jawabku, walaupun harus kuakui bahwa aku ketakutan juga sebenarnya.
Setelah beberapa waktu kami bersembunyi di tempat itu.
”Ri, aku pindah tempat dulu ya”, Mahudi menyatakan keinginannya.
”Pindah kemana, mengapa?”, tanyaku heran.
”Mau pindah kemana Mahudi, dia khan aman disini”, gumamku.
”Aku mau sembunyi di sebelah kandang kambingnya buyutmu”, jawabnya.
”Tidak lebih enak disini?”.
”Iya, tapi masak kita ngumpet disini terus, tidak berusaha colong”, jawabnya.
”Kamu disini, aku disana, kita coba colong bareng-bareng”, Mahudi membuat rekayasa.
”Iyalah”, komentarku datar.
Dia lalu beringsut-ingsut memindahkan tubuhnya ke tempat yang dia katakan sebelumnya. Marwan kulihat
telah berhasil menemukan beberapa teman yang ikut bla kothak siang itu. Mereka ada yang berdiri dan
duduk-duduk mengelilingi arena permainan. Marwan tetap kelihatan waspada pada sekitarnya.
”Srak srak... krosak...”, bunyi dedaunan kering yang tersentuh tubuh Mahudi.
”Hati-hati Hud, jangan ketahuan!!”, aku nyeletuk.
”Iya-iyaaa”, jawabnya.
”Hudi!!!”, terdengar teriakan Marwan dari kejauhan. Rupanya dia menemukan sosok Mahudi yang
mengendap-endap. Terlihat Marwan menunjukkan tangannya ke arah kami. Tapi mungkin dia tidak melihat
tubuhku karena tidak memanggil namaku. Aku semakin berhati-hati menyembunyikan diriku dari
pandangan Marwan. Mahudi lalu berjalan biasa tanpa mengendap-endap ke pusat arena permainan kami.
Tibalah kemudian sebuah kesempatan melakukan colong.
Aku tidak melihat tubuh Marwan, mungkin dia mengawasi di tempat lain yang tidak dapat kulihat dengan
mataku. Akupun mengendap-endap mengeluarkan tubuhku dari tempat persembunyian itu dengan sangat
hati-hati. Jarakku dengan tempat gaco-gaco sudah sekitar 20-an meter. Teman-teman lain yang melihatku
seperti kegirangan karena mereka berpikir aku berhasil melakukan colong.
”Qusyairi!!! Kena kamu.....”, suara Marwan mengagetkan dan menghentikanku mengendap-endap.
”Aaaaaah!!! Ketahuan reeeek”, keluhku.
Ada senyum kemenangan tersungging di bibir Marwan. Senyum sama tersungging di bibirku ketika aku
melakukan colong beberapa saat tadi.
”Ayo, semua sudah ketahuan, kita ulang lagi permainan”, Marwan mengkomando untuk memulai permainan
kembali.
”Ayo ayo ayo, Ri, ambil tuh gaco-mu. Kita main lagi”, ucap Mahudi padaku.
Tanpa menjawabnya, aku mulai bermain kembali. Dan permainan itupun berjalan beberapa kali sampai sore
hari. Panas cuaca tiada terasa. Keringat yang keluar dari pori-pori tubuh, tidak seberapa dibanding keceriaan
yang didapatkan. Akupun tidak sholat Jum’at hari itu.
”Kamu darimana saja?”, tanya ibu ketika baru kulangkahkan kaki memasuki pintu belakang rumah.
”Kamu tidak capek ya, seharian bermain?”, beliau bertanya kembali.
”Kamu tidak lapar ya, tidak haus?”, beliau bertanya sambil menatap ke wajahku.
Sejurus kemudian beliau diam. Aku yang telah merasa bersalah karena tidak memenuhi panggilan beliau tadi
siang, dan juga tidak Jum’atan, hanya bisa menunduk. Kutanggalkan pakaianku dan bersiap-siap mandi.
”Kenapa kamu mandi? Ndak usah mandi, main saja sana!”, ujar abahku tiba-tiba yang telah berdiri di
belakangku.
Aku semakin tertunduk merasa bersalah. Tapi aku masih belum paham secara jelas tentang materi
kesalahanku. Salah karena tidak menjawab panggilan ibu. Salah karena bermain seharian. Ataukah salah
karena tidak ikut Jum’atan.
Dalam kondisi takut, aku memberanikan diri mandi, berganti pakaian dan pergi ke surau di depan rumahku.
Aku tidak menyentuh makanan mulai pagi, kecuali beberapa cangkir air gentong yang kutenggak saat
bermain tadi siang. Aku bertingkah sehati-hati dan sebagus mungkin untuk meredamkan kemarahan kedua
orang tuaku saat itu. Yang terpikir saat itu adalah bagaimana meluluhkan amarah keduanya setelah geram
akan tingkahku hari ini. Kusapu sebersih-bersihnya lantai surau, kumerdu-merdukan suaraku ketika azan,
dan kukeras-keraskan suaraku ketika belajar mengaji sehabis maghrib. Tapi kemarahan tetaplah kemarahan.
”Cepat kamu makan, dari tadi belum makan”, perintah ibu padaku ketika aku pulang sholat Isya’.
Aku diam saja. Syukurlah walau masih tersimpan raut kemarahan di wajah beliau, namun ibu agak tidak
marah lagi padaku.
Kulihat abahku cuek atas kehadiranku didalam rumah tersebut. Dalam pengamatanku, tidak sesaatpun beliau
menatap tubuhku dari tadi sore hingga saat itu. Sampai beberapa hari selanjutnya, abah tidak bertanya dan
tidak pula berbicara padaku tentang apa yang melekat didiriku. Sekolahku, hafalan nahwu-shorofku, makanminumku,
uang sakuku, apalagi kegundahan batinku. Aku didiamkan, tidak dihiraukan, diacuhkan. Bahkan,
mungkinkah aku dinisbikan?
Betapa saktinya Jum’at, hingga aku layak mendapatkan perlakuan seperti itu. Betapa mulianya Jum’at bagi
anak sepertiku. Betapa tinggi derajat Jum’at bagi pemulianya, sehingga dia harus berjuang mendapat
kemuliaan itu sendiri. Perjuangan yang tidak hanya dilakukan saat melaksanakan Jum’atan, sebelum dan
setelahnyapun juga penuh perjuangan. Perjuangan penuh cobaan.
Satu cobaan berat bagi penunai sholat Jum’at, makhluk kantuk namanya. Dari kecil aku sering kalah
menghadapi makhluk ini ketika menyerangku saat mendengar khotib berkhutbah sebelum sholat Jum’at.
Kantuk yang kurasakan pada saat mendengar khotib berkhotbah, memiliki kualitas serangan, kehalusan
strategi, dan momentum yang tepat melebihi kantuk diwaktu malam atau saat aku sekolah. Kantuk seperti
itu agak mirip dengan kantuk yang datang saat shubuh. Bedanya, jika saat sholat Jum’at diawali dari kondisi
jaga, tertidur, dan bangun lagi untuk ikut sholat. Sedangkan saat shubuh diawali dari tidur, terjaga, dan tidur
lagi dan tidak menghiraukan panggilan Allah untuk berdialog denganNya.
Sholat Jum’at adalah salah satu dari banyak hal yang harus kulakukan karena aku dilahirkan sebagai muslim,
bahkan merujuk keyakinan dari penggalan ayat ”alastu birobbikum, qooluu balaa syahidnaa...”, aku telah
menjadi muslim ketika masih berusia sekitar 4 bulan dalam kandungan ibuku. Ditambah dengan kultur
nuclear family-ku yang sangat terpengaruh oleh status sosial buyutku, seorang kiai, ahli suwu’, ahli riyadloh,
digjaya di kalangan santri dan preman.
Akulah cucu kiai Murad Ali yang sakti dan terpandang, sehingga aku harus rela berteriak mengeluarkan
suaraku sekencang-kencangnya untuk memanggil orang sholat berjamaah di langgar Manarul Ilmi. Akulah
cucu kiai Rad (begitu buyutku disapa) yang harus cermat bacaan al Qur’annya dengan dasar-dasar ilmu tajwid
yang telah kupelajari. Akulah cucu kiai Rad yang pada tiap jamiyah dziba’an malam senin harus mampu
menjadi rowi bait-bait sholawat karangan al Imam al Jalil Abdurrahman al Dziba’i yang terkenal mampu
menggerakkan semangat pemuda dan pasukan Sholahuddin al Ayyubi itu. Akulah cucu kiai Rad yang harus
terbiasa menyingkirkan najis-najis di langgar Manarul Ilmi tiap sore dengan sapuan-sapuan tanganku. Akulah
cucu kiai Rad yang tiap orang di Nawangsari mengelus-ngelus kepalaku dengan hangat hanya karena mereka
tahu aku cucu beliau. Akulah cucu kiai Rad yang kiai Lukman-pun tidak begitu murka atas kegagalanku
menghafal bait-bait shorof begitu tahu aku adalah cucu beliau. Akulah cucu kiai Rad yang tukang becak di
pertigaan jalan Santri Rejo Timur rela mengawalku menyeberang jalan hanya karena mereka tahu aku cucu
beliau. Akulah cucu kiai Rad yang ketika beliau menggendongku diatas bahunya, tiap orang ikut
menundukkan wajahnya dari pandanganku. Akulah cucu kiai Rad yang masih duduk di kelas 2 madrasah
ibtidaiyah ketika beliau wafat dalam usia yang tua dan tubuh yang renta. Akulah cucu kiai Rad yang ketika
beliau meninggal, aku hanya terbengong-bengong tidak tahu atas apa yang sedang terjadi di sekelilingku,
kecuali wajah sembab para mbah dan paman-bibiku, terutama ibuku. Maklumlah, meski ibuku dari kecil
diasuh oleh buyutku, sampai-sampai ibu memanggil buyut dengan sebutan ”abah”, bukan menyapa dengan
panggilan mbah. Akulah cucu buyutku yang ketika beliau wafat, aku menyaksikan ratusan manusia berduyunduyun
datang tiap ba’da isya’ untuk membacakan doa untuk beliau selama tujuh hari berturut-turut. Akulah
cucu kiai Rad yang ketika beliau tutup usia, tidak hanya kiai, ustadz dan santri yang datang melayat, bahkan
preman pasar dan pelacurpun ikut melayat dan memuliakan jenazahnya.
Tapi siapa yang mendengar, melihat, berbicara, dan memahamiku karena diriku sendiri, bukan karena
buyutku. Tidak ada. Kata mutiara ”laisa al fataa man yaquulu abii, walakin al fataa man yaquulu haa ana dzaa”
seperti jauh dari personifikasi diriku. Aku didengar karena aku cucu kiai Rad, aku dilihat karena aku cucu
kiai Rad, aku diajak bicara karena aku cucunya kiai Rad, bahkan aku dipahami juga karena aku cucunya
beliau. Bukan karena diriku sendiri. Aku seperti rumah kulit keong yang kehilangan keongnya. Keras,
tangguh, berwarna indah, dan dikagumi orang, tapi nihil substansi diri.
Status yang memberikan habitat hidup dengan persediaan lumbung-lumbung kesombongan yang tidak akan
ada habisnya. Ascribed status yang disandangkan melalui sangkar elok nan indah terlihat dari luar, dan –
mungkin—banyak yang ingin memasukinya. Namun, sekali sangkar tetaplah sangkar, walaupun dari emas.
Terima kasih Tuhanku Yang Rahman Rahim... walau Kau muncul dan didik aku dalam jeruji emas yang
indah ini, aku dapat melihat dan belajar pada keburukan diluar sana tanpa mencampakkan jeruji yang
kuwarisi ini. Terima kasih Tuhanku... mereka yang bersangkar kayu lapuk juga tidak menolakku untuk
merasakan sangkarnya, dan nderes ilmuMu tanpa melupakan sangkarku sendiri. Bagiku, tiada beda antara
emas atau kayu lapuk, keduanya memiliki media dan caranya masing-masing untuk memanusiakan diriku
dalam naungan Rahman-Rahim Tuhan.
Terima kasih Tuhanku yang Rahman Rahim... Kau jadikan aku tidak khawatir orang akan mengacuhkanku
ketika buyut meninggalkanku untuk sementara dengan pintu kematian. Kau panggil buyutku ketika aku
masih belum punya pengetahuan mendalam akan syahwat pada perempuan. Kau panggil buyutku ketika
janggutku belum ditumbuhi bulu-bulu jenggot seperti jenggotnya abahku. Kau panggil buyutku saat aku
belum pernah mengalami ihtilam4 barang sekalipun. Kau panggil buyutku ketika aku belum punya ambisi
4 Mimpi basah bagi anak lelaki yang menginjak dewasa.
jabatan, walaupun sebatas ketua kelas di sekolahku. Kau panggil buyutku masa aku belum berani pergi ke
pasar kecamatan sendirian.
Bagaimana jadinya jika aku mengenyam hangatnya kasih-sayang buyutku dan sangkar emas keluargaku
sampai usiaku menginjak pubertas pertama. Masa dimana tiap remaja akan ingin mengaktualisasikan diri,
pamer kebolehan, arogan pada lingkungan, dan mengejar jenis kelamin yang berbeda dengan dirinya. Aku
pasti akan sangat mirip dengan Dursasana, salah seorang Kurawa yang sangat bernafsu menelanjangi
Drupadi, istri Pandawa karena menang dalam sebuah perjudian.
Bagian 4
Dibuang Untuk Belajar
Terkejut aku ketika gendang telingaku mendengar penuturan Mahudi, kawan sekelasku di MI Nidhomuddin
memberitahu bahwa ia akan keluar dari sekolah tersebut dan pindah ke SDN I di Santri Rejo Barat sendiri.
Dengan heran dan merasa kehilangan, aku bertanya padanya tentang motive yang mendasarinya, walaupun
saat itu aku belum belajar tentang teori because motive dan in order to motive-nya Alfred Schutz dalam aliran
Phenomenologi.
“Kenapa kamu mau pindah Hud?”, tanyaku padanya yang saat itu sedang berjalan di sampingku bersama
Marwan menuju sekolahan kami. Kami sudah berada di bangku kelas 5, dan mempersiapkan diri mengikuti
THB (test hasil belajar) di akhir tahun ajaran.
“Aku merasa tidak kuat Ri...”, katanya memelas.
”Ndak kuat gimana, kamu khan sehat-sehat aja”, tanyaku kembali karena memang kulihat ia jarang sakit.
Maklumlah, diantara ketiga anak itu, akulah yang tidak bisa berenang, karena selalu dilarang orang tuaku
untuk bermain di sungai Mas yang waktu masa kecilku sangat jernih airnya, dan banyak ikat cucut-nya.
Sedangkan keduanya adalah perenang handal. Sering kudengar cerita mereka yang berlomba menyeberang
kali Mas bolak-balik dengan kemampuan renangnya masing-masing. Aku hanya nyengir dan minder
mendengar cerita mereka.
”Yaaa ndak kuat Ri. Aku merasa tidak mampu kalau harus kelas 6 nanti masih sekolah di Nidhomuddin”,
ujarnya tertunduk.
”Kenapa Hud?”, tanyaku. ”Iya, kenapa Hud?”, tanya Marwan kemudian.
Sejenak dia terdiam, tapi kemudian menjawab pertanyaan kami. ”Aku tidak kuat arab-araban-nya”.
Aku merasa tersindir dengan jawaban itu, mungkin Marwan juga demikian. Arab-araban yang dimaksud
Mahudi adalah pelajaran yang bernuansa Arab, atau yang ada teks materi Arab-nya seperti al Qur’an Marwan,
Nahwu-Shorof, Aqidah Akhlak, Fiqih, Ibadah-Syariah dan tentu saja Bahasa Arab. Bukan hanya Mahudi, aku
dan Marwan juga merasakan pelajaran-pelajaran tersebut sangat berat masuk pada volume otak kami. Harus
menghafal, harus mengerjakan PR, dan kadang-kadang harus menterjemah bahasa yang bukan bahasa
”ibu”ku. Pelajaran yang tidak lebih seperti sebuah utopia –meminjam istilah Karl Manheim—bagiku. Untuk
sesaat aku membandingkan problem Mahudi dengan problemku. Sama.
Tanpa berusaha mencari alasan lain darinya, aku kemudian mencari tahu tentang sekolah mana yang akan
dimasukinya setelah keluar dari madrasah. ”Lalu, kamu mau sekolah dimana Hud?”, tanyaku kemudian.
”Aku mau daftar di SDN aja Ri, apalagi kakakku juga sekolah disana, mungkin aku dapat mencontoh
darinya”, jawabnya.
”Iya Hud, enak disana, lebih dekat, ndak perlu nyeberang jalan raya, ndak begitu kepanasan ketika pulang,
waktu istirahat juga bisa pulang”, Marwan menimpali. Memang jika dibandingkan, jarak rumah Mahudi ke
madrasah, lebih jauh daripada jarak ke SDN. SDN Santri Rejo Barat terletak di sebelah barat rumahnya,
hanya beberapa meter di samping rumah Marwan. Aku ingat betul lokasi itu karena dulu aku pernah
ditabrak seseorang yang mengendarai sepeda onta ketika pulang sekolah di TK Dharma Wanita. Dalam
kecelakaan itu, tangan kananku sampai masuk dan terjepit diantara dua garpu sepeda onta tersebut. Jadi,
untuk dapat menarik tanganku, ban depan depeda dilepas terlebih dahulu. Orang yang memberiku minum
segelas air putih pada kecelakan itu adalah Neng As, ibunya Marwan. Moga Allah membalas perbuatan baik
beliau.
”Tapi khan nanti di kelas 6, bukan kiai Lukman yang mengajar Bahasa Arab. Dengar-dengar nanti yang
mengajar Pak Nukman”, aku berusaha memprovokasi keputusan Mahudi.
”Ya sama saja Ri, yang namanya tidak bisa ya tetap tidak bisa. Daripada nanti aku kepikiran
ketidakHudpuanku memahami pelajaran yang arab-araban, lalu mengganggu belajarku pada pelajaran yang di
EBTANAS-kan, bagaimana? Bisa-bisa aku tidak lulus. Daripada tidak lulus, lebih baik aku pindah sekolah”,
Mahudi menuturkan pertimbangannya. Rasional juga menurutku.
Dia kembali berkata-kata. ”Kamu khan belum pernah diajar Pak Nukman, tahu darimana jika Pak Nukman
tidak lebih kereng1 dari kiai Lukman. Pelajaran Fiqih juga, anak kelas 6 khan diajar Gus. Beliau khan katanya
sangat kereng. Hayooo...”, Mahudi mulai balik memprovokasi ketegaranku dan Marwan. ”Iya ya”, dalam hati
kubenarkan alasannya. Tapi aku hanya terdiam saja.
Nukman Adzro’i adalah nama lengkap dari Pak Nukman, putera dari kiai Musthofa yang menjadi pengasuh
PP Al Islamiyah. Waktu itu Pak Nukman adalah kepala sekolah di madrasah kami. Sedangkan gus bernama
Sholeh Syakur, putera kiai Syakur yang juga mengasuh pesantren tersebut. Generasi emas dari kiai-kiai di
Santri Rejo Timur.
”Orang tuamu bagaimana Hud?”, tanya Marwan.
”Mereka sudah menyetujuinya dan selepas raport-an nanti, mereka akan memindahkanku”, ujar Mahudi
dengan mantab.
Dari perbincangan singkat itu, aku merasa bahwa kini diantara kami bertiga, hanya aku dan Marwan yang
harus bersiap-siap menghadapi kecemasan tiap hari. Saat itu aku iri pada Mahudi.
Yang kuandaikan –dari keputusan Mahudi-- selain kecemasan yang harus kami hadapi di kelas 6 nanti,
adalah sepak bola. Mahudi adalah pesebak bola tangguh dikelas kami. Dia jago ngocek benda bundar itu.
Tidak hanya pada kami dia terlihat menonjol. Bahkan, Mahudi juga terlihat menonjol permainan bolanya
jika dibandingkan dengan kelas di atas kami. Sekedar nostalgia, kami di MI Nidhomuddin, sering
mengadakan pertandingan sepak bola persahabatan antar kelas. Karena di madrasah ini hanya ada 6 kelas
yang dibedakan dari jenjang pendidikannya, maka kerap kali kami bertanding melawan tim dari kakak kelas
kami, atau adik kelas kami. Dalam pertandingan persahabatan seperti ini, kelas kami hampir selalu menang,
walaupun melawan tim dari kakak kelas kami. Salah satu faktornya adalah Mahudi, pesepak bola handal
pada space and time kami hidup saat itu.
Mungkin Mahudi juga merasakan hal yang sama ketika akan tidak seiring-sejalan lagi dengan kami saat
berangkat ke sekolah yang berbeda. Tidak mencari strategi dengan kelicikan kami masing-masing untuk
mengelabuhi guru-guru agama kami. Tidak saling berangkulan lagi ketika salah seorang diantara kami
mencetak gol ke gawang lawan saat bermain bola. Tidak saling mengharap contekan ketika mengikuti ujian
ilmu-ilmu agama. Tidak saling bertanya akan PR dan tugas yang diberikan oleh guru-guru kami. Dan bahkan,
tidak akan sewarna baju seragam lagi ketika berangkat sekolah nanti. Aku membayangkan jika suatu hari aku
berpapasan dengan Mahudi yang berbaju seragam lain denganku, apa yang harus aku lakukan. Seragamku
khan abu-abu putih jika hari senin-selasa, hijau-putih pada hari rabu-kamis, dan pakaian pramuka pada hari
sabtu-minggu. Sedangkan seragam Mahudi khan merah-putih pada hari senin sampai kamis, dan pakaian
pramuka pada hari jum’at-sabtu.
Apakah dia masih temanku? Ataukah dia sudah bukan temanku lagi. Sekolah kami khan berlainan, dan –
menurut desas-desus—diantara sekolah kami tersimpan kompetisi tidak tertulis tiap kali pelaksanaan
EBTANAS. Sekolah yang muridnya meraih nilai paling tinggi, disitulah piala prestise institusi pendidikan
akan dimiliki. Akibatnya luar biasa, bahan propaganda yang sangat efektif untuk meraih murid baru di tahun
ajaran berikutnya. ”Aaah, apakah aku harus melawan temanku sendiri?”, gumam hati kecilku.
”Tahun lalu NEM (nilai ebtanas murni) anak Nidhomuddin paling tinggi dari semua sekolah disini. Dari
SDN Santri Rejo Barat, dari MI al Badri, maupun MI Banat. Sekolahkan saja anakmu di Nidhomuddin,
buktinya khan sudah jelas”. Begitulah kata sebagian ibu-ibu yang kudengar ketika mengambil pertimbangan
untuk menyekolahkan anaknya di sekolah dasar.
Tapi bagaimanapun juga, dalam sudut pandang Mahudi, sepak bola, pertemanan kami, dan kebersamaan
yang telah terbangun kurang lebih 5 tahun, hanyalah setitik debu yang bersanding dengan momok besar
ketakutan yang menjadi bebannya, arab-araban.
***
1 Garang
Tak terasa waktu berlalu, dan akupun naik ke kelas 6 di MI Nidhomuddin. Aku belajar di kelas yang –waktu
itu—berada di lantai dua pada sebelah selatan gedung sekolah. Dibawah kelas kami adalah anak-anak kelas 5
yang menjadi adik kelas kami. Di sisi barat dan selatan ruang kelas tersebut dipasang pagar besi berwarna
krem setinggi 1 meter untuk menjaga kami agar tidak jatuh dari lantai atas. Pagar besi berwarna krem juga
membatasi pinggir lobi menuju kelas yang terbuka dan tidak beratap.
Dari lantai atas inilah aku sering menghukum kawan-kawanku ketika mereka kalah dalam permainan wokwo’an.
Butir kelereng kubawa ke atas, sedang temanku yang kalah tetap dilantai bawah, tepatnya dihalaman
tempat bermain sambil meletakkan tangannya diatas lobang permainan. Aku lalu menjatuhkan tiap kelereng
dari atas dengan berusaha setepat mungkin mengenai punggung tangan temanku tersebut. ”Gendher”-an yang
luar biasa. Bayangkan saja. Apa tidak sakit tulang jari jika tertimpa kelereng yang dijatuhkan kira-kira 10 m
dari atas? ”Thak!!!” begitu bunyi jari yang terkena gendher dengan cara seperti itu.
Dari ruangan kelasku diatas itu, bangunan pesantren al Islamiyah putra-putri terlihat sangat jelas, sama
jelasnya dengan jalan raya didepan sekolah kami. Bahkan kami dapat mendengarkan suara-suara yang
muncul dari mulut santri-santri pondok, padahal mereka sedang berada didalam kamarnya masing-masing.
Penataan fentilasi memberikan kesempatan pada angin yang bebas keluar-masuk ke ruangan kelasku, segarnyaman
rasanya. Cahaya juga lebih banyak masuk ke ruangan kelasku karena kaca ”krepyak” tembus pandang
menghiasi tembok-temboknya. Jam 10 sampai 12 siang adalah jam-jam neraka bagiku, dan teman-temanku di
kelas ini. Jam 10 adalah waktu kami harus masuk kelas kembali setelah istirahat selama 30 menit dari jam
09.30 WIB. Waktu istirahat kami isi dengan bermain dan berbelanja makanan atau mainan dengan uang
saku yang kami miliki. Perut telah terganjal makanan ketika jam 10.00 WIB. Badanpun agak terasa capek
akibat bermain-main selama 30 menit. Ketika masuk kelas, angin sepoi-sepoi bergantian tiada henti menerpa
wajah-wajah kami yang masih agak keringatan, ”wuuuuus....”, segar rasanya. Angin datang, kantukpun
menyerang.
Kepalaku sering terhempas-hempas seperti batang padi yang terkena tiupan angin dari berbagai arah. Kadang
sambil mata agak terpejam-pejam, kepalaku terhempas kekanan, kekiri, kedepan, atau kebelakang. Namun
hempasan itu tidaklah tuntas sampai sasaran karena seperti ada pir dileherku, hempasan campur liukan.
Sesekali aku berusaha melawan kantuk virus itu dengan membuka-buka kelopak mataku atau ijin ke kamar
kecil untuk membasuh mukaku dengan air. Tapi aneh, tiap selesai kubasuh air, untuk sementara kantuk
hilang. Namun tidak lama lagi datang dengan kehebatan serangan melebihi sebelumnya karena dibantu oleh
sejuknya rasa air dikulitku akibat hembusan angin.
Rupanya kantuk yang datang pada saat-saat seperti itu, memiliki pola khusus. Kantuk datang jika yang kami
pelajari adalah pelajaran non arab-araban atau non hitung-hitungan seperti matematika. Pada jenis pelajaran
arab-araban atau matematika, sengantuk apapun, kami pasti terjaga. Tapi, jika pelajaran yang sedang kami
ikuti seperti PMP (pendidikan moral Pancasila), Sejarah Islam, Bahasa Indonesia, dan IPS (ilmu pengetahuan
sosial), kebanyakan kami pasti gagal menghadapi serangan kantuk. Bahkan aku pernah tertidur sendekur
ditempat dudukku berbantalkan kedua tanganku sampai ketika bangun, kelasku telah kosong melompong
tanpa seorangpun didalamnya selain aku. Jam pelajaran terakhir telah usai, dan aku masih tertidur. Semua
kawan sekelas tidak bangunkanku. Kuturuni tangga didepan kelas dan pulang kerumah, kepanasan sendirian
dijalan.
***
Degup jantungku terdetak cepat dan terasa memburu karena kegalauanku menerima sebuah amplop putih
tertutup rapat. Di amplop itu tertulis namaku dengan tulisan tangan yang jelas dan dapat dibaca oleh orang
yang literate. Konon didalamnya ada selembar kertas dengan tulisan yang menjelaskan status kelulusanku dari
madrasah ibtidaiyah Nidhomuddin setelah beberapa waktu sebelumnya mengikuti ujian nasional untuk
sekolah tingkat dasar. Namaku tertulis di amplop tersebut, namun aku tak boleh membukanya karena hak
merobek amplop dan membaca untuk kali pertama ada di tangan orang tuaku. Sepanjang jalan dari sekolah
sampai rumah tiap benda, orang, dan satu halpun yang kuhiraukan, kecuali kuingin cepat sampai rumah dan
menyerahkan amplop tersebut pada orang tuaku untuk beliau baca. Aku ingin cepat keluar dari kondisi yang
intimidatif tersebut.
Rumahku kulihat lengang, sepi dan tertutup pintunya. ”Assalaamu ’alaikuuum.....”, salamku kuucapkan
sebagai warisan tradisi dalam keluargaku. Sepi dan tidak ada jawaban. Kulepaskan kedua sepatu hitam yang
setia melindungiku dari panasnya aspal, debu, duri, dan kotoran di jalan yang kulewati tiap sekolah. Kubuka
pintu pelan-pelan dan masuk kedalam ruang tamu. Kulihat ibuku tertidur diatas sehelai tikar dari daun
pandan. Pulas betul tidur beliau waktu itu. Maklumlah, beliau adalah ibu rumah tangga yang baik
menurutku. Tidak pernah aku protes atas masakan, cucian, dan pelayanan fasilitas hidup yang diasuhkan
padaku. Aku berjingkat-jingkat menuju kamar mandi untuk kemudian membilaskan air pada kaki-tangan,
wajah dan mencuci dua lubang hidungku.
”Sudah pulang Ri?”, suara ibuku mengagetkanku. Rupanya beliau sudah terbangun.
”Iya bu”, jawabku seraya menghampiri beliau dan mencium tangannya.
”Makan dulu sana”, perintahnya padaku.
”Iya bu”, jawabku. Akupun bergegas berganti baju. Sebelum kuambil piring, dengan irama jantung berdegup
cepat sama seperti kecepatan sebelumnya, kuserahkan amplop yang tertulis namaku kepada ibuku.
”Ini dari sekolahan bu, tidak boleh dibuka kecuali oleh orang tua walimurid”, infoku pada ibu.
”Ooooo, pengumuman kelulusanmu ya?”, tanya ibu. Aku mengangguk.
”Nanti aja tunggu abahmu, biar abahmu yang membuka. Sudah, makan sana, sholat lalu istirahatlah”, titah
ibu. Akupun mengambil nasi dan lauk-pauk untuk makan siangku.
Sayur lodeh ”bung2” dan sambal kangkung adalah makanan yang kusuka. Namun siang itu, sayur lodeh
”bung” dan sambal kangkung terasa lain di lidahku. Makanan tersebut seperti hanya lewat saja tanpa ucapkan
”nuwun sewu” pada syaraf-syaraf lidahku. Sambal kangkung juga hanya lewat tanpa pancarkan enzimnya
rongga mulutku. Hambar terasa makanan ibuku siang itu. Bukan karena skill memasak beliau sirna atau
kurang bumbu, tapi lebih karena kecemasanku. ”Lulus apa tidak ya aku ini?”, pertanyaan yang terus menerus
bertamu dibenakku. Tumben, biasanya tiap siang aku selalu mencari kesempatan untuk menyelinap keluar
rumah dan bermain dengan teman-teman sebayaku, kini aku hanya berdiam diri dirumah dengan berharapharap
cemas agar abahku pulang dan membuka surat dalam amplop putih tersebut.
Ketika abahku memasuki rumah, debar jantungku semakin terasa keras berdetak. Apa isi pengumuman di
dalam amplop itu? Apakah aku lulus, ataukah tidak? Dua kemungkinan yang masih 50-50 perbandingannya
menurutku. Sepanjang penantian itu, aku hanya diam membisu.
”Itu bah, ada amplop berisi pengumuman dari sekolahannya Qusyairi. Pengumuman kelulusan”, ibu
menyampaikan pesan kepada abahku.
”Iya, biar kubuka nanti”, jawab abahku singkat. Jawaban yang semakin mencemaskanku. ”Qusyairi dimana
lho?”, ganti abah bertanya pada ibuku.
”Itu sedang tidur”, jawab ibu, padahal aku tidak dapat tidur sama sekali. Mata memang terpejam, tapi
kesadaran tidak hilang, menerawang.
Abah lalu sucikan dirinya dengan air asin dari sumur kami, sholat dan kemudian mengambil amplop
tersebut dan duduk sambil mendekatkan kopi dan rokoknya. Amplop tersebut beliau buka dengan mantap
lalu membaca dan memahami tulisan didalamnya untuk beberapa saat. Beliau lalu memasukkan kembali
lembaran pengumuman tersebut kedalam amplop dan menyulut sebatang rokok dengan menyruput kopi
terlebih dahulu.
Sejurus kemudian ibu bertanya padanya, ”bagaimana hasilnya bah?”.
”Nanti biar dia kuberitahu sendiri”, jawaab abah cuek.
”Kubuka ya bah?”, pinta ibu.
“Iya”, jawab abah.
Ibu lalu membuka amplop dan membaca pengumuman didalamnya. Setelah dirasa cukup, beliau lalu
memasukkan kembali lembar pengumuman tersebut kedalam amplop, lalu meneruskan kesibukannya di
belakang rumah. Sedang abah tetap menikmati tiap hisapan rokoknya.. Aku yang dari tadi nguping, semakin
2 Akar muda dari bambu.
tersiksa. Jika aku lulus, mengapa tidak terdengar suara-suara kegembiraan dari mulut mereka. Jika aku tidak
lulus, mengapa aku tidak dibangunkan dan dimarahi karena telah memalukan mereka. Digelayuti jawaban
dari dua kemungkinan tersebut, aku tertidur juga akhirnya.
“Petoooook… petoooook… kok kok kok kok kok kok…”, suara ayam betina yang mau bertelur seperti itu
membangunkanku dari tidur tidak sengaja siang itu. Aku berdiri lalu mencari abah dan ibuku, ternyata
mereka tidak ada dirumah, tidak tahu kemana. Kulihat amplop masih tergeletak diatas meja, berdampingan
dengan gelas kopi dan rokok abahku. Berarti abah mungkin tidak lama keluar rumah, karena rokoknya
masih diatas meja. Biasanya jika beliau pergi agak lama, rokok pasti tidak terlihat dirumah karena selalu
menyertainya. Selintas terpikir untuk membuka sendiri amplop tersebut dan membaca tulisan didalamnya.
Aku hanya butuh temukan satu kata saja, “LULUS”. Tapi aku tidak berani melakukan itu tanpa ijin dari
orang tuaku. Surat itu untuk mereka, bukan untukku, walaupun isinya berkaitan dengan karir sekolahku.
Lancang dan tidak sopan, itu namanya.
”Kamu sedang apa Ri, koq jengkang-jengking3?”, tanya abahku yang sudah berdiri di belakangku.
Sempat tergagap, tanpa menjawab pertanyaan beliau, aku beringsut-ingsut menghindarkan tubuhku dari
hadapan abah dan menyisihkannya ke arah samping kanan beliau. Tingkahku seperti mempersilahkan abah
untuk melakukan tindakan yang beliau inginkan selanjutnya.
“Kamu mau tahu isi amplop itu ya?, tanya abah padaku. Aku tidak menjawabnya, hanya diam saja. Tanpa
ditanyapun aku yakin beliau juga paham bahwa aku ingin tahu rahasia didalamnya.
”Buka dan baca isinya!”, perintah abah. Aku tetap diam dan tidak bergerak kecuali bola mata dan kelopaknya
yang kerlap-kerlip. Beberapa saat aku masih terdiam.
”Kenapa, kamu takut ya?”, abah sekali lagi menanyaiku. ”Sudah, buka amplop dan baca isinya!”, perintah
abah padaku. Aku tetap saja diam tidak bergerak.
”Jika kamu merasa sudah berusaha maksimal, kamu tentu layak dapat hasil yang maksimal. Jika kamu merasa
tidak berusaha dengan sungguh-sungguh, kamu ndak perlu mengharap hasil yang baik. Kenapa kamu takut?
Apa kamu merasa tidak belajar sungguh-sungguh?”, pertanyaan abah mulai memiliki logika, tidak hanya
berisi tekanan psikhis semata.
Dengan gemetar, kuberanikan membuka amplop tersebut dan perlahan-lahan kukeluarkan selembar kertas
didalamnya. ”Bismillah”, suaraku lirih hampir tidak terdengar. Kucari-cari satu kata yang kuinginkan,
”LULUS”. Begitu pupil mataku menangkap tulisan ”LULUS” dan mengirimnya ke retina lalu
menyampaikan pada syaraf-syaraf kesadaran di otakku, seketika keluar suara ”alhamdulillah... horeeeee... aku
luluuuuus...”, walaupun hanya terdengar oleh Tuhan, malaikat dan syetan yang bertengger di hatiku. Plong
rasanya dadaku yang tersumbat.
”Terima kasih bah”, aku lalu cium tangan beliau dengan takzim.
”Iyaaa... iyaaa”, jawab abahku. ”Sana, cari ibumu, terima kasih padanya!”, titah abah.
Seketika kumasukkan kembali lembar pengumuman tersebut ke dalam amplop dan meletakkannya diatas
meja, persis seperti posisi sebelumnya. Aku lalu dengan agak meloncat-loncat karena girang, keluar rumah
dan mencari ibu. Padahal aku juga tidak tahu dimana posisi beliau waktu itu.
Samar-samar kudengar suara ibu sedang bicara dengan beberapa wanita. Ternyata beliau ada di dapurnya
mbah Dhok. Aku segera berbegas ke tempat itu. Kulihat ibuku menduduki dengklek4 berbentuk kotak dari
kayu pohon waru didepan tunggu mbah Dhok. Sedang nenekku itu sedang mengambil beberapa ranting
bambu kering yang yang memang dipersiapkan untuk bahan bakar tungkunya. Aku langsung mencium
tangan ibu sambil berkata, ”terima kasih bu, aku lulus”. ”Iya, alhamdulillah Ri”, jawabnya. Mbah Dhok
hanya cuek melihat kami, ada apa gerangan yang dilakukan anak dan cucuku tadi ya? Mungkin itu
pertanyaan beliau.
Haflah akhir sanah5, atau perpisahan diselenggarakan di sekolahku. Banyak pentas-pentas dari kreatifitas tiap
kelas dari kelas 1 sampai kelas 6 yang ditampilkan. Semua teman sekelasku terlihat ceria pada malam
3 Nunggang-nungging.
4 Bangku kecil dari kayu
5 Perpisahan akhir tahun
perpisahan itu. Ternyata mereka lulus semua. Keceriaan itu tidak begitu terkesan bagiku, karena aku juga
tidak merasa ada yang spesial didalamnya. Yang terasa spesial adalah senyum mengembang dengan tulus
ikhlas dari guru-guruku di madrasah tersebut. Beliau semua terlihat sangat senang ketika pandangan mereka
melihat sosok tubuh-tubuh kami yang telah lulus dari sekolah itu. Pandangan penuh kepuasan setelah kurang
lebih 6 tahun mereka mentransformasi ilmunya pada kami. Kurang lebih 6 tahun membimbing kami ketika
kami salah, dan menjadi orang tua kedua bagi kami. Tugas mulia nan berat yang terkadang dibalas dengan
gerutu, omelan, dan ketidak puasan kami yang masih sangat hijau melihat dunia bagaikan kecambah yang
berdiri tegak ke atas, namun lunak dan rentan roboh hanya karena tiupan seorang anak kecil yang baru bisa
bicara. Muncul kangen sebelum berpisah dalam perasaanku ketika dua biji mataku menatap sosok guruku di
madrasah tersebut. Kangen karena apa, aku juga masih belum dapat memberikan kategorisasi atasnya.
”Mahudi bagaimana Ri, apa dia juga lulus, sama seperti kamu?”, pertanyaan yang membuyarkan senda
gurauku di malam perpisahan tersebut. Pertanyaan yang keluar dari Pak Nukman, wali kelasku di kelas 6,
sekaligus kepala sekolah kami yang tanda tangannya tertera di rapot kami tiap THB kenaikan kelas.
Pertanyaan yang keluar dari mulut yang santun. Pertanyaan yang dilambari roman muka bersih penuh
kewibawaan, santun dan welas-asih. Wajah yang tidak pernah kulihat –sampai kini—dengan mendung muram
durja menggelayutinya. Wajah yang selalu enak dipandang.
”Mahudi lulus pak”, jawabku agak terkaget.
”Alhamdulillah, sampaikan padanya yaaa, Hud, kamu disuruh belajar yang tekun oleh Pak Nukman”, beliau
memintaku menyampaikan nasehat dan pesannya pada Mahudi.
”Iya pak”, jawabku.
Luar biasa. Orang yang mengajar bahasa Arab untuk anak kelas 6 di MI Nidhomuddin, dengan tanpa beban
dan gengsi menitipkan nasehatnya pada anak yang dulu lebih memilih sekolah lain karena merasa tidak
sanggup belajar pelajaran arab-araban di sekolah yang dia pimpin. Menitipkan nasehat pada anak yang
sebenarnya pindah sekolah karena takut padanya. Takut atas dasar asumsi bahwa Pak Nukman tidak kalah
kereng dibanding kiai Lukman. Tanpa tampak sedikitpun ion-ion dendam pada wajah beliau pada Mahudi.
Dendam karena apa? Apa tidak sangat wajar jika ada seorang anak pindah atas kemauannya sendiri dari satu
sekolah ke sekolah lain, maka pasti ada yang dikeluhkan dari sekolah asalnya, apapun itu. Apalagi sekolah
yang menjadi tempat belajar setelah pindah, adalah kompetitor sekolah asal. Ini akan –walaupun juga tidak
tentu—membawa penafsiran bahwa sekolah asalnya tidak lebih baik dari sekolah yang menjadi tempat pindah
belajar dari anak tersebut. Baik-buruk sesuatu, pasti disebabkan –salah satunya-- oleh faktor kepemimpinan.
Pak Nukman pemimpin di sekolah yang ditinggalkan Mahudi, berarti beliau pasti punya andil atas
kepindahan Mahudi. Sangat wajar mungkin, bila beliau punya ”dendam” kepemimpinan pada Mahudi.
Tapi nyatanya itu tidak terbukti sama sekali. Mahudi salah. Pak Nukman jauh lebih sabar dan ikhlas
dibanding kemurnian dan ketulusan kita selama belajar 6 tahun selama ini. Kau dan aku harus malu Hud.
***
Aku tidak pernah punya pilihan tentang sekolah yang akan kumasuki setelah tamat sekolah dasar di MI
Nidhomuddin. Bahkan aku juga masih belum punya pemahaman khusus yang mendasariku untuk
melanjutkan sekolah. Hidup bagiku adalah sebatas makan, minum, sholat, ngaji, jamiyahan, dan tentu saja
bermain. Untuk apa aku sekolah jika tiap hari aku telah melaksanakan siklus aktifitas itu dengan baik,
kecuali ketika aku sakit atau sedang mengalami siklus ”bad day” seperti halnya diungkap teori bioritmik dalam
konsentrasi Psikologi.
Aku tidak pernah ambil pusing dengan status sekolah yang akan kumasuki ketika SMP nanti. Negeri dan
swasta bagiku tidak berbeda. Sekolah swasta yang berbasis ilmu agama atau swasta yang umum, aku juga tidak
begitu risau. Prinsipku saat itu, sepanjang aku masih bisa bermain, teranglah dunia bagiku.
”Kamu setelah ini mau sekolah dimana Ri?”, itu adalah pertanyaan abah padaku yang sering ditanyakan pada
hari-hari pasca kelulusanku dari MI Nidhomuddin. Aku seringkali diam tidak menjawab pertanyaan tersebut.
Diam karena aku tidak tahu harus sekolah dimana. Aku tidak merasa punya cukup rasa suka terhadap
sekolah-sekolah tingkat menengah pertama yang kuketahui didaerahku, sehingga mendorongku untuk
memilihnya sebagai tempatku belajar selanjutnya. Atau bahkan, mungkin aku tidak cukup punya alasan
untuk memiliki pilihan sekolah, karena aku memang tidak memiliki orientasi sekolah. Nir orientasi sekolah
ini bukan muncul karena orang tuaku tidak Hudpu membiayai aku untuk melanjutkan sekolah. Tapi aku
masih belum dapat memahami dan menjawab pertanyaan ”mengapa aku harus sekolah?”.
Yang kuingat betul saat itu adalah ketika kesibukan abahku terlihat berbeda dari hari-hari sebelumnya. Beliau
terlihat seperti administrator di sebuah perusahaan dengan tugas khususnya, bertanggung jawab pada tertib
administrasi yang ada di perusahaan itu. Dalam hal ini adalah segala dokumen ijazah sekolah dasar milikku,
berada dalam penguasaan abah sepenuhnya.
Tanpa menunggu pendapat, pertimbangan, kemauan, apalagi persetujuanku, beliau telah mengambil
keputusan untuk menyekolahkanku di sebuah lembaga pendidikan swasta yang terkenal didaerahku saat itu.
Tidak hanya sekedar sekolah secara konvensional di tempat itu, namun aku harus mengalami proses
pembelajaran yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Diasramakan atau dipondokkan.
Madrasah Tsanawiyah Program Khusus LPM (Lembaga Pendidikan dan Sosial Ma’arif) adalah nama sekolah
yang menjadi temmpat belajarku setelah tamat MI. Lembaga pendidikan ini program unggulan yang lebih
tepat disebut sebagai pilot project dari seluruh proses pendidikan dan pengajaran dari tiap unitnya. LPM
adalah yayasan yang memiliki unit-unit pendidikan dari level TK, SD, MTs, MA, dan beberapa tahun terakhir
juga memiliki lembaga pendidikan tinggi. Untuk level MTs atau pendidikan menengah pertama saja, saat itu
LPM memiliki beberapa unit yang disebut dengan Unit A, Unit B, Unit AB, dan Unit BB. Unit A adalah
unit sekolah MTs khusus untuk anak lelaki yang sekolah dari pagi sampai siang, Unit B adalah unit sekolah
untuk anak lelaki yang sekolah dari siang sampai sore, Unit AB adalah unit sekolah untuk siswa putri yang
sekolah dari pagi sampai siang, dan Unit BB adalah unit khusus putri yang belajar dari siang sampai sore.
Dalam satu unit, satu angkatan saja –waktu itu-- minimal terdiri dari 10 kelas dengan jumlah sekitar 30-40
siswa tiap kelasnya. Belum jika dihitung SMA, dan SMK yang ada dibawah naungan LPM. Dapat
dibayangkan, betapa besarnya jumlah siswa yang belajar di lembaga pendidikan yayasan ini.
Ketika aku didaftarkan di sekolah ini untuk jenjang Madrasah Tsanawiyah (setingkat SMP), ada program
unggulan yang baru saja diluncurkan di lembaga pendidikan ini. Program Khusus untuk anak-anak
Tsanawiyah. Program yang mengharuskan peserta didiknya belajar ilmu-ilmu umum dan ilmu agama secara
berimbang dengan sistem hidup seperti pesantren. Tiap siswa di program ini, hanya boleh pulang dan tidur
dirumahnya dari jam 1 siang hari sabtu, sampai jam 5 pagi hari senin. Selain itu, mereka harus hidup dan
beraktifitas di asrama yang telah disediakan khusus sebagai tempat tinggal mereka dari senin sampai sabtu.
Kami masuk sekolah tiap hari selain hari libur pada jam 06.30 WIB dan selesai jam 12.00 WIB. Istirahat
setengah jam untuk sholat berjamaah, makan siang dan sebagainya, lalu masuk kembali di kelas yang ada
asrama untuk belajar ilmu-ilmu agama seperti nahwu, shorof, tarikh al Islam, Marwants, tafsir, tajwid, aqidah al
Islam. Dan ini berlangsung sampai jam 17.00 WIB dengan jedah untuk sholat ashar berjamaah disela-selanya.
Setelah itu kegiatan bebas, tapi kami tetap harus berada didalam asrama. Pada waktu inilah makan sore
dilakukan. Setelah sholat maghrib, kami wajib belajar mengaji al Quran yang dibimbing oleh guru-guru ahli
al Quran di LPM sampai selesai waktu datangnya sholat Isya’, berjamaah dan membaca istighotsah6 singkat.
Lalu jam 19.30 WIB, kami masuk kembali untuk menerima pelajaran agama seperti di atas sampai jam
21.30.WIB. Dari jam inilah kami dapat istirahat dan menghirup nafas lega sampai jam 03.00 WIB karena
pada jam itu kami harus bangun untuk sholat tahajjud, baca wirid dan bersiap-siap melaksanakan sholat
shubuh. Setelah subuh kami juga masih belajar lagi dari deretan konsentrasi berbagai ilmu agama tersebut
sampai jam 05.30 WIB, baru setelah itu kami sarapan dan bersiap beraangkat ke sekolah. Di hari jumat
malam sabtu, ada tambahan acara yang tidak biasa. Tiap selesai berjamaah sholat Isya’ diadakan muhadloro,
sejenis latihan ceramah yang dilakukan oleh tiap siswa secara bergiliran dengan dipandu oleh pengasuh
asrama. Kegiatan seperti ini agak santai dibanding kegiatan di malam-malam lain.
Hari-hari yang berat kurasakan, walau hanya untuk menceritakannya kembali. Minimal berat bagi daya tahan
tubuh kami yang tidak terbiasa dengan jadwal padat seperti itu.
6 Doa-doa khusus yang lebih panjang
”Kamu abah daftarkan di sekolah ini Ri, agar kamu dapat lebih banyak belajar agama”, ujar abah padaku
ketika menjelaskan dasar pemikirannya menyekolahkanku di sekolah seperti itu.
”Iya bah”, sebagaimana biasa, aku selalu bersikap afirmatif atas keputusan beliau.
Jadilah pada hari yang telah ditentukan, aku berangkat ke sekolah itu dengan diantar abah naik suzuki bebek
tahun 1980-an yang berwarna merah. Kubawa tas agak besar sebagai tempat baju dan keperluanku selama di
asrama yang akan menjadi tempat tinggalku selama 5-6 hari tiap pekannya. Walau jarak asrama dengan
rumah hanya sekitar 500 m, namun bagaimanapun juga tiap hari aku mungkin akan kesepian karena tidak
dapat banyak bermain seperti dulu lagi. Selamat tinggal tepak tekong, selamat tinggal bla kothak, selamat tinggal
boi-boian, selamat tinggal segala mainanku. Selamat tinggal juga walesan ampuhku.
Uang saku yang diberikan abahku pada Agustus 1991 ketika kali pertama memasuki asrama sebesar 1.500,00
yang dapat kubelanjakan dari hari senin sampai sabtu. Cukup ndak cukup ya itulah harta materialku dalam
bentuk uang. Alhamdulillah, seringkali hari kamis, aku sudah kehabisan uang saku. Untunglah aku hanya
perlu berjalan kaki jika mau pulang kerumah pada hari sabtu siang, walau jarak yang kutempuh lebih jauh
dari jarak ketika masih MI.
***
Disekolah dan asrama inilah aku berkenalan dengan kitab Durus al Lughoh al Arobiyah jilid I-III seperti yang
dipelajari oleh siswa di muallimin pesantren Gontor Ponorogo. Di asrama inilah –tanpa sedikitpun berfniat
sombong, karena tidak perlu-- aku mempelajari kitab-kitab seperti Aqidah al Awwam, Khusunu al Hamidiyah,
Nahwu al Wadlih I-II, Jurumiyah, Mutammimah, ’Imritiy, al Balaghoh al Wadhihah, Khulashoh Tarikh Tasyri’ al
Islam, Tafsir al Mahudi al Jalalain, Tafsir al Ibriiz, Bulugh al Marom, al Sulam Safinah, al Sulam, Ta’lim al
Muta’allim, Washiyah al Musthofa, al Adab al Nabawi, Riyadh al Sholihin, Shahih al Bukhori, Qiro’ah al Rasyidah,
Ushfuriyah, Akhlaqu li al Banin, dan beberapa kitab dasar lain yang semuanya berbahasa Arab, malah
terkadang tidak ada harokat7nya. Kami juga belajar khot8 Arab dan kaligrafi pada pak Misbah, ustadz muda
yang bari lulus dari Gontor. Konsekwensi dari belajar kitab-kitab tersebut, kerap kali kami diberi tugas
hafalan atau PR yang hanya mungkin dikerjakan antara jam 21.30 sampai jam 03.00 WIB ketika kami sudah
lelah beraktifitas seharian. Selain itu, di asrama kami juga diadakan mahkamah al lughoh, yaitu pengadilan bagi
tiap siswa yang tidak memakai bahasa Arab atau Inggris ketika bertutur tiap hari senin sampai kamis. Siswa
yang berbicara selain dua bahasa itu, akan kena hukuman. Digundul rambutnya. Lebih parah dari kondisi
sebelumnya ketika sekolah di Nidhomuddin.
Tapi keanehan terjadi. Hafal-hafalan shorof yang dulu –ketika MI—aku tidak bisa, dan hampir selalu terkena
hukuman dari kiai Lukman, ketika aku belajar di asrama tersebut seperti telah ada dan mengakar di hard-disk
otakku. Tiap tugas hafalan cerita bahasa Arab, hafalan ayat, hafalan Marwants, dan hafalan nadzoman shorof,
materi hafalan itu seperti telaah ada sebelumnya di memori otakku. Aku hanya perlu mengeluarkan dan
mengasahnya saja, tidak perlu susah payah menanamkannya di otakku. Praktis, itu amat sangat membantuku
dalam memahami tiap kitab yang harus kupelajari di asrama tersebut. Sampai kini, tidak ada alasan ilmiah
yang dapat memberikan kepuasan intelektual padaku untuk menjelaskan keanehan tersebut. Aku tidak
pernah serius menghafal tiap tugas hafalan, karena kurasakan file itu sudah ada dalam otakku. Aku tidak
perlu menghafalkannya, hanya perlu mengasahnya kembali. Padahal dulu aku tidak hafal, atau bahkan belum
pernah mendengar atau melihat materi-materi hafalan tersebut. Dari segi ketahanan fisik, jelas stamina kami
sangat lelah dengan padatnya jadwal seperti yang telah kugambarkan secara singkat diatas. Jika dulu ketika
MI, aku terserang kantuk pada jam-jam 10 sampai 12 siang. Kini serangan kantuk datang menyerangku tiap
saat tanpa mengenal waktu. Bahkan, jam 07.30 pagi ketika di kelaspun, aku kerap tertidur dan diatas bangku
sekolah karena kuatnya serangan kantuk. Apalagi ketika ngaji sehabis shubuh. Waktu paling afdhol bagi
mahluk kantuk untuk menyerang.
7 Syakal, atau tanda bacanya.
8 Cara tulis menulis huruf Arab.
Beberapa tahun setelah mengalami keanehan tersebut, otakku memaksaku untuk mengingat pada kiai
Lukman dan Pak Nukman, dua guruku di MI Nidhomuddin. Aku merasa malu pada mereka berdua. Betapa
kami dengan mudahnya dulu membuat skenario untuk membohongi kiai Lukman, walaupun itu masih
belum terjadi, dan alhamdulillah tidak pernah aku melakukannya. Kiai Lukman mungkin terlalu ikhlas
padaku, sehingga walaupun dulu aku tidak bisa dan kerap kali mengesalkan hatinya, tapi di kemudian hari
pelajarannya dulu dapat kuingat dengan lancar tanpa cela sedikitpun. Padahal dulu aku tidak hafal. Beliau
mungkin memiliki mutu perjuangan yang sangat luar biasa tangguh, sampai-sampai dalam usia yang sudah
tua, tiap ahad malam senin, beliau pasti mengasuh pengajian jamiyah Dakwatul Muttaqin di kampungku.
Beliau mungkin memiliki kualitas istiqomah9 yang sulit tandingan, sehingga pada saat hujan deraspun, beliau
datang di jamiyah itu, walaupun dengan berjalan kaki sejauh 300-400 m di jalan yang becek dengan
berlindung payung dan bersepatu seperti para tukang bangunan, walaupun beliau masih bersarung. Beliau
mungkin memiliki kualitas moral yang sulit ditandingi guru-guru sekarang yang tidak serajin beliau dalam
menopang sisi batin tiap murid-muridnya dengan mendoakan mereka bukan hanya tiap selesai sholat,
namun juga ketika muridnya asyik ngorok di pembaringannya masing-masing. Beliau mungkin sangat loman
dan menghargai ilmu, sehingga tiap murid yang dapat menghafal tugas darinya, siapapun dia pasti dapat uang
100,00 untuk membeli ote-otenya wak Jalal. Bagiku, salah jika manafsiri pemberian uang 100,00 dari kiai
Lukman sebagai Marwanah semata-mata, atau reward atas prestasi muridnya. Bagiku, uang 100,00 adalah satu
bentuk kecil dari penghormatan beliau akan ilmu yang dihafal oleh muridnya.
Sedangkan Pak Nukman, masih menjadi guruku dalam pelajaran Tafsir sampai nanti ketika aku sekolah di
Madrasah Aliyah Hasyim 2 yang masih berada dibawah LPM juga. Hal itu terjadi karena beliau ternyata juga
mengajar pada lembaga pendidikan dibawah naungan yayasan tersebut. Sampai aku bertutur kini, style pak
Nukman menurutku tetaplah sama dan statis seperti dulu ketika aku beliau didik di kelas 6 madrasah
ibtidaiyah. Kuberanikan untuk menyebutnya style yang statis, konstan dan bertalenta sebagai pendidik tulen
dalam kondisi apapun.
”Brak!!!”, suatu saat pak Nukman pernah ditabrak oleh seseorang dari belakang yang sedang mengendarai
sepeda motor. Akibat kecelakaan itu, mereka terkondisikan untuk berdialog antara satu dengan lainnya
untuk mencari solusi terbaik bagi keduanya.
”Lho, kamu khan murid saya, nama kamu khan ”ini” tho, rumah kamu ”disini” dan orang tuamu namanya
”ini”, kamu lulus tahun ”....”, benar khan?”, tanya pak Nukman seketika ketika melihat wajah yang
menabraknya.
Pemuda yang menabrak malah balik bertanya, ”lho, bapak siapa?”, tanyanya.
”Aku khan gurumu dulu waktu SMA, Nukman Adzro’i”, jawab pak Nukman.
Pemuda tersebut seketika lemas lunglai mendengar penuturan pak Nukman. Dia ternyata memang murid
pak Nukman dulunya ketika masih sekolah SMA.
”Maaf pak... maafkan saya paaaak..... maaf paaak....”, rengek pemuda tersebut.
”Sudaaaaah, kamu ndak apa-apa?”, pak Nukman balik bertanya, padahal posisi berdirinyapun kulihat goyah
karena kakinya menahan rasa sakit akibat kecelakaan tadi.
Status sebagai orang tua kedua bagi kami, dijalankan pak Nukman dengan sangat baik dan dalam kondisi
tertentu, mungkin kualitas pengasuhan beliau dapat dikatakan melebihi kualitas pengasuhan orang tua kami
nomor satu. Guru yang terus anggap kami sebagai anaknya, sedangkan kami sudah melupakannya dan
menyembah berhala kesombongan ilmu kami masing-masing. Pendidik sejati yang sampai kinipun, aku
masih anggap dua orang itu adalah guruku. Guru faforitku. Manjakan keduanya ya Allah dengan belaian
rahman-rahimMu. Amin.
***
Hampir tiap pagi hari antara jam 05.00 sampai 06.00 WIB, ibuku selalu telah berada diluar pintu asramaku
dengan membawa segelas air putih yang akan diberikannya padaku untuk kuminum. Selesai kuminum
9 Konsistensi tingkah laku
sampai habis, gelas itu beliau bawa pulang kembali. Esoknya, beliau sudah ada di tempat yang sama dengan
tujuan dan benda yang sama di tangannya. Tiga tahun ibu melakukannya untukku. Pagi yang cerah beliau
juga datang, pagi yang kelam dengan hujan atau gerimis yang mengucur teratur beliau juga datang dan ada di
tempat yang sama.
”Riii... ada ibumu diluar pagar!!!”, teriak salah seorang kawanku pagi itu. Tanpa berpikir ulang, akupun
berlari kecil ke arah yang dimaksud. Telah kulihat dari jarak 30 m sosok ibuku dengan pakaian sangat
sederhana dan wajah tanpa polesan make up sedikitpun. Tangan kanannya menggenggam segelas air putih
yang ditutup dengan plastik yang direkatkan oleh karet gelang pada ruas atasnya. Kusalimi tangan beliau,
dingin rasa tangan yang telah lama membimbingku itu.
”Ada apa bu?”, tanayaku.
”Tidak ada apa-apa. Ini kamu minum, habiskan ya”, perintah ibuku. Sebenarnya aku penasaran juga, kenapa
beliau tiap pagi susah payah berjalan ke asramaku hanya untuk memberikan segelas air untuk kuminum.
Padahal jika beliau ke asramaku tiap pagi, maka siapa yang menyiapkan sarapan untuk kedua adikku, Alif
dan Ulfah yang juga akan berangkat sekolah. Mengapa ibu lebih mementingkanku yang lelaki dibanding
adik-adikku yang perempuan, yang relatif lebih butuh pengasuhan beliau di pagi hari? Apa pula kelebihan
segelas air putih yang dibawa ibuku tiap pagi?
Pertanyaan itu lalu terjawab juga akhirnya.
Ahad pagi ketika aku tidak menginnap di asrama karena hari libur, aku terbangun sekitar antara jam 2 atau
jam 3 dini hari. Kulihat ibuku yang masih bermukena, duduk di kursi ruang tengah rumahku sambil
memutar-mutar biji tasbih dan kulihat Riir beliau bergerak-gerak sambil agak terkantuk-kantuk. Untuk
sejenak aku agak tidak peduli karena aku harus ke kamar kencing untuk buang air seni, lalu –mumpung
libur—aku tidur lagi. Kejadian yang sama dengan dini hari itu, lalu sering kualami ketika aku tidur dirumah.
Akupun mulai bertanya-tanya. Kenapa ibu tidak wiridan ditempat sholat ya, tapi di kursi tengah itu,
disamping meja yang sudah hilang warna pliturannya itu, ada apa ya? Aku mulai bertanya-tanya. Dengan agak
pura-pura tidur, kuselidiki perilaku ibuku tertsebut. Ternyata pada moment-moment seperti itu, beliau
membaca “bismillaahirrohmaanirrohiim” sebanyak 786 kali dan berdoa untuk kecemerlangan otak dan
kemanfaatan ilmuku yang sedang belajar di asrama saat itu. Secara teknis, ketika usai membaca basmalah
sebanyak itu dan berdoa khusus untukku dan adik-adikku, beliau lalu meniup gelas yang telah diisi air putih
tiga kali. Air inilah yang nantinya kuminum tiap pagi.
Bagiku, bukan air atau ibuku yang sakti, karena aku yakin beliau juga tidak ingin memiliki kesaktian seperti
aktinya Kebo Anabrang dengan ajian Supit Urangnya, atau saktinya Anglingdharma dengan ajian Mliwis
Putihnya, bahkan ibuku tidak pernah membayangkan dirinya ingin seperti tokoh Mantili dengan ajian
Gelaang-gelangnya dalam sandiwara radio Brama Kumbara sudah habis masa ngetrendnya saat itu. Ibuku
hanya ingin anaknya cerdas dan memiliki ilmu yang bermanfaat.
Aku sering merasa diperlakukan tidak adil karena diasramakan selama MTs dan MA. Aku sering merasa
tidak terima karena kelihatannya aku ini proyek percontohan yang tidak boleh gagal dalam menjalani
prosesnya. Namun kini aku harus berpikir ulang akan otentisitas asumsi tersebut.
Jika boleh mengambil majaz atau sannepa, aku adalah intan, sedang ibu adalah orang yang memiliki intan
tersebut. Intan disimpan oleh pemiliknya dalam sebuah tempat yang aman terjaga, nyaman, dan selalu
berbau harum. Suatu hari, intan itu hilang dan terjatuh ke selokan pinggir rumah sang pemilik intan tadi.
Apakah intan akan berubah nama menjadi batu lumpur got, apakah intan akan berubah status menjadi batu
jalan biasa, apakah intan tidak dapat dijual kembali atau tidak layak ddikenakan untuk pesta? Jawabnya
”TIDAK”. Intan tetaplah intan. Dimanapun dia berada, intan akan mendapat lisensi yang berbeda dengan
kaca atau batu biasa. Dalam kondisi apapun, dia akan bernama intan dan memiliki kualitas intan. Artinya,
dimanapun aku belajar, itu adalah bagian dari masin ”baji” yang akan mengasah kemilau intan yang telah ada
dalam diriku. Aku tidak layak merasa kehilangan, karena aku belum pernah merasa telah memberi
sesuatupun pada orang tuaku, orang lain, apalagi diriku sendiri. Kenapa aku harus merasa kehilangan, aku
khan tidak pernah memberi. Yang layak merasa kehilangan bukan aku, seharusnya ibuku. Beliau telah
mengandungku, melahirkanku dengan taruhan nyawanya, menyuapiku, mengajariku bicara, mengenalkanku
warna, menuntunku ketika belajar berjalan, dan berusaha memahamiku ketika aku salah. Sudah banyak
tanaman beliau dalam diriku, beliau layak merasa kehilangan ketika 6 hari aku tidak dirumah. Tapi ibuku
adalah ibuku. Beliau mungkin pahami bahwa potensi dalam tubuh puteranya harus diasah lebih dahulu
untuk dapat disebut dengan intan yang merajai aneka bebatuan. Tapi ibuku adalah orang yang tidak begitu
percaya pada pemoles atau pengukir intan secara sepenuhnya. Beliau hanya percaya pada Yang menciptakan
intan itu sendiri. Beliau adukan kepada Pencipta intan agar intan yang yang pernah Hudpir di rahimnya
dapat menjadi intan yang berguna bagi manusia di sekelilingnya. Ibuku tidak akan mau tiap jam 3-4 pagi
membaca basmalah untuk anak-anaknya jika beliau hanya percaya pada tukang pengasah atau pengukir intan.
Bukannya percaya pada Pencipta intan itu sendiri. Berarti aku memang harus ”dibuang” agar jadi aku.
Bagian 5
Tuntutlah Aku
Suatu petang, abah menghampiriku yang telah berada didalam musholla untuk membersihkan lantainya dari
debu-debu halus yang tertiup angin. Kupikir beliau mau sekedar masuk saja dan menunggu irama suara
adzan yang keluar dari mulutku untuk memberikan masukan atasnya. Maklumlah, harus jujur kusamopaikan
bahwa kualitas suaraku kalah jauh dengan beliau yang memang ketika muda telah menjadi muadzin dan bilal
tetap di masjid agung Lamongan. Meskipun telah berusia menginjak separuh abad, suara beliau tetap “kung”
dan mantab jika sesekali adzan di langgar kami. Beliau tidak pernah “gorah” seperti yang kebanyakan
dilakukan santri –termasuk aku—ketika di pesantren. Beliau juga seorang perokok berat, sedangkan aku
waktu itu belum pernah sekalipun menghisap sebatang rokok. Kutelan ludahku dan berpikir nanti aku harus
adzan dengan nada seperti apa. Apakah seperti adzannya muadzin di masjid al Haram di Makkah, ataukah
cukup konsisten dengan gayaku sendiri.
“Ada apa bah?” sapaku sambil mengajukan pertanyaan.
“Tidak ada apa-apa”, jawabnya.
“Kemarin abah didatangi seorang teman, dia mau punya gawe1 dan minta tolong pada abah”, ucap beliau
sambil mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusnya dan menyulut batang rokok tersebut di serambi surau.
Beliau lalu melanjutkan pembicaraannya, sedang aku masih memegang sapu “dhuk” yang membantuku
membersihkan langgar tiap sore ketika aku tidak di asrama.
“Dia mau mengkhitankan puteranya pekan depan dan mengundang kita untuk datang diacara walimah al
khitan”, abah memberi informasi.
“Lho, kita siapa bah?”, tanyaku.
”Ya kita, abah dan kamu”, katanya. Informasi yang agak janggal kurasakan. Kenapa aku diundang, khan abah
saja yang dia kenal dan kebetulan menjadi teman yang punya gawe itu.
”Jadi kita nanti diundang bersama-sama, enak dong dapat ”berkat2” dua, hi hi hi hi hi...”, aku cekikikan tapi
tidak keras-keras karena ndak sopan dihadapan abah.
”Hus! Ndak baik itu, menghadiri undangan koq mengharapkan berkatnya, kita diundang khan untuk
mendoakan yang punya hajat agar diridloi Allah segala maksud dan tujuan baiknya”, abah meluruskan
orientasiku.
”Iya bah”, seketika aku kembali pada fokus pertama, mendengar dan memahami informasi abah. Untuk
beberapa saat abah asyik dengan hisapan rokoknya, sedangkan aku hanya menunggu.
”Kamu tahu, kenapa kamu juga diundang”, tanya abah kemudian.
Inilah pertanyaan yang juga ingin kutanyakan. Walau sebelumnya aku juga sering –bahkan hampir selalu—
menghadiri undangan sejenis, tapi kehadiranku di acara seperti itu khan hanya mewakili abahku. Namaku
tidak ada dalam surat undangan, karena yang tertera adalah nama abahku. Aku hanya mbadali3 beliau saja.
Dengan seringnya aku mbadali abahku dalam menghadiri undangan walimahan dan sejenisnya, aku banyak
dikenal di kalangan generasi tua di kampungku. Kerap kali mereka menanyakan abahku, kenapa tidak datang
dan mewakilkannya padaku. Aku ya menjawab apa adanya. Meskipun masih berusia belasan tahun, dalam
acara seperti itu, aku tidak duduk dengan tamu undangan yang unda-undi4 umurnya denganku. Namun aku
selalu duduk diantara tetua kampung dan kalangan elit masyarakat di kampungku. Kenapa? Ternyata kiai
Tar, buyutku yang menyebabkannya. Rata-rata elit kampungku adalah murid atau pernah berguru barang
satu ilmu agama atau ”hutang” jasa kepada buyutku. Meskipun telah tiada, beliau tetap dihormati oleh
kelompok elit ini. Dan aku terkena imbas penghormatan tersebut. Warisan penghormatan. Enak juga
terkadang kurasakan. Betapa tidak enak, jika aku duduk diantara elit lokal kampungku, maka aku memiliki
1 Hajatan
2 Makanan yang diberikan oleh tuan rumah kepada tamu undangan. Dalam tulisan sebelumnya, berkat ini
sama dengan tumbu yang dibawa ibuku setelah pulang jamiyah.
3 Menggantikan
4 Sepantaran atau seumur
kesempatan– untuk sementara waktu—menyantap beberapa hidangan yang lezat-lezat –dan umumnya—
berbeda dengan hidangan yang disuguhkan kepada tamu undangan lain. Jika undangan lain disuguhi segelas
tes dan sebuah lemper atau nogosari, aku lebih dari itu. Karena duduk dengan tokoh-tokoh yang dihormati di
kampungku, bukan hanya secangkir teh dan sebungkus lemper yang ada dihadapanku, tapi lebih dari itu.
Ada sepiring pisang emas, nogosari, lemper, koci-koci, madu mongso, dan beberapa piring jenis jajanan
tradisional lain. Mulya hidupku pada saat seperti itu. Kemulyaan yang diberi, bukan diraih.
Aku tergagap oleh tepukan tangan kanan abah di bahu kiriku. ”Beg, kamu ditanya koq diam saja?”,
pertanyaan abah mengembalikan kesadaranku yang beberapa saat mengingat pengalamanku ketika
menghadiri acara-acara undangan hajatan di kampungku. Abah bersiap duduk bersila diserambi timur
langgar, akupun mengikutinya.
”Iya bah, kenapa ya saya juga diundang?”, tanyaku balik, setelah seper sekian detik berusaha mengingat
pertanyaan terakhir dari abah padaku.
”Kira-kira kenapa?”, tanya abah berusaha membuatku penasaran.
”Ya ndak tahu bah”, jawabku dengan menepuk-nepuk paha kananku sendiri.
”Kami pingin tahu”, beliau menawari jawaban pertanyaannya sendiri.
”Ya terserah abah”, jawabku mulai cuek.
”Teman abah khan mau menghitankan puteranya yang masih kelas 2 di Bahauddin, sekolah kamu dulu. Dia
ingin memberikan semangat pada anaknya yang akan dikhitankan, karena menurut dia, saat ini anaknya
masih takut dikhitan”, abah agak membuka katup informasinya.
”Iya bah, memang banyak teman-temanku dulu yang takut dikhitan”, aku menimpali, padahal –sejujurnya—
aku juga agak takut ketika dinaikkan becak setelah subuh untuk dikhitan oleh kiai Hamid, kiai dan dokter
yang masih tergolong famili dengan abahku.
Tanpa begitu menghiraukan partisipasiku, abah melanjutkan perkataanya. ”Teman abah agak berputus asa
untuk memberikan semangat dan keberanian untuk khitan pada anaknya. Dia meminta bantuan kita”,
informasi abah mulai beralih menjadi teka-teki.
”Tugas memberi semangat seperti apa bah, dan mengapa harus kita?”, tanyaku heran sambil mengernyitkan
dahiku. Setahuku tiap orang tua bertanggung jawab terhadap apa yang terjadi pada anaknya, termasuk
menyunatkannya. Aku dan abah khan tidak punya hubungan kekeluargaan apa-apa dengan orang yang akan
punya hajat itu, kecuali dia hanyalah teman abahku.
”Bukan kita yang memberi semangat pada anak itu, tapi kamu”, ucapan abah semakin membuatku terheranheran.
”Maksud abah”, punggungku kutegakkan dan kusiapkan segenap kekuatan konsentrasiku untuk mendengar
suara abah selanjutnya.
”Kamu akan memberi semangat anak itu agar dia tidak takut dikhitan, tapi senang menjalaninya. Caranya,
kamu akan ceramah menyampaikan mauidhoh hasanah di acara walimah al khitan yang diadakan hari jumat
malam sabtu pekan depan nanti, sebelum esok harinya anak tersebut berangkat dikhitan”, penjelasan abah
barusan cukup mengagetkanku.
”Apa bah...?, tanyaku heran dengan semakin mengernyitkan dahiku. Abah lalu mengulangi keterangannya
sekali lagi.
”Tolong kamu bantu anak itu, kamu khan masih SMP, masih terlihat seperti anak kecil bagi oang-orang
seperti abah. Dengan kamu memberikan mauidhoh hasanah di acara itu, berarti kamu telah membantu anak
itu”, abah meyakinkan kebenaran informasinya.
”Kenapa bah”, jawabku yang heran dengan logika abah.
”Jika hikmah khitan diterangkan oleh kiai-kiai seusia abah, hal ini tidak akan banyak memberikan efek positif
pada anak yang akan dikhitan nanti. Sebagus apapun ceramahnya, pasti dilihat dan dipahami sebagai sebuah
pembenaran dari situasi yang tidak disukainya. Akan berbeda jika yang menyampaikan hikmah khitan adalah
anak-anak seperti kamu, dan abah yakin kamu mau, iya khan?”, abah balik bertanya.
Aku tidak langsung menjawab, hanya memandang tajam ke lantai langgar yang ada dihadapanku. Sambil
menarik nafas agak panjang, aku menganggukkan kepalaku, tanda aku setuju. ”Bagus, persiapkan dirimu”,
kata abahku.
***
Berbicara dihadapan orang banyak dengan muatan materi yang jelas, terarah, dan terstruktur dengan rapi
adalah hal yang aku pelajari semanjak kecil, dan mengalami penguatan kembali ketika aku di asramakan oleh
orang tuaku. Aku juga tidak canggung ketika harus menjadi MC di jamiyah Dakwatul Muttaqin tiap ahad
malam senin. Walau kebanyakan peserta jamiyah ini adalah anak-anak, remaja dan sedikit orang tua, namun
–dari obyektifitas sudut pandangku—menjadi MC di forum-forum seperti itu adalah skill diluar kebiasaan
bagi remaja seusiaku. Remaja yang baru menginjak usia belasan tahun. Sejak kecil aku punya pengalaman
memerangi rasa canggung, grogi dan minder dengan kegiatan religio sosial-kultural yang kuikuti, tentu karena
aku lahir di dalam lingkungan keluargaku. Kuperangi perasaan grogi ketika aku harus setor hafalan di sisi kiai
Lukman. Kupaksa keluar suara terbaikku ketika aku memanggil warga kampung untuk sholat berjamaah di
surauku. Kulawan grogi ketika harus membaca fasholatan, menjadi rowi sholawat dalam kitab Dziba’ dan
bertugas menjadi MC di acara yang disimak sekitar 50 sampai 70-an hadirin yang mengikuti jamiyah
Dakwatul Muttaqin. Kuatur intonasi, ritme dan content kata dari tiap suara yang kukeluarkan ketika menjadi
penceramah dalam pelajaran muhadloroh di asramaku. Kukeluarkan suaraku dengan maksimal ketika ikut
khataman rutin yang diadakan di masjid al Islmailiyah tiap hari ahad pahing, padahal suara ngajiku pasti
akan didengar oleh tiap orang yang berada dalam radius 500 m dari masjid dan tidak ada gangguan di rumah
siput gendang telinganya. Tidak aneh jika kemudian aku pernah menyabet juara 1 dalam lomba ceramah
untuk anak SMP dan mengalahkan kompetitor lain yang berasal dari beberapa pesantren di Santri Rejo
Timur, walaupun hanya dalam tingkat kecamatan.
Aku tidak mau terburu-buru untuk menyebutnya sebagai sebuah anugerah yang diberikan secara gratis oleh
Tuhan untukku, sehingga aku memandang hal itu sebagai sesuatu yang luar biasa. Aku juga tidak berhenti –
walaupun juga mulai berkurang intensitas—bermain layang-layang dengan kawan-kawanku yang kerap kali
tidak dapat mengaji, memimpin bacaan sholawat, dan –katanya-- selalu terkena hukuman karena tidak dapat
menghafal rumus-rumus tajwid yang diajarkan mbah Mad pada mereka. Aku tidak lantas menganggap diriku
lebih dibanding kawan-kawan sebayaku yang ”belum” memiliki skill seperti diriku. Aku juga tidak merasa
sama dengan pada peserta Pildacil yang saling berlomba untuk dapat berceramah di hadapan audiens yang
rata-rata orang tua mereka masing-masing. Minimal ada satu perbedaan antara aku –ketika kecil—dengan
mereka, aku tidak pernah di-shoot oleh kameramen televisi, sedang mereka tiap hari harus berakting didepan
Kamera dan sorotan lampu halogen.
Tapi, dengan deretan pengalaman tersebut, aku sempat grogi juga untuk melaksanakan amanah abahku kali
ini. Memberikan mauidhoh hasanah5 dihadapat undangan dalam acara walimah al khitan. Pengalaman kali
pertama bagiku. Mengapa aku harus memenuhinya? Bagaimana jika penampilanku nanti mengecewakan,
apakah abah tidak murka padaku? Apa yang harus kupersiapkan agar dapat memberikan semangat pada anak
yang dimaksudkan ketika mendengar ceramahku nanti?
Malam harinya sengaja kutemui abah untuk menanyakan sesuatu. Kulihat beliau sedang melakukan aktifitas
rutinnya ketika bersantai di rumah. Merokok.
”Abah... saya mau tanya?”, ucapku mengawali pembicaraan.
”Ada apa?”, timpalnya.
”Siapa nama anak yang akan disunat itu bah?”, tanyaku.
”Kenapa, kamu ndak mau ceramah?”, tanyanya tanpa menoleh kepadaku.
Aku terdiam. Ini kesempatanku untuk menolak keharusan itu. Keharusan yang fardlu ain6, bukan fardlu
kifayah7 lagi statusnya. Tapi aku berpikir, mungkin abah akan sangat kecewa jika aku mengiyakan
5 Ceramah, Arab
6 Kewajiban bagi seorang muslim secara personal dan tidak dapat diwakili oleh orang lain, misalnya sholat
wajib lima waktu.
pertanyaannya. Aku khawatir kekecewaan itu melahirkan ketidak ikhlasan beliau dalam mendidikku selama
ini. Bagaimana ilmu dan diriku dapat bermanfaat bila beliau tidak ikhlas padaku? Sepanjang hidup aku akan
menjadi orang yang sengsara. Stigma yang lahir dari sistem teologi yang kuyakini.
Walaupun mungkin dengan agak munafik, kujawab pertanyaan beliau.
”Tidak bah”, jawabku.
”Lalu kenapa kamu tanya nama anak yang mau dikhitan itu?”, abah mempertanyaan pertanyaanku kembali.
”Ya tidak untuk apa-apa bah, untuk ”bahan” saja”, jawabku.
”Muhammad Anhar”, jawab abahku to the point. Aku juga menanyakan beberapa informasi tentang anak
tersebut dan latar belakang kondisi keluarganya kepada abahku. Beliaupun memberikan informasi yang
diketahuinya padaku.
“Terima kasih bah”, akupun ngeloyor berlalu dari hadapan beliau setelah mendapatkan informasi tersebut.
Konotasi “bahan” dalam perbincangan singkatku dengan abah adalah sebagai dasar bagiku untuk lebih dapat
dialogis dengan audien ketika ceramah nanti, terutama anak kecil yang menjadi special target. Kuharapkan
dengan mengetahui namanya terlebih dahulu, aku mampu memberikan joke-joke segar pada anak itu dan
mustami’in yang ada di majlis walimah al khitan, sehingga tidak ada kesan bahwa ceramahku monoton, satu
arah dan agak mirip dengan monolog dalam dunia drama.
Namun, hal itu hanyalah salah satu bagian kecil dari tujuan dasarku, karena joke dan membina psikologi
forum dalam ceramah ata orasi, memang dapat dipelajari secara teoritik-konseptual, namun tidak selamanya
dapat dipraktekkan. Kemampuan mengelola forum ceramah atau pengajian, adalah skill yang terbangun dari
pengalaman. Tidak lahir dari teori-teori pidato yang ada di buku-buku ceramah. Semakin tinggi “jam
terbang” seorang ustadz dengan penguasaan materi, logika, pengetahuan, dan bahasa yang fasih, maka dia
akan semakin mampu mengelola forum pengajian yang mendengarkannya. Ini bocoran lho. Sebaliknya, jika
semakin jarang seorang da’i melakukan ceramah dengan persiapan yang awut-awutan, maka dia tidak akan
memiliki cukup kemampuan untuk menarik empati dari pendengarnya. Pengalaman adalah kata kuncinya.
Oleh karenanya, cukup nama dan latar belakang kehidupan sehari-harinya bersama keluarganya yang dapat
kujadikan bahan utama untuk ceramah nanti. Tentu dengan pilihan materi-materi tekstual dari doktrin
normatif yang agamaku ajarkan.
Tujuan utamaku untuk tahu nama anak itu guna dapat “kirim” bacaan surat al Fatihah pada anak itu.
Kebiasaan pribadi yang kuwarisi dari kultur yang terbangun di asrama, atau mungkin kebiasaan yang
terwariskan melalui kultur sosial dimana aku lahir dan menjalani hidupku.
Mengapa ayat-ayat “sab’ul matsaniy” yang menjadi pilihan untuk mendoakan anak tersebut, bukan ayat-ayat
lain dalam kitab al Quran? Padahal semua ayat yang ada didalamnya khan suara-suara Tuhan yang sengaja
dikirimkan oleh Jibril, Gabriel, Ruh al quds, atau Hermes kepada Muhammad ibn Abdullah untuk
menerangi jalan terjal dari umat manusia.
Pertanyaan tersebut juga muncul dalam benakku ketika aku mulai berkenalan dengan amaliyah ini sewaktu
kecil dulu. Namun pertanyaan ini seakan menuntunku untuk menemukan jawabannya sendiri ketika aku
ingat bahwa –sekali lagi dalam sistem pengetahuan ilmu al Qur’anku-- surat al Fatihah, atau sab’ul matsaniy
juga memiliki gelar lain, ummu al kitab, ibunya kitab al Qur’an. Jadi snapshot dari seluruh substansi al Qur’an,
hakekatnya terkandung dalam ummu al kitab tersebut. Seorang ibu, pasti akan memberikan segala apa yang
dia miliki untuk memenuhi permintaan puteranya. Senada dengan pepatah “kasih ibu sepanjang masa, kasih
anak sepanjang galah”. Jika kita ingin memahami perilaku dari seorang anak, ada baiknya kita juga berusaha
memahami perilaku ibunya, karena hal itu akan sangat berkorelasi secara positif. Ada baiknya jika kita
berdoa dengan bagian-bagian al Qur’an, maka kita iringi dengan membaca “ibu”-nya al Qur’an, walaupun
juga tidak harus demikian.
Dalam konteks tugasku nanti untuk ceramah di acara walimah al khitan dengan hidden agenda untuk
memberikan semangat pada anak yang akan dikhitan, memberikan doa berupa bacaan surat al Fatihah –
7 Kewajiban kolektif bagi muslim, akan gugur kewajiban seorang muslim jika muslim lain telah
melakukannya. Namun bila muslim tadi melakukannya, maka itu lebih baik. Contohnya, melayat saudara
muslim yang meninggal (takziyah).
menurutku—akan sangat membantu. Mengapa? Tidak ada yang dapat berjalan sendiri di dunia ini. Seorang
bayi pasti akan memiliki ketergantungan pada orang yang mengasuhnya. Bayi tersebut merupakan blue print
dari siapa inangnya. Bagaimana besar keinginan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) --yang baru-baru ini
digulirkan—dengan orientasi munculnya kemandirian belajar bagi siswa sekolah, seorang guru masih menjadi
kunci utama dalam proses tersebut. Bagaimanapun berkuasanya seseorang, bisa jadi dia akan menurut saja
ketika seorang tukang cukur merapikan rambutnya. Bagaimana pintarnya seseorang, dia masih
“membutuhkan” orang bodoh untuk membenarkan tiap teori ilmiahnya. Bahkan, bagaimana indah dan
menawannya bulan purnama, dia hanyalah sebuah satelit yang dimiliki bumi, dia akan berotasi dengan garis
edarnya sendiri dan mengelilingi bumi. Bagaimana subur dan nyaman bumi sebagai tempat tinggal manusia, -
-sesuai dengan hukum sunnatullah—dia tetap akan berotasi pada porosnya dan berevolusi mengelilingi
matahari yang lebih besar darinya.
Bagaimana besar keinginan teman abahku untuk memunculkan kekuatan pada jiwa anaknya agar berani
menghadapi ritual pemotongan “kulup” kelaminnya, teman abahku masih butuh orang lain untuk
menumbuhkan kekuatan tersebut. Bagaimana otoriter dan sangat berkuasa abahku dalam membuat decission
making atas moment tersebut, beliau masih memiliki pertimbangan khusus dan memilih kata-kata padat dan
singkat untuk meyakinkanku dan menerima keputusan. Bagaimana pandai, menarik dan menawan hati aku
nanti memikat hati anak tersebut dengan materi dan skill orasiku, dia tetap memiliki qolb, hati yang –secara
hermeneutis—memiliki sifat bolak-balik, tidak tetap, berubah-ubah, dan dinamis. Pagi semangat, sore kendur,
pagi beriman, sore murtad, pagi cinta, sore benci, pagi percaya, sore tidak percaya, begitulah garis
ketetapannya. Bagaimanapun tertarik dia akan propagandaku dari podium nanti, dia tetap hanya tertarik
sekitar 30 sampai 60 menit saja dari keseluruhan usianya sampai saat itu. Apa mungkin kesadaran yang
dipaksakan dalam waktu 30-60 menit saja, akan mampu merubah ketakukannya menjadi kekuatan yang tak
terkalahkan. Tidak mungkin.
Ada faktor lain, kekuatan lain, atau skenario lain yang kubutuhkan akan dapat membantuku menjalankan
“perintah suci” ini. Tiada penolong terbaik bagiku, selain Sang Penolong itu sendiri. Tiada tempat yang
paling baik untuk bersandar, selain al Shomad itu sendiri. Tiada yang dapat merubah hati sekeras dan
selunak apapun, selain Pencipta hati itu sendiri. “Yaa muqolliba al qulub, tsabbit qolbiy ‘ala diinik, wa ‘ala
tho’atik”. Ya Allah... tolonglah aku, bantulah aku, bukakan taufiqMu untukku dan anak itu, dan juga kedua
orang tua anak tersebut, karena merekalah lobang hidung dari tiap tarikan nafas anak itu.
***
Tanpa terasa lama, tibalah saat yang mewajibkanku datang memenuhi undangan temannya abahku. Dari pagi
aku telah siap untuk melaksanakan kewajiban tersebut dengan segenap keahlian yang kumiliki. Namun sore
itu, kutekan sifat ujub, sum’ah dan riya’ku dengan menyadari bahwa tiada kekuatan satupun yang hidup
didunia ini tanpa izin dati Tuhan Yang Welas-Asih. Tiada satu semutpun yang berjalan dalam lorong ligament
tanah yang dapat bebas dari pengawasan Tuhan. Tiada kekayaan sebesar apapun seperti kekayaan, kekuasaan
dan kekuatan yang dimiliki Solomon’s the great, kecuali atas limpahan Tuhan Yang Maha Kaya. Laa haula
walaa quwwata illa billaah.
Aku telah belajar Tuhan, aku telah mempersiapkan diri Tuhan, aku telah berdoa padaMuTuhan dengan
segala keterbatasan dan dosaku, aku telah bersedia hanya karena ingin birru al waalidain Tuhan, bukankah itu
adalah sebagian perintahMu. Tolonglah aku Tuhan. Pinjamkan sedikit ion kekuatanMu untuk kugunakan
membantu teman abahku dan anaknya. Bismillah...
Selepas sholat isya’ berjamaah dan wiridan setelahnya di surau depan rumah, aku lalu mepersiapkan
penampilan fisikku. Abahku juga kulihat mempersiapkan dirinya untuk menghadiri undangan walimah al
khitan yang diinformasikan padaku sebelumnya. Kurapikan sarung berwarna biru tua yang tadi juga kupakai
sholat berjamaah. Secara sepintas lalu, memakai sarung adalah persoalan mudah, namun ada teknik khusus
yang dapat membantu munculnya keelokan dan ketahanan posisi sarung di tubuh pemakainya. Sampai kini,
aku masih sering membuat justifikasi tentang santri atau nonsantrinya seseorang dari cara dia memakai
sarung, padahal justifikasi tersebut juga tidak memiliki dasar akademis. Pemakai sarung yang baik adalah
mereka yang membentangkan helai atas sarung dengan kedua tangannya secara berimbang antara sisi kanan
dan kiri. Sebelum dia lipatkan sisi kiri sarung ke tubuhnya, lebih dulu dia tarik lipatan sarung sisi kiri dalam
lebih ke kebelakang dengan bantuan tangan kanannya, lalu dia lipat sisi kiri luar sarung. Begitu pula ketika
akan melipat sisi kanan sarung ke tubuhnya. Lalu dengan agak mencekungkan perutnya, dia dianjurkan
memilin lipatan tersebut dari atas ke bawah secara keseluruhan, tidak hanya lingkar pilin di perutnya saja,
namun juga yang berada di belakang tubuhnya. Dari arah depan, sarung yang dikenakan oleh seseorang
dengan teknik ini, akan menampilkan sibakan bentuk seperti huruf ”A” dimana bagian atas lipatan sarung
akan terbuka dan semakin melebar sampai ke bagian bawahnya secara simetris. Produk dari proses bersarung
seperti ini juga menjamin kekuatan atau daya tahan lilitan sarung pada tubuh pemakainya karena lebih kuat
melilit pinggang pemakainya. Aku berpendapat bahwa bukanlah santri, yang berbeda cara bersarungnya
dengan teknik ini. Kalaupun berbeda, pasti tidak jauh-jauh perbedaannya. Sebatas pendapat khan boleh.
Kugunakan baju koko berwarna biru yang juga kupakai sholat isya’ berjamaah. Kuolesi lagi kedua sisi dalam
mata lenganku dan bawah telingaku dengan minyak wangi ja’faron, sama dengan yang tadi aku lakukan
sebelum sholat berjamaah. Kugunakan songkok hitam yang tadi juga kugunakan sholat berjamaah.
Dalam urusan memakai songkok, aku belajar banyak pada abahku. Songkok hitam yang kini sudah menjadi
identitas nasional negara kita. Ternyata ada beberapa trik dan model yang dapat mengantarkan pemakainya
untuk meraih performance yang lebih berwibawa dari kondisi sebelum memakai benda tersebut. Dua ujung
runcingnya di bagian depan dan belakang, harus dibentuk sedemikian rupa agar menunjang tujuan tersebut.
Jangan salah, --menurut versi abahku—dua sisi runcing tersebut harus dibentuk secara berbeda. Sudut atas
yang depan, harus lebih runcing dari sudut atas yang belakang. Cara membuatnya lebih runcing adalah
dengan memilinnya searah pandangan kedua mata di kedua sisi sampingnya dari belakang ke depan sesuai
kebutuhan. Songkok yang berada pada posisi terbaik ketika garis tepi depan-bawah sebuah songkok berada 1-
2 cm diatas kedua alis mata pemakainya dengan bagian belakang juga ditekan kebawah ketika memakainya.
Menurut abahku, songkok yang tinggi ruas sisinya, lebih elok dari songkok yang lebih rendah. Songkok yang
baik adalah songkok yang sesuai atau cocok bagi pemakainya. Jika kekecilan atau kebesaran, akan
mengurangi keelokan diri pemakainya. Dengan bekal tersebut, aku berusaha merapikan diriku, walaupun
aku bukan tergolong pesolek.
Kuraih sehelai sorban hijau yang tersandar di kursi tengah rumahku dan menyelempangkannya di bahu
kiriku. Lumayan... untuk ukuran remaja seusiaku. Ibuku terlihat mengambilkan rokok Gudang Garam
Merah untuk abahku.
”Sudah siap Ri?”, tanya abahku.
”Sudah bah”, jawabku sambil sekali lagi melihat bayangan diriku di kaca.
”Ayo berangkat”, ajak beliau.
”Iya bah”, jawabku singkat.
”Aku dan anakmu walimahan dulu bu, salam alaikum...”, pamit abah pada ibuku.
”Saya pamit bu, doakan ya... salam alaikum”, pamitku.
”Wa alaikum salaaam...”, jawab ibu sambil melihat sosok kami menghilang di kegelapan malam.
Ditempat yang menjadi tujuan kami, sudah tampak banyak tamu undangan yang telah datang dan
menempati tempat duduknya masing-masing. Ada yang duduk di kursi di halaman rumah dengan dipayungi
tenda, dan ada juga yang memilih duduk bersila di dalam ruang tamu dan serambi rumah yang empunya
hajat. Suara sound system terdengar lebih keras dari lumrahnya mengumandangkan lagu-lagu religi, tanda
bahwa sedang ada acara ditempat suara tersebut. ”Yaa nabii salaam ’alaaikaa... yaa rosuul salaam ’alaaika... yaa
habiib salaam ’alaaikaa... sholawaatullooh ’alaaikaa...”, terdengar bait-bait nada fase maqom dalam kitab Dziba’
dari pengeras suara tersebut. Tamu yang berdatangan, bersalaman terlebih dahulu dengan tuan rumah dan
dipersilahkan oleh penerima tamu untuk memilih tempat duduknya. Ada tulisan dengan kertas ”klobot”
yang berbunyi ”mohon doa restu” dan –kelihatannya—sengaja ditempalkan di beberapa dinding kaca rumah
temannya abah. Didepan rumah terlihat seorang anak yang duduk di sebuah kursi, tepat disisi podium. Dari
jauh, anak tersebut kelihatan agak bermuram, berbeda dengan kondisi langit yang kulihat cerah dengan
hiasan bintang gemintang ditiap sudutnya. Ada raut kegembiraan ketika tuan rumah melihat kedatangan
kami. Salah seorang dari kumpulan penerima tamu menyongsong ke arah kami dengan senyum
mengembang.
”Assalaamu ’alaikum...”, abah mengucap salam untuknya.
”Wa ’alaikum salaaam...”, jawab orang itu. Lalu keduanya bersalaman dengan mesra, akupun juga bersalaman
dengannya. Inilah karib abahku.
”Nunggu lama ya dek?”, tanya abahku.
“Ndak juga”, jawabnya sambil menepuk bahu kanan abah dengan tangan kirinya dan mempersilahkan kami
memasuki ruang tamu di rumah itu. Dia juga membimbing kami untuk bersalaman dengan anak yang sedang
duduk di kursi depan rumah tersebut. Beberapa orang menyalami kami dalam perjalanan menuju tempat
yang dimaksud.
“Ayo nak… salim dulu”, tuturnya dengan halus. Anak itupun menurutinya, dia lalu bersalaman dengan kami,
walaupun agak enggan kelihatannya. Ketika tanganku menyentuh tangan anak itu, dan mata kami saling
bertatapan untuk sejenak, dapat kutangkap dengan radar perasaanku bahwa anak ini merasa boring menjalani
perannya malam ini. Kami lalu duduk berdampingan didalam ruang tamu. Tamu undangan datang dengan
intensitas lebih tinggi dibanding menit-menit sebelumnya. Tokoh-tokoh elit kampung kelihatannya sengaja
dibimbing untuk duduk di lokasi tempat kami sedang duduk. Begitulah, suasana seperti demikian berjalan
untuk beberapa saat lamanya. Akupun hanya diam sambil sesekali bersalaman dengan undangan yang baru
memasuki ruang tamu tersebut. Tak dapat kupungkiri, walau telah menyiapkan diri, aku sedikit grogi juga.
Tiba-tiba suara bait-bait sholawat yang keluar dari piranti sound system terhenti. Lalu ada seorang pria muda
berusia sekitar 30-35 tahun berdiri di podium dan mulai mencoba microphon. “Tes tes… tes tes…”, begitulah
kira-kira.
Lelaki tersebut lalu mengucapkan salam yang dijawab oleh seluruh hadirin dan mulai mengeluarkan kata-kata
dalam bahasa Arab. Ternyata dia adalah pemimpin acara walimah al khitan di malam ini. Untuk sesaat,
tugasnya mendapat dispensasi karena dapat duduk sebentar ketik qori’ yang telah dipersilahkannya, maju
dan berdiri di podium tersebut untuk mengumandangkan ayat-ayat al Qur’an yang –mungkin juga—telah dia
persiapkan sebelumnya. Perbendaharaan grogiku mulai bertambah, walau tidak sampai mempengaruhi
stabilitas emosiku.
Akhirnya tiba giliranku untuk melakukan tugasku. Aku pamit pada abah untuk melaksanakan tugas tersebut.
“Mohon restu bah”, suaraku lirih.
“Iya, bismillah, diniati ibadah”, jawabnya agak berbisik.
Akupun berdiri dan melankahkan kaki ke podium dan berdiri dengan posisi paling nyaman sesuai dengan
perasaanku sendiri. Untuk sejenak kutebarkan pandangan ke arah lokasi dan hadirin yang hampir semuanya
telah memfokuskan pandangannya ke arahku.
”Assalaamu ’alaikum warohmatullohi wabarokaatuh...”, suara salamku mulai terdengar.
”Wa ’alaikum salaaam warohmatullohi wabarokaatuh...”, jawaban hadirin terdengar seperti koor.
”Bismillaahirrohmaanirrohiim... alhamdulillaahi robbil ’aalamiiin... alhamdulillaahilladzii an’ama ’alainaa wa
hadzaanaa ’alaa diinil islaaam... asyhadu anlaa ilaaha illallaah... wa asyhadu anna muhammadarrasuullaah...
allaahumma sholli wa sallim wa baarik ’alaa sayyidana muhammadin wa ’alaa aalihi wa ashabihi waman tabi’ahum
biihsaanin ilaa yaumil qiyaamah... ammaa ba’duh...”, suara moqoddimah ceramahku kudengar juga walau aku
tidak begitu berkonsentrasi terhadapnya. Kulihat siratan penantian dalam sorot mata hadirin yang
menatapku saat itu. Dan akupun mulai melanjutkan tugasku sesuai dengan yang telah terskenario dalam
kesadaranku. Kusampaikan beberapa ayat al Qur’an, hadits atau hikayah al sholihin sebagai dasar hujjah.
Kuurai realitas yang sedang dimaksud oleh ayat dan hadits tersebut, kutarik dengan –menggunakan logika
deduksi dan terkadang juga logika induksi—dari kenyataan yang sedaang terjadi, lalu kugiring persepsi
mustami’in kedalam satu masalah khusus yang menjadi tema inti dari ceramahku. Ulasanku dari rumusan
masalah inilah yang kemudian menjadi bahan dasar ceramah malam itu. Kulihat serentak mustami’in tertawa
setelah kulontarkan humor-humor yang berkaitan dengan tema ceramah. Ketika mereka tertawa, aku telah
berpikir tentang untaian kata-kata selanjutnya. Setelah tawa mustami’in mereda, kulakukan injeksi
pemahaman lagi. Jika terlihat agak bosan, kulontarkan canda-canda retorika lagi, setelah reda, sekali lagi
kuajak berpikir tentang materi-materi yang sedang kami bahas. Begitulah pengajian malam itu berlangsung.
Aku mulai lega ketika anak yang duduk disampingku ikut tertawa terbahak-bahak ketika aku selesai
menuntaskan joke-ku yang –kelihatannya—telah ”menyentil” anak tersebut. ”Inilah saatnya”, ujarku dalam
hati. Momen itulah yang aku tunggu. Mulailah aku terfokus untuk ”nggarap” pemahaman dan jiwa anak
tersebut. Hal inipun berlangsung selama 30 menit selanjutnya.
Ketika mataku melihat jam dinding telah menunjukkan waktu jam 21.00 WIB, aku bersiap-siap menyudahi
tugasku. Dan setelah salam, praktis tugasku telah usai. Alhamdulillah.
Kuingin memastikan bahwa materi ceramahku tidak langsung hilang dalam sistem kognisi anak tersebut.
Maka setelah aku turun dari podium, kuajaklah anak itu untuk meninggalkan tempatnya dan duduk
disampingku. ”Ayo duduk disana”, ajakku sambil menunjuk lokasi disekitar abahku duduk. Dia agak
menolak, namun setelah kutarik-tarik tangannya, akhirnya dia mau juga. Sejurus kemudian aku sudah duduk
disamping abahku.
”Bagaimana bah, apa saya banyak lakukan kesalahan?”, tanyaku pada beliau.
”Ndaaak, lumayanlah...”, bisiknya. Kata yang masih mengandung konotasi yang tidak jelas. Mengandung
50% kemungkinan bahwa ceramahku bagus, namun juga 50% mengandung kemungkinan bahwa ceramahku
jelek dan tidak enak diikuti. Tapi kuanggap aja jawaban itu sebagai afirmasi bahwa ceramahku lumayan
bagus. Kesimpulan yang kutujukan untuk menghibur diriku sendiri, dan kupikir itu wajar saja.
Diakhir acara setelah kami berdoa yang dipimpin oleh kiai Hasan Ismail, sambil makan nasi rawon, aku agak
sedikit mengajak anak tersebut bergurau tentang beberapa permainan rakyat yang biasa dimainkan oleh anakanak
dikampung kami. Pertanyaan dan dialog yang lebih tepat disebut sebagai ajang romantisme masa laluku.
Atau juga dapat dikatakan sebagai sebuah refleksi atas kesempatanku bermain yang telah banyak berkurang
saat itu. Berkurang karena selama lima hari dalam sepekan aku tidak menginap dirumahku sendiri, tapi
menghabiskan wakatu di sekolah dan asrama. Anak itu ”nyambung” juga dengan perbincanganku. Jadilah
kami tersenyum-senyum sendiri atau tertawa tanpa diikuti oleh orang-orang yang ada di sekeliling kami
karena mereka lebih banyak berdialog dengan abahku. Kurasakan anak ini telah menjadi sahabatku.
Dengan satu ucapan lantang dari MC di microphon, ”shollu alaa muhammad!!!”. Hadirinpun terlihat
berpamitan kepada tuan rumah untuk pulang kerumahnya masing-masing. Diantara mereka ada yang
menyalami anak itu yang dari tadi duduk disampingku. Kulihat diantara mereka ada yang memberikan atau
memasukkan sebuah amplop ke saku anak tersebut. Biasanya amplop ini berisi uang untuk ”bebungah” pada
sang anak yang akan dikhitan. Akupun dulu juga mengalami hal yang sama. Malam itupun aku di-”salam
tempel”-i oleh ayah anak itu ketika berpamitan pulang dengan abah.
”Bebungah” untukku karena telah melaksanakan permintaannya. Itulah ”amplopan” pertamaku. Kujabat erat
tangan anak yang esok pagi akan dikhitan itu. Tangan anak yang barusan menjadi sahabatku. ”Selamat ya...
moga kamu cepat sembuh agar dapat main bola melawanku nanti...”, suaraku kutujukan padanya. Dia hanya
mengangguk dan berkata, ”lihat saja nanti mas”. Akupun berlalu darinya.
”Bagaimana ini bah?”, tanyaku meminta pendapat abah akan amplop yang kuterima.
”Ya ndak apa-apa, terima saja, pergunakan dengan baik”, pesan abah.
“Iya bah”, aku menjawab peringatan itu.
Kamipun melanjutkan perjalanan pulang dengan beriringan menuju rumah. Plong rasanya.
***
Keharusan ceramah, menjadi MC, menjadi rowi8 jamiyah dziba’an, melakukan adzan, menjadi bilal sholat
jum’at, dan beberapa aktifitas ”ngartis” lainnya, tidak menjadi persoalan bagiku. Mengapa? Karena hal itu
dapat dipelajari, diamati, dan ketika ada kesalahan, dapat sesegera mungkin dibenarkan oleh orang yang
kebetulan mengetahui penampilanku dan memiliki bahan untuk membenarkan kesalahanku. Tiap kesalahan
yang kulakukan di atas podium ketika menjalani tugas ”ngartis” tersebut, akan ada dalam file-file ingatanku,
sehingga dengan berupaya semaksimal mungkin, aku akan menghindarinya untuk penampilan-penampilan
selanjutnya. Ini persoalan mudah.
8 Pemimpin bacaan sholawat secara berjamaah.
Ada persoalan yang lebih rumit dari itu sebenarnya.
Persoalan yang muncul akibat aku belajar di sekolah agama dan mendapat tambahan pelajaran di asrama
yang mirip pesantren, ditambah dengan seringnya aku ”manggung” di acara-acara keagamaan, maka ada
sebuah konsekwensi sosial yang datang padaku secara personal. Sistem sosial di kampungku menuntutku
untuk selalu mampu berperilaku baik dalam tiap tingkah lakuku. Dalam hal apapun, walaupun sampai kini
juga tidak ada undang-undang yang menuliskannya secara legal-formal, namun hanya berada dalam ruang
hampa sistem sosial di kampungku. Undang-undang normatif yang tidak tertulis, tapi bisa dibaca dan
dioperasionalkan menjadi alat ukur sosial.
Berpakaian aku harus elok, walaupun tidak harus bagus dan mahal baju yang kugunakan. Bercelana, aku
sudah dianggap tidak pantas lagi jika memakai celana pendek yang tidak menutupi kedua lututku. Berkaos,
aku harus menutupi atau menggantinya ketika mengikuti jamaah sholat di musholla, karena dianggap tidak
pantas. Berbicara, tutur kataku harus halus dan mengerti pada siapa aku berbicara. ”Dosa sosial” kutanggung
jika aku berbicara dengan bahasa Jawa krama madya atau krama ngoko pada yang berusia lebih tua. Bahkan
pada orang yang usianya lebih muda dariku, sering kali aku juga memakai tata tutur krama nginggil pada
mereka. Berguraupun, aku harus melihat siapa lawan gurauanku. Jangan sampai dengan gurauanku diluar
tugas ceramah, mereka akan tidak menggubrisku ketika ceramah nanti. Sholat berjamaah, aku harus ada
didekat paimaman atau mimbar tempat imam memimpin sholat, artinya berada di shof terdepan. Nonton
bioskop, akupun harus sembunyi-sembunyi dari pandangan mata orang kampung karena dianggap tidak
pantas, padahal itu adalah salah satu hobiku. Apa pantas seorang anak pondok pesantren keluyuran di
gedung bioskop? Pertanyaan yang menurutku salah konteks. Berinteraksi dengan masyarakat sekitar, aku
harus hormat pada sesama atau yang lebih tua, dan welas-asih pada yang lebih muda. Dalam urusan rambut,
aku juga mengalami perlakuan lain. Aku tidak boleh berambut panjang, karena itu identik dengan
premanisme dan tidak layak dilakukan oleh cucunya kiai Tar yang selalu pendek rambutnya. Dalam hal
rambut ini, aku berani melawannya ketika aku kuliah nanti, maklum selama aku menamatkan S1-ku di IAIN
Sunan Ampel Surabaya selama 5 tahun, aku hanya bercukur rambut sebanyak 3 kali saja, walaupun aku juga
tidak punya dokumentasinya.
Aku harus sopan, berakhlak santun, dan mencerminkan orang saleh, bukan pendosa. ”Harus” adalah kata
kunci dari tekanan normatif yang kualami ini. Dari terminologi ”harus” inilah beban untuk selalu dapat
menjadi uswah bagi orang lain, menuntutku. ”Silahkan saja kalian tuntut aku, dengan senang hati aku akan
melayaninya”, terkadang aku mengucapkan kalimat tersebut dalam ruang batinku sendiri ketika telah merasa
sendirian.

Bagian 6
Anta turid, ana urid, wallahu laa yurid
Selepas menuntaskan studiku di MTs program khusus, sebagaimana yang terdahulu, aku “dianjurkan” orang
tuaku untuk melanjutkan pendidikan di yayasan yang sama dengan corak pendidikan yang sama pula. Untuk
dapat menjadi siswa di program ini, aku harus menjalani rentetan tes terlebih dahulu. Karena program
tersebut adalah kelanjutan dari program pada jenjang sebelumnya, maka tes yang kujalani adalah soal-soal
terkait dengan pengetahuan agamaku. Bukan hanya tes tulis yang kujalani, bahkan tes praktek beribadah juga
harus kuikuti. Banyak juga kompetitorku untuk dapat memasuki kelas tersebut. Namun kebanyakan mereka
terlihat gugup ketika mengikuti tes praktek ibadah, walaupun secara syar’iyah, praktek yang mereka lakukan
masih tergolong sah dan tidak batal. Ujian terberat yang kurasakan adaleh ketika aku harus mengkafani
sebuah golekan manusia yang diasumsikan sebagai replika mayat sungguhan. Sejak SMP aku memang
terbiasa melayat pada tetangga yang kesusahan karena ada salah satu keluarga atau handai taulannya yang
meninggal, jadi aku tidak aneh dengan 4 kewajiban yang harus dilakukan seorang muslim jika saudara
muslIm lainnya meninggal, yaitu memandikan, mengkafani, menyolati, dan menguburkannya. Dalam usia
yang masih relative muda, aku telah terbiasa membantu wak modin memandikan jenazah pria. Namun aku
tidak begitu sering secara teknis ikut mengkafani jenazah. Yang aku tahu, jika jenazah itu jenis kelaminnya
lelaki, maka cukup diperlukan 3 lembar kain kafan berwarna putih. Jika yang meninggal jenis kelaminnya
perempuan, maka diperlukan 5 lembar kain kafan dengan warna yang sama. Menyolati mayit, aku juga
terbiasa melakukannya, baik itu sholat jenazah, maupun sholat ghoib. Sholat jenazah dilakukan dengan 4 kali
takbir tanpa ruku’ dan sujud dengan sekali salam. Sholat ini dilakukan dihadapan mayit yang siap
dImakamkan. Namun sholat ghoib dilakukan dengan tata cara teknis yang sama dengan sholat jenazah,
namun jasad mayat tidak ada dihadapan orang yang melakukan sholat ini. Dalam persoalan menguburkan
mayat, mungkin diantara peserta tes, akulah yang memiliki pengalaman terbanyak. Dalam usia belum
menginjak 17 tahun, seingatku aku telah 14 kali masuk ke liang lahat dan menguburkan mayat dalam
bingkai prosedur yang kuyakini kebenarannya. Dari 14 kali aku masuk ke liang lahat, --seingatku—14 kali itu
pula aku telah merasakan suasana batin yang berbeda-beda. Liang lahat yang disiapkan untuk seorang
jenazah, --berdasarkan pengalamanku-- akan memiliki ”pembawaan batin” yang berbeda dengan liang lahat
yang disiapkan untuk jenazah lainnya. Pembawaan yang mampu mengantarkanku pada refleksi bahwa betapa
mulianya seseorang di dunia, ketika mati dia akan berteman dengan cacing tanah.
Kuperas ingatan pengalamanku ketika hanya beberapa kali membantu proses mengkafani mayat agar dapat
mengeksplorasi keahlianku dalam tes tersebut. Ternyata, sebagian calon siswa yang juga sedang mengikuti tes
tersebut banyak yang ”ngerpek” pada pengalamanku. Jadilah dalam waktu singkat aku menjadi siswa MA
(madrasah aliyah) program khusus di SMU Hasyim 2 Taman. Kelas yang dimulai waktu pagi jam 06.30 WIB,
istirahat jam 09.30 WIB, masuk kembali jan 10.00 WIB, istirahat kembali jam 12.30 WIB, masuk lagi jam
13.00 WIB dan istirahat pukul 16.00 sore. Lalu jam 18.00 WIB kelasku akan mengikuti pelajaran selanjutnya
di asrama sampai jam 22.00 WIB. Begitulah aku belajar tiap hari kecuali hari minggu yang memang menjadi
hari libur di sekolah SMA-ku. Dikelasku hanya ada 14 siswa, termasuk aku dan 32 siswi.
Kelasku SMA-ku tergolong kelas yang kreatif dalam membuat kesibukan bagi tiap siswa didalamnya. Tiap
pekan sekali pada hari minggu, kelasku mengadakan acara khataman dan istighotsahan di masing-masing
rumah siswa secara bergantian. Ide ini muncul bukan dari guru, wali kelas atau kepala sekolah, namun
muncul dari otak-otak kami yang mulai suka moment aktualisasi diri. Dalam upaya mengawal program ini,
kami iuran sebesar 500 rupiah tiap hari jumat dan membuat sistIm lot dalam arisan yang biasa dilakukan
oleh ibu-ibu kampung.
Jadi tiap hari minggu pagi sampai siang, bahkan terkadang sampai malam, aku pasti berada di rumah sahabatsahabatku
sekelas untuk melakukan program tersebut. Acara biasa dimulai jam 9 pagi dengan membaca
seluruh isi ayat al Quran yang terdiri dari 30 juz, 114 surat, dan 6666 ayat itu. Karena logika kami
mengatakan bahwa tidak mungkin seseorang akan mampu mengkhatamkan seluruh bacaan tersebut dalam
sehari, maka cara menuntaskan khataman dalah dengan sistem bagi. Artinya kami membagi jumlah juz dalam
al Quran dengan jumlah orang yang ikut khataman, dan membacanya secara bersamaan sekaligus tanpa
harus menunggu urut-urutan juz-nya. Sistem khataman semacam ini biasa kami sebut dengan sistIm
”geradhakan”. Jika merujuk pada jumlah personil di kelas kami yang berjumlah 32 orang, sedangkan seluruh
juz dalam al Quran berjumlah 30 juz, maka tidak ada kesulitan berarti untuk melakukan khataman karena
tiap orang akan bertugas membaca 1 juz saja, dan itu hanya memakan waktu kurang lebih sekitar 30 sampai
45 menit untuk orang yang memiliki bacaan dan tajwid yang baik.
Ketika seluruh ayat al Quran telah terbaca semua, maka acara dilanjutkan dengan istighotsah yang dipImpin
salah seorang dari kami secara bergantian tiap pekannya. Bacaan istighotsah yang kami baca memang tidak
seperti yang dibaca oleh ustadz Arifin Ilham atau ustadz Hariyono dengan bacaan, intonasi, durasi dan
penjiwaan yang sangat menyentuh hati. Bacaan wirid dalam istighotsah yang kami baca relatif hanya berkisar
pada belasan atau puluhan saja untuk tiap-tiap lafadz wirid. Istighotsah ini paling lama memakan waktu
hanya sekitar 1 jam, waktu yang jauh lebih sedikit dibanding jam tidur kami dalam sehari.
Kegiatan khataman seperti ini biasa berakhir pada pukul 12 siang, dan kami teruskan dengan berbincangbincang
sambil menikmati makanan yang didapatkan dari uang iuran kami. Ada kawan-kawan yang langsung
pulang setelah acara usai, tapi ada juga yang tidak langsung pulang dan saling berinteraksi antara satu dengan
lainnya, baik itu dengan bergurau, saling meledek, atau membicarakan pelajaran yang kami anggap sulit
dipahami di sekolah. Aku termasuk orang yang tidak langsung pulang, walaupun acara telah usai. Jika acara
berlangsung di rumah kawan pria, aku biasanya pulang pada sore atau malam hari, namun jika dilaksanakan
di rumah kawan perempuanku, biasanya aku pulang setelah acara. Tapi tidak langsung pulang kerumah, tapi
mampir ke rumah salah seorang dari 13 teman priaku sekelas.
***
Suatu siang, dihari minggu...
”Kamu ndak pulang Ri, ayo bareng denganku, nanti kuantar sampai rumahmu”, ajak Sunaryo, kawan SMAku
yang SMP-nya dulu dia sempat nyanti di PP Darul Ulum Peterongan. Waktu itu kegiatan khataman rutin
sedang dilaksanakan dirumah teman perempuanku, sebutlah namanya Im. Sunaryo memang akrab
denganku, kami sebangku dan dia sering main kerumahku. Dia memiliki mobilitas lebih tinggi dariku karena
dia memiliki sepeda motor jenis Honda Grand berwarna hitam yang dipakainya tiap sekolah.
”Iya, tapi tunggu dulu yaa. Kita duduk-duduk aja dulu disini, nanti pulang bareng-bareng dengan yang lain”,
jawabku.
”Sekarang aja lho, agar nanti tidak kepanasan”, dia menawariku lagi.
”Sekarang juga sudah panas, nanti malah agak mending karena matahari sudah agak condong”, jawabku agak
menyangkal.
”Kamu mau ikut sekarang apa tidak!!!”, suaranya meninggi. Tidak biasanya dia begitu, karena kami juga
sering undur diri belakangan.
”Kamu ada apa Nar, koq kelihatannya seperti orang yang tidak kerasan. Ada acara setelah ini ya?”, tanya
kawanku lainnya, Sofi. Kawanku yang satu ini sudah seperti saudara denganku. Kami menghabiskan masamasa
sekolah bersama-sama dalam kelas –yang kebetulan—juga sama. Di MI Nidhomuddin, dia sekelas
denganku, di MTs LPM, dia sekelas dan sekamar tidur denganku, di bangku SMA, di juga sekelas denganku.
Dia adalah cucu dari kiai Ti, Imam masjid Bahauddin. Kiai yang dikenal sakti. Kami kawan akrab sejak kecil,
bahkan sampai kini. Abahku sering menyebutnya ”mukholid’-ku, karena kami sanagat akrab.
”Ndak ada apa-apa”, jawab Sunaryo singkat. Aku mulai merasakan sesuatu yang lain dari Sunaryo. Akhirnya
aku putuskan untuk menuruti permintaannya.
”Oke, aku ikut pulang sekarang”, jawabku agak setengah malas. Aku lalu menyalami kawan-kawanku yang
masih ada disitu sebagai tanda pamit pada mereka. Aku juga tidak lupa pamit pada tuan rumah Im.
”Im, aku pamit pulang dulu yach, maaf tidak dapat bantu bersih-bersih. Itu lho, si Naryo ngebet ingin pulang,
ndak tahu koq sepertinya tidak biasa”, aku berapologi atas kepulanganku pada Im.
”Iya, ndak apa-apa Ri, hati-hati dan jangan kapok ya?”, jawab Im gerak bibir dari wajah bulatnya. Im termasuk
gadis yang relatif –menarik—di kelasku. Wajahnya bulat, bola matanya lebar, bibirnya kecil dengn hidung
bulat yang tidak terlalu mancung diatasnya, kulitnya kuning kecoklatan, suaranya agak besar, dan walaupun
dia tidak terlalu tinggi, tapi dia adalah salah seorang wanita yang menarik di kelasku saat itu. Selain itu, aku
tidak dapat mengeksplorasi atribut fisik dari Im karena aku tidak pernah melihat rambutnya, kecuali hanya
beberapa helai saja karena –setahuku-- selalu tertutupi kerudung, baik di sekolah, dirumahnya, dan bahkan
ketika rekreasi liburan sekolah di Parang Tritis selepas naik kelas 1 SMA dulu.
”Hoi, kamu ndak pamit pada yang punya rumah dul, sudah diberi makan, diberi minum, diberi jajan, pulang
mau ngacir saja. Ayo pamitaaan...”, teriakku pada Naryo yang sudah ada diatas sepedanya.
Dia hanya menoleh dan berkata singkat, ”sudah tadi”.
Aku lalu kembali menoleh ke Im yang ada dihadapanku. ”Sudah Im ya, aku pulang dulu, katanya Naryo
sudah pamit kamu”, ucapku bersiap balik badan tanpa salaman, karena hal itu tidak pantas dalam tradisi di
sekolahku.
Tak terduga Im menjawab ucapan pamitku. ”Dia belum pamit koq Ri, tapi ndak apalaaah, mungkin dia
merasa tidak penting, atau ada alasan lain. Sudah, kamu temani dia sana”, ujar Im agak ”mengusirku” dan
memalingkan wajahnya dariku guna membersihkan sisa-sisa makanan di ruang tamu rumahnya.
Dengan agak terkejut, kuucapkan salam pada Im, ”aku pamit Im, assalaamu ’alaikuuum, ayo reeek”. Akupun
menyapa kawan-kawan yang belum pulang.
”Iya Ri”, secara agak serempak mereka menjawab.
Akupun lalu melangkah ke arah Sunaryo dan duduk di jok sepeda tepat dibelakangnya. Tanpa bertanya akan
kesiapanku, dia lalu tancap gas, ”ruuuuuung...”, begitulah kira-kira suaranya.
Setelah melewati jembatan baru ketika menyeberang sungai Mas dari arah utara, Sunaryo seharusnya
membelokkan sepedanya ke arah kanan jika mau mengantarkanku ke rumah, tapi laju sepedanya terus saja
menyusuri sisi kiri jalan, melewati sekolah MI-ku dan mengarah ke selatan. ”Mau kemana dan mau apa anak
ini?”, gumamku dalam hati, tapi aku diam saja tidak bertanya.
”Tidak ada acara lain toh Ri, ayo ke rumahnya Yusuf”, bersuara juga kemudian anak ini. Kupikir mau
membisu selamanya.
”Ndak ada acara apa-apa, Yusuf khan masih dirumahnya Im, apa dia tahu kita mau kesana?”, tanyaku. Karena
saat aku pamitan pada Im tadi, Yusuf masih berada di rumah Im dengan beberapa kawan lainnya. Yusuf
adalah sahabat SMA-ku yang bertempat tinggal di desa Waru. Ibunya sudah meninggal ketika dia waktu kecil
dulu, dan waktu itu dia hidup bersama dengan kakek-neneknya yang merupakan orang tua ibunya. Sosok
Yusuf tidak terlalu tinggi atau pendek, kulit tubuhnya putih, rambutnya hitam bergelombang, matanya
berbinar dengan bulu mata yang lentik dan dua alis yang hitam tebal , hidungnya mancung dan agak mbetet.
Hal itupun ditambah dengan tutur kata yang halus dan perilaku yang sopan. Yusuf selalu memakai logat
krama inggil ketika berbicara denganku, bahkan sampai kini ketika masing-masing kami sudah punya anak.
”Sudah, dia sudah aku kasih tahu”, jawab Naryo.
Betul juga, ketika kami lepas melintasi jalan raya kecamatan dan mulai melewati pintu masuk terminal
Purabaya, terdengar klakson sepeda motor dari belakang secara beruntun, ”tin tin tin tin ti tiiiiiiin”. Ketika
kutoleh, kutemukan sosok Yusuf sudah diatas sepeda motor Honda Prima-nya berboncengan Adzim, salah
seorang temanku juga yang rumahnya bertetangga dengan Yusuf. Tidak lama kemudian kami melintasi rel
kereta api dan memasuki wilayah desa Puloasri, kecamatan Waru. Tujuan kami terpusat pada rumahnya
Yusuf.
Kami lalu memasuki pekarangan sebuah rumah yang menghadap selatan, tepat di sisi utara jalan desa
Puloasri. Ada pohon mangga di depan rumah tersebut dan beberapa tanaman lain. Kesan sejuk dan nyaman
terasa di lokasi rumahnya Yusuf. Rumah itu terlihat lengang dengan pintu depan dan jendela yang tertutup
rapat. Sejurus kemudian Yusuf masuk dari sebuah pintu kecil disamping rumahnya yang hanya cukup
dImasuki satu orang saja dan berkata, ”tunggu disini”, dan kamipun menyetujuinya dengan mengangguk
tanpa bersuara. Ditengah menunggu Yusuf, Adzim menyeberang jalan dan memasuki sebuah warung kopi.
Rupanya dia membeli sebungkus rokok.
Rokok memang benda yang mulai kami kenal secara lebih akrab pada masa-masa itu. Aku sendiri mulai
menghisap rokok ketika dibangku SMA. Sebenarnya, jika aku ingin, dari SMP dulu aku sudah dapat
menghisap rokok dengan gratis. Bukan dari rokok yang kucuri dari abahku, atau dari hasil pembelianku
sendiri. Biasanya setelah aku dIminta ceramah, menjadi MC, atau diundang untuk ”berfungsi” di sebuah
acara keagamaan, kerap kali aku diberi sebungkus rokok. Inilah yang memberikan peluang padaku untuk
menjadi perokok. Namun godaan untuk menjadi perokok tidak dapat kuhindari ketika menginjak SMA,
termasuk juga teman-teman sesama lelaki sekelas, juga mengalami hal ini. Jadilah kami perokok amatiran.
”Ayo, duduk disini aja ya”, ujar Yusuf yang baru membuka pintu tamu rumahnya. Dia juga membawa sebotol
air putih dingin, dua gelas dan tikar lipat dari bahan nilon. Kamipun membantunya menggelar tikar tersebut
dan mulai duduk di atasnya. Dengan saling berhadapan.
”Yang mau sholat dluhur, langsung aja ke belakang, seperti biasanya’, ujar Yusuf mengaawali perbincangan.
Kami memang belum sholat dluhur karena baru selesai khataman. Adzan dluhur lalu, kami masih berada di
rumah Im, sampai saat itu belum ada diantara kami yang menunaikan sholat wajib itu.
Mendengar persilaan Yusuf, Adzim dan Naryo beranjak dan masuk kedalam rumahnya Yusuf. ”Aku sholat
dulu ya”, ucap Adzim. ”Aku juga”, Naryo mengikuti ucapannya.
”Nyuwun sewu Suf”, ujar mereka bersama-sama. Mereka melintasi ruang tamu, menyusuri ruang tengah,
menuju dapur, dan berbelok ke kanan menuju kamar mandi. Terlihat dari depan mereka bersalaman dengan
neneknya Yusuf di dapur itu. Melihat neneknya Yusuf, aku lalu beranjak dan menuju ke arahnya untuk
bersalaman dengan beliau. Akupun jadi berpikir untuk ikut sholat bersama dua sahabatku tersebut.
”Yusuf ajak sholat sekalian nak, agar tidak terlambat nanti”, suara nenek Yusuf memberikan instruksi
padaku.
Yusuf yang mendengar suara neneknya, seperti tersindir dan beranjak mengikuti apa yang kami lakukan.
Kamipun lalu sholat dluhur berjamaah. Adzim yang menjadi Imam sholat kami saat itu. Maklumlah, diantara
kami berempat, Adzim memiliki suara dan bacaan al Qur’an yang lebih bagus. Selesai sholat, kami lalu
kembali ke serambi luar rumah dan duduk diatas tikar yang sudah terbentang di tempat itu.
”Kamu ada apa Nar?”, tanyaku pada Naryo memulai perbincangan.
“Ada apa Ri?”, tanya Adzim sambil mengusap-ngusap rambutnya yang keriting. Karena itu, kami sering
memanggilnya dengan sebutan “kriwul”.
“Ndak ada apa-apa”, jawab Naryo.
“Ah…”, gaung suaraku agak menyangkal.
“Benar tidak ada apa-apa’, Naryo tetap bertahan. Aku lalu melirik Yusuf yang dari tadi hanya memperhatikan
kami bertiga. Seperti tahu akan maksud lirikanku, Yusuf ambil bagian untuk bicara.
“Sekarang ndak ada apa-apa, tapi tadi ada”, suara Yusuf mulai terdengar. Ada yang menarik dari suara Yusuf.
“Sebentar, ini ada apa sih, aku ndak paham dengan kalian”, Adzim bertanya lagi karena merasa dialah yang
paling tidak mengerti dengan arah perbincangan kami.
“Ini urusan hati Dzim”, aku mengklasifikasi tema obrolan pada Adzim.
“Urusan hati bagaImana”, Adzim masih saja bertanya sambil membuka tanda segel dari bungkus rokok yang
barusan dibelinya. Mengeluarkan sebatang rokok dan menyulutnya.
“Yaaa urusan hati”, jawabku agak kethus.
“Tanya tuh pada Naryo”, aku melanjutkan kekethusanku.
”Ada apa Nar?”, tanya Adzim sekali lagi, kali ini pertanyaan itu ditujukan untuk Naryo.
”Ndak tahu”, jawab Naryo dengan seraya kedua bahunya.
”Ndak ada apa-apa tapi perilakunya aneh”, aku menImpali.
”Aneh bagaImana?’, tanya Adzim kembali.
”Siapa yang tidak aneh Dzim. Tadi maksa ngajak pulang waktu di rumah Im, setelah kuturuti, ternyata tidak
pulang, tapi ngajak kesini. Ketika kutanya apa sudah pamit sama Im, jawabnya sudah, padahal kata Im
belum. Sejak kapan teman kita yang satu ini mulai tertarik jadi pembohong?”, aku menggerutu.
”Kamu jangan begitu Ri”, Adzim menyela.
”Iyaaa, kamu khan belum pernah merasakan orang kasmaran”, Yusuf menimpali. Komentar yang cukup
membantu.
”Sebentaaar, berarti ini urusan baina surroh wa al rukbah ya?”, Adzim menyela.
”Husss, kamu ini ikutan aja”, Yusuf agak menghalangi komentar Adzim.
”Memangnya nggak boleh?”, Adzim membela haknya.
”Eit... jangan rebutan gitu donk, kita ini melupakan murod awal dari pembicaraan. Sebenarnya, siapa yang
sedang kasmaran diantara kita sekarang ini. Siapa Suf?”, tanyaku pada Yusuf.
”Siapa lagi kalau bukan tetangga kita satu ini”, suara Yusuf sambil melirik Naryo.
Yang dilirik menjawab, ”kamu jangan ngarang cerita Suf”.
”Lho, memangnya begitu koq”, Yusuf membela diri atas realitas yang ditunjukannya.
Sunaryo lalu terdiam, Adzim mulai agak paham dengan apa yang sedang diikutinya. Akupun juga mulai
memahami tentang apa yang sedang terjadi pada sahabatku. Kupikir ”urusan hati” yang barusan kuucapkan
adalah perasaan kesalku pada Naryo yang membohongiku, ternyata ”urusan hati” tersebut salah konotasi.
Obrolan itu memang tidak berakhir dengan kalimat penutup dari Yusuf, karena masih berjalan sampai adzan
Ashar dan kami bertiga berpamitan kepada Yusuf untuk pulang. Namun aku mulai sadar bahwa ada
”perasaan lain” yang muncul dalam benak Sunaryo terhadap Im. Aku tidak sampai membuktikan itu dengan
mengumpulkan sekian banyak fakta yang mendukung hipotesisku. Begitu juga aku tidak merasa perlu untuk
melakukan investigasi lebih lanjut pada Im tentang perasaan sahabatku padanya.
***
Esoknya saat istirahat sekolah, 09.30 WIB di kantin wak Salim.
”Ri, tolong ini nanti berikan kepada Im ya”, Naryo membisikkan suaranya ke telingaku sambil menyelipkan
lipatan kertas ditanganku.
”Apaan nih?”, tanyaku agak keras dari suaranya.
”Sssssssst...”, telunjuknya di letakkan didepan mulutnya yang terkatup. Tanda dia ingin kerahasiaan.
”Ada apa sih?”, tanyaku kembali.
“Sudahlah, mau nggak”, matanya serius menatap mataku.
“Surat cinta mungkin yaaaa”, godaku.
”Sssssssst”, dia kembali ingin kerahasiaan.
Teman-teman kami yang lain terlihat lalu lalang dengan kesibukannya masing-masing. Ada yang saling
bercanda, ada yang makan-minum di kantin, ada yang jalan-jalan, ada yang di kelas, bahkan ada yang tidur di
kelas. Kami duduk di sebuah bangku dibawah beberapa pohon Sono diluar kantin wak Salim sambil minum
es kacang ijo made in wak Salim shoop. Terpikir untuk menggoda teman SMA-ku ini.
”Boleh dibuka nih, nyontek, biar aku juga bisa buat yang sama, hi hi hi hi hi...”.
”Ck, aaaaah!”, Naryo menepuk-nepuk tangan kananku yang telah menggenggam suratnya. Dia juga
kelihatannya ingin memastikan bahwa kami tidak sedang diperhatikan orang lain.
”Sudah Ri, masukkan dulu ke sakumu”, perintahnya.
Aku turuti juga perintah itu. Tak disangka, ”target operasi” surat sedang berjalan ke arah kami. Si Im berjalan
dengan Azizah sambil bergandengan tangan dan keduanya telah menatap kami. Senyum mengembang dari
bibir Azizah, tapi bibir Im hanya tersungging senyuman tipis. Moment yang tidak terduga itu, membuat
Naryo menjadi salah tingkah. Sekejap kemudian dahinya telah ditumbuhi keringat, begitu juga dengan tapak
tangannya. Matanya celingukan tidak fokus arah tatapannya.
”Kapok kamu Nar”, gumamku dalam hati.
”Woi, sedang apaan nih?”, tanya Azizah pada kami setelah keduanya berdiri satu meter didepan kami.
”Nunggu kamu Zah, kamu pasti mau nemui aku yaaa”, jawabku agak centil. Naryo dan Im hanya terdiam
”Ge er, aku mau ke kantin koq”, jawab Azizah menampakkan kekethusan khas dirinya.
”Wah, isu baru dong”, sontak aku bersikap suka cita.
”Isu apa”, tanya Azizah. Im dan Naryo masih terdiam sambil saling curi pandang.
”Nar, minggu besok saat kita khataman tolong didoakan nih kawan kita. Ada yang mau dimadu”, ucapku
sambil sikutku kusenggolkan pada lengannya Naryo.
”Siapa Ri?”, tanya Naryo masih dengan agak rikuh.
”Azizah”, jawabku singkat.
”Yeeeee, siapa yang mau dimadu. Ngawur aja kalau ngomong”, Azizah memukul lengan kiriku dengan
bolpoint yang dibawanya. Im masih terdiam dan sesekali melirik Naryo. Dia tidak begitu menggubris katakataku.
”Lho, tadi katanya kamu kesini tidak untuk nemui aku khan”, tanyaku pada Azizah.
”Iya memang!”, jawabnya.
”Trus, mau kemana?”
”Ke kantin”, jawabnya.
”Berarti, kamu khan mau nemui wak Salim, ada hubungan khusus yaaa?”, aku meledeknya.
”Ngawur aja kamu, ayo Im! Ngaco nih manusia-manusia tak punya kerjaan”, Azizah kelihatan agak
tersinggung dan bersiap berlalu sambil menggandeng tangan Im, tapi Naryo dan Im tersenyum karena
logikaku.
”Eit! Jangan lama-lama lho bicara sama wak Salim, ada istrinya”, gayaku memperingatkan.
“Beg!!”, tinju Azizah bersarang di lengan kiriku.
“Hi hi hi hi hi hi hi hi”, aku hanya tertawa.
”Waaak!! Dicari Azizah tuh”, teriakku dari luar kantin ke wak Salim yang sedang melayani para pembeli
jualannya. Beliau hanya melambaikan tangannya padaku dengan senyumnya.
Kulihat Naryo masih bergelut dengan kerikuhannya.
”Hei!, santai broooo santaiiiii”, ucapku sambil menepuk punggung tangannya yang dingin.
”Ck! Kamu ada-ada saja”, ucapnya.
”Itu kiasan brooo, kiasan”, kataku menggurui.
”Kiasan apanya”, Naryo malah menggerutu.
”Jika Azizah kesini nemui aku, berarti Im khan nemui kamu brooo. Masak dia (Im) hanya ngantarkan Azizah,
ndak mungkin brooo!”, telunjukku menegaskan kata-kataku yang lirih tapi jelas terdengar.
”Ck!!!”, dia masih rikuh.
”Aku tak percaya Im hanya kebetulan lewat di depan kita, dia pasti lihat kamu sebelumnya, jadi dia mau
lewat sini, didepan kita. Dia ingin melihat reaksimu, kemarin khan kamu tidak pamit padanya. Berarti ada
peluang dong”, aku mempengaruhi pikiran Naryo.
”Ck!!!”, Naryo masih tidak berkomentar.
”Cak cek cak cek!!! Dibilangi ndak percaya. Atau..... jangan-jangan dia (Im) kesini karena lihat aku nih”, aku
balik menggoda. Naryo hanya diam tertunduk saja.
”Eit!! Cuma guyoooon guyoooon”, ralatku.
“Mau nggak dititipi!!!”, Naryo menoleh padaku dan agak keras bertanya.
“Beresssss, secepatnyakah?”, tanyaku.
“Iya”, jawabnya.
Sontak aku berteriak kecil sambil berdiri ke arah Azizah dan Im, “Iiiiiiiiiim!”.
“Beg!!!”, Naryo menepuk bahuku dan memaksaku duduk kembali. Azizah dan Im tidak mendengar teriakan
kecilku karena hirup-pikuk teman-teman kami di warung itu.
“Nanti aja, jangan sekarang”, cegahnya.
”Lho, katanya secepatnya”, elakku agak menggoda.
”Iya, tapi jangan sekarang, nanti aja”.
”Pulang sekolah?”, tanyaku.
”Terserah, tapi yang enak waktunya”, jawabnya.
”Beres brooo!”, jawabku.
”Teeeeeeet... teeeeeeeet... teeeeeeeeet”, bunyi jam masuk pelajaran telah terdengar.
Kamipun berjalan beriringan ke kelas. Azizah dan Im juga berjalan beriringan beberapa meter di belakang
kami.
Beberapa jam kemudian...
”Im! Tunggu sebentar dong”, aku melambai ke Im yang bersiap sholat ashar waktu jedah istirahat sore hari.
”Ada apa Ri?”, tanyanya sambil menoleh padaku.
”Kamu mau apa?”, tanyaku walau tangannya sudah membawa mukena untuk sholat Ashar.
”Mau sholat”, jawabnya singkat.
”Sholat itu pekerjaan baik ya?”, tanyaku.
”Ya pasti lah, ada apa sih?”, dia balik bertanya.
”Karena kamu mau lakukan hal baik, maka kamu akan dapat hal baik nih”, godaku.
”Pasti, pahala”, ucapnya.
”Lebih jelas daripada itu”, imbuhku.
“Apa lho”, tanyanya penasaran.
”Beg!!!”, sesuatu menimbuk tubuhku dari belakang. Ternyata Azizah memukulku dengan buntalan
mukenanya ke punggungku sambil tertawa cekikikan.
”Eit!!! Kamu jangan ganggu orang doooong”, aku bereaksi.
”Sakit ya?”, tanya Azizah ganti menggodaku. Aku hanya nyengir padanya yang kemudian berlalu.
”Apa Ri?”, Im mengulangi pertanyaannya.
”Didalam ini, nanti bukunya kembalikan ya”, ucapku sambil memberinya sebuah buku yang didalamnya
sudah kuletakkan surat Naryo. Im hanya terdiam saja. Akupun berlalu untuk mengambil air wudlu dan
sengaja mencari Naryo untuk melaporkan tugasku.
Akhirnya kudapati dia dengan Yusuf baru selesai mengambil wudlu. Keduanya kuhampiri lalu, ”beres bos”,
ucapku sambil menatap wajah Naryo.
”Sudah?”, tanyanya padaku.
”Sudah, barusan. Tenang aja, aku tidak nyontek koq”, jawabku sambil bersiap mengambil wudlu.
Sejurus kemudian kamipun sholat Ashar berjamaah di aula sekolah.
Ada sekian banyak keinginan yang muncul dalam benak manusia. Keinginan terhadap apapun, dalam bentuk
apapun, dan dengaan cara bagaimanapun. Keinginan seseorang, mungkin akan bertabrakan dengan
keinginan seseorang lainnya. Pendapat seseorang tentang sesuatu, akan memiliki kemungkinan untuk
berbeda dengan pendapat orang lain terhadap sesuatu itu. Dalam kacamata akademis-intelektual, hal ini
sering pula terjadi. BagaImana kelompok Parsonian harus menghadapi kritikan kelompok Marxian, padahal
yang mereka perdebatkan adalah seputar sistem, struktur, stratifikasi, dan tema-tema sosial. BagaImana
kemudian pembela Modernisasi sebagai teori pembangunan harus menghadapi kritikan teoritik dari
kelompok Dependensi, padahal yang mereka perdebatkan adalah masalah seputar cara menggapai
kemakmuran bagi sebuah negara. Dunia akademis yang menuntut obyektifitas, rasionalitas, dan keberanian
untuk mengatakan yang benar adalah benar, dan yang salah adalah salah. Namun pada sisi lain dan dalam
waktu bersamaan, menyandang arogansi dan kekuatan untuk ”menafikan” kebenaran ilmiah lainnya.
Padahal semua perdebatan itu menggunakan prinsip kerja otak secara ilmiah.
Jika untuk urusan yang riil dan dapat memasuki ruang empiris saja banyak yang tidak sejalan, bagaImana
dengan ”urusan hati” yang banyak dipengaruhi segudang potensi afektif manusia dengan kemampuan untuk
menampilkannya dengan banyak wajah. Betapa banyak mulut yang tersungging senyum, namun menyImpan
segudang kebencian mendalam. Betapa sering dijumpai kebekuan sikap yang ditampilkan, ternyata
menyImpan selaksa kehangatan didalamnya. Betapa indah tutur kata yang keluar dengan dasar tujuan untuk
melakukan tipu daya pada sesamanya. Betapa yakin seorang cintanya, padahal didalamnya juga tersImpan
kebencian dengan kadar yang sama. Betapa banyak warna indah yang keluar dari kulit hewan melata, padahal
didalamnya ada racun yang sangat mematikan. Betapa banyak orang yang merasa sangat berIman, padahal
didalam keImanannya itu juga tersImpan potensi kemurtadan yang sama.
Ada sekian banyak pertImbangan bagi Naryo sehingga dia tidak merasa memiliki cukup kesempatan untuk
menjadikan ”urusan hati”-nya agak tertuntaskan. Ada sekian banyak wajah dan bahasa keinginan yang ingin
diutarakan Naryo, namun ada keinginan lain yang kemudian datang membendungnya bagaikan benteng
yang dibuat oleh Iskandar Zulkarnain untuk memenjarakan Yakjuj Makjuj. Ada sekian banyak aroma
kehangatan cinta dalam perilaku Naryo, namun dia bermuram dan menyembunyikan perasaannya dengan
kebekuan sikap yang ditunjukkannya. Sangat mungkin bagi Naryo untuk menyuarakan nyanyian batinnya
dengan sajak-sajak cinta yang memiliki sekian banyak bahasa yang sarat makna, namun baginya saat itu dunia
terasa membisu dan tidak dapat diajaknya bercengkerama. Dengan durasi kesempatan sebanyak minImal 80
jam tiap pekan, Naryo seharusnya dapat leluasa mengungkapkan segala keinginannya, namun saat itu, waktu
terasa amat sempit baginya.
Walau aku tidak tahu pasti, Im memiliki banyak kesempatan untuk mendengar, memahami dan
berkomentar akan sikap Naryo, jika dia diberi kesempatan. Im juga mengerti bahwa ”urusan hati” adalah
alasan utama dari kepergian Naryo tanpa pamit dari rumahnya ketika usai khataman. Im mungkin juga punya
keinginan agar Naryo memiliki kekuatan untuk mengutarakan ”suara hati”-nya dengan indah, tersenyum,
dan romantis, tidak dengan acuh dan seperti tidak butuh. Keinginan yang mungkin juga dImiliki Naryo.
Walau betapa lugas dan jelas ”suara hati” keduanya dapat dibaca oleh aku dan teman sekelasku, namun
dalam kenyataannya, kejelasan suara tersebut hanya sebatas utopia dan Imajinasi semata diantara keduanya.
Kami sekelas yang tiap hari berhubungan dengan kedua anak manusia itu mulai dari jam 06.30 pagi sampai
jam 22.00 malam, seakan-akan disuguhi tontonan tentang fenomena kebisuan yang terjadi ditengah hirukpikuk
gejolak jiwa keduanya. Kami melihat tayangan Tuhan tentang roman yang tidak berakhir dengan
kebahagiaan seperti halnya yang terjadi dengan cerita Qais-Laila, Romeo-Juliet, atau seperti Bandung
Bondowoso-Roro Jonggrang.
Kabar terakhir yang kudengar Im telah menikah beberapa tahun lalu karena disunting seorang lelaki yang
pernah menjadi seniornya ketika menempuh studi di kampusnya. Sedangkan Sunaryo, dengar-dengar dia
lebih memilih berprofesi sebagai pedagang seperti halnya ayahnya. Dua anak manusia yang memilih jalan
hidupnya masing-masing. Aaah... seandainya kalian berdua memiliki peluang yang lebih mujur. Tapi inilah
dunia hati. Dunia yang memiliki hukum ”anta turid, ana urid, wallahu la yurid”. Moga hidup kalian
berbahagia.
***
Berbeda dengan Naryo dan Im, ada beberapa roman cinta yang terjadi diantara kawan sekelasku, namun
tidak ada dari cerita roman tersebut yang berakhir dengan kebahagiaan yang –biasanya—ditandai dengan
pertemuan masing-masing aktor utamanya didepan meja penghulu. Kesemua aktor utama itu memilih
jalannya masing-masing untuk berpisah dan menjalani hidup dengan pilihannya. Sebut saja Adzim yang
pernah ber”urusan hati” dengan seorang kawan sekelasku, sebut saja Ibah, roman mereka berakhir dengan
perpisahan sebelum mereka sempat memulai apa-apa. Yusuf yang pernah menjalin hubungan dengan dasar
“urusan hati” dengan teman wanita yang tergolong sangat pintar di kelasku, sebut saja Odah, juga berakhir
kandas sebelum mereka menanam bibit cintanya.
Aku termasuk beruntung di kelas ini untuk menanggapi dan memelihara ”urusan hati” tersebut. Tidak dapat
kupungkiri bahwa aku juga memiliki beberapa desakan “suara hati” terhadap salah seorang atau beberapa
kawan perempuanku saat itu. Namun aku tidak mampu memberikan identitas lebih lanjut terhadap “suara
hati” tersebut. Identitas apakah suara ini? Cinta, simpati, empati, atau bahkan benci.
Hal ini muncul karena aku tidak punya cukup keberanian untuk memutuskan dengan arogan bahwa
dorongan itu adalah virus yang sama melanda pada hatinya Sunaryo, Yusuf, atau Adzim. Kalau aku sepakat
bahwa itu virus, maka berarti aku tertular donk. Terjangkiti sesuatu yang datang dari luar diriku sendiri.
Berarti sistem ego-ku sudah tidak memiliki indepensi lagi. Meminjam istilah yang dipakai Freud, berarti ada
dua subyek yang bertanggung jawab akan hal itu, super-ego ataukah id/it. Jika super-ego yang menularkan virus
tersebut, maka aku sangat bersyukur karena itu merupakan fakta bahwa aku sedang menjalani bagian dari
masa pubertas pertama. Berarti tidak lama lagi aku akan menjadi orang yang dewasa ketika sudah melaluinya.
Jika virus tersebut lebih banyak berasal dari id atau it yang ada dan berjalan di sekelilingku tiap hari, maka
mengapa aku tidak mampu mendefinisikannya dengan jelas? Seharusnya, dengan sistem kekuatan inderawi
yang kumiliki, aku lebih mampu mendengar, melihat, merasa, dan menentukan pilihan tindakan secara lebih
rasional dan obyektif. Tapi kenyataannya tidak. Aku lebih banyak melamun daripada berpikir dalam
menanggapi virus tersebut. Tidak jauh beda dengan yang menImpa Naryo, Yusuf dan Adzim. Terus, mahluk
apakah virus ”suara hati” itu?
”Ri, kamu koq diam aja, duduk sini disampingku, khan masih kosong bangkunya”, suara tersebut keluar dari
salah seorang tewan wanita sekelasku ketika kami sekelas bersilaturrahIm ke guru-guru kami satu minggu
setelah hari raya Idul Fitri. Sebut saja dia Azizah. Kulitnya sawo matang, wajahnya lonjong, matanya berbinarbinar
dengan bulu mata yang lentik dan dua alis yang telah datasnya. Bibirnya mungil dengan hidung kecil
yang mancung diatasnya. Deretan giginya berdiri rapi dan terlihat sebagian ketika tertawa merekah. Sekedar
info, Azizah pernah pentas satu panggung denganku ketika melakukan drama pada haflah akhir sanah di
SMA. Waktu itu dia berperan sebagai seorang penyanyi India dan aku memerankan penyanyi prianya.
Menurut umur, seharusnya aku memanggilnya mbak atau ning kepadanya karena dia dilahirkan setahun
sebelum aku lahir.
Sowan ke guru-guru adalah tradisi yang sudah melekat dalam diri kami. Bedanya, di SMA ini kami mencoba
membawa tradisi tersebut ke ruang yang lebih kolektif dan komunal, tidak individual. Kami menyewa minibus
sekolah dengan uang kas kelas kami, dan memakainya untuk mengunjungi guru-guru yang telah
mendidik kami di SMA itu. Bahkan setelah lulus SMA-pun, tradisi ini masih kami lakukan secara kolektif,
dan kini telah menjadi ritual yang menular pada generasi setelah kami.
”Iya, ndak apa-apa toh?”, jawabku agak sedikit terkejut. Aku dipersilahkan duduk disampingnya. Kami akan
bersentuhan baju donk.
”Ya ndak apa-apa, masak ndak boleh, kamu khan juga ikut iuran, berarti kamu berhak untuk dapat tempat
duduk donk”, kalImatnya mencari pembenaran.
”Iya ya...”, suaraku agak berbisik.
Meskipun bukan itu kali pertama aku duduk berdampingan dengan seorang wanita, harus kuakui bahwa saat
itu ada yang lain sedang terjadi pada perasaanku. Aku juga merasakan kehangatan yang lain meresap
menembus dari sisi kanan tubuhku dari hangat tubuhnya. Aku hanya diam saja. Padahal teman-temanku di
mini-bus itu kulihat saling berdialog dan bercanda.
“Ri, kamu tahu kalau Naryo sama Im itu pacaran ya?”, tanya Azizah padaku. Pertanyaan yang sebenarnya aku
berhak untuk mengutarakannya.
“Ndak tahu juga, menurutmu bagaimana?”, aku balik bertanya.
“Menurutku, mereka itu jadian”, Azizah berkomentar atas pandangan yang dilihatnya. Maklumlah, saat itu,
Naryo dan Im sengaja “disetting” oleh teman sekelasku untuk duduk berdampingan. Mereka duduk dua jok
disisi kiri depan aku duduk dengan Azizah. Meskipun aku tidak dapat mendengar kata-kata yang keluar dari
mulut keduanya, tapi aku yakin bahwa keduanya sedang terlibat dalam pembicaraan.
“Eh, memangnya kamu ini mak comblang-nya?”, sahutku.
“Enak aja, yang pantas disebut mak comblang ya kamu itu yang pantas disebut mak comblang”, dia mulai agak
sewot.
“Lho koq jadi aku yang jadi sasaran”, aku menoleh ke arah kananku. Antara bola mataku dengan
kerudungnya kira-kira hanya berjarak 30 cm. Dia tidak menggubris tolehanku dan kulihat bibirnya agak
menciut, tanda ketidak sepakatan.
“Waaah koq marah, berarti tadi aku disuruh duduk disini hanya untuk dimarahi yaaa?”, aku meneruskan
godaanku. Dia terus bersungut-sungut, manis juga anak ini. Dari situasi itulah aku dan dia saling berdiam
diri, walaupun hanya sebatas waktu itu, karena beberapa saat kemudian kami kembali akrab dan saling
menggoda dengan tema-tema yang lebih privacy dari diri kami berdua.
Tidak dapat dipungkiri bahwa dorongan-dorongan untuk memiliki “suara hati” pada lawan jenis, juga mulai
muncul pada masa-masa itu. Pergaulan diantara kami sekelas juga sangat hangat dan kompak bagaikan
harmoni alunan musik Kitaro yang mampu menyentuh rongga-rongga afeksi tiap pendengarnya. Akhirnya
aku berpikir mungkin karena keakraban kami itulah yang menyebabkan aku tidak “sampai hati” untuk
menyuarakan dorongan-dorongan biologisku sebagai laki-laki dengan bahasa dan sikap yang cukup romantis,
minImal pada orang yang mampu menggugah libido seksualku. Keakraban yang terjalin antara kami ternyata
kurasakan membawa keindahan yang --mungkin-- lebih sejuk dibanding –sendainya—muncul romantisme
berdasarkan “akad cinta” yang sengaja kami sepakati bersama. Keakraban yang lebih mampu mendorong
kami untuk saling memahami dan mengerti dalam bingkai ukhuwah basyariyah1 jika boleh meminjam
kategorisasi ukhuwah yang pernah diusulkan oleh KH. Achmad Siddiq Jember.
1 Persaudaraan antar sesama manusia
Mungkin akan lain cerita keakraban kami jika kemudian kami –terutama aku—memberanikan diri untuk
mengklaim bahwa “suara-suara hati” yang terjadi saat itu adalah memang anugerah Tuhan yang diberikan
kepadaku sebagaimana perasaan Qais terhadap Laila, sebagaimana perasaan Romeo terhadap Juliet, perasaan
Zulaikha terhadap Nabi Yusuf, dan sebagaimana perasaan Adam terahadap Hawa. Dapat juga klaim itu aku
katakan benar dari sudut pandang kepentingan organ genetikal-ku dengan berbagai keliarannya, namun
apakah organ genetis yang diamanatkan Tuhan mampu kujadikan “beragama” ketika ia sudah merasa
memiliki “kepentingan” yang tidak terkalahkan. Organ kelaminku pasti akan menuntut “macam-macam”
yang bukan haknya jika sedikit saja kuberi peluang untuk meminta lebih dari jatah fungsional yang diberikan
Tuhan. Tipis perbedaan antara cinta suci dan cinta birahi. Ketipisan tabir itulah yang mungkin secara tidak
sengaja telah menjadikanku sebagai siswa tidak berpacar semasa SMA-ku dulu.
Mungkin itulah jalan yang di-setting Tuhan dalam rangka “menyelamatkanku”.
Barulah kemudian hukum “anta turid ana urid wallahu la turid” tersebut tidak lagi berlaku untukku ketika aku
meneruskan langkahku untuk memasuki sebuah perguruan tinggi di Surabaya. Disitulah aku memiliki
hubungan khusus dengan seorang perempuan yang biasa memanggilku dengan sebutan “cak”. Sebutan yang
juga akrab dimulut sahabat-sahabatku lainnya.
Sebutan “cak” yang sebenarnya –setahuku—lebih banyak berangkat dari kebenciannya terhadapku. Kebencian
terhadap style dan dandananku ketika di kampus. Berambut gondrong, berpakaian tidak begitu rapi, dan
cenderung arogan dalam berkomunikasi dengan kawan-kawan. Esti namanya.
“Tidak begitu cak, uang kas ini baiknya disimpan saja, jangan dipakai banca’an dengan semua anggota
organisasi. Nanti jika kita butuh apa-apa, tidak susah-susah cari dana”, begitulah kira-kira ucapannya untuk
menyelaku pada suatu saat ketika rapat organisasi yang kupimpin. Ungkapan “cak” kali pertama yang
dialamatkannya padaku.
“Lho, panggil aku cak, kupanggil adik lho…”, sahutku menanggapi sapaan yang diberikannya padaku, bukan
pada content verbal yang menjadi materi pembicaraannya.
“Ya ndak ndak apa-apa, silahkan saja”, jawabnya agak akrab. Walaupun sebelumnya aku juga tidak akrab
dengannya. Dia termasuk anak yang pendiam dan tidak begitu sering terlihat bersendagurau dengan kawankawan
seorganisasi.
“Serius nih?”, tanyaku.
“Silahkan kalau suka”, jawabnya yang disaksikan beberapa kawan-kawan lain yang ketepatan memperhatikan
kami.
”Oke, aku punya adik baru, cantik lagi”, godaku dengan agak tersenyum dan menguncir rambutku.
”Kamu koq tumben, tidak egois kali ini Ri”, bisik Jali, sekretarisku.
”Egois bagaimana?”
”Biasanya kamu akan ngotot agar pendapatmu diterima oleh kawan-kawan, tapi kali ini kamu malah tidak
nanggapi usulan Esti, malah bicara tema lain. Memang wanita dapat membuat lelaki mampu meruntuhkan
Tembok Cina”, ucapnya menyindirku.
”Eit!!! Awas lho, dia adikku, aku berhak memastikan dirinya baik-baik saja dari kucing-kucing garong seperti
kamu”, aku membalas ucapan dengan agak bergurau.
”Waaah, ketua kita sedang kasmaran nih”, sambil berucap, mata Jali melirik ke arah Esti yang duduk
beberapa meter di depan kami sambil menyantap rujak cingur dengan kawan-kawan perempuan lainnya.
”Sssssssst”, isyaratku agar Jali tidak meneruskan propagandanya.
Rapatpun kembali dilanjutkan dan aku mulai agak curi-curi pandang pada Esti. Begitupun dia juga sering
tertangkap curi pandang padaku. Setelah beberapa menit berselang, rapatpun usai dan satu persatu
sahabatku undur diri dari lokasi tersebut.
”Aku pulang ke kos dulu cak”, ucap Esti padaku. Tidak ada kecanggungan dari intonasi suaranya dan sikap
yang ditampilkannya.
”Iya dik”, jawabku singkat dengan agak canggung.
Dia lalu berjalan menyusuri jalan-jalan kampus dan menghilang dari pandangan ketika sosoknya berbelok
memasuki gang kampung di belakang kampusku.
Beberapa hari kemudian, ada agenda khusus yang menjadi kewajiban bagiku. ”Nyambangi” Esti di kostnya.
Walaupun tidak setiap hari, namun hampir tiga atau dua kali aku berkunjung ke kostnya tiap pekan ketika
aku tidak pulang kerumahku. Empat batang rokok minimal selalu berada dalam sakuku ketika melakukan
kunjungan tersebut jika malam hari sekitar jam 19.00 WIB setelah Isya’. Maklumlah di kampung belakang
kampusku, siapapun yang berkunjung ke kost putri, harus berakhir pada jam 21.00 WIB. Aku memerlukan
waktu sekitar ½ jam untuk menghisap sebatang rokok. Jika kusiapkan empat batang tiap aku berkunjung
pada jam 19.00 WIB, maka dipastikan jam 21.00 WIB nanti rokokku telah habis terhisap seiring dengan
habisnya jam berkunjung.
”Ada yang ingin kukatakan dik”, suatu saat ketika aku mengunjungi Esti di kostnya.
”Ada apa cak?”, tanyanya.
”Aku mohon maaf telebih dulu jika menurutmu aku salah”, ucapku.
”Ada apa sih, santai aja”, ujarnya. Wajah bulatnya terlihat semakin bulat karena terhiasi kerudung yang
hanya ditutupkan sekaligus diselempangkan, tidak dijepit oleh peniti atau bros.
”Bener ya, jangan marah”, ucapku lagi sambil menatap tajam ke arah bola matanya.
”Kalau kelamaan ya aku marah”, jawabnya sambil tersenyum.
Aku terdiam untuk beberapa saat dan hanya memainkan asap rokokku. Mataku terkedap-kedip seperti
kebiasaanku ketika memikirkan sesuatu. Kualihkan pandanganku ke lalu lalang orang yang melintas di jalan
kampung didepan kost. Saat itu aku benar-benar gugup. Esti hanya menungguku dengan menggerak-gerakkan
jari-jarinya diatas meja. Akhirnya setelah beberapa hisapan rokok.
”Dik Esti...”.
”Apa cak...?”.
”Bolehkah aku menyukaimu dengan rasa suka yang berbeda dari sebelumnya?”, tanyaku dengan berusaha
menatap matanya.
”Maksudnya?”, dia balas bertanya.
”Ya pokoknya begitu”, aku mulai kelihatan arogan dengan tidak memberi penjelasan lebih lanjut dari
maksud ucapanku.
Esti menundukkan wajahnya dan seperti berpikir.
”Ooooo, sampeyan sudah tidak mau jadi kakakku lagi”, ucapnya sambil dongakkan kepala menatapku.
”Kira-kira bagimana?”, aku terus berteka-teki.
Esti kembali tertunduk. Lama, dan melebihi lamanya aku memulai ucapanku semula. Aku juga terdiam. Jam
sudah menunjukkan kurang lima menit sebelum menginjak jam 21.00 WIB. Aku mulai resah.
”Bagaimana dik?”, tanyaku.
Esti mulai menatapku kembali.
”Kenapa sampeyan baru sekarang sampaikan itu cak?”, suaranya lirih.
”Kamu tahu ndak maksud ucapanku?”, aku balik bertanya untuk memastikan bahwa persepsi kami sama.
Dia hanya mengangguk tanpa bersuara.
”Hhhhhhhhh”, desahku seakan menjastifikasi bahwa persepsi tersebut sesuai dengan keinginanku.
”Bagiku, yang penting adalah kita harus berniat baik dalam hal ini cak. Aku khawatir nanti muara perjalanan
kesepahaman pembicaraan kita malam ini tidak berujung sesuai dengan yang kita harapkan. Jika aku lelaki,
mungkin aku sudah menanyakan pertanyaan yang sampeyan tanyakan tadi dari dulu. Semoga diri kita siap
cak”, ucapnya masih dalam keadaan tertunduk wajah.
”Semoga dik”, ujarku singkat dengan hati berbunga. Walau perbincangan yang menyita waktu itu masih
tidak dapat dianggap sebagai legitimasi adanya akad pacaran antara aku dan Esti, namun hatiku seakan
percaya bahwa arah anggukan dia dan kalimat-kalimat akhirnya adalah afirmasi atas pertanyaanku diawal
pembicaraan.
Beberapa menit kemudian aku pamit undur diri dengan perasaan lega. Itulah kali pertama aku menyatakan
perasaan sukaku pada seorang wanita. Hari-hari di kampus kemudian aku dan Esti jalani dengan romantisme
antara kami.
Namun sekali lagi hukum ”anta turid, ana urid wallahu laa yurid” berlaku kembali dalam hubunganku. Kami
berpisah dan menempuh jalan hidup masing-masing di akhir-akhir perkuliahan. Klasik sebabnya. Orang tua
Esti tidak menyetujuinya berhubungan denganku. Mungkin inilah kesiapan yang diharapkan Esti saat dia
menerima cintaku ketika di kost beberapa tahun lalu. Kesiapan akan kegagalan cinta pertamaku.
Bagian 7
PR Untukmu Nak
Matahari terasa sangat panas membakar tanah Surabaya siang itu. Debu-debu beterbangan di sela-sela
dedaunan dengan kencangnya, sebagai tanda bahwa telah lama hujan tidak datang berkunjung. Asap yang
keluar dari berbagai kendaraan bermotor menghiasi jalanan Surabaya, menambah ancaman bagi penderita
tiap penderita tubercolusis di kota Pahlawan ini untuk selalu berhati-hati dan serius menjaga dirinya. Tapi
hal itu tidak hanya berlaku bagi penderita batuk, asma, atau alergi sistem sistem pernafasan semata, namun
juga pada tiap orang yang berpapasan dengan kandungan racun dari asap kendaraan tersebut. Betapa dapat
dilihat tiap hari pada jam-jam berangkat dan pulang kerja di sepanjang Jalan Ahmad Yani, deretan motor,
mobil dan jenis kendaraan lainnya menyemut menuju tujuan pengendaranya masing-masing. “Tin tin… tin
tin…”, begitu suara klakson yang keluar dari kendaraan hasil kreatifitas manusia itu ketika sang pembunyi
klakson menemui rintangan atau “ketidakberesan” yang menghambat laju kendarannya. Yang diklakson juga
tidak segan-segan untuk selalu mempercepat laju kendaraannya agar tidak “mengganggu” pengguna jalan
yang telah memperingatkannya. Namun, ada juga yang tidak memiliki stok pengertian antar sesama ketika
menanggapi butu klakson dalam situasi seperti itu. Putusnya “syaraf pengertian” pada sesama pada situasi
seperti itu kerap kali menimbulkan pertengkaran yang malah menambah bundalan kendaraan baru di
belakang tempat kejadian perkara. Bundalan inilah yang kemudian menyebabkan kemacetan baru dengan
kualitas yang lebih tinggi. Terkadang terjadi kecelakaan kecil diantara pengguna jalan tersebut karena asal
muasal yang berbeda-beda, namun kebanyakan dari kecelakaan tersebut didasari oleh ketidaksabaran
pengguna jalan dalam menjalani nasibnya untuk --sedikit tapi istiqomah bersabar-- menyusuri jalan yang
macet tersebut. Ketidaksabaran melalui kemacetan, ternyata dapat membawa petaka yang lebih parah
daripada kemacetan itu sendiri.
Sebuah drama watak manusia yang dapat muncul tiap saat tanpa skenario dan cita-cita khusus. Belum pernah
aku rasakan, --minimal pada diriku sendiri—jika niatan orang untuk melalui jalan-jalan di Surabaya pada
waktu-waktu jam berangkat dan pulang bekerja adalah untuk mencari gara-gara dengan orang lain. Belum
pernah aku berangan-angan pada malam hari sebelum tidur, “aku esok akan bangun pagi, mensucikan diri,
sholat shubuh, baca al Qur’an, ganti baju, pamit istriku dan anakku, lalu naiki motor vespaku untuk
bertengkar dengan salah seorang yang sedang berkendara di jalan Ahmad Yani Surabaya”. Belum pernah juga
aku memiliki azam1, “jika aku berangkat nanti, aku akan menyerempet orang yang sama warna motor
vespanya dengan warna vespaku”. Atau, “nanti ketika bersepeda dijalan yang selalu macet ketika pagi itu, aku
akan menotolkan ban depan vespaku pada sepeda yang dikendarai oleh pria-wanita yang berboncengan,
sedangkan celana dalam si-wanita tampak mengintip dari sisi belakang celananya, menggoda kelaki-lakianku”.
Semuanya –aku rasa—sibuk terfokus pada tempat dan agendanya masing-masing. Yang bekerja terfokus pada
pekerjaan dan tempat kerjanya. Yang mahasiswa terfokus pada lokasi kuliah dan jam pertama kuliahnya hari
itu, atau bisa jadi si-mahasiswa kita ini kebetulan seorang aktivis yang mengalami power syndrome pada dirinya,
sehingga dia hanya ingat bagaimana melakukan hegemoni pada yunior-yuniornya dengan kewibawaan
structural yang dia miliki. Yang pejabat –aku yakin—juga terfokus pada tugas birokratis yang telah
menunggunya di kantornya. Yang berprofesi mengemis, juga akan menentukan sasaran empuk pekerjaannya
dengan ilmu “melas” yang dimilikinya. Konsentrasi tukang tambal ban pada jam-jam padat lalu lintas, tidak
akan terfokus atau peduli sama sekalai pada tugas berat para pejabat yang berkaitan dengan kesejahteraan
umum. Dia hanya akan berharap-harap sambil sesekali mungkin berdoa pada Tuhan agar ada orang
“kesusahan” atau bermasalah dengan ban kendaraannya dan melintasi serta meminta jasanya diantara
kepadatan kendaraan tersebut, karena itulah ladang hidupnya. Yang kerjanya mencopet, tidak akan peduli
1 Keinginan yang masih dalam angan-angan, belum menjadi niatan. Dalam istilah santri, ada perbedaan
makna antara azam dengan niat. Niat adalah keteguhan hati tentang sesuatu hal yang harus ada dalam hati
manusia ketika yang bersangkutan mulai kali pertama melakukan sesuatu hal tersebut. Sedangkan azam
adalah keinginan manusia tentang sesuatu yang masih belum dia lakukan, belum berusaha diwujudkan,
masih ada dalam ranah imajinasi semata.
pada mereka yang pada saat itu berprofesi sebagai perampok atau residivis curanmor, pencopet itu hanya
peduli pada beberapa calon target operasi yang tampak didepan kejelian mata mereka. Mereka mungkin
hanya terpikir tentang sasaran pencopetan, cara teknis pencopetan, strategi dan taktik melindungi operasi
pencopetan yang telah mereka lakukan. Aku pikir semua pencopet di Surabaya yang melintas di jalan Ahmad
Yani pada jam-jam sibuk seperti itu, tidak akan peduli dengan residivis lain yang berprofesi sebagai
perampok, apalagi koruptor.
Terik panas matahari, asap yang keluar dari knalpot kendaraan bermotor, dan bising suara mesin sekian
kendaraan yang melintas di sekelilingku, tidak menurutkan hasratku untuk tetap berangkat ke kampusku.
Kampus yang memberikan aroma lain dalam kehidupanku. Kujalani siang itu dengan aktifitas sebagaimana
biasa, kuliah dan bertemu dengan sahabat-sahabat se-organisasi dan berbicara tentang beberapa agenda
strategis yang akan kami lakukan ke depan. Untuk sementara waktu, aktifitas akademis dan organisatorisku
terhenti oleh suara seorang perempuan yang sangat akrab dalam ruang dengar telingaku.
“Sudah sarapan cak?”, suaranya halus, meskipun agak besar. Seiring dengan datangnya suara itu, tapak
tangannya mengusap punggungku dengan ritme usapan dari atas ke bawah.
”Belum”, aku menjawab dengan posisi yang masih membelakanginya.
”Ayo cepat sarapan lho, nanti mag-nya kambuh lagi”, suaranya terdengar lebih tinggi dari sebelumnya.
”Iya... setelah ini”, jawabku dengan membalikkan badan.
Dia lalu mengeluarkan bungkusan kertas minyak dan sebotol air mineral kira-kira 500 ml dari tasnya yang
berwarna biru. Hal inilah yang terkadang membuat kolega aktivisku di kampus agak ”iri” denganku. Aku lalu
makan dengan ditunggui olehnya. Ikut pula beberapa kawan yang kebetulan sedang berada di lokasi tersebut,
walaupun mereka hanya mengambil barang satu dan dua suapan nasi. Tidak lama berselang, sebungkus nasi
tersebut sudah ludes tanpa meninggalkan sebiji upo2-pun.
Aku lalu melakukan aktifitas kebiasaanku setelah makan, merokok. Begitu juga dengan beberapa kawankawanku
saat itu. Wanita yang tadi menyapaku, kemudian berpamitan menuju perpustakaan untuk mencari
beberapa buku referensi yang dibutuhkan olehnya guna membuat tugas dari dosen kami. Seiring dengan
hilangnya pandanganku terhadapnya di tikungan jalan kampus, aku dan kawan-kawanku bersepakat untuk
melanjutkan pembicaraan tentang organisasi kemahasiswaan kami.
**
Tidak lama berselang, terdengar dari kejauhan, seorang lelaki yang berambut keriting, berkulit sawo matang,
tingginya sekitar 160-165 cm sedang berjalan ke arah kami. Disaku belakang celananya, terselip sebuah buku
tulis yang telah dilipat menjadi dua secara membujur. Kebiasaan yang masih tetap dilakukannya semenjak
kami sekolah di SMA dulu. Cepoek, begitu aku dan kawan-kawan SMA-ku biasa memanggilnya dulu. Tidak
seperti biasa, siang itu dia kelihatan agak tergopoh-gopoh, walau aku juga tidak tahu apa yang
menyebabkannya seperti itu. Ketika dua matanya menatap ke arahku, irama keterburuannya semakin
bertambah. Aku melihat langkah kakinya seperti setengah berlari-lari kecil ke arahku yang sedang dudukduduk
dengan beberapa kawan di bawah pohon keres.
”Kamu ndak tahu kabar tho Ri?”, ucapnya padaku ketika tangan kami bersalaman.
”Kabar apa Poek?” aku balik bertanya.
”Sudah, jangan tergesa-gesa. Ambil nafas dulu...”, ujarku.
”Kamu ndak pulang dari tadi?’, dia kembali bertanya.
”Tidak, mungkin aku malah nginap di kampus”, jawabku.
”Itu, kamu tahu jika Gus sudah tiada tadi pagi?”, kata-katanya mengagetkanku.
”Ah!!! Kamu jangan ngawur, meninggal bagaimana?”.
”Ya meninggal tadi pagi di rumah sakit”, jawabnya.
”Beliau sakit apa?”.
”Aku ndak tahu pasti, tapi yang jelas pagi ini beliau telah meninggal”, dia mengulangi informasinya lagi.
2 Butiran nasi, Jawa.
”Kamu tahu darimana kabar tersebut?”, seakan-akan aku masih tidak percaya.
”Dari kawan-kawan kita di pesantren dulu, mereka menelponku dirumah, tapi aku sudah berangkat.
Kebetulan ada tetanggaku yang kuliah disini dan diberi pesan oleh ibu. Aku juga baru tahu kabar ini
barusan”, nafasnya mulai teratur kembali.
”Inna lillaahi wa inna ilaihi rojiuuun...”, aku mengucapkan kalimat sebagai tanda duka sesuai yang aku
ketahui.
Untuk sesaat kami terdiam.
”Siapa yang meninggal Ri?”, tanya temanku sekampus.
”Gus sekaligus guruku”, jawabku singkat.
Aroma rokok yang baru saja kusulut, mulai memudar dan menghilang kelezatan cita rasanya. Tanpa kusadari
aku tertunduk, lidahku keluh, kuambil nafas dalam-dalam dan pikiranku melayang-layang ke masa-masa 5-6
tahun yang lalu ketika aku masih belum kuliah. Untuk sesaat kureview ingatanku dengan Gus sewaktu beliau
masih hidup dan mengabdikan dirinya untuk memperjuangkan pendidikan agama bagi remaja-remaja seperti
aku.
”Qusyairi mana?”, tanya Gus kepada kumpulan kawan-kawanku ketika aku sedang berada di pesantrennya.
Aku memang tidak tergolong santri mukim di pesantrennya Gus karena jarak rumahku yang berdekatan
dengan pesantrennya. Maklumlah, kami ada di satu desa. Aku mungkin bisa disebut dengan santri kalong3 di
pesantrennya Gus.
”Tidur Gus”, ucap salah seorang temanku.
’Bangunkan”, suaranya singkat.
Yang disuruh lalu bergegas menggugahku, padahal aku tidak tidur, tapi sengaja memejamkan mataku di salah
satu kamar santri di pesantren itu.
”Ri, kamu dicari Gus, cepat bangun!!!”, kakiku digoyang-goyang oleh santri yang disuruh Gus. Aku yang tidak
tidur dikamar itu, berusaha melirik dia dengan membuka mata seminim mungkin agar tidak ketahuan jika
aku sedang berpura-pura. Kulihat dia agak menjauh dari tubuhku. Maklum, aku kerap kali melakukan
gerakan reflek ketika dibangunkan, apalagi dengan cara yang mengagetkanku. Dari gerakan reflek itulah aku
sering menendang atau memukul mereka yang bangunkanku. Walau itu juga tidak aku sengaja.
Dengan berlagak agak malas, aku membuka mataku dan duduk, sedangkan kakiku masih kuselonjorkan.
”Ada apa Gus cari aku?”
”Tidak tahu, ayo cepat kamu kesana, nanti beliau marah!”, perintah kawanku itu.
”Beliau dimana?”
”Di ruang asatidz4”.
”Chek!!!” suara dari bibirku keluar, suara yang tanpa makna yang jelas, tapi mengandung maksud bahwa aku
agak malas memenuhi panggilan itu.
Kubetulkan letak sarungku, kupakai baju yang tergantung pada paku didinding ruangan, dan kurapikan
rambutku. Lalu aku keluar ruangan dan menuju tempat yang dimaksud kawanku.
”Assalaamu ’alaikuuum...”, ucapku ketika melewati pintu ruangan itu.
”Wa alaikum salaaam...”, jawab Gus dengan suaranya yang serak.
”Kamu nanti ikut saya ngaji5 ke Gresik, kita berangkat jam setengah tujuh (18.30 WIB), setelah sholat
maghrib”, Gus memberikan instruksinya.
”Iya Gus”, jawabku.
”Kamu tidur sana, istirahat, jika tidak ada jam ngaji. Atau nderes6 Shohih Bukhori7 sana!”, perintah beliau.
”Iya Gus”, sekali lagi aku menyanggupi ucapan beliau.
3 Santri yang belajar ilmu agama di pesantren, namun tidak bermukim di pesantren. Santri jenis ini hanya
datang ke pesantren untuk mengikuti jam-jam pelajaran saja.
4 Bentuk jamak dari ustadz yang berarti guru.
5 Memberikan ceramah agama.
6 Mempelajari kembali.
7 Salah satu judul kitab tentang Hadits Nabi Muhammad SAW.
Akupun undur diri dari hadapan Gus setelah sebelumnya aku mencium tangan beliau. Aroma minyak wangi
jenis ’Ud langsung mempengaruhi syaraf-syaraf di hidungku ketika kucium tangan beliau.
Sore setelah sholat berjamaah di musholla pesantren, aku bergegas mempersiapkan diriku untuk ikut gus
memberikan ceramah agama. Dalam bayanganku saat itu, aku akan memiliki peluang untuk makan makanan
yang tidak biasa dijumpai di pesantren. Mungkin aku nanti akan makan nasi gulai, sate, rawon, dengan segala
jenis lauk-pauk pelengkapnya. Tentu nyaman sekali karena di pesantren kesempatan tersebut tergolong
langka.
Kukenakan sarung dan baju terbaikku yang sengaja kutinggalkan di pesantren untuk ganti, walaupun aku
juga tidak terdaftar sebagai santri tetap di pesantren tersebut. Mungkin karena aku juga salah satu warga
kampung tersebut, dan aku juga ikut kegiatan mengaji ditempat itu, maka aku relatif dapat diterima oleh
beberapa santri disana. Aku lalu berjalan menuju ndalem Gus yang terletak di sebelah utara lokasi pondok.
”Assalaamu ’alaikuuum...”, suara salamku terdengar ketika aku sudah berada dipintu luar ndalemnya Gus.
”Wa alaikum salaaam...” terdengar jawab dari dalam rumah, tapi bukan suara Gus, suara Nyai, istri dari Gus.
Beliau lalu membukakan pintu untukku dan menyuruhku memasuki ruang tamunya.
”Ooo Qusyairi thooo, ayo masuk sini”, beliau menunjukkan jari telunjuknya ke salah satu sudut di tuang
tamunya. Dan akupun menuju ke arah yang ditunjuk oleh beliau dengan sedikit menundukkan bahuku ke
depan. Aku duduk bersila menghadap ke timur, di sisi kiriku terdapat sebuah lemari besar berwarna hitam
yang berisi kitab-kitab kuning8 Gus.
”Kamu sudah makan?”, tanya beliau.
”Sudah Nyai”, jawabku.
”Mulai kapan santrinya abah (sebutan beliau untuk Gus) mulai suka bohong ya?”, beliau berkomentar. Aku
hanya menunduk saja dan tidak berani memandang beliau. Aku memang belum makan nasi sore itu. Aku
hanya makan sepiring nasi pagi hari tadi sebelum Gus mencariku. Maklum, hari-hari itu SMA-ku sedang
liburan agak panjang, jadi kuhabiskan waktu di pesantren itu.
Beliau lalu kedalam dan beberapa saat kemudian keluar menghampiriku. Ditangan kanan beliau membawa
sepiring nasi rawon dengan kerupuk udang diatasnya, masih terlihat sepintas oleh asap yang mengepul dari
nasi rawon tersebut, tanda bahwa nasi itu masih panas atau hangat. Di tangan kiri Nyai memegang segelas air
putih. Beliau lalu meletakkannya di atas karpet di depanku dan menyuruhku menyantap nasi itu.
”Aku mujur hari ini”, gumamku dalam batin.
”Ayo makan Ri, biar tidak masuk angin”, ujar Nyai sambil melangkah ke dalam ruang tengahnya.
”Iya Nyai...”, sahutku dengan sopan, tapi dengan perut yang mulai timbul selera kerakusannya.
Aku lalu menyantap nasi rawon tersebut dengan lahapnya. Dua suapan baru aku lakukan, wajah Nyai
kembali menyembul dari dinding ruang tengah.
”Habiskan lho..., kalau kurang nanti tambah sendiri di belakang”, ujar beliau.
”Iya Nyai”, untuk sesaat aku memperlambat ketangkasan tangan kananku menggunakan sendok sesuai
fungsinya.
Hampir separuh kulahap makanan itu, sosok Gus muncul dari ruang tengah dan ucapkan salam kepadaku.
”Assalaamu ’alaikum...”, suaranya menghentikan kunyahan gigiku pada nasi rawon yang ada dimulutku.
”Wa alaikum salaaam...”, jawabku.
Kuletakkan nasi rawon di atas karpet, dan membungkuk menuju Gus, lalu kucium tangan beliau. Aroma
minyak wangi jenis Ud kembagi menghiasi rongga hidungku.
”Teruskan dulu makannya”, ujar Gus.
Sambil kembali ke tempat duduk semula, aku berkata, ”iya Gus”.
”Ndak tambah, kalau masih lapar, tuh tambah sendiri di belakang”, ujar Gus kepadaku ketika sepiring nasi
rawon telah ludes, tidak tersisa sebutir nasipun. Aku telah melakukan tugasku.
”Sudah Gus, sudah cukup”, ujarku, padahal jika saja ini bukan Gus, tentu aku nambah lagi.
8 Kitab agama bertuliskan tulisan Arab. Disebut kitab kuning karena warna kertasnya memang berwarna
kuning.
Beberapa saat kemudian kami lalu berangkat ke Gresik sesuai dengan rencana awal untuk mengantar Gus
memberikan ceramah agama. Di sepanjang jalan, kulihat Gus hanya diam seperti memikirkan sesuatu.
Bibirnya komat-kamit seperti mengucapkan sesuatu. Ternyata beliau wiridan9.
Ketika mobil yang kami naiki memasuki pintu masuk tol Surabaya-Gresik, Gus mulai mengajakku bicara.
”Bagaimana sekolahmu?’, tanya beliau.
”Alhamdulillah Gus”, jawabku.
”Alhamdulillah bagaimana?”, kejar beliau.
”Yaa baik Gus, mohon doanya agar sekolah saya baik-baik saja Gus”, aku sekaligus meminta.
”Sekolahmu ya baik-baik saja, yang kutanya kamunya, bukan sekolahnya”, beliau meluruskan pertanyaan.
”Iya Gus, baik”, jawabku.
”Aku tidak se-mandhi10 kedua orang tuamu doanya. Lebih baik kamu minta doa saja pada mereka untuk
sekolahmu, itu lebih baik. Aku khan hanya gurumu”, beliau berkomentar.
”Iya, tapi khan guru itu orang tua kedua Gus”, aku mulai menyela.
”Orang berdoa untuk orang lain, itu ibaratnya sama dengan orang yang sedang mendorong mobil. Jika mobil
itu memang mogok atau rusak, maka upaya apapun dari yang mendorong, tidak akan dapat membuat mobil
itu melaju kembali. Ya perbaiki dulu mobilnya, baru didorong kembali”, beliau memberikan pelajaran
bagiku.
”Sekolah itu bukan perkara sulit atau mudah, tapi persoalan mau atau tidak mau. Tidak ada pelajaran yang
sulit jika yang bersangkutan mau mempelajarinya. Sebaliknya, pelajaran yang mudahpun, akan menjadi sulit
jika tidak ada keinginan untuk mau mempelajarinya”, suara beliau seperti cotton but yang membersihkan
sumbatan-sumbatan di telingaku.
”Iya Gus”, jawabku.
”Jangan iya-iya saja”, ujar beliau. Akupun mengangguk.
Beliau lalu terdiam kembali sedangkan aku hanya manggut-manggut saja.
Setelah sekitar ½ jam perjalanan dari setelah memasuki pintu tol Surabaya-Gresik itu, mobil yang kami
tumpangi lalu keluar dari tol dan berhenti didepan sebuah gang. Gus lalu mengajak aku dan sopirnya keluar
mobil dan berjalan menuju sebuah rumah bertingkat yang megah. Disitulah Gus memberikan pengajian.
Ternyata malam itu Gus tidak hanya memberikan ceramah di satu tempat, melainkan dua tempat. Setelah
dari tempat pertama tadi, Gus lalu mengajak kami menuju lokasi pengajian kedua. Tempat yang kedua ini
berada di daerah Manyar Gresik. Kamipun menuju ke tempat yang dimaksud. Praktis, kami meninggalkan
lokasi pengajian yang kedua sekitar jam 23.30 WIB dan kembali pulan ke ndalem-nya Gus. Jarum jam di
rumah Gus waktu kami memasuki ruang tamu menunjukkan pukul 01.30 dini hari. Akupun pamit untuk
undur diri pada beliau.
Singkat cerita, setelah mengantar Gus memasuki rumahnya, akupun kembali ke pesantren. Dijalan aku
terpikir untuk pulang kerumah malam itu, tapi akhirnya kuputuskan untuk menginap di pesantren saja,
walaupun jika pulang juga tidak begitu jauh jaraknya. Aku ingin makan nasi berkatan11 dengan kawankawanku
di pesantren.
”Teeet... teeet... teeet... bruak bruak. Teeet... teeet... teeet... bruak bruak. Teeet... teeet... teeet... bruak bruak”,
terdengar bunyi bel pesantren sangat keras dan relatif mampu membangunkan orang yang sedang tidur pagi
hari itu, kecuali orang-orang dengan kualitas ”konsentrasi” tidur yang melebihi rata-rata manusia secara
umumnya. Jam di ruang tidurku masih menunjukkan saat itu baru pukul 02.30 WIB dinihari.
” Teeet... teeet... teeet... bruak bruak. Teeet... teeet... teeet... bruak bruak. Teeet... teeet... teeet... bruak
bruak”, terdengar kembali bunyi gangguan tersebut. Yah, bunyi wajib yang menandai bahwa saat itu kami
seluruh santri di pesantren tersebut harus cepat-cepat bangun, menyucikan diri dan mengikuti sholat
9 Membaca wirid (zikir).
10 Ampuh dan mujarab
11 Nasi kenduri yang biasanya disuguhkan tuan rumah pada tamunya untuk dibawa pulang dalam acaraacara
keagamaan.
tahajjud12 secara berjamaah di musholla pesantren. Setelah sholat sunnah13 tersebut, kami juga harus
membaca zikir sampai datangnya waktu shubuh. Lalu kami sholat shubuh berjamaah dengan Gus sebagai
imam sholatnya.
Kulihat sepintas ketika keluar kamar tidur menuju kamar mandi, Gus telah berdiri ditengah-tengah pintu
ruang asatidz sambil tangan kanannya terus menerus memencet bel pondok, sedang tangan kirinya
memegang selang karet berdiameter 2 cm sepanjang 1 meter dan sesekali memukulkannya ke bagian belakang
papan pengumuman di depan gedung pesantren. ” Teeet... teeet... teeet... bruak bruak. Teeet... teeet... teeet...
bruak bruak. Teeet... teeet... teeet... bruak bruak”, suara itu terus terdengar.
Jika suara tersebut sudah tidak terdengar, berarti Gus telah menghentikan gangguannya dengan
membunyikan bel, tapi beliau lalu memasuki tiap kamar dan memeriksa kondisi didalamnya dengan sangat
teliti. Jika ada santri yang sengaja ngumpet, maka bersiaplah kulit kakinya menerima ”ciuman” dari selang
karet tersebut. Bersiaplah kulitnya terasa panas campur nyeri untuk beberapa saat. Setelah menuntaskan
penyelidikannya, biasanya Gus lalu menuju musholla di lantai tiga pesantren dan bersiap-siap memimpin
sholat tahajjud sampai menjelang subuh, dan merangkainya dengan berjamaah sholat shubuh pula. Setelah
subuh, beliau lalu mengajar ngaji santrinya sampai sekitar jam 07.30 WIB. Bagi santri yang sekolah siang,
bisa langsung terus mengaji pada beliau sampai jam 11.00 siang, namun bagi yang sekolah masuk pagi, jam
ngajinya nanti pada jam 13.00 sampai jam 17.00 sore. Dan itulah kegiatan Gus tiap hari.
Yang kupikirkan saat itu adalah jam istirahat dari Gus. Praktis tiap sehari semalam beliau hanya memiliki jam
istirahat hanya sekitar 2-4 jam, tidak lebih. Barusan tadi jam 01.30 beliau baru masuk rumah, jam 02.30
sudah berada di pesantren untuk membiasakan santrinya mendekatkan dirinya pada Tuhan. Berarti malam
itu Gus hanya istirahat 1 jam. Tidak jauh beda dengan hari-hari lain yang kuketahui. Stamina yang luar biasa.
”Beg, sampeyan koq nangis cak”, ucap salah seorang teman padaku. Aku baru ingat bahwa barusan tadi aku
melamunkan masa-masaku dengan Gus ketika beliau masih hidup dulu. Berarti aku melamun tadi. Cepoek
masih terlihat tidak bersemangat di depanku. Siang itu hawa panas dikampusku terasa kian menyengat.
Tanpa menjawab peringatan temanku. Kuusap butir air disisi mataku, aku mulai melamun lagi.
”Orang belajar di pesantren itu harus memahami dua rahasia kunci Ri”, ujar Gus padaku suatu pagi
dirumahnya. Aku dirumah beliau karena aku telah melanggar peraturan pesantren. Aku ketahuan sembunyi
di kamar mandi pesantren dan tidak ikut sholat tahajjud sebelum subuh. Aku harus menerima hukuman.
Sesuai dengan ”nidhom al ma’had14”, yang berhak menentukan pelanggaran tidak ikut sholat tahajjud adalah
Gus. Maka aku kerumah beliau untuk menerima hukuman.
”Dua rahasia kunci?”, tanyaku dalam hati, sedangkan Gus terdiam setelah berkata seperti itu. Kami hanya
berdua di ruang tamu Gus pagi itu. Gus terlihat marah sekali padaku.
”Kamu harus menghafalkan surat Yasin. Minggu depan kamu harus setor hafalan padaku!”, perintah Gus
padaku. Perintah yang sekaligus menjadi content punishment padaku karena tidak ikut sholat tahajjud.
”Iya Gus”, jawabku merasa berdosa.
“Kamu tahu, orang belajar di pesantren itu harus memahami dua rahasia kunci Ri”, beliau mengulangi
ucapannya lagi.
“Tidak hanya di pesantren, pada hal apapun, hal itu juga berlaku”, beliau tetap berkata-kata, aku hanya diam
tertunduk. Telingaku terasa panas, tapak tangan-tanganku dingin, dan mulutku terkunci rapat.
“Camkan ini!”, suara beliau mulai agak meninggi.
“Tiap orang yang dalam hidupnya betah atau tabah lapar dan betah jaga malam, hidupnya pasti akan sukses
dan diridloi Tuhan”, suaranya tegas.
“Camkan dan ingat itu selama hidupmu”, beliau menegaskan kembali.
“Iya Gus”, aku mengiyakan, walaupun afirmasiku kalah dengan ketakutanku saat itu.
Sejurus kemudian kami saling diam, Gus hanya bersungut-sungut tanda bahwa kemurkaanya padaku belum
reda.
12 Sholat sunnah di malam hari setelah tidur.
13 Yang sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW.
14 Peraturan pesantren.
“Kamu masuk sekolah jam berapa?”, tanya beliau memecah keheningan.
“Jam setengah tujuh Gus”, jawabku lirih.
Beliau lalu menoleh ke jam dinding di ruang tamunya. Aku juga melirik ke jam tersebut. Jarum jam
menunjukkan pukul 06.15 WIB.
“Kamu belum sarapan ya?”, beliau bertanya. Pertanyaan yang aneh, karena beberapa menit lalu beliau baru
saja murka padaku. Biasanya orang yang sedang marak terhadap sesuatu, akan tidak ambil peduli dengan
sesuatu itu. Tapi ini berbeda.
Aku hanya terdiam saja. Beliau lalu merogoh saku kanan baju kokonya lalu mengeluarkan selembar uang
kertas, aku tidak dapat secara jelas melihatnya.
“Ini untuk uang sakumu. Kamu cepat ganti baju, ambil bukumu dan berangkat sekolah sana. Gunakan uang
ini untuk naik angkutan dan sarapan nanti di sekolah. Jika berjalan kamu nanti akan terlambat. Ayo
cepat!!!”, beliau lalu menghampiriku dan menaruh selembar uang tersebut kelipatan songkokku.
“Slep”, begitu kira-kira bunyinya.
Bahuku ditarik dari atas seakan-akan menjadi tanda agar aku lekas berdiri dan melaksanakan perintah beliau.
Aku hanya nurut saja, karena masih ketakukan. Kucium tangan beliau dan pamit pergi.
”Terima kasih Gus, saya pamit. Salam alaikuuum...”, aku undur diri. Kulihat Gus memandangiku
meninggalkan rumahnya. Dijalan antara rumah beliau dan pondok, kuambil uang yang disisipkan Gus di
kopyahku. Subhaanallah... ternyata pecahan uang 2000 rupiah. Jumlah yang sangat luar biasa besar bagiku
ditahun 1995 itu. Dengannya aku dapat naik angkutan menuju sekolah, bisa beli sarapan, dan bisa jajan
sampai esok.
Aku tidak dapat membayangkan, apakah masih ada guru seperti itu pada masa-masa ini. Beliau sangat berhat
untuk marah padaku karena memang aku telah salah dan tidak mentaati peraturan di pesantrennya. Namun
beliau masih saja menghukumku untuk menghafalkan surat Yasin sebagai bahan hukuman. Aku tidak
disuruh push up, sit up, atau sejenisnya. Aku disuruhnya menghafalkan satu surat dalam al Quran. Sampai
kini aku hafal surat itu. Seandainya Gus tidak menghukumku dengan hukuman itu...
Sudah salah, dapat ilmu lagi. Itulah diriku. Dua hal yang dipesankan beliau, ”betah lapar dan betah jaga
malam” adalah kalimat kunci yang kuingat sampai sekarang dari ”kemarahan” Gus padaku pagi itu. Betah
lapar artinya rajin dan istiqomah berpuasa, sedang betah jaga malam maksudnya adalah rajin dan istiqomah
untuk sholat tahajjud ketika banyak manusia terlelap dalam tidurnya. Dua pelajaran yang sangat berharga
bagiku. Tidak ada alasan yang tepat juga bagiku, atau hak apapun yang melegalkanku mendapat uang sebesar
2000 rupiah sebagai uang saku dari beliau. Pemberian yang diberikan ditengah sebuah kemurkaan. Tidak ada
yang mempu melakukan hal seperti itu kecuali pribadi yang penuh keikhlasan.
”Cak!!!”, suara Cepoek menggugah lamunanku.
Akupun tergagap sembari mengusap air mata yang membasahi ruas mataku. Aku telah kehilangan salah
seorang guru yang sangat kucintai.
***
Setelah sholat ashar aku berjalan menyusuri ruas jalan desaku menuju rumah Gus-ku yang telah meninggal
pagi tadi. Aku berhenti untuk menanti sholat maghrib di masjid yang berjarak hanya sekitar 30 meter dari
rumah beliau. Aku duduk bersandar diantara tangga masjid sebelah selatan dan memandang ke langit yang
cerah. Kulihat pondok pesantren yang dulu aku pernah belajar didalamnya terlihat ramai oleh kesibukan
yang tidak biasa. Terlihat juga beberapa kawanku nyantri dulu di pondok, tapi aku sangaja tidak bersua
dengan mereka dulu saat itu. Perjumpaan dengan mereka pasti akan menguak kembali memori masa lalu
kami ketika dibimbing oleh Gus ketika kami nyantri di pesantren ini. Gedung pesantren itu terletak di
pinggir jalan dan berada sekitar 30-an meter di selatan masjid desa. Terlihat beberapa santri yang menjalani
kesibukannya mempersiapkan sesuatu.
Jenazah Gus telah dimakamkan siang tadi di pemakaman desa yang berada tepat di selatan aula masjid.
Bunga kamboja menghiasi gundukan tanah yang menutupi makam tersebut. Tanda bahwa makam itu baru
saja digali dan dimasuki sesuatu.
“Wahai tanah...
Sadarkah engkau, jasad siapa yang kini ada dalam perutmu?
Wahai tanah...
Tahukah engkau, siapa yang telah terbujur dalam rengkuhanmu?
Wahai tanah...
Apakah akan kau suruh cacing dan mahluk tanahmu lainnya untuk mengganggu guruku?
Wahai tanah...
Ganggulah jika kau mampu!
Karena kuyakin Dia tidak akan memberimu daya untuk mengganggu.
Wahai guruku...
Istirahatlah dengan tenang dan damai selalu
Wahai guruku...
Dengarlah harpha wildan15 dan bidadari nan syahdu telah menunggumu
Wahai guruku...
Terasa singkat kau bimbing aku
Terasa bodoh aku memahami petuah-petuahmu
Terasa malu aku pada keikhlasan pengabdianmu
Terasa miskin aku pada perbendaharaan amal ibadahmu
Terasa hina aku dihadapan kebesaran jiwamu
Wahai guruku...
Kau mandikan jiwaku dengan kasih sayangmu, sedang kini aku tidak sempat memandikan jenazahmu
Kau parcantik akhlakku dengan baju tauladanmu, sedang kini aku tidak sempat mengkafanimu
Kau ajari aku ingat akan sholat, sedang kini aku tidak sempat menyolatimu
Kau contohkan bagaimana untuk peduli, sedang kini aku tidak mempedulikanmu
Wahai guruku...”, untaian sajak itu tak sengaja terucap dari bibirku ketika memandang makam itu, makam
dari guruku.
Tak terasa waktu maghrib telah tiba dan muadzin-pun mulai melakukan tugasnya. Tugas yang juga menjadi
tugasku ketika kecil dulu. Akupun bersiap untuk sholat di masjid itu. Kupandang sekali lagi makam guruku
sebelum kuambil air untuk wudlu.
Tak sengaja mataku menangkap sesosok lelaki muda yang sedang lewat di sisi barat tempat aku sedang wudlu
dan berjalan menuju pondok pesantren. Tubuhnya sedang, tidak tinggi dan tidak pendek. Kulitnya kuning
dengan rambut lurus menghiasi kepalanya. Walau terlihat agak kurus, namun tubuhnya terlihat berotot.
”Gus Udin”, begitu kami biasa menyebutnya. Dia adalah anak dari Gus-ku, putera dari guruku yang baru saja
meninggal itu. Sebenarnya dia dulu adalah adik kelasku ketika sekolah di madrasah ibtidaiyah di desa ini.
Kenakalannya dulu juga tidak kalah dengan kenakalanku ketika sekolah di madrasah itu. Aku
menghormatinya karena dia adalah putera dari guruku. Guru yang sangat kucintai. Gus Udin memiliki
seorang kakak yang waktu itu –setahuku—sedang belajar di luar negeri. Gus Fi, biasa kami memanggil
kakaknya. Aku tidak memperpanjang romantikaku pada keduanya, aku berusaha fokus pada wudluku. Aku
lalu bersiap-siap ikut sholat maghrib berjamaah.
Setelah sholat maghrib, aku menghabiskan waktu didalam masjid dan membaca tiap bacaan yang dulu
diajarkan Gus padaku. Tidak lupa aku membaca surat Yasin dan secara khusus kuhadiahkan pahalanya
kepada beliau. Tiap ayat yang kibaca dari surat itu, terbayang wajah guruku yang kini hanya beberapa meter
dari lokasiku duduk telah bersemayam didalam tanah. Biasanya untuk membaca surat Yasin, aku hanya
memerlukan waktu sekitar 15 menit. Saat itu hampir 30 menit berlalu, aku masih sampai pada ayat
”salaamun qoulan min robbirrohiiim...”. Aku banyak berhenti ketika membaca surat yang memiliki gelar ”qolbu
al Qur’an16” itu.
15 Pelayan sorga
16 Hati al Qur’an.
Zikirku terhenti ketika suara muadzin kembali menganlun syahdu sebagai tanda waktu sholat Isya’ telah
datang. Selepas adzan, aku berdiri dan melakukan sholat sunnah qobliyah17 sebanyak dua rokaat. Setelah
selesai, tidak lama kemudian sang muadzin ber-iqomat dan jamaah sholatpun dimulai. Aku mengambil shof18
terdepan pada ujung samping kiri mimbar khotib sholat Jumat yang berdampingan dengan tempat imam
sholat. Aku ingin menyembunyikan diriku dari kawan-kawan dan orang-orang yang kukenal dari jamaah yang
bersiap sholat Isya’ di masjid itu. Tapi keinginan itu tidak begitu sukses karena masih ada yang mengenaliku.
Maklumlah, aku punya banyak kawan disini.
Setelah sholat Isya’ berjamaah, berzikir dan berdoa, sholat sunnah ba’diyah19 aku lalu berjalan menuju rumah
Gus yang kelihatannya telah banyak orang disana. Aku ingin ikut tahlilan dan mendoakan beliau. Sengaja
kupilih tempat diluar rumah dan di sudut yang paling memungkinkan aku tidak terlihat oleh kawankawanku
sepondok dulu.
Kulihat Cepoek datang dengan serombongan kawan-kawanku dulu. Wajah mereka terlihat pilu. Kulihat juga
Gus Udin dan beberapa familinya. Hatiku agak remuk melihat dia. Dia adalah salah seorang yang
bertanggung jawab akan kelangsungan pesantren yang diasuh abahnya. Dia akan dituntut memiliki kecintaan
yang sama dengan kecintaan abahnya terhadap pesantren kami. Aku sangat yakin jika Gus, abahnya Gus
Udin sangat mencintai pesantrennya, melebihi cintanya pada harta dan status sosialnya. Cinta yang
menuntut banyaknya pengorbanan. Cinta yang menuntut untuk terbiasa hanya beristirahat 2-4 jam sehari
semalam. Cinta yang menuntut kesabaran dan keikhlasan dalam tiap cobaan. Cinta yang menuntut
ketegasan dengan kelembutan kasih sayang pada tiap tiap santri-santrinya. Cinta yang relatif tidak diminati
oleh generasi kini, mungkin juga aku. Cinta yang buta akan penghormatan. Cinta yang bersemangat dalam
kesengsaraan. Cinta yang menuntut pengorbanan pada yang paling dikasihi.
Alhamdulillah… masih kulihat ketegaran dalam wajah Gus Udin. Ketika wajahku, wajah Cepoek dan wajah
kawan-kawan santriku dulu sembab oleh air mata, wajah Gus Udin masih berbinar menyambut dan
menyalami tamu yang mendatangi rumahnya. Tapi aku juga yakin dan tidak dapat tertipu akan satu hal.
Hatiku, hati Cepoek, hati kawan-kawan santriku, dan hati Gus Udin pasti ”sembab” saat itu. Moga
sembabnya hati kami, menuntun kami untuk riang gembira dan mencintai pesantren kami, sama dengan
kecintaan Gus terhadap pesantrennya. Amiiin...
17 Sholat sunnah yang dilakukan sebelum melakukan sholat wajib.
18 Barisan sholat
19 Sholat sunnah yang dilakukan setelah melakukan sholat wajib.
Bagian 8
Kuburan Tua
Jumat siang itu, aku bersiap melaksanakan sholat Jumat. Tidak tahu mengapa, aku ingin mengenang masa
kecilku dulu ketika masih belum ada masjid sebagai tempat sholat Jumat di kampungku. Aku dan warga
kampung yang melakukan sholat wajib satu minggu sekali ini, harus menuju masjid al Badri di desa tetangga
sebelah barat yang menjadi bagian dari desa Nawangsari. Atau kami harus berjamaah sholat Jumat di masjid
Dakwatul Muttaqin di Santri Rejo Kidul.
Ketika kecil dulu, aku lebih memilih masjid al Badri sebagai tempat berjamaah Jumat. Pilihan itu bukannya
tidak berdasar, karena rasionalitas nalarku sebagai anak kecil memiliki pertimbangan-pertimbangan khusus.
Pertama, masjid itu berada di wilayah desa Nawangsari yang menjadi tempat asal dari buyutku, kiai Tar.
Maka ketika aku ikut sholat di tempat itu, aku banyak dikenal oleh orang-orang di desa tersebut yang dengan
perkenalan tersebut, aku terkadang diberi uang oleh mereka atau diberi makanan setelah pulang sholat
jumat. Walaupun seringkali aku tidak mendapatkan dua jenis pemberian tersebut, hal ini menjadi
pertimbangan utama bagiku untuk memilih sholat di Nawangsari. Kedua, buyutku dimakamkan di sebuah
lokasi tepat sebelah barat masjid tersebut. Hanya tembok paimaman1 dan mimbar khotib yang memisahkan
ruang dalam masjid dan makam buyutku. Biasanya setelah sholat jumat, aku dan mbahku berziarah ke
makam beliau. Ketiga, jalan yang menghubungkan antara rumahku ke Nawangsari walaupun lebih jauh dari
rumah ke kampung Kidul, namun jalanan itu lebih sejuk karena dihiasi dengan pepohonan di ruas-ruas
jalannya. Keempat, aku biasa langsung dapat bermain dengan kawan-kawan kecilku ketika ikut jum’atan2 di
Nawangsari. Itu dikarenakan aku lebih memilih pulang dengan melewati jalan berbeda dari jalan yang
kulewati ketika berangkat. Aku lebih memilih menyusuri lorong atau pekarangan warga yang menuntunku
melintasi komplek makam kampungku sendiri. Di komplek pemakaman inilah aku biasa mencari buah asem
dan kecacil untuk santapanku ketika bermain. Pertimbangan terakhir inilah yang menjadi alasan utamaku
untuk lebih memilih jum’atan di Nawangsari.
Tidak tahu mengapa, siang itu aku berkeinginan untuk jumatan di Nawangsari. Aku ingin melihat bekasbekas
tapak kakiku dulu di jalanan sepanjang rumahku menuju masjid di Nawangsari, walaupun bekas tapak
kaki itu kemungkinan besar telah sirna dan tergantikan oleh plesteran jalan atau bangunan rumah-rumah
warga pendatang di kampungku.
”Saya nanti jum’atan di Nawangsari bu...”, ucapku pada ibu. Saat itu masih sekitar jam 9 pagi.
”Koq tumben, ada apa?”, tanya beliau.
“Tidak ada apa-apa bu”, jawabku.
“Ya sudah, hati-hati”, ibuku memperingatkanku. Kebiasaan lama yang sampai kini juga belum hilang dari
beliau, tiap kali aku pamit mau meninggalkan rumah. Jauh-dekatnya tempat tujuanku, atau lama-singkatnya
kepergianku meninggalkan rumah, kelihatannya bagi beliau itu tidak penting. Yang penting bagi beliau
adalah aku harus berhati-hati dimanapun aku berada, apalagi ketika diluar rumah.
Kira-kira butuh waktu ¼ jam untuk sampai ke masjid al Badri di Nawangsari dari rumahku dengan berjalan
kaki, maka kuputuskan untuk berangkat jum’atan lebih awal dari biasanya. Jam 11 siang, aku sudah
berpakaian lengkap seperti performance-ku ketika jum’atan. Baik saat menjadi khatib atau tidak, aku berusaha
untuk tampil konsisten. Songkok putih sudah menutupi sebagian kepala dan rambutku yang panjang sampai
ke bokongku, baju koko berwarna biru tua sudah menutupi badanku, dan sarung berwarna biru muda
dengan motif kotak-kotak sudah kupakai. Tidak lupa sorban berwarna putih polos telah melingkar di leherku
dengan satu ujungnya berada didepan dadaku, dan ujung satunya lagi terjuntai di punggunggku. Minyak
wangi ja’faron telah kuoleskan di kedua sisi dalam pergelangan tanganku dan kedua sisi bawah dari kedua
telingaku.
Di cermin dalam ruang kamarku, sekilas kupandangi tiap bagian tubuhku dari atas sampai kebawah. Aku
tersenyum sendiri. Penampilan yang tidak pernah kutunjukkan di kampusku. Dan mungkin jangan pernah
1 Tempat imam sholat berjamaah
2 Sholat jumat.
aku berpenampilan seperti itu di kampus. Cukuplah sahabat, dosen, dan karyawan akademik yang biasa
memperingatkanku karena memakai sandal ketika memasuki gedung fakultas, tidak pernah tahu bahwa aku
terbiasa berpenampilan seperti ini dirumahku. Cukuplah mereka tahu bahwa aku, adalah Qusyairi.
Mahasiswa yang berambut gondrong, kerap kali berkaos oblong dan bersandal japit ketika mengikuti
perkuliahan, dan bercelana jins dengan hiasan robekan di sekitar kedua lututnya.
Setelah berpamitan dengan ibuku, dengan berjalan kaki akupun berangkat ke Nawangsari untuk ikut
jum’atan. Aku berjalan ke arah selatan menyusuri jalan kampung yang dulunya sangat jarang terlihat rumah
dimasing-maisng sisi jalannya. Terik panas matahari siang itu, tidak seperti panas yang kurasakan dulu ketika
masih kecil. Mungkin karena pohon-pohon di masing-masing sisi jalan kampug tersebut telah tergantikan
dengan pagar-pagar rumah warga.
Selepas melewati jalan kampung tersebut, aku berbelok kekanan menuju arah barat menyusuri jalan setapak
di sisi utara sebuah kali kecil yang menghubungkan desaku dengan Nawangsari. Ada kekesalan diam-diam
yang muncul dalam hatiku ketika melihat kali kecil tersebut. Dulu ketika aku kecil, walau aku dilarang untk
bermain-main di tempat yang ada airnya, entah itu sungai, sawah, balong3, atau apapun juga, aku masih juga
sering berada di sekitar kali tersebut. Aku dan warga kampungku biasa menyebut kali itu dengan sebutan
”kali kidul”. Mungkin nama itu dinisbahkan pada posisinya yang terletak di bagian selatan dari kampung
kami. Walau hanya sekitar 10 m lebar dari kali itu, namun –dulu—airnya sangat jernih. Ikan-ikan cucut dan
gathul sangat banyak ditemui di sepanjang bibir sungai. Tidak ada sampah manusia dari bahan plastik yang
melintasi air kali kidul. Hanya mungkin sesekali –waktu itu—aku dapat menyaksikan ”mas kumambang4”
berenang dengan indahnya di air kali kidul, sebagai tanda bahwa yang empunya ”mas kumambang” masih
percaya akan kebersihan kali ini. Jika tidak menganggap air kali kidul bersih, dia tidak akan mau buang hajat
di kali tersebut. Bagaimana nanti dia akan bersihkan –maaf—alat pembuangannya?
Bahkan ketika Hari Raya Idul Adha, air kali ini sangat membantu panitia penyembelihan hewan kurban.
Biasanya, setelah penyembelihan hewan kurban, dilanjutkan dengan menguliti hewan yang telah disembelih
tersebut, lalu memotong-motongnya untuk dibagi-bagikan. Ada bagian khusus dari tubuh hewan ternak yang
tidak dapat langsung dibagi, yaitu bagian jeroan5. Bagian ini harus dibersihkan dulu untuk dapat diolah dan
dimakan. Biasanya bagian jeroan ini –kecuali hati, limpa, dan paru-paru—dibawa oleh beberapa orang ke kali
kidul untuk dibersihkan. Kotoran yang ada dalam jeroan tersebut tentu akan langsung hilang tersapu arus kali
dan menjadi bagian rizki Tuhan untuk ikan-ikan didalamnya. Aku juga sering memainkan usus dalam
momen-moment seperti ini. Setelah kusayat usus hewan kurban dengan pisau atau sembilu, dia lalu
kuceburkan ke kali, sedang aku duduk di tengah jembatan sambil memegang salah satu ujung usus tersebut.
Ikan-ikan yang tadinya diam dalam air kali, tidak beberapa lama kemudian bermunculan di masing-masing
sisi usus tersebut untuk mencaplok ”hidangan” yang menjadi rizki Tuhan bagi mereka saat itu. Jika suda
tidak ada lagi ikan yang mau mengitari usus tersebut, maka itulah tanda bahwa usus telah bersih. Akupun
menariknya sekaligus memurut6nya.
”Assalaamu ’alaikum.... waduuuh, koq tumben jum’atan ke Nawangsari”, ucapan salam sekaligus sapaan yang
keluar dari mulut seorang lelaki dengan senyum mengembang di bibirnya. Mang Salam aku biasa
menyebutnya. Dia memiliki seorang anak lelaki yang dulu adalah teman sepermainanku, Mad sebutannya.
Rumahnya dulu sekitar 50 meter sebelah varat rumahku, kini dia telah pindah dan menempati rumah di
samping kuburan kampungku.
”Wa ’alaikum salaaam... iya Mang, kepingin nostalgia nih”, jawabku sambil menyalami tangannya dengan
lebih membungkukkan badanku. Maklum, dia lebih tua dariku. Apalagi anaknya adalah temanku ketika kecil
dulu.
3 Istilah di tempat asalku untuk memberi nama pada selokan yang berfungsi sebagai irigasi sawah.
4 Istilah masa kecilku untuk menyebut kotoran manusia yang sengaja dibuang oleh empunya di sungai.
5 Istilah yang digunakan untuk menyebut bagian rongga dalam tubuh hewan. Bagian yang termasuk jeroan
adalah usus, lambung, limpa, hati, dan paru-paru.
6 Gerakan menjepit dengan menggunakan ibu jari dan telunjuk pada benda yang berair dengan tujuan untuk
menghilangkan air dibenda tersebut.
”Nostalgia masa kecil ya?”, dia menepuk punggungku dengan tangan kirinya dan mengiringi jalanku.
Rupanya dia juga akan jum’atan ke Nawangsari.
”Iya Mang”, jawabku singkat.
”Hhhhh... seandainya Mad masih ada...”, gumamnya lirih, tapi cukup terdengar jelas di telinga kiriku.
Mang Salam mungkin teringat dengan puteranya, Mad. Untuk sejurus, aku juga ingat pada anaknya itu,
terutama pada moment kematiannya. Mad meninggal karena kecelakaan dalam perjalanan pulang dari
Nganjuk. Dari hasil otopsi, dinyatakan bahwa organ dalamnya banyak yang hancur akibat kecelakaan
tersebut. Walau aku tidak ikut memandikan dan mengkafani jenazah Mad, tapi aku ikut menyolati dan
memakamkannya. Ada tiga orang –dan kebetulan aku lupa dua orang selain diriku-- yang masuk ke liang
lahat untuk menerima dan meletakkan jenazah Mad pada posisinya, termasuk salah satunya adalah aku. Aku
berdiri paling utara di liang lahat itu dan menghadap ke barat. Jenazah akan dimasukkan melalui pinggir
selatan. Jadi yang memasuki liang adalah bagian kepala jenazah terlebih dahulu, yang akan diterima oleh
orang yang berdiri paling selatan di liang lahat dan diteruskan pada orang ke tengah, dan kemudian padaku.
Jadi dalam pemakaman ini aku yang harus membuka kain pocong kepala Mad, dan memasukkan tanah agar
kedalam kain kafannya dan harus menyentuh pipi kanannya, karena posisi jenazah Mad akan dimiringkan
menghadap ke arah kiblat.
Suasana yang ”sangat lain” kurasakan ketika kali pertama memasuki liang lahatnya Mad, tapi tidak dapat
dijelaskan dengan kata-kata. Dan suasana itu kurasakan selalu memiliki perbedaan antara jenazah satu
dengan jenazah lainnya. Masing-masing jenazah, membawa ”aroma” yang berbeda pada liang lahatnya.
”Aroma” liang lahat. Ketika tangan kananku menyentuh pocong kepala jenazah Mad, dan tangan kiriku
menerima punggungnya, ”seeeeeer”, berdesir degup jantungku. Kurasakan dingin di lengan kiriku, dingin yang
tidak umum kudapati ketika menguburkan jenazah-jenazah lain. Kami bertiga yang ada di liang lahat itu lalu
dengan berusaha seirama mungkin, berjongkok dan meletakkan jenazahnya Mad di liang yang hanya selebar
1 meter, tinggi 1 ½ meter, dan panjang 2 meter itu. Pelayat yang lain melihat yang kami kerjakan bertiga dari
bibir liang lahat dan sesekali memberikan peringatan pada sesuatu yang dirasa kurang. ”Bismillahi wa ’alaa
millati rosuulillaah”, ucapku. Setelah jenazah pada posisinya, dan sisi timur jenazah telah kami sangga dengan
bongkahan-bongkahan tanah yang kami bulatkan, kami lalu membuka tali pocong di tubuh jenazah itu.
Akupun membuka tali pocong di bagian kepala Mad. Setelah itu aku mengambil segenggam tanah dan mulai
kumasukkan ke pipi bagian kanan dari jenazah Mad. Ternyata setelah kain kafan, terdapat bungkus plastik.
Plastik yang khusus digunakan pada jenazah yang mengalami proses kematian akibat tidak wajar, seperti
pembunuhan dan kecelakaan. Agak susah kutemukan lobang dari bungkus plastik itu. Tak terduga, tapak
tangan kananku yang masih menggenggam tanah terasa dingin oleh sesuatu, tapi aku tidak begitu peduli.
Sesaat kemudian, tanah yang kugenggam terasa kian liat, seperti terkena air. Aku lalu menarik tanganku
sebelum selesai menjalankan tugasnya. ”Seeeeeer”, berdesir jantungku lebih keras. Kulihat tanah itu telah
basah oleh cairan berwarna merah kekuning-kuningan. Aku berusaha memerangi perasaan hatiku. Kuambil
lagi segenggam tanah dan –walau untuk sekali lagi terkena rembesan cairan dari tubuhnya Mad--, tanah itu
berhasil kumasukkan pada tempatnya. Alhamdulillaaaah. Setelah itu, kedua orang tadi melihatku, seakan-akan
mereka kompak untuk memasrahkan adzan dan iqomat untuk jenazah padaku. Akupun lalu mulai adzan
dan menyambungnya dengan iqomat untuk jenazah. Parau suaraku saat itu.
”Waaah... melamun ya?”, Mang Salam kembali menepuk punggungku.
”Ah, tidak Mang”.
Kamipum berjalan beriringan menuju masjid yang kami maksudkan.
Selepas jum’atan, aku menyempatkan diri berziarah ke makam buyutku. Kubaca surat Yasin, tahlil7, baqiyat al
sholihat8, dan doa untuk beliau. Lalu aku pulang melalui lorong-lorong rumah warga desa Nawangsari, dan
melintasi komplek makam Gare, kampungku. Suasana telah banyak berubah.
7 Bacaan laa ilaaha illallaah.
8 Bacaan subhanallah, alhamdulillah, laa ilaaha ilallaah, allaahu akbar, laa haula walaa quwwata ilaa
billaahil ‘aliyyil adziim.
***
Sore harinya, aku berangkat ke kampusku karena ada acara diklat yang harus kuhadiri karena aku menjadi
salah satu trainer didalamnya. Aku menggunakan jasa angkutan umum untuk sampai ke kampusku.
Sepanjang perjalanan aku berpikir akan diriku sendiri.
Saat itu penampilanku sangat berbeda dengan ketika aku sekolah di SMP atau SMA. Saat kuliah, rambutku
kubiarkan panjang sampai bokongku. Maklumlah, selama 5 tahun aku menghabiskan studi S1-ku, selama itu
kuingat hanya 3 kali aku bercukur rambut. Pakaian kebesaran yang kukenakan ketika di kampus adalah kaos
oblong dan celana jins. Walaupun –kurasa-- aku masih menyandang kesopanan dalam perilakuku di kampus,
namun kesopanan itu sangat jauh ketika dibandingkan ketika aku dirumah. Aku lebih sopan ketika ada
dirumah dibanding jika aku dikampus. Buku-buku bacaanku di kampus, kebanyakan adalah buku yang
memberikan informasi pemikiran tokoh-tokoh seperti Talcott Parson, Karl Marx, Feurbach, Weber,
Durkheim, Dahrendorf, dan deretan nama lain yang menjadi tokoh-tokoh teori sosial. Atau juga mataku
akrab melihat tulisan tentang pemikiran Mark Horkhreimer, Theodore Adhorno, Jurgen Habermas, Karl
Manheim, dan Antonio Gramsci. Topik pembicaraan dengan kawan-kawan sekampus atau jaringan diluar
kampus juga sering berkaitan dengan filsafat, teori-teori sosial, pengkaderan, dan tentu dunia politik. Tema
yang selalu menarik dibicarakan. Berkawan di kampus, aku tidak hanya pada bersahabat akrab dengan yang
lelaki dan seagama, dengan lawan jenis dan yang tidak seagamapun aku juga akrab dengan mereka. Kondisi
yang sangat jauh berbeda dengan ketika aku berada di rumah.
Rambut panjang dan penampilan yang ”awut-awutan”, adalah salah satu hal yang menyebabkan abah dan
ibuku protes. Tapi entah kenapa, protes itu tidak begitu kudengarkan untuk kulaksanakan. Salah satu hal
utama yang mungkin masih ”membanggakan” beliau berdua adalah keikutsertaan dan partisipasiku dalam
kegiatan-kegiatan keagamaan. Saat remaja sebelum kuliah, aku telah sering ”manggung” untuk memberikan
ceramah di pengajian-pengajian umum maupun di jamiyah, saat jum’atan aku juga sering jadi khatib di
beberapa masjid, ketika bulan ramadlan aku juga memberikan kultum9 dan kuliah subuh di masjid. Satu
waktu, aku berjalan dikampungku dalam rangka menuju kampus dan melewati sekelompok ibu-ibu yang
sedang duduk-duduk. Tak terduga, telingaku mendengar suara, ”masak anak kuliahan koq bergaya seperti itu,
lebih pantas disebut budeng10, dibanding mahasiswa”. Kalimat yang menyentakkan telingaku. Mungkin suara
inilah yang menyebabkan kedua orang tuaku tidak sepakat dengan rambut panjang dan pakaian awut-awutan
yang kuperagakan ketika akan ke kampus. Aku berpikir, sepanjang aku masih dapat menjaga ”kebanggaan”
beliau berdua akan diriku, aku tidak perlu merasa risih dengan rambut panjangku. Pemikiran yang mungkin
arogan.
Dirumah, yang kubaca dan kuulas di hadapan warga kampung pada forum pengajian, jamaah jamiyah,
jamaah kuliah shubuh atau pengajian rutin adalah kitab-kitab kuning yang berisi tentang dogma normatif
tentang agamaku, Islam. Aku juga tidak begitu mengenal –atau bahkan dapat diklaim tidak mengenal—namanama
dari gadis-gadis di kampungku. Aku juga tidak terbiasa ngopi di warung kopi yang ada di kampungku.
Aku lebih banyak berdiam diri di rumah. Jika harus keluar rumah, paling-paling aku hanya keluar untuk
keperluan keagamaan dan sosial seperti pengajian rutin dan memberikan ceramah.
Dua kondisi yang sangat berbeda ini, menghantarkanku seperti halnya katak yang dapat hidup di dua alam.
Katak yang mampu bertahan di air, dan sekaligus dapat hidup diluar air. Katak yang memiliki dua sisi
kehidupan dengan corak dan habitat yang berbeda dalam kesehariannya. Dua habitat hidup yang
memerlukan kreatifitas peran untuk dapat memainkannya dengan maksimal. Meminjam istilah Erving
Goffman dalam dramaturginya, aku harus dapat menyembunyikan kehidupan rumahku yang menjadi back
stage ketika aku berada di kampus. Harus kusembunyikan siapa diriku sebenarnya yang untuk sementara
kukategorikan dalam ”latar belakang” dari hidupku ketika aku di kampus. Aku hanya menampilkan
performance seperti ”aktifis kiri” tulen yang terkadang terlihat ”tidak beragama” sebagai peran ”front stage”-ku
di kampus. Sebaliknya, aku harus mengubah ”front stage”-ku di kampus menjadi ”back stage” ketika aku mulai
9 Kuliah tujuh menit antara sholat tarawih dan witir pada bulan romadlon.
10 Salah satu jenis kera, yang dalam sisten ide di kampungku identik dengan baboon.
menjalani kehidupan di rumahku. Meskipun aku tidak tahu pasti alasan apa yang mendasariku melakukan
itu, namun dalam keteguhanku saat itu, aku merasa harus melakukannya. Keteguhan yang menjadikanku
seperti katak. Katak yang selalu lelah untuk berpindah habitat.
Tidak hanya itu, apa yang kubaca dan kupelajari di dua alam itu, kerap kali meminta ”ruang dialog” antara
satu dengan yang lainnya tanpa mengenal waktu. Akalku liar mencari pembenar terhadap doktrin teologisku,
ketika aku membaca sekelumit pesan Niezchte dalam menanggapi Tuhannya. ”Tuhan adalah bayangan diri
kita ketika sedang bercermin”, kata-kata Niezchte menggugah keteguhanku akan Yang Transendent dalam
marcapada ini. Aku tidak mungkin mengajak kedua orang tuaku untuk berdialog tentang hal ini. Lalu aku
harus kemana untuk dapat menceritakan apa yang telah terjadi pada tiap membran syaraf di otakku ini.
Dalam suasana begini, aku merasa kekurangan teman.
Malam itu, aku telpon rumah dan pamit tidak pulang. Aku juga minta ijin untuk dapat pulang keesokan
harinya.
***
Keesokan siangnya, aku baru datang dari kampus. Kujalani hidup seperti biasa. Sampai hari jumat
berikutnya.
”Kamu tidak ikut nyelawat11 Ri”, suara ibu membuyarkan lamunanku.
”Iya bu, siapa yang meninggal?”, tanyaku.
”Pak Mo”.
”Iya bu, kapan beliau meninggal?”, tanyaku lagi.
”Tadi pagi”, jawab ibu.
”Iya bu, nanti setelah ini saya nyelawat”, jawabku.
Tidak berselang lama, aku sudah berangkat ke rumah pak Mo untuk takziyah. Sebagaimana biasa, aku juga
ikut membantu empat kewajiban yang menjadi fardlu kifayah bagi seorang muslim atas jenazah saudaranya
yang muslim, yaitu memandikan, mengkafani, menyolati dan memakamkannya.
”Mas Qusyairi, saya minta njenengan nanti membantu memakamkan bapak saya ya”, pinta anak tertua dari
pak Mo.
”Oh, iya mas, iya, jangan kuatir. Insyaallah”, jawabku dengan berusaha sopan.
Tidak lama berselang, jenazah diberangkatkan menuju lokasi, pemakaman Gare. Para pengiring jenazah
melantunkan ”laa ilaaha illallaah... laa ilaaha illallaah... laa ilaaha illallaah... muhammadurrasuulullaah...”,
dengan irama yang berbeda ketika berdoa atau membaca wirid. Irama ini seperti sudah terlanjur identik
dikhususkan untuk mengantar jenazah ke persemayaman terakhirnya.
Penduso12, digotong oleh 4 orang secara bergantian. Dan kulihat terkadang mereka bergantian dengan pelayat
lain yang mengiringi laju jenazah tersebut. Ada teknik tersendiri untuk mengganti pemikul penduso ketika
sedang berjalan. Si pengganti harus berdiri di depan orang yang mau diganti. Si pengganti lalu berposisi
layaknya orang yang sedang memikul di depan orang yang mau diganti. Dengan satu kode yang mereka
sepakati berdua, orang yang tadi memikul lalu melepaskan bahunya dari penduso, tepat dengan saat bahu si
pengganti menerima beban dari penduso tersebut. Jika tidak pengalaman melakukan ini, biasanya si pengganti
dan orang yang diganti akan saling bersentuhan kaki dan agak goyah keseimbangan jalannya, dan hal itu
akan ”membahayakan” jenazah. Bila kondisi ketidakseimbangan tersebut tidak terkendalikan, maka jenazah
dapat jatuh dari penduso. Teknik yang tidak pernah kupelajari di sekolah maupun di kampus, tapi pada warga
kampungku.
Tidak lama kemudian, jenazah pak Mo sudah berada di samping timur liang lahatnya, maklumlah, liang lahat
dalam tradisi keagamaan kami dibuat membujur arah utara-selatan. Sesuai pesan anak tertua pak Mo, aku
lalu masuk ke liang lahat itu, dengan dia sendiri dan adik iparnya. Aku didorong untuk menempati sisi
paling utara dari liang itu. kami lalu menghadap ke barat dan bersiap menerima jenazah pak Mo. Ketika
11 Takziyah. Berkunjung pada salah seorang yang kesusahan.
12 Keranda jenazah.
kakiku mengintak lantai tanah dari liang lahat pak Mo, aku merasa akan mengalami ”sesuatu”, tapi aku tidak
tahu apakah itu. Untuk beberapa detik aku ingat bahwa hari itu adalah Jum’at Legi. Hari yang menurut
cerita, jika ada orang meninggal di hari itu, maka diri dan atribut jenazah yang dikenakan orang mati itu
seperti kain kafan, kapas, dan tali pocongnya dapat membantu untuk tujuan-tujuan negatif. ”Ah... itu hanya
mitos”, gumamku dalam hati berusaha menepis perasaanku.
”Ayo turunkan jenazahnya”, instruksi pak modin.
”Ayo-ayo, hati-hati. Ayo-ayo, hati-hati. Ayo-ayo, hati-hati”, suara-suara pelayat silih berganti bersahutan.
”Yang didalam siap belum?”, tanya pak modin.
”Iya siap”, jawab anak tertua pak Mo.
Jenazahpun mulai bergerak turun dari sisi selatan liang lahat. Anak tertua pak Mo menerima tali pocong
jenazah bapaknya dengan tangan kanan, sedang tangan kirinya menerima tubuh jenazah dari bawah, lalu
meneruskannya ke adik iparnya yang di tengah, dan meneruskannya kepadaku. Pelayat yang di atas liang
tiada henti memberikan peringattan.
”Awas, hati-hati. Awas, hati-hati. Awas, hati-hati lho, nanti jatuh!!!”, suara mereka silih berganti. Aku
terkadang kesal juga dengan suara mereka. ”Coba sini dong jika berani, jangan beri komentar saja!!!”,
gumamku dalam batin kadang-kadang.
Sejurus kemudian kami bertiga berjongkok, menghadap barat dan meletakkan jenazah pada posisinya.
Jadilah pandangan mata kami dipenuhi oleh pamandangan dinding tanah dan jenazah yang telah terbungkus
kain kafan berwarna putih.
Tidak terduga, aku melihat sebuah lubang di dasar paling bagian barat dari liang lahat itu. lubang sebesar
tangan orang dewasa.
”Lobang apa ini?”, tanyaku dalam hati.
”Jangan-jangan ada ular atau binatang berbisa lainnya di dalam lubang tersebut”, aku mulai berangan-angan.
”Aku harus tahu ada apa di dalamnya”, aku membuat keputusan tanpa memberitahu kedua rekanku.
Setelah jenazah pak Mo kami letakkan menghadap ke barat, kami pun mulai mengurai tali pocong di kain
kafan yang menyandang di jenazah tersebut. Akupun melaksanakan keputusanku tadi. Sembari melirik dua
rekanku, dengan harapan mereka tidak melihat apa yang kulakukan. Tanganku kujulurkan ke dalam lubang
tersebut. Kuraba sisi dalam lubang itu. ”Aku menyentuh sesuatu”, gumamku dalam hati ketika ujung jariku
menyentuh sesuatu. Lunak tapi terasa kasar. Seperti sehelai kain. Tidak tahu mengapa, aku berkeinginan
menariknya. Aku lalu memasukkan tanganku lebih dalam lagi dengan tujuan dapat meraihnya. Berhasil. Aku
lalu menariknya. ”Krek... krek... krek...” begitu kira-kira bunyinya. Kulihat secarik kain putih bersih dari
lubang itu seperti kain yang baru dibeli dari toko. Baunya wangi, wangi yang berbeda dengan minyak serimpi
yang biasa dipakaikan pada jenazah. Bahkan aku juga merasa aneh mencium bau wangi yang keluar dari kain
tersebut. Walau hanya sekitar selebar tapak tanganku, aku dapat melihat tidak ada noda yang melekat
diantara helai kain tersebut, kecuali noda dari tanganku yang telah berlepotan tanah, dan noda dari tanah
yang mungkin tak sengaja memberinya noda akibat tarikanku tadi. Aku berusaha menarik lebih keras lagi,
tapi tidak dapat mengeluarkan helai kain lebih luas lagi. ”Kain siapa ini?”, gumamku dalam hati.
”Sudah mas?”, pertanyaan anak tertua pak Mo mengagetkanku.
”Oh belum... belum...”, aku memang belum memasukkan tanah kedalam kain kafan agar tersentuh pipi
kanan dari jenazah. Aku lalu memasukkan kembali kain hasil tarikanku itu ke lubangnya seperti semula, lalu
akupun lalu meletakkan segenggam tanah di pipi kanan jenazah. Setelah tugas kami bertiga tuntas di liang
lahat itu, dan setelah aku mengumandangkan adzan dan iqomat, kami bertiga lalu keluar. Dari liang lahat.
Yang berusaha kupandang kali pertama setelah keluar dari liang itu adalah makam di sebelah barat dari
makam pak Mo. Kulihat di nisannya tertulis nama kiai To. ”Berarti ini makamnya kiai To”, gumamku.
Tapi hal itu tidak banyak mempengaruhi pikiranku daat itu. Sampai aku pulang dari takziyah, secarik kain
putih yang kutarik dari lubang di liang lahat tadi tidak mengganggu benakku.
***
Malam harinya, setelah sholat isya’ beberapa jamaah di surau depan rumahku mengajakku untuk kembali ke
makam pak Mo. Mereka mengajakku menjaga makam tersebut. Hal ini berkaitan dengan mitos yang
mengatakan bahwa jenazah yang meninggal pada hari Jum’at Legi akan dapat digunakan untuk masudmaksud
jahat seperti pesugihan dan pencurian. Walau menurutku hal ini adalah mitos yang tidak jelas dasar
kebenarannya, namun aku tetap mengiyakan saja penawaran mereka. ”Insyaallah nanti saya menyusul saja
agak-agak malam”, ucapku pada mereka. Mereka lalu berlalu meninggalkan surau setelah kami saling berucap
salam.
Dirumah, kulihat ibuku sedang mempersiapkan dirinya untuk menghadiri jam’iyah.
”Kiai To itu siapa bu?”, tanyaku.
”Kiai To ya kiai To Ri”, jawab beliau tanpa menoleh ke arahku.
”Ada apa?”, beliau ganti bertanya.
“Ndak ada apa-apa”, jawabku.
“Kamu masih ingat yang sering pukul kentongan langgar13, dan adzan di langgar waktu maghrib dulu?”, tanya
ibuku.
“Khan saya yang dulu sering pukul kentongan dan adzan di langgar bu?”, aku agak tidak terima dengan
pertanyaan beliau, karena aku memang merasa tidak ada yang lebih sering dariku untuk pukul kentongan
dan adzan di surau tersebut.
“Itu khan setelah kamu bisa dan berani adzan. Yang sebelum kamu?”, ibu membuat teka-teki.
“Siapa ya?”, aku bertanya-tanya sendiri sambil melepaskan bajuku dan ganti mengenakan kaos.
“Kamu ingat-ingat dulu”, perintah beliau.
”Mbah Kung?”, jawabku.
”Benar, tapi masih salah”, jawab ibu sambil tersenyum.
”Abah?”.
”Benar, tapi masih salah”.
”Ada apa sih cak?”, tanya adikku yang tiba-tiba berdiri dibelakangku dan seperti berusaha menguncir rambut
panjangku.
”Ndaaak, ndak ada apa-apa”, jawabku sambil memberikan pita berkaret didalamnya yang biasa kugunakan di
kampus.
”Jangan tanya adikmu, dia malah tidak tahu, karena belum lahir”, ibuku menyela.
”Saya ndak tanya dia koq bu”, aku mengernyitkan dahiku.
”Waaah, ini ngomong pacar yaaa?”, adikku menggodaku.
”Hus, kamu ini ngomong apa. Cacak14 khan tidak begitu suka pacaran”, sahutku sambil menggelengkan
kepalaku agar pekerjaan adikku yang menguncir rambutku mengalami masalah.
”Yeee... ge er, siapa yang bilang tentang pacar sampeyan. Pacarku koq”, adikku kembali menggoda.
”Kamu ndak boleh pacaran, masih kecil. Aku saja belum pacaran”, aku mulai balik menggoda.
”Ibu saja ndak melarang, ngapain cacak melarangku, ya khan bu?”, dia berkilah sambil memandang ibu. Tapi
ibu kami diam saja, cuma tersenyum.
”Tuh, kamu tahu khan. Tidak boleh tuh”, aku meneruskan godaanku.
”Al suquuth yadullu ala al ijaabah15”, ucap adikku. Pintar juga anak ini, bisa menukil salah satu kaidah dalam
ilmu ushul fiqh yang dipelajarinya di sekolah.
”Ini kasusnya lain”, jawabku.
”Sudah-sudah...”, ibuku menyela dialog kami.
”Ingat-ingat dulu Ri, nanti jika sudah ingat, kamu jawab lagi pertanyaan ibu. Sekarang ibu mau jamiyah dulu.
Assalaamu ’alaikum...”, beliau lalu keluar dari rumah kami.
”Iya bu, wa ’alaikum salaaam...”, jawab kami serentak. Lalu kami melanjutkan gurauan.
13 Istilah lain untuk musholla atau surau.
14 Kakak, Jawa Timur-an.
15 Al suquuth yadullu ala al ijaabah, salah satu kaidah Ushul Fiqh yang berarti diam menunjukkan jawaban
boleh.
Sampai sekitar sejam aku memikirkan pertanyaan ibu. Beliau belum pulang juga, padahal waktu
menunjukkan pukul 9 malam. Kusulut sebatang rokok dan aku keluar rumah lalu duduk di beranda sambil
kembali mengingat-ingat orang yang dipertanyakan ibuku.
”Ting!!!”. Ingatanku kemudian menemukan sesosok lelaki tua. Tubuhnya tidak begitu tinggi, badannya
kurus, dan kulitnya hitam. Lelaki tua tersebut berkepala plonthos16. Ada rambutnya, tapi kelihatannya sengaja
dicukur plonthos. Tepi sarung bagian bawahnya selalu ditinggikan. Biasanya tepi bagian bawah sarung diatur
sejajar dengan mata kaki atu beberapa senti diatasnya. Tapi tepi bawah sarung lelaki tua tersebut selalu berada
pada posisi tinggi, mungkin hanya 10 cm dibawah lututnya. Walaupun sudah bersarung, dia juga
mengenakan klomprang17 berwarna putih atau hitam didalamnya. Ujung bawah klomprang itu juga kurang
beberapa senti dari lutunya. Giginya telah ompong, dan tidak begitu banyak bicara. Personifikasi dari kiai To.
Yang paling kuingat dari sosok beliau adalah ketika adzan. Tiap lafadz adzan yang berbunyi ”hayya ala al
falaaah”, selalu disuarakan lain oleh sosok tersebut. Beliau menyuarakan lafadz itu dengan ”hayya ala al
palaaah”. Huruf konsonan “fa” dalam term “falaah”, selalu diganti dengan konsonan “p”. Maka term “falaah”
menjadi “palaah”. Aku dan kawan-kawan masa kecilku dulu sering kali tertawa cekikikan ketika beliau
mengumandangkan adzan khasnya. Selain itu, ketika duduk tahiyat akhir dalam sholat, posisi duduk beliau
selalu sangat condong ke kiri. Pada tahiyat akhir, posisi duduk memang tidak seperti sebelumnya. Pantat
bersentuhan langsung dengan lantai, dengan kedua betis kaki ditarik ke belakang. Jari-jari kaki kanan ditekuk
ke lantai, sedang tungkai kaki kiri disilangkan dan memasuki lubang tekukan kaki kanan. Bagi orang yang
tidak biasa, duduk semacam ini menyebabkan posisi mereka akan condong ke arah kiri dari tubuhnya
dengan kemiringan yang bervariasi, sesuai tingkat kelemasan tubuhnya.
Dari caranya adzan dan sholat, dapat diketahui bahwa kiai To bukanlah seorang santri. Beliau pasti memiliki
ilmu yang sangat terbatas dalam hal agama, bacaan makhroj-nya saja tidak tepat. Cara sholatnya saja juga lucu.
Dalam hal ilmu, beliau mungkin tidak ada apa-apanya, memang sebelum aku mulai “bertugas” sebagai
penabuh kentongan dan muadzin di surau depan rumahku, beliaulah yang kerap kali memukul kentongan
itu dan adzan di surau.
“Tapi sebentar dulu”, aku berguman pada diriku sendiri.
“Ada apa Ri?”, tanyaku pada diriku sendiri.
“Jika kuburan itu adalah kuburannya kiai To, berarti…”. Aku berusaha menarik sesuatu dalam logikaku.
“Berarti kain itu kemungkinan milik beliau”, aku meneruskan gumamku.
”Kapan ya beliau meninggal?”, aku bertanya-tanya sendiri. Batang rokong di tanganku, kuhisap dalam-dalam,
lalu kumainkan asap hasil hisapan tadi. Aku kembali berpikir sejenak.
”Assalaamu ’alaikum...”, ucapan salam ibuku yang tiba-tiba datang membuyarkan konsentrasiku.
”Wa ’alaikum salaaam...”, jawabku sambil berdiri dan mencium tangan beliau.
Aku lalu menerima sebungkus kotak berwarna putih dari tangan kanan beliau.
”Nih makan, ada kue di dalamnya”, ujar ibu sambil memasuki rumah.
”Bagaimana, sudah ketemu jawabannya”, beliau menoleh lagi sambil bertanya.
”Sudah bu”.
”Siapa?”, tanya beliau.
”Kiai To, orang tua yang sarungnya tinggi, kulitnya hitam.....”.
”Betul”, sahut ibuku menyela jawabanku seakan sudah tahu bahwa jawabanku benar.
”Ibu kedalam dulu”.
”Krieeeeeek...”, bunyi derek pada pintu rumah kami tiap dibuka dan ditutup.
”Eh.. bu, kapan kiai To meninggal”, aku mengikuti ibu masuk kedalam rumah sambil meletakkan kotak kue
pemberian beliau di beranda.
”Ya sudah lama Ri”, jawabya.
“Kira-kira kapan bu?”, aku terus bertanya.
“Yaaa, kira-kira 1 atau 2 tahu setelah buyutmu meninggal”, jawab beliau.
16 Seperti gundul, tapi masih ada rambutnya.
17 Celana longgar seperti yang dipakai dalam olah raga pencak silat.
Aku lalu berkata-kata dalam hati sambil menerawang.
“Jika kiai To meninggal 2 tahun setelah buyutku, maka mungkin dia meninggal sekitar tahun 1987 atau
1988. Sampai sekarang berarti sudah lebih 13 tahun beliau meninggal. Maa sya’allaah…”, gumamku dalam
hati.
“Ada apa cak, masalah pacar lagi ya?”, adikku kembali menggodaku sambil keluar rumah dan membuka kotak
kue yang tadi kuletakkan di beranda.
Dalam waktu yang singkat itu imajinasiku berusaha menguhubungkan pengalamanku tadi siang ketika
memakamkan pak Mo, dan kesadaranku akan kiai To saat itu.
Jika benar makam di sebelah barat makamnya pak Mo adalah makam dari kiai To, maka kemungkinan besar
kain yang kutarik tadi adalah kain kafan dari kiai To. Jika beliau sudah meninggal pada tahun 1987 atau
1988, maka kini sudah lebih 13 tahun kain kafan tersebut tertimbun dalam liang kuburan tersebut bersama
jasad beliau. Jika tubuhnya sudah hancur, aku mungkin akan mudah menarik helai kain tersebut, tapi
mengapa aku kesulitan menariknya? Adakah sesuatu didalam tanah yang menghalangiku. Apakah mungkin
selain jasad beliau, ada sesuatu lain yang menghalangiku? Mengapa pula kain tersebut masih terlihat putih
bersih seperti kain yang masih baru dibeli dari toko? Mengapa pula kain tersebut berbau harum, bau harum
yang sangat berbeda dengan wewangian yang kuketahui selama ini? Mungkinkah jasadnya masih utuh?
Mungkinkah beliau termasuk dalam golongan yang disebutkan dalam al Quran dengan sebutan “nafs al
muthma’innah”18 yang mendapatkan kedamaian dalam perjalanannya menuju Sang Khalik”? Betapa mulia
engkai kiai To dalam kesederhanaanmu.
“Ya Allah ya Tuhanku… jika seandainya logikaku ini benar, jadikanlah aku berada dalam golongan-golongan
beliau. Namun jika seandainya salah, berilah aku kekuatan untuk mengetahui dan mengikuti kebenaran
jalanMu…”, hatiku berdoa.
***
18 Jiwa-jiwa yang tenang.

Bagian 9
Cahaya
Ramadan adalah bulan penuh berkah bagi siapapun yang gembira atas kedatangannya. Ramadan juga
membawa rahmat pada tiap hamba yang mampu menskenario dirinya untuk selalu madep-manteb dan
beribadah kepadaNya. Ramadan juga menjadi media pembebas dari segala bentuk belenggu penistaan
kemanusiaan ketika seorang hamba berani mencambuk dirinya sendiri dari nafsu kebinatangannya secara
istiqomah.
Tidak terasa, malam ini telah menginjak malam 21 pada bulan Ramadan. Setelah berbuka puasa dirumah
dengan abah. Ibu dan kedua adikku, aku keluar rumah dan menghisap rokokku. Rasa pedas akibat sambal
kangkung masih menari-nari di ruang mulutku. “Setelah makan tanpa rokok, ibarat habis dipukuli orang tapi
tidak membalas”, adalah ibarat yang biasa beredar di tengah pergaulanku dengan sesama perokok. Hanya
sarung dan kaos gulon yang tersandang di tubuhku. Hawa sejuk meresap melalui lubang kapiler di kaos
gulonku ketika angin sepoi-sepoi meresap melewatinya. Kuhisap sebatang rokok yang kujepit antara telunjuk
dan jari tengahku dalam-dalam. “Shhhhhhhhh...”, terasa lengkap kenikmatan yang dikaruniakan Allah
padaku. “Alhamdulillah robbiy, terima kasih atah semua karuniaMu padaku wahai Pemeliharaku”.
Kulihat beberapa anak-anak usia taman kanak-kanak berlarian sambil memegang kembang api ditangan
mereka masing-masing. Saling tertawa ketika kembang api itu terlihat indah dalam cermin kornea mata
meraka. Saling kecewa tapi gembira ketika kembang api sudah mulai redup karena amunisinya telah habil.
Daun-daun bambu yang ada di sekeliling rumahku melambai-lambaikan ujung daunnya mengikuti irama
angin bak irama musik Kitaro yang menyayat jiwa. Langit terlihat cerah dengan sejuta bintang yang terlihat
saling berlomba menunjukkan eksistensinya. Rambut panjangku sengaja kubiarkan terurai agar pori-pori
kulit kepalaku semakin minim ditumbuhi ketombe.
“Cak Qusyairiiiii.... cak Qusyairiiiii.... cak Qusyairiiiii....”, suara mereka ketika melihatku berdiri
memperhatikan mereka. Aku melambaikan tanganku. “Dhaleeeeem....”1, jawabku dalam bahasa Jawa kromo
inggil. Ada keceriaan di wajah-wajah mereka. Keceriaan yang mungkin mereka sendiri tidak perlu tahu akan
maknanya. Keceriaan yang tidak memiliki pertautan benang merah antara kegembiraan dan momentum
malam 21 dari bulan Ramadan ini. Keceriaan yang mungkin hanya sebatas imajinasi atau harapan bahwa
setelah ini mereka akan menyandang baju-baju baru yang dibelikan orang tua mereka. Keceriaan yang hanya
cukup menjadi simbol bagi pemberian angpau dari orang-orang tua saat mereka berkunjung nantinya pada
Hari Raya Idul Fitri. keceriaan akan peluang untuk ketemu sanak saudara dan handai taulan yang selama
setahun sebelumnya mungkin tidak pernah berjumpa. Keceriaan yang bermuara pada gula-gula, permen atau
berbagai kue hidangan yang tersedia pada meja tamu di masing-masing rumah. Keceriaan yang berakhir
dengan datangnya batuk, pilek atau radang tenggorokan akibat terlalu banyak mengkonsumsi makanan
kaleng ketimbang mengkonsumsi nasi pada saat hari raya. Keceriaan yang datang karena merasa terbebas
dalam waktu yang agak lama dari penatnya kehidupan mereka di sekolah yang terkadang membosankan dan
tidak memberikan jaminan akan masa depan mereka. Keceriaan yang dulu juga pernah mengunjungiku tiap
setahun sekali. Keceriaan dengan wajah senyuman tulusnya, dan suara tawa yang renyah.
“Kamu nanti tarawih dimana Ri?”, tanya abahku yang telah berdiri dibelakangku.
Aku cepat-cepat mengatur posisiku agar tidak membelakangi beliau. Aku tidak langsung menjawabnya,
namun aku mulai mengambil posisi di samping beliau dan bersiap-siap duduk di amben2 dari bambu yang
pilar-pilarnya terlihat kecoklatan karena terlalu sering bergesekan dengan pakaian orang yang mendudukinya.
Sejurus kemudian kulihat beliau duduk di amben tersebut.
“Di masjid bah”, jawabku.
“Ada jadwal disana malam ini Ri?”, tanya abahku kembali.
“Insyaallah bah”.
“Sampai jam berapa kira-kira nanti tarawih disana?”.
1 Berarti iya.
2 Tempat duduk yang terbuat dari pilar-pilar bambu.
“Insyaallah mungkin antara jam 8 atau setengah sembilan malam bah”, jawabku.
“Ada apa bah?”, aku balik bertanya.
“Ndak ada apa-apa”, beliau menjawab sambil kembali masuk ke ruangan tamu dan cengkerama dengan ibu
dan kedua adikku.
Akupun kembali menikmati suasana malam itu dengan segenap kesehatan yang kumiliki, walaupun aku
masih bertanya-tanya, mengapa abahku menanyakan jadwal tarawihku malam ini. Tapi itu tidak berlangsung
lama karena kudengar suara tarkhim3 yang berkumandang dari loud speaker beberapa masjid dan surau di
desaku. Aku bergegas mempercepat hisapan rokokku dan berjalan menuju kamar mandi di belakang
rumahku untuk berwudlu. Kulihat abah, ibu dan adikku yang bungsu bersiap-siap melakukan yang sama
dengan apa yang akan kulakukan. Sedangkan adikku yang satunya terlihat masih asyik dengan tontonannya
TV. Mungkin dia udzur4 tidak terkena kewajiban sholat.
Setelah berwudlu, kukenakan pakaian yang tadi juga kupakai sholat maghrib. Kuikat rambut panjangku tepat
di atas tengkukku setelah kusisir rapi. Kukenakan kopyah putih dan kuselempangkan sehelai sorban
berwarna merah-putih dengan motif kotaj-kotak di bahuku. Tidak lupa minyak wangi jenis ‘Ud sengaja
kupilih sebagai pewangi badanku saat itu. Akupun pamit ke seluruh keluargaku.
“Saya berangkat tarawih dulu”, suaraku tertuju pada semuanya.
“Iya Ri”, jawab ibu yang kebetulan mendengar suaraku.
“Assalaamu ‘alaikum”, aku mengucapkan salam.
“Wa ‘alaikum salam”, ibuku menyahut salamku.
Akupun membuka pintu, melepaskan sandalku dan berganti memakai “bakiak bajul”5 yang menjadi
terompah favoritku ketika berangkat ke masjid atau surau. Belum sempat kuinjakkan kakiku ke tanah di
halaman rumahku, kulihat seseorang bersepeda di samping surau depan rumahku. Dia bersarung, berkopyah
dan jari-jari di tangan kirinya terlihat menjepit sebatang rokok. “Reng reng reng reng reng reng...”, begitulah
kira-kira bunyi sepeda yang dikendarainya. Setelah kuamati dengan seksama, tahulah aku siapa pengendara
sepeda motor tersebut. Gus Udin, putera guruku. Kelihatannya dia sedang dalam ketergesaan.
“Assalaamu ‘alaikum cak Qusyairi...”, dia mengucapkan salam padaku.
“Wa ‘alaikum salam”, akupun menjawab salamnya seraya menyambutnya dengan jabat tangan.
“Waaah, dari mana ini gus, koq seperti terburu-buru”, tanyaku.
“Dari pondok cak”, jawabnya.
“Sudah buka puasa belum?”, tanyaku kembali.
“Sudah cak Ri, sudah”, dia menjawab.
“Serius ini gus, ayo buka puasa dulu, sambel kangkung tuh lauknya”, aku menawarinya kali ini.
“Sudah cak Ri, sudah, sungguh sudah cak”, dia berusaha meyakinkanku jika telah berbuka puasa.
Akupun membimbingnya memasuki berabda rumahku.
“Ada ada ini gus, kelihatannya ada yang serius?”, tanyaku.
“Sampeyan tarawih dimana cak?”, dia balik bertanya.
“Rencananya di masjid, kenapa gus?”, aku juga balik bertanya.
“Wah, ya nanti aja kalau begitu setelah tarawih”, dia sedikit kecewa.
“Memangnya ada apa?”, aku menjadi penasaran.
“Ndak, ndak ada apa-apa cak”, dia kelihatan menutupi sesuatu.
“Sejak kapan saya tidak dipercaya gus?”, aku menyindirnya dengan sedikit tersenyum.
“Ndak, ndak cak. Saya ini rencananya mau ngajak sampeyan ke pondok sekarang”, dia mulai membuka
maksud hatinya.
“Memangnya ada apa gus?”, tanyaku.
“Tidak ada apa-apa, ya mau tarawih di pondok”, jawabnya.
3 Bacaan yang dikumandangkan sebelum datangnya adzan. Berisi kumpulan ayat-ayat al Quran.
4 Dalam konteks ini menstruasi, karena tiap perempuan yang berhaid, tidak terkena kewajiban sholat dan
puasa.
5 Sandal terbuat dari kayu yang alasnya dibentuk sedemikian rupa seperti punggung buaya.
“Terus, ustadz dan santri lain khan juga ada gus?”, tanyaku kembali.
“Iya cak, tapi......”, jawabnya seperti terpotong oleh sesuatu.
“Tapi apa gus?”, aku sedikit mengejar.
“Ndak-lah cak, nanti aja setelah tarawih”, ada yang disembunyikannya.
“Begini saja gus, saya tarawih di masjid saja sekarang, jika sampeyan mau, sampeyan bisa tarawih disana
dengan saya. Setelah itu kita ke pondok bersama-sama”, aku menawarkan solusi.
Dia sedikit berpikir untuk sesaat.
“Saya tarawih di pondok saja cak”, jawabnya atas penawaranku.
“Begini saja, saya nanti setelah tarawih, langsung ke pondok untuk temui sampeyan. Saya khan sudah
dijadwalkan saat ini tarawih di masjid. Nanti tidak enak dengan jamaah”, aku menunjukkan sikapku.
“Iya cak, saya tunggu ya”, dia membuat afirmasi.
“Insyaallah”, aku mengangguk.
“Ya cak, saya pamit dulu, assalaamu ‘alaikum”, dia lalu berbalik dan bergegas menuju motornya.
“Alaikum salam”, jawabku sambil berusaha mengikutinya.
Sejurus kemudian sosok tubuhnya telah melaju diatas motor menyusuri jalan kampungku. Akupun berlalu
dari tempat itu dan berjalan menuju masjid. Terdengar suara muadzin mengumandangkan adzan sebagai
tanda waktu sholat isya’ telah tiba. Kupercepat langkahku. Dalam perjalanan itu, aku terpikri tentang apa
yang akan didialogkan gus Udin padaku. Apakah ada sesuatu yang “luar biasa” pada dirinya, atau mungkin
pada pondoknya?
Pikiranku yang berusaha mencari probabilitas tema yang belum sempat dibicarakan gus Udin terhenti ketika
kakiku telah berhasil melaksanakan tugasnya untuk menuntunku ke masjid.
***
Sholat isya’, tarawih dan witir telah usai. Para jamaah saling bersalam-salaman sebagai pelengkap silaturrahim
yang mereka lakukan guna melebur dosa-dosa horisontal yang kerap kali muncul dalam pergaulan sehari-hari,
setelah berdialog dengan Tuhan guna melebur dosa-dosa vertikal yang mereka lakukan. Beberapa remaja dan
orang tua terlihat mengambil lekhan6, dampar7 dan beberapa al Qur’an lalu meletakkannya dalam formasi
melingkar, sedang mereka duduk di sisi luar dari masing-masing benda tersebut. Mereka bersiap-siap untuk
darusan8. Setelah saling berkonfirmasi atas posisi ayat, surat dan juz yang telah dibaca pada malam
sebelumnya, mereka lalu mulai membaca ayat selanjutnya secara bergantian. Salah satu diantara mereka
memulai bacaan al Qur’an, sedangkan yang lain menyimaknya. Jika ada yang salah sari bacaan tersebut, maka
yang menyimak akan membetulkannya dengan menyuarakan bacaan yang benar pada yang sedang membaca.
Biasanya orang-orang tua terlebih dahulu mendapat gilirannya, sedang yang lebih muda mendapat giliran
belakangan.
Pada saat aku kecil dulu, keberanian mengikuti darusan adalah hal yang luar biasa. Moment itu merupakan
standar evaluasi kolektif akan kemampuan seseorang membaca al Qur’an. Tidak hanya itu, moment itu juga
berfungsi sebagai ujian tanpa menghasilkan nilai yang dituangkan secara hitam-putih diatas lembar evaluasi
belajar, namun lebih menghasilkan image sosial akan kemampuan seseorang dalam membaca al Qur’an.
Nilai yang tidak dapat dilihat, tapi mampu memberikan bahan kesimpulan dan dasar penilaian atas
kemampuan seseorang dalam membaca al Qur’an. Terkadang ada salah seorang diantara kawan-kawanku
dulu yang memiliki kemampuan membaca al Qur’an sangat bagus, namun hanya berakhir pada mulut, mata
dan telinganya sendiri. Ketika mereka mencoba memperdengarkan bacaan tersebut dalam forum publik
seperti darusan, kerap kali terjadi kesalahan fatal dalam bacaan yang mereka suarakan.
6 Alas yang digunakan untuk tempat meletakkan al Quran ketika mengaji. Biasanya lekhan dibuat dalam
bentuk lipat.
7 Meja kecil yang berfungsi sama dengan lekhan, namun tidak dengan style lipat.
8 Pembacaan ayat-ayat al Qur’an yang dilakukan di masjid atau surau pada malam-malam bulan Ramadan.
Walaupun ada perbedaan kondisi yang sangat jauh ketika membandingkan kondisi kini dengan zaman masa
kecilku dulu, --namun secara subyektif—aku berpendapat bahwa darusan sekarang tidak begitu diminati oleh
generasi muda kini. Darusan dianggap sebagai hal yang kuno dan tidak lebih bermanfaat dari tayangan
program televisi yang pada malam-malam ramadan seperti itu juga menyiarkan program-program acara
religius. Dalam kacamata pribadiku, proposisi sikap ini tentu salah besar.
Bagiku, tidak penting apakah darusan itu menjadi barang bid’ah9 ataupun non-bid’ah yang kerap kali
membawa perselisihan horisontal di tengah-tengah kehidupan sosial antar sesama muslim. Bagiku, darusan
adalah sebuah terobosan pembelajaran yang cerdas dan strategis bagi kualitas keagamaan seorang muslim.
Remaja atau anak-anak kecil diajak menghormati dan mengisi malam-malam mustajabah10 bulan ramadan
dengan menghiasi mulut, mata, telinga, hati dan kesopanan perilaku mereka dari al Qur’an. Skill
kemampuan baca mereka terhadap al Qur’an semakin terasah dengan darusan. Mereka dibiasakan untuk
dekat dengan rumah Tuhan dan beri’tikaf11 didalamnya. Mereka diajari cara menghargai orang lain ketika
bacaan salah yang mereka suarakan dibenarkan oleh orang yang menyimaknya. Mereka diajari berani untuk
menghadapi tekanan sosial yang sedang memperhatikan bacaan mereka. Apakah perilaku bid’ah dengan
sekian banyak sisi positif seperti ini masih diperdebatkan lagi?
Moment itu, aku bersua dan bercengkeraman dengan beberapa jamaah tentang persoalan masjid, surau,
jamiyah dan hal-hal lain yang berkaitan dengan hubungan sosial kami di kampung. Walau sebentar,
kuusahakan untuk saling menyapa dan bertanya dengan mereka tentang diri dan keluarga kami masingmaisng.
Maklum, pada masa-masa itu, aku jarang terlihat di rumah karena kesibukanku di organisasi kampus.
Kesibukan yang yang berbeda dengan aktifitasku sehari-hari ketika di rumah.
Sejurus kemudian, sejumlah anak-anak usia sekolah dasar berhamburan ke arahku ditangan mereka masingmasing,
terlihat buku dan bolpoint.
“Heiii... ayo kita minta tanda tangan, itu lhooo... yang gondrong orangnya!!!”, ujar salah satu dari mereka
sambil melihat ke arahku.
“Ayo ayo ayo....”, anak yang lain membenarkan sekaligus sebagian lainnya.
“Hei!!! Kamu tidak minta tanda tangan tho, nanti kena hukum lho di sekolahan!”, salah satu anak menakutnakuti
salah seorang kawannya yang terlihat takut melihatku.
Mungkin aku dikira orang yang luar biasa bejadnya dengan rambut panjang yang kumiliki. Aku hanya
tersenyum melihat mereka sambil mulai duduk bersila di serambi masjid, karena dari tadi selepas sholat
berjamaah, aku hanya berdiri saja. Anak yang ragu dan takut tersebut berjalan pelan-pelan ke arahku sambil
matanya terus menatap ke arahku. Kasihan anak ini.
“Ayo mas, ayo mbak kalian kesini. Taruh bukunya secara berurutan, nanti saya tanda tangani”, ucapku
dengan menggunakan bahasa Jawa halus. Aku berusaha sebersahabat mungkin dalam bersikap.
Mereka melakukan apa yang kuminta. Namun itu tidak cukup membuyarkan ketakutan anak yang tidak
berani tadi. Dia menitipkan bukunya pada salah seorang temannya untuk di letakkan di depanku. Sejurus
kemudian, anak-anak kecil itu telah duduk berkerumun di hadapanku.
Di buku yang mereka bawa, ada kolom-kolom yang berisi hari, tanggal, masjid, imam tarawih, penceramah,
dan tanda tangan bagi penceramah. Dibagian bawah ada space tanda tangan dari guru wali mereka. Rupanya
buku tersebut adalah semacam buku laporan kegiatan harian mereka selama bulan ramadan ini. Aku mulai
melaksanakan “tugasku” yang mereka minta sambil mencoba berdialog dengan mereka.
“Muhammad Sya’roni, siapa yang punya buku ini?”, tanyaku.
“Saya ustadz”, jawab salah seorang anak lelaki dengan mengacungkan tangannya. Kelihatannya anak ini
pemberani.
“Waaah, jangan panggil ustadz ya diiik, panggil cacak sajaaa ya”, ujarku dengan senyuman terbaikku
kepadanya. Tapi dia diam saja dengan senyam-senyum.
9 Perilaku hidup yang dalam kalangan Islam Puritan dianggap tidak pernah dilakukan oleh nabi Muhammad
SAW ketika beliau hidup.
10 Penuh jawaban dan perhatian dari Tuhan.
11 Berdiam didalam masjid untuk beribadah.
Aku kembali bertanya, “sekolah dimana dik?”.
“Di SDN ustadz... eh cak”, jawabnya dengan agak canggung.
“Bagus. Sudah sampai mana belajar ngajinya?”, tanyaku kembali.
“Masih Iqro’ buku 2 cak”.
“Adik kelas berapa sekarang?”, aku mulai menandatangani bukunya.
“Kelas 3 cak”, jawabannya terlihat mantab dan bangga, tidak seperti jawaban sebelumnya.
“Sudah tahu bacaan ketika sahur12 nanti malam dik. Atau bacaan niat berpuasa?”, aku mencoba tahu
kebiasaannya.
Dia tidak menjawab pertanyaanku, hanya melirik ke kanan-kiri pada kawan-kawannya.
“Hayooo, kamu dimarahi nanti lho...”, provokasi teman disampingnya. Aku ganti menatap ke arah pembisik
tersebut untuk beberapa saat dan kembali menatap anak lelaki yang kutanya.
“Belum cak”, jawabnya memberanikan diri.
“Bagus, berarti kamu jujur”, ucapku sambil menyerahkan buku miliknya, dia bersiap meninggalkan tempat
dimana kami berada.
Ketika tangannya memegang buku tersebut, aku tidak langsung melepaskannya.
“Sebentaaar, tunggu dulu ya, tunggu yang lainnya. Jangan pulang dulu”, aku memberikan instruksi.
Anak tersebut lalu kembali duduk di tempatnya. Aku lalu meneruskan tugasku yang diberikan anak-anak
tersebut. Setelah semua buku telah kutanda tangani, aku meminta mereka mengambil bukunya maisngmasing.
“Mana punyaku, mana punyaku, lhaaa ini khan milikku, ini lho milikmu”, ujar mereka saling bersahutan.
Aku mulai berkata-kata sambil mengeluarkan uang 5000 rupiah dari saku bajuku.
“Adik-adik, siapa yang kepingin beli jajan?”.
“Sayaaaaaaaa!!!”, suara mereka serentak menjawab sambil mengacungkan tangan dan melirik uang di tangan
kananku.
“Siapa yang paling tinggi kelasnya disini?”, tanyaku kembali.
“Saya caaak?”, salah seorang anak perempuan mengacungkan tangannya.
“Saya punya uang 5000, ini kamu bawa dan ajak yang lain beli jajan ya... Besok puasa dan ikut tarawih lagi
ya”, aku menyodorkan uang tersebut kepadanya.
“Beres caaak”, suara mereka serentak dan agak mengganggu kelompok darusan di sebelah kami.
“Ssssttt....”, aku berdesis dengan meletakkan telunjukku didepan mulutku. Mereka lalu berdiam.
“Sudah, beli jajan sana”, aku bersiap berdiri. Satu persatu dari mereka bersalaman dan mencium tanganku.
“Assalaamu alaikum cak... assalaamu alaikum cak... assalaamu alaikum cak”, suara salam mereka bergantian.
“Alaikum salaaam”, jawabku sambil sesekali mengusap kepala dan pipi mereka.
“Horeeee!!!”, mereka berhamburan meninggalkanku. Kulihat anak perempuan yang kuberi uang tadi,
didekati oleh anak-anak lain. Mungkin untuk memberikan pertimbangan dimana mereka akan membeli
makanan kecil. Sedang aku teringat masa-masa kecilku dulu ketika sering diberi uang 100 rupiah oleh
buyutku.
Saat itu, untuk sejenak, aku ingat akan masa-masa di kampus. Mereka mungkin tidak tahu jika aku ini aktivis
dikampusku. Mereka mungkin juga tidak sadar bahwa aku pernah jadi seorang demonstran. Atau mungkin
aktivis dan demonstran tidaklah penting bagi mereka. Yang penting adalah keceriaan yang mereka inginkan
dalam keseharian. Semoga kalian menjadi generasi hibrida.
***
Aku berjalan pulang ke rumah melalui jalan yang sama ketika aku berangkat ke masjid. Jalanan ini dulunya
sangat gelap. Ada dua rawa masing-masing sisinya. Rawa-rawa itu dulu sering menjadi tempatku memancing
ikan bethik atau ikan gabus. Bahkan tidak jarang aku juga melihat ular melintas dirawa-rawa itu. Jalanan ini
12 Makan ketika dini hari sebelum terbitnya fajar. Perbuatan ini adalah sebuah anjuran bagi siapa yang
berpuasa dari nabi Muhammad SAW.
dulunya adalah jalanan yang menakutkan bagiku. Aku lebih memilih jalan lain untuk sampai ke rumahku
meskipun lebih jauh, dibanding harus melewati jalan ini ketika malam hari.
Di perjalanan, aku ingat gus Udin yang tadi sebelum tarawih sempat ke rumahku. Kupercepat langkahku agar
segera tiba dirumah. Aku akan ke pesantrennya. Dijalan, aku saling bersapa dengan orang yang berpapasan
denganku. Kuncir di rambutku kutarik dan terurailah rambutku. Kukibas-kibaskan rambut tersebut untuk
menghilangkan rasa gerahku.
Dari lorong samping kanan rumahku, kulihat sebuah sepeda motor telah terparkir di depan rumahku.
“Motor siapakah ini?”, tanyaku dalam hati.
Ketika aku berbelok, kulihat gus Udin sudah duduk di beranda rumah dengan abahku.
“Assalaamu ‘alaikuuum”, kuucapkan salam sambil mengurai senyum.
“Wa ‘alaikum salaaam”, abah dan gus Udin menjawab salamku. Abahku tetap duduk, sedang gus Udin
beranjak berdiri menyambutku.
Akupun mencium tangan abahku dan berjabat tangan dengan gus Udin. Agak panas tangan itu kurasakan
melalui tapak tanganku.
“Sekarang tho gus, saya ke dalam dulu yaaa”, aku mengkonfirmasikan agenda kami sebelum tarawih tadi.
“Ndak cak, kita ngobrol disini saja”, jawabnya. Walau agak setuju dengan keinginannya, aku merasa aneh
dengan keinginan itu.
Aku lalu masuk ke dalam rumah, meletakkan sorban dan melepaskan bajuku.
“Dibuatkan kopi tha Ri?”, tanya ibuku.
“Ndak apa-apa bu, jika njenengan tidak repot”, aku menjawabnya.
Beliau lalu beranjak ke belakang rumah. Kuambil sebungkus rokokku, lalu aku keluar ke tampat abah dan
gus Udin sedang duduk. Ketika aku mulai duduk di samping gus Udin, abahku beranjak dan masuk kedalam
rumah. Sepertinya beliau memberikan kesempatan pada kami untuk banyak ngobrol.
“Aku ke dalam dulu Ri, gus...”, ujar abah seperti mengizinkan dirinya.
“Iya bah...”, jawab gus Udin, aku hanya mengangguk.
Sejenak kemudian, dia kembali duduk dan tersenyum getir ke arahku. Aku juga membalas senyumannya
tanpa berkata-kata dulu. Kulihat dari dalam rumah, ibu berjalan membawa tempayan sebagai tempat dua
cangkir kopi ke arah kami. Kubukakan pintu dan menolong beliau dengan manggantikan membawa
tempayan tersebut.
“Sudah bu, biar saya yang bawa”, akupun meneruskan maksud beliau dan meletakkan tempayan tersebut
disamping gus Udin.
“Monggo13 gus, sudah lama sampeyan tidak nyruput kopinya ibu”, aku mempersilahkan gus Udin dengan
hidangan yang baru saja kuletakkan disampingnya.
“Iya cak, malah ngerepotin bu”, ujarnya sambil menoleh ke arah ibu.
“Ndak koq gus, monggo”, jawab ibuku lalu berbalik dan masuk kedalam rumah.
“Iya bu, matur nuwun14”, angguk gus Udin.
Suara anak-anak yang sedang darus di surau depan rumahku terdengar bersahutan dengan suara sebagian lain
yang sedang bergurau. Terlihat juga sebagian lagi duduk-duduk di serambi surau sambil bercengkerama.
Suara bacaan ayat-ayat al Qur’an mengalun melalui pengeras suara di surau itu. Terkadang bacaan tersebut
tersendat, berhenti dan diulang lagi. Tanda bahwa bacaan sebelumnya salah.
“Plok plok plok plok plok....” suara tepukan tanganku sambil melihat Taufik, familiku yang sedang berada di
serambi surau.
“Fiiik, tolong kesini Fik”, ucapku.
Dia lalu beranjak mendatangiku.
“Tolong cacak belikan rokok ya di warungnya mbak Mi. Salaman dulu dengan gus Udin”, aku memberikan
instruksi.
13 Silahkan, Jawa
14 Terima kasih.
“Iya cak”, dia menjawab sambil ngeloyor pergi menjalankan permintaanku setelah salaman dan cium tangan
gus Udin.
Aku dan gus Udin duduk di atas amben dengan menghadap ke selatan mengamati pepohonan bambu di
depan rumahku. Sesekali kami saling menoleh ke surau untuk memperhatikan peserta darusan tersebut.
Kuperhatikan ada “mendung” diwajahnya bak mendung yang diibaratkan lagunya Ebiet G. Ade.
“Disini enak ya cak”, komentarnya.
“Alhamdulillah gus”, timpalku sambil mulai menyulut sebatang rokok.
“Disini tidak sama dengan di tempat sampeyan. Disini orangnya tidak se-agamis dengan ditempat sampeyan.
Alhamdulillah, jamaah sholat selalu ramai, anak-anak juga kelihatan semangat mengaji, walaupun tidak ada
pesantren di kampung ini. Di kampung sampeyan pasti lebih ramai, dan mungkin tidak hanya ramai, tapi
jamaahnya pasti memiliki tingkat kekhusyu’an15 dan istiqomah16 tinggi dalam beribadah”, aku memulai
pembicaraan.
“Khusyu’ apanya caaak, istiqomah apanya caaak”, dia menegasikan hipotesisku.
“Disana khan banyak pesantren, hampir tiap kepala rumah tangga adalah kiai yang memiliki kedalaman dan
keluasan ilmu agama. Perilakunya pasti tidak jauh dari pengetahuan mereka. Berbeda dengan disini. Orang
lebih memilih menyekolahkan anaknya ke sekolah yang mereka anggap dapat mencari kerja, tanpa
memberikan pembejalaran agama yang memadai pada anaknya. Pesantren dianggap tidak penting karena
hanya mempelajari urusan akhirat yang sangat utopis. Selepas SMA atau sejenisnya, lebih baik bekerja
daripada kuliah. Di tempat sampeyan, anak yang tidak nyantri17-pun akan menjadi santri karena
terkondisikan oleh suasana pesantren yang sangat religius”, kupertahankan hipotesisku.
“Ya tidak dapat digebyah uyah18 begitu cak”, komentarnya sambil menyulut rokok juga mengikutiku.
“Yang kiai khan bapaknya, anaknya khan belum tentu jadi kiai. Yang santri khan yang biasa hidup seperti
santri”, jawabnya.
Terlihat Taufik yang tadi kuminta beli rokok terlihat berjalan ke arah kami.
“Ini cak rokoknya”, ujarnya sambil memberikan sebungkus rokok dan uang kembaliannya.
“Iya, terima kasih ya, kembaliannya kamu ambil saja buat uang saku besok sekolah. Besok masih berpuasa
khan?”, tanyaku.
“Iya cak”, jawabnya dengan sedikit senyuman. Lalu berlalu menuju surau.
Kuletakkan rokok disamping rokoknya gus Udin dan akupun kembali terfokus pada pembicaraan kami
sebelumnya.
“Anak macam khan pasti jadi macan gus, apa mungkin anak macan akan jadi kerbau”, aku membuat majaz19.
“Sekarang ini tidak dapat dipastikan seperti itu cak. Bisa-bisa bapaknya macan, tapi anaknya menjelma jadi
kucing, tidak macan lagi. Bahkan kucing garong”, ujarnya diiringi tawa kami berdua.
“He he he he he he he...”.
Tawa yang dapat dibilang sebagai afirmasi dari perumpamaan yang dibuatnya.
“Tapi kucing khan tetap kucing gus. Dia punya taring, punya raungan, punya keberanian, dan punya
kewibawaan”, protesku.
“Itu kalau kucing beneran cak, ini kucing garong koq jelmaannya”, dia mulai agak serius.
“Taring kucing tidak setajam taring macan, warna belang kucing tidak secerah loreng macan, raungan kucing
tidak sedahsyat raungan macan, dan kewibawaan kucing tidak seagung kewibawaan macan. Malah kadangkadang
orang kampung susah jika ada kucing kawin”, tawa kamipun meledak melebihi tawa sebelumnya.
“He he he he he he he he!!!!”.
“Benar juga”, gumamku sambil membayangkan kucing kawin.
15 Khusyu’, konsentrasi dalam sholat.
16 Berkelanjutan dan terus menerus, stabil.
17 Belajar di pesantren.
18 Digeneralisasi.
19 Kiasan, Arab.
Sudah menjadi kodrat Tuhan pada mahluknya, jika ada kucing jantan dan betina yang akan kawin, maka
suara keduanya akan menggegerkan orang kampung. “Meong meong meong meong..... ngaong ngaong
ngaong!!!”, suaranya silih berganti dalam waktu yang agak lama seakan-akan mereka berdua sengaja buat
pengumuman bahwa akan menikmati anugerah pemberian Tuhan yang dilimpahkan kepadanya. Walaupun
kupahami bahwa itu adalah sudah kodrat sang kucing, tapi terkadang aku juga kesal dengan kebiasaan kucing
ketika kawin seperti itu.
“Itu masih kucing biasa cak, ini kucing garong”, tambahnya.
“Jangankan orang kampung, orang sekecamatan, sekabupaten, sepropinsi atau bahkan senegara ini mungkin
akan terkena dampak kegaduhannya ketika kawin”, tawa kami kembali keluar.
“He he he he he he he he!!!”, suara tawa kami yang memancing beberapa anak di serambi surau melihat
kami.
Inilah kelebihan kalangan pesantren yang kulihat sampai saat ini. Tidak pernah habis quota joke-nya.
Setelah agak reda...
“Ayo gus, sambil dsruput kopinya”, ucapku. Akupun mengawali dengan menyruput kopi buatan ibuku. Kopi
yang kental-manis khas buatan ibuku.
“Sruuuup”, suara sruputanku dan kulihat gus Udin juga mengikuti tingkahku. Rupanya kopi ini dicampur
dengan jahe. Kuhisap dalam-dalam rokokku sambil masih membayangkan kucing kawin sebagaimana ibarat
yang diajukan gus Udin barusan.
Mungkin ada “maksud lain” dari perumpamaan gus Udin dengan kucing garong dan kucing kawin.
“Bagaimana ceritanya gus, koq bisa anak macan itu menjelma menjadi kucing, kucing garong lagi?”, tanyaku.
“Ya saya pikir karena kucing itu tidak mau meneladani ketajaman taring sang macan, tidak pernah mau
istiqomah belajar mengaum seperti macan, tidak pernah bersabar memperindah warna tubuhnya dengan
perilaku macan yang agung, dan tidak pernah berikhlas ketika melindungi kekuasannya. Dia hanya bangga
punya taring dan bangga punya loreng, walaupun loreng tubuhnya tidak menarik. Akhirnya dia hanya bisa
mengeong, tidak pernah bisa mengaum”, dia mulai menjelaskan.
“Istiqomah, sabar, dan ikhlas kata-kata kuncinya. Ada apa dengan tiga kata itu pada diri kita gus?”, tanyaku.
“Hhhhhhhhhhhh....”, suara desahnya terdengar didaun telingaku.
“Meskipun tiga hal itu memang sesuatu yang sangat berat dipelajari, atau diamalkan, namun pesantren khan
masih melakukan pengawalan terhadapnya gus”, aku menanggapi keresahannya.
“Iya cak, tapi tidak seperti dulu”, jawabnya.
“Tidak seperti dulu bagaimana gus?”, tanyaku meminta konfirmasi.
“Ya tidak seperti dulu cak”, jawabnya.
“Ada nggak kaitannya dengan kucing garong tadi?”, tanyaku sedikit membelokkan fokus agar kembali cair.
“Ada cak ada. Justru disitulah letaknya”, jawabnya sedikit bersemangat kembali.
“Begitu ya gus?”, aku berbasa-basi.
“Iya cak”, timpalnya.
Kami terdiam beberapa saat, asyik dengan hisapan rokok kami masing-masing.
“Kitab Shahih Bukhari apa masih diajarkan di pesantren gus?”, tanyaku.
Pertanyaan ini agak mengagetkannya.
“Hhhhhhhh.... tidak lagi sekarang cak”, jawabnya kembali lesu.
“Kenapa gus?”, tanyaku kaget.
Agak beberapa lama dia menunggu untuk menjawab pertanyaanku. Shahih Bukhari adalah kitab yang terdiri
dari 8 jilid berisi tentang hadis-hadis nabi Muhammad yang disusun secara berurutan sanad20nya dari imam
Bukhari sampai merujuk pada nabi Muhammad. Kitab ini diberi judul “shahih21” karena dinisbahkan –pada
kesahihan tulisan didalamnya. Pada masa aku nyantri di pesantren gus Udin dengan abahnya yang menjadi
20 Para penyampai hadis yang menerima informasi substansi hadis.
21 Dalam ilmu hadits, hadis yang shahih adalah hadis yang bersambung langsung pada nabi Muhammad
tanpa ada cacat pada salah satu sanadnya. Dalam sumber hukum Islam, hadis shahih menempati urutan
kedua pemakaiannya setelah al Qur’an.
pengasuh, kitab tersebut menjadi kitab wajib yang harus kami pelajari. Karakter khusus dari pesantren gus
Udin –dulunya—adalah penguasaan kitab ini.
“Ya, berdasarkan hasil musyawarah pengurus, Shahih Bukhari tidak lagi diajarkan pada santri. Saya sendiri
sudah bersikukuh untuk tetap diajarkan karena penguasaan kitab itu adalah karakter khusus dari pesantren
kita cak. Saya khawatir akan masa depan pesantren yang diperjuangkan abah dan para pendahulunya”, dia
agak mengeluh.
Keluhan yang berusaha kupahami tiap lekuk makna kepahitannya. Untuk sejenak aku teringat masa-masa
masih dalam bimbingan abahnya dulu. Mungkin dia juga melakukan hal yang sama denganku. Muncul
aroma kesedihan di hatiku mengingat abahnya. Tapi kusembunyikan dalam-dalam kesedihan itu.
“Mungkin ada yang harus kita sepakati gus”, ujarku kembali.
“Apa cak, masalah kucing garong?”, dia balik bertanya. Pertanyaan yang membuat kami kembali tersenyum.
“Iya, ada hubungannya gus”, jawabku.
Kuhisap rokokku dalam-dalam, sebelum mulai bicara kembali.
“Ngapunten22, saya sepakat bahwa para pendahulu kita dulu tidak langsung lahir dan menjadi macan. Ada
proses khusus yang dijalaninya, sehingga membentuk kerpibadiannya menjadi macan. Mereka memiliki
potensi diri dan tekanan sesuai dengan konteks zaman dimana mereka hidup saat itu. Situasi itulah yang
mengasah kepribadian mereka menjadi macan, tidak menjadi kucing. Saya yakin itu”, kuhentikan katakataku.
“Maksudnya apa cak?”, tanyanya.
“Kita berpotensi sama dengan mereka saat mereka masih seperti kita, masih jadi kucing garong seperti kita ini.
Karena mereka istiqomah, sabar dan ikhlas dalam menghadapi tekanan yang menghimpit diri mereka saat
itu, jadilah mereka macan. Salah saya rasa, jika kita paksakan kondisi dan problem kita kini sama dengan
problem mereka pada masa lalu. Kesamaannya mungkin keduanya adalah problem kehidupan, namun
banyak perbedaannya. Berbeda waktu, kondisi, substansi, pelaku, proses, dan sebagainya. Tinggal kita ini gus,
apa ingin menjadi macan, atau cukup puas menjadi kucing garong dengan kedok dan gaya seperti macan?”,
tanyaku padanya. Sebenarnya kuberanikan diriku untuk berkata-kata seperti itu padanya. Dia anak dari
guruku yang sangat kuhormati.
Kulanjutkan propagandaku.
“Salah jika kita paksakan diri kita sama dengan diri mereka gus. Kita hanya cukup menjaga sinar peninggalan
mereka dengan kekuatan yang kita miliki. Biarlah beliau tersenyum dalam rengkuhan rahmat Tuhan didalam
kuburnya. Dan biarlah mereka bersuka cita melihat kita jatuh bangun mempertahankan sesuatu yang mereka
perjuangkan dulu ketika masih hidup. Kecewa, gelisah, tidak terima, marah dan sejenisnya itu wajar ada di
hati kita, namun kekecewaan, kegelisahan, ketidak terimaan dan kemarahan seekor macan, tentu lain dengan
seekor kucing garong. Key word-nya saya pikir adalah diri kita sendiri gus. Istiqomahkah kita jadi macan,
sabarkah kita jadi macan, sabarkah kita jadi macan?”, kata-kataku tajam.
“Sekali macan tetaplah macan. Jangan kita paksakan hewan seisi hutan memahami proses jadinya seorang
macan menjadi raja hutan. Biarkan mereka menikmati perlindungan sang macan ketika dia sudah betul-betul
jadi macan. Marilah kita jadikan proses penjelmaan yang berat dan terkadang menyakitkan itu hanya ada
antara diri kita dan Tuhan yang mengetahui rahasia tiap atom di semesta ini. Jangan bawa dia keluar dari
dimensinya gus”, walau aku serius berkata-kata, aku tidak kuasa memandang kedua matanya ketika
mengucapkan kata-kata tersebut.
“Hhhhhhhhhhhhh......., iya cak, doakan saya cak”, ujarnya.
“Sama-sama gus”, jawabku.
Saat itu, kupikir hal terpenting dari tema pembicaraan kami sudah kuutarakan. Selanjutnya kami
bercengkerama membahas hal-hal lain menyangkut diri kami masing-masing sampai larut malam. Gus Udin
pamit dari rumahku ketika terdengar suara anak-anak patrol23 di kejauhan.
22 Maaf, Jawa.
23 Aktifitas yang hanya ada pada malam-malam bulan ramadan. Aktifitas ini biasa dilakukan anak-anak dan
pemuda yang bertujuan membangunkan warga agar bangun dan melakukan sahur.
“Semoga sampeyan dapat menjaga cahaya pesantren sampeyan gus”, gumamku dalam hati ketika berjabat
tangan dengan gus Udin saat dia pamit pulang.


Bagian 10
Bainal kafi wan nun
Penghujung bulan ramadan tahun itu, aku banyak bergaul dengan pemuda dari desaku. Kerap kali kami
bertemu ketika malam hari setelah melaksanakan shalat Isya, tarawih dan witir di tempat kami masingmasing.
Sering pula kami sengaja bertemu sebelum pelaksanaan shalat yang hanya dapat dijumpai dalam
bulan ramadan tersebut. Dalam perjumpaan itu, kamipun banyak membicarakan hal-hal yang berkaitan
dengan diri kami masing-masing. Tentang kuliah, tentang kerja, tentang masa depan, tentang pesantren,
tentang pacar, atau yang diklaim ”pacar”, bahkan terkadang juga berbicara tentang keluarga kami masingmasing.
Waktu itu kami sedang berkumpul. Ada gus Udin, Gemboek, Hagaing, Po, dan aku. Gus Udin duduk
bersandar di tembok ruang dewan asatidz1 yang ada dalam pesantrennya. Dia duduk bersila menghadap ke
barat dengan asbak tepat didepannya. Gemboek –nama panggilannya--, sedang tidur-tiduran dengan Hagaing
di sebelah utara gus Udin. Hagaing terlentang, sedang paha kirinya digunakan bantal oleh Gemboek. Po dan
aku duduk bersandar di meja menghadap ke utara. Kami baru saja ketemu setelah berbuka puasa. Kebetulan
saja masing-masing orang yang ada di majlis tersebut tidak memiliki agenda lain selain bertemu.
Adzan telah berkumandang dari loud speaker masjid yang terletak sekitar 30 meter dari lokasi kami dudukduduk.
Para santripun telah bersiap melaksanakan sholat Isya’ dan tarawih secara berjamaah. Seperti sengaja,
gus Udin membiarkan kami terus mengobrol, padahal saat itu semua manusia –kecuali kami—di pesantren
telah bersiap melaksanakan sholat Isya’ dan tarawih.
Tiba-tiba Po nyeletuk, ”ayo kita ke Ampel2 yo…”, suaranya keluar dari mulutnya yang mungil. ”Mumpung
sekarang ini malam duapuluhtujuh3”, dia berusaha meyakinkan kami dengan iming-iming pahala.
”Memangnya kenapa jika sekarang malam duapuluhtujuh ramadan Po?”, tanya Hagaing agak tidak begitu
respon atas usulan Po.
”Yaaa, kita cari pahala laaah, masak buat dosa terus”, jawab Po.
”Kalau mau pahala, tuh pijati kakiku saja, kamu pasti banyak pahala, sekalian kudoakan masuk sorga nanti”,
suara Hagaing menimbulkan Po agak kecewa. Tapi justru karena itulah tawa kami meledak.
”Atau itu Po, bak mandinya anak-anak santri masih kotor tuh. Hitung-hitung ngalab berkahnya orang yang
sedang menuntut ilmu, tolong dibersihkan dong bila ingin pahala”, gus Udin menimpali.
Tawa kamipun kembali meledak, sedangkan Po memaksa ikut tertawa, padahal dirinyalah yang sedang
dijadikan target penertawaan.
”Lha ya, wong mau cari pahala koq ke Ampel, cari pahala ya ibadah. Sholat sana yang rajin!”, Gemboek
menimpali dengan agak sewot. Yang disindir sekali lagi hanya berusaha tersenyum.
Dalam hati, harus kuakui bahwa teman-temanku ini sungguh luar biasa. Luar biasa karena mampu
melakukan kritik pada doktrin normatif-teologis yang selama ini hidup berkembang di sekeliling mereka
dengan bahasa yang lugas. Kritik atas pahala dan dosa yang sampai kini masih dirasa sangat utopis dan tidak
memiliki pondasi dalam kehidupan nyata. Dalam kata lain, tidak ada pembeda jelas antara yang berdosa dan
yang berpahala dalam kacamata realisme. Batas yang kerap kali sangat dibutuhkan dalam menopang
keimanan, namun tidak begitu diperhatikan metodologi pembuktiannya dalam sistem keyakinan yang kita
pedomani kebenarannya. Kritik yang mungkin senada dan setajam –walaupun tidak seleval—dengan
Nasruddin Khouja lewat tingkah laku gilanya. Atau se-fonem dengan Imam Sya’roni yang lebih dikenal
dengan nama Abu Nawas dengan ide-ide gilanya yang menembus batas.
1 Jamak dari ustadz, guru, Arab.
2 Komplek makam Raden Rahmad Rahmatullah Sunan Ampel yang menjadi salah satu orang dari Wali
Songo, penyebar Islam di tanah Jawa.
3 Malam duapuluh tujuh pada bulan ramadan adalah salah satu malam yang diyakini berpotensi terjadinya
lailatul qodar, malam penuh pengampunan bagi hamba Allah yang mau beribadah.
”Kamu jangan banyak-banyak pahala Po, nanti jika kebanyakan pahala, kamu nanti menjadi orang yang
paling banyak punya pahala lho. Ndah enak...”, gus Udin kelihatan meneruskan candanya. Ditangannya
sudah siap sebatang rokok yang siap disulut.
”Gak enak bagaimana?!?!”, protes Po dengan sedikit mengernyitkan keningnya.
Tak diminta, Hagaing menimpali pertanyaan Po.
”Yaaa kalau kamu jadi manusia yang paling banyak pahala, sedang yang lain hanya sedikit atau tidak punya
pahala sama sekali, nanti kamu masuk surga sendirian lho. Apa enak di surga sendirian?”, Hagaing seperti
melakukan ”skak mat” pada Po.
”Iya, apa enak kalau sendirian disana. Nabi Adam saja kepingin teman koq. Padahal dia nabi, masih saja ada
protesnya pada Tuhan. Apalagi kamu”, Gemboek menambahkan kelakar itu.
Aku hanya tersenyum melihat mereka. Inilah yang terkadang kusuka dari mereka.
Seakan tidak mau kalah, Po tetap berkomentar, ”khan enak sendirian, bisa monopoli”.
Kami hanya menimpalinya dengan tertawa.
”Ayo ke Ampel, kita sholat Isya’ dan tarawih disana, lalu ke makam mbah Ampel”, ujarku.
”Sudah jam segini cak”, sahut Gemboek.
”Memangnya kenapa?”, tanyaku.
”Wong kita ini telpon atau es em es pacar saja tidak pernah kenal waktu. Ayo!”, aku agak sedikit berlagak
serius.
”Waaah ini kelihatannya juga golongannya sama dengan Po nih, agak tamak dengan pahala”, Hagaing agak
menyindirku.
”Ini jadinya jika telinga tidak pernah disekolahkan. Repot”, aku agak menggerutu.
”He he he he he he....” Gemboek dan Hagaing terkikih-kikih. Gus Udin hanya senyam senyum saja, sedang
Po seakan menyuruhku memberikan ”perlawanan”.
”Beribadah dengan tujuan pahala, itu seperti pemuda yang cari pacar. Setelah dapat, yang disayang, dipeluk
dan diciumi bukan pacarnya, melainkan HP-nya si pacar”, gus Udin membuat perumpamaan.
“Ada pembelaan ini Mboek”, ucap Hagaing sambil menggerakkan paha kirinya. Kelihatannya paha itu agak
kesemutan.
“Tuh!!! Dengar tuh!!!”, Po merasa mendapat angin.
”Hi hi hi hi hi hi hi hi...”, Gemboek dan Hagaing cekikikan.
”Eeeeeh, malah cengengesan4! Dengarkan tuh, biar kuping kalian terbuka”, Po kembali bergaya seperti juragan
yang memarahi abdinya.
Gemboek hanya melirik gus Udin saja dengan tersenyum.
“Cerdas juga sahabatku satu ini”, gumamku dalam ruang batinku.
“Ente5 juga dengerin Po!!!”, ujar gus Udin sambil berbalik menoleh ke Po yang seperti orang menang
permainan.
Yang disuruh beringsut-ingsut mengangguk-anggukkan kepalanya tapi sambil tersenyum nakal seperti
menggoda.
Seakan-akan kami sudah sepakat dengan kesimpulan akhir tentang bagaimana menyikapi pahala, kami tidak
melanjutkan pembicaraan tersebut.
“Ayooo!!! Jadi nggak ke Ampel?”, Po kembali mempertanyakan tawarannya.
“Ayo-ayo Mboek, ayo Gaing!”, gus Udin beranjak berdiri dan mengambil kontak mobilnya.
Kami berlimapun keluar ruang dewan asatidz pesantren dan berjalan beriringan menuju sebuah mobil
berwarna biru.
“Nanti jangan lupa ngajinya setelah tarawih, saya ke Ampel dulu”, titah gus Udin pada salah seorang
santrinya yang kebetulan berpapasan dengan kami. Kelihatannya santri tersebut akan menunaikan jamaah
sholat di masjid.
4 Sinonim dengan cekikikan.
5 Sinonim dengan kamu. Berasal dari “anta”, Arab yang berarti kamu. ”Ente” adalah bahasa pergaulan di
desaku untuk menyebut orang kedua dalam pembicaraan.
Po dan Hagaing berjalan berdampingan di depan, sedang aku, gus Udin dan Gemboek berjalan beriringan di
belakang keduanya. Keduanya bertubuh tambun, akan tetapi Hagaing lebih tambun, begitu juga dengan
Gemboek. Diantara kami berlima, gus Udin dan aku yang bertubuh kurus. Tapi ada beda antara kami
berdua. Gus Udin berkulit kuning, aku berkulit hitam.
Saat itu, sirnalah “ketidaksepakatan” diantara kami berlima dalam perbincangan sebelumnya. Seperti sudah
menjadi kesepakatan, bahwa hal-hal seperti itu tidak pernah berakhir pada pertengkaran. Kami seperti
memiliki pemahaman bahwa “ketidaksepakatan” itu hanya berada dalam ruang canda dan penyegar suasana
saja. Walau mungkin temanya –bagi sebagian golongan faham keagamaan—terbilang sangat prinsipil. Sampai
kini aku bahagia punya sahabat seperti mereka.
Mobil yang kami tumpangi melaju melewati jalan-jalan di dalam kota Surabaya. Gus Udin menyopiri
mobilnya, Po duduk disampingnya, sedang aku, Hagaing dan Gemboek duduk di kursi tengah. Hatiku mulai
kutata dengan niat “sowan” ke sunan Ampel. Kubacakan surat Fatihah khusus kepadanya sebagai tanda
niatku.
***
Sengaja mobil yang mengantarkan kami berlima ke komplek makam Sunan Ampel diparkir di sebelah barat
komplek, didepan sebuah rumah sakit Islam swasta. Pertimbangan itu muncul untuk menghindari
kemacetan dan sesaknya jalanan oleh pengendara kendaraan bermotor dan pejalan kaki. Keluar dari mobil,
kami memasuki lorong-lorong rumah warga sekitar Ampel dan memotong jalan sampai ”lawang agung”
sebelah selatan. Ada dua pintu utama untuk masuk ke komplek makam sunan Ampel, warga setempat dan
peziarah menyebutnya dengan istilah ”lawang agung”. ”Lawang agung” sebelah selatan dan sebelah timur.
Biasanya, peziarah akan memasuki ”lawang agung” sebelah timur karena lebih dekat dengan lokasi parkir
kendaraan. Di ruas kiri-kanan jalan masuk, berdiri kios-kios yang menjual aneka makanan Arab dan pakaian
muslim.
Jalan kami meringgit karena sesaknya pengunjung dengan berbagai macam niat dan tujuannya. Arus peziarah
keluar-masuk komplek makam tersebut silih berganti. Sholat tarawih masih berlangsung ketika kami tiba di
komplek makam tersebut. Terlihat beberapa peziarah yang sedang dan antri mengambil air, wudlu, ada juga
yang sedang berusaha khusyu’ mengikuti shalat tarawih berjamaah, ada juga yang terlihat sedang menawar
barang pada kios-kios di sepanjang jalan. Bahkan ada juga yang terlihat asyik nongkrong di sekitar warung
kopi sambil ngobrol-ngobrol. Tampilan wajah perilaku yang berbeda-beda. Tapi satu hal yang dulu pernah
dipesankan abahku selalu kuingat.
Jangan pernah sekali-kali mengambil kesimpulan tentang sesuatu dari wujud luarnya saja di tempat seperti
ini.
Kami berlima langsung mengambil air wudlu dan menyucikan diri. Sejurus kemudian kami nimbrung di
baris shof6 jamaah sholat, namun kami membuat jamaah sendiri, karena kami belum melaksanakan sholat
isya’. Kami lalu mendapuk gus Udin untuk menjadi imam kami sholat Isya’.
”Singkat, padat, dan tepat sasaran gus”, celetuk Hagaing, seakan memberikan instruksi pada gus Udin untuk
tidak berlama-lama dalam melaksanakan sholat. Memang benar, sholat yang memakan waktu lama, tidak
menjamin datangnya kekhusu’an. Seakan memahami hidden text dari dari suara Hagaing, gus Udin
mengerlingkan mata kirinya sambil menoleh kami. ”Allaaaahu akbar”, suara takbirnya terdengar sebagai tanda
sholat Isya’ berjamaah telah dimulai. Kamipun kemudian mengikutinya setelah menancapkan niat di hati
kami masing-masing. ”Allaaahu akbar”, suara takbir kami tidak sekeras suara gus Udin.
Tidak terduga, datang beberapa orang lain yang ikut berjamaah dengan kami. Semakin lama semakin banyak.
Selepas mulutku mengucapkan ”assalaamu ’alaikum warahmatullaaaah....”, sebagai tanda berakhirnya shalat,
kulihat peserta lain yang ikut jamaah kami. Ada sekitar 50-an jamaah yang ikut sholatnya gus Udin. Dengan
kuantitas peziarah yang sedemikian banyak, dan dari berbagai daerah, hal tersebut bukanlah sesuatu yang
luar biasa.
6 Barisan sholat.
Setelah berdoa, kami lalu mengikuti shalat tarawih yang masih berlangsung di Masjid Agung Sunan Ampel
tersebut. Bacaan imam shalat terdengar fasih, tapi terasa agak lama dari tempo sholat yang biasa kami
lakukan di desa kami. Apalagi waktu sholat sendirian.
Setelah kami mengikuti sholat tersebut selama empat kali mengucapkan salam, terdengar bacaan doa. Kami
lalu mafhum bahwa shalat tarawih tersebut telah usai. Kami hanya mengikuti delapan rakaat dari duapuluh
rakaat shalat tarawih yang biasa dilakukan di masjid agung Sunan Ampel ini. Tidak ada kuliah tujuh menit.
Setelah berdoa shalat tarawih, jamah langsung melaksanakan shalat witir7 tiga rakaat dengan dua kali salam.
Kemudian bacaan doa khas yang –umumnya—hanya dibaca pada pada bulan ramadan dikumandangkan dan
terdengar mengalun hikmat dari pengeras suara di masjid tersebut. Dengan usainya bacaan tersebut, maka
rangkaian sholat isya’ dan tarawih telah kami lakukan.
”Bagaimana ini cak, apa kita langsung ke makam?”, tanya gus Udin padaku.
”Iyalah, mumpung belum begitu ramai. Nanti semakin malam semakin ramai”, aku menjawab sambil
membetulkan letak kopyah putihku.
Memang pada malam-malam bulan ramadan, keramaian peziarah di lokasi masjid agung Sunan Ampel
melebihi hari-hari lainnya. Apalagi pada ”asyru al awakhir”8 dari bulan puasa tersebut.
”Nanti setelah dari makam, kita ngopi di situ, tempat biasa” aku menoleh ke satu pojok tempat di lorong kios
yang memang biasanya menjadi tempat kami ngopi ketika berziarah. ”Beres caaak”, seakan-akan sudah tahu
akan maksudku, mereka berempat serentak menjawab suaraku.
Kami berlimapun mulai keluar dari masjid dan menuju lokasi makam untuk berdoa di sana. Terdengar suara
para pedarus al Quran yang melantunkan ayat-ayat suci kitab umat Islam di sekitar lokasi tersebut. Seakanakan
mengiringi sesaknya peziarah yang memadati komplek masjid dan pemakaman tersebut. Jam di dinding
masjid menunjukkan saat itu pukul 21.15 WIB.
Kami berjalan beriringan. Hagaing dan Gemboek sengaja kami mandatkan untuk berjalan di depan, sedang
aku, gus Udin dan Po berjalan di belakangnya. Tujuannya jelas, agar dapat membuka arus peziarah yang sesak
tersebut dengan badan mereka yang ”berbobot”. Tubuh kami saling berhimpitan dengan tubuh peziarah lain.
Tua, muda, laki-laki, perempuan, dan anak-anak saling mendesak kami dari berbagai arah. Kondisi yang
rawan pencopetan. Untunglah dompet kami tinggal di mobil. Di sakuku ada uang pecahan 25.000.00 yang
sengaja kusiapkan untuk mengisi kotak amal dan jatah ngopi selepas berziarah nanti.
Akhirnya kami sampai di gapura pertama menuju makan. Ada beberapa genuk9 berisi air dengan kran di atas
lubangnya dan cangkir-cangkir kecil yang diikat seutas tali pada tiap kran. Genuk berisi air itu memang
disediakan khusus untuk para peziarah yang memerlukan minuman. Air didalam genuk tersebut diambil dari
air sumur yang dibuat sunan Ampel. Sumur itu sendiri sebenarnya terletak di dalam masjid sisi kiri. Sekarang
sudah tertutupi dengan marmer lantai masjid. Tapi dapat dibuka sewaktu-waktu oleh pengurus takmir
masjidnya.
Dengan berusaha bersabar, rombongan kecil kami berhasil memasuki lokasi pemakaman setelah melewati
gapura ketiga yang menghubungkan halaman makam dengan lokasi pemakaman sunan Ampel. Badan terasa
sudah berkeringat akibat desakan dalam perjalanan ke lokasi makam. Kami lepas sandal dan kami letakkan
pada posisi yang dalam hemat kami akan aman dari para kaki jahil yang menguji keikhlasan kami.
”Disana gus”, aku berkata sambil menggerakkan kepalaku ke sebuah ruang kosong di sisi pojok pemakaman
yang berlantai batako. Hampir seluruh komplek pemakaman tersebut telah penuh oleh para peziarah dengan
bacaan mereka masing. Ada yang terlihat berzikir dan berdoa sendirian, ada yang dengan romobongan kecil
sekitar dua sampai lima orang, ada juga yang dalam rombongan besar sekitar limapuluhan orang. Suara
mereka saling bersahutan sesuai dengan intonasi yang keluar dari mulut mereka masing-masing. Dengan
berkali-kali mengucapkan permisi pada peziarah yang telah duduk dan berzikir, kami berusaha menuju
tempat kami tuju. Sampailah kami di tempat tersebut.
7 Shalat sunnah yang dilaksanakan dalam bilangan ganjil pada jumlah rakaatnya.
8 Sepuluh hari terakhir dari bulan ramadan.
9 Gentong tempat air minum
Kami duduk saling merapat menghadap ke timur dan berusaha mengutuhkan kelompok kami. Untuk
keselarasan bacaan, kami minta gus Udin untuk memimpin agenda ziarah tersebut. Dia mulai membaca
washilah10 kepada beberapa orang kami yakini memiliki derajat sangat dekat dengan Tuhan. Kami berusaha
khusyu’ mengikutinya dengan berusaha menghalau hegemoni suara-suara peziarah lain dalam sistem
konsentrasi diri kami. Kepala kami agak sedikit tertunduk. Terkadang bacaan washilah gus Udin kalah
dengan hiruk-pikuk bacaan peziarah lain, sehingga kami berusaha ”nguping” tiap kata yang terlontar dari
mulutnya. Seperti kompetisi suara burung saja.
”Bismillaahirrohmaanirrohiiim, Yaasiiiin.... walqur’anul hakiiim... innaka laminal mursaliiin...” terdengar suara gus
Udin mulai membaca ayat-ayat awal dari surat Yasin. Kamipun juga mulai membaca surat itu mengiringi gus
Udin.
”Duk!!!”, lutut kananku terdepak kaki seorang peziarah yang kebetulan lewat di sampingku. Aku tidak
berusaha menggubrisnya. Bahkan aku sama sekali tidak melihat sosok utuh dari pendepak tadi. Yang kulihat
hanya kain sarung putih yang sudah usang dan tidak licin lagi helai kainnya. Batas ujung kainnya hanya
beberapa jari di bawah lutut. Mungkin sudah terlalu sering dipakai olehnya. Kakinya sepintas terlihat hitam
tidak bersandal. Bau tak sedap –mungkin—keluar dari kaki dan sarung tersebut. Kulihat kaki itu berjalan ke
arah depanku. Aku berusaha hanya fokus dan mendalami dari apa yang kubaca.
”Duk!!!!!”, lutut kananku kembali terdepak dari belakang. Kali ini lebih keras dari yang sebelumnya. Walau
tidak seberapa sakit, aku agak kaget juga. Tapi aku tetap berusaha tidak menghiraukannya. Kulihat kaki dan
sarung yang mirip dengan pendepak pertama tadi.
”Mungkin orang ini bingung untuk memilih tempat yang ingin ditujunya”, pikirku.
Aku berusaha tidak memperdulikannya.
”Fasubhaanalladzii biyadihii malakuutu kulli syai’iiwwailaihi turja’uuun...”, ayat ke-83 dari surat yasin telah selesai
kubaca. Berdasarkan kebiasaan saat berziarah, kami mulai bersiap membaca surat al Ikhlas, al Muawwidzatain,
al Fatihah, ayat Kursi, dan baqiyah al shalihah lain. Namun tiba-tiba.
”Duk!!!!!!”, lutut kananku kembali tersepak oleh sesuatu yang kualitas sepakannya melebihi dua sepakan
sebelumnya. Aku kaget sambil agak meringis kesakitan. Kulihat sarung dan bentuk kaki yang sama dengan
dua pendepak sebelumnya.
Aku agak emosi.
Kudongakkan kepalaku. Kutangkap sosok pria tua dengan pakaian putih yang juga sudah kekuningkuningan.
Kuning yang bukan motif, namun karena usang. Dua kancing terbawah tidak dimasukkan pada
lubangnya, jadi terlihatlah ikatan sarung yang dikuatkan dengan ikatan sabuk lebar berwarna hijau. Kelihatan
pula –walau remang-ramang—kulit perutnya yang keriput. Postur tubuhnya kelihatan lebih pendek dariku,
mungkin sama dengan tinggi badan Po. Wajahnya hitam dan terbingkai dengan kulit keriput di ruas-ruas
sisinya. Kutatap dia dengan sorot mataku setajam-tajamnya ke wajah tua tersebut. Dua alisku seperti berharap
akan bersambung. Kepalaku kugeleng-gelengkan sambil berdesis menahan amarah kepadanya.
”Shhhhhhhhhhh..... ck ck ck ck ck”, begituah kira-kira dengan apa yang kulakukan.
Dia malah tersenyum dengan citra agak mendikte kemarahan yang kutunjukkan. Sungguh. Aku bertambah
marah sebenarnya dengan apa yang dia perbuat padaku.
Tapi syukurlah. Lokasi dan situasi menyebabkan aku tidak melakukan yang selebihnya dari kemarahan itu.
Walaupun terselip juga keinginan untuk melakukan sesuatu yang tidak hanya sebatas desis dan geram
kemarahan. Kuarahkan segenap konsentrasi pada aktifitasku semula.
Akhirnya, gus Udin menggiring kami untuk membacakan surat al Fatihah beberapa kali lagi sebagai washilah
pada beberapa kekasih Tuhan, khususnya sunan Ampel yang sedang kami sowani11. Akupun didapuk untuk
memimpin doa sebagai penutup rangkaian zikir kolektif yang telah kami lakukan. Tidak ada alasan karena
kesalehan tertentu, sehingga aku diminta mereka berempat berdoa. Hanya pertimbangan umur yang
beberapa tahun lebih tua saja permintaan itu dialamatkan padaku. Untuk keadilan peran, okelah. Akupun
mulai berdoa dengan di-ami-ni oleh Hagaing, Gemboek, gus Udin dan Po. Aku tidak berusaha mengeras-
10 Pembacaan doa –biasanya surat al al Fatihah—kepada orang-orang yang dianggap dicintai Tuhan.
11 Bertamu kepadanya.
ngeraskan suaraku sebagai upaya menandingi riuhnya suara bacaan al Qur’an dan zikir para peziarah lain.
Tuhan Maha Mendengar doa kami. Mokhal12 bagiNya memerlukan review atas doa-doa yang telah kami
panjatkan. Jangankan doa, keadaan semut kecil nan hitam yang berada di lubang tanah yang sempit dan
gelap gulita sekalipun, pasti berada dalam pengawasan-Nya Yang Maha Pemelihara.
Kami usapkan dua tapak tangan pada wajah kami masing-masing sebagai tanda bahwa doa yang kami
panjatkan telah menemui muara perjalanannya. Lalu sejenak kemudian kami saling asyik dengan bacaanbacaan
kami sendiri. Sudah menjadi kebiasaan kami ketika melakukan ziarah seperti itu untuk membaca
surat Yasin, berzikir dan berdoa secara kolektif, lalu disusul dengan zikir secara individual sebelum
mengakhiri ritual ziarah. Itu kami lakukan ketika kami berziarah secara berkelompok. Namun jika berziarah
kubur secara individual, cukuplah kami langsung membaca surat Yasin, berzikir dan berdoa sesuai dengan
dorongan hati kami masing-masing.
Walaupun ziarah kolektif telah usai, namun ziarah individual belumlah usai. Masing-masing diri kami
berzikir dengan bacaan berdasarkan pilihan dan kecenderungan kami masing-masing.
Satu persatu dari kami berlima, beranjak dari lokasi kami berzikir malam itu setelah menyelesaikan bacaan
zikir individualnya masing-masing. Aku menjadi orang ketiga yang beranjak dari tempat kami duduk setelah
Po dan Gemboek lebih dulu beranjak lebih dulu. Kulihat gus Udin dan Hagaing masih asyik dengan bacaan
zikirnya.
”Puk”, kutepuk bahu gus udin dan berbisik dengan mendekatkan mulutku ke telinganya. ”Saya tunggu di
tempat ngopi gus”, diapun mengangguk tanpa menoleh padaku. Sepintas Hagaing juga kulihat menyimak
bisikanku pada gus Udin. Akupun beranjak pergi dari tempat itu ke tempat yang telah ada dalam bayangan
pikiranku.
***
Aku berjalan sendirian keluar melewati gapura pertama dari komplek makam setelah beberapa saat mencaricari
”bakiak bajul”ku yang berhamburan dari tempat dimana benda tersebut kuletakkan. Ada juga beberapa
bakiak yang sama dengan bakiak-ku. Hanya perasaan dan kenyamanan ”khusus” yang dirasakan oleh kakiku
saja kugantungkan kepastian untuk memilih beberapa bakiak yang mirip di tempat itu.
Kupepetkan badanku ke tembok komplek makam dengan harapan aku lebih lancar keluar dari arus keluarmasuk
peziarah di komplek tersebut yang semakin ramai. Lebih ramai dari saat aku masuk tadi. Aku
berusaha mencapai salah satu genuk untuk meminum air didalamnya. Setelah kulewati makamnya mbah
Shonhadji atau yang biasa disebut dengan ”mbah bolong”, aku memotong arus peziarah dari sisi timur menuju
barat. Hanya beberapa meter saja ruas arus manusia itu, tapi aku kesusahan juga. Karena tiap mencoba
badanku selalu terpental, maka kugunakan ”jurus” lain. Kususuri terus tembok tersebut sampai melewati
lokasi genuk, lalu aku berbalik mengikuti arus masuk peziarah dan mendekatkan diriku ke genuk tersebut.
Berhasil. Tidak ada secangkir kuminum air genuk tersebut. Legalah perjuanganku. Akupun kembali
menggunakan ”jurus” yang sama untuk kembali pada tujuanku, keluar dari komplek makam.
Dalam kondisi seperti itu, butuh kekhusyu’an ekstra demi menyelamatkan derajat keimanan kita dari nafsu
hayawaniyah13 yang sangat berpotensi datang dan menggoda. Dalam himpitan dan desakan sehalus apapun,
jika himpitan dan desakan tersebut dilakukan oleh orang yang tidak kita sukai, pasti akan membawa
kemarahan pada diri kita, termasuk aku. Sebaliknya, jika himpitan dan desakan tersebut dilakukan oleh
orang yang kita suka, maka akan membawa ”kenyamanan” tersendiri dan terkadang kita harap-harapkan.
Jika himpitan dan desakan dilakukan oleh sesama lelaki, baik tua atau muda, atau ibu-ibu yang terkadang
seenaknya mendesak dan menginjak kaki tetangganya, maka akan muncul kemarahan darinya. Akan berbeda
”rasa” himpitan dan desakan yang dirasakan, jika sang pelakunya adalah seorang gadis terhadap remaja, atau
sebaliknya. Muncul ”aroma lain” dari desakan itu. Kupikir hal itu sangatlah manusiawi. Tapi karena itulah
12 Tidak mungkin.
13 Nafsu kebinatangan
baju keikhlasan kepada, karena dan dalam Tuhan menjadi kurang pantas lagi karena menyandang sorban
kenistaan.
Kulihat jam di dinding masjid menunjukkan pukul 00.15 WIB dini hari.
Kupercepat langkahku untuk cepat sampai di warung kopi tujuanku, walaupun juga agak sia-sia karena
tertahan oleh barisan manusia di depanku. Akhirnya aku sampai juga di tempat itu. Telah banyak orang lain
yang telah asyik dengan minuman, rokok, obrolan dan makanan kecilnya masing-masing di tempat itu.
Kutebarkan pandanganku ke lokasi tersebut dengan harapan kutemukan sosok Po dan Gemboek yang telah
menyelesaikan wiridannya terlebih dulu. Tapi tubuh mereka tidak kutemukan diantara orang-orang yang
duduk di tempat itu.
”Mungkinkah mereka ngopi di tempat lain?”, gumamku dalam hati.
”Ah tidak, kita sudah terbiasa ngopi disini”, kujawab sendiri pertanyaanku tersebut.
”Ataukah mungkin mereka sedang berjalan-jalan melihat-lihat dagangan penjual di sepanjang pintu masuk
tadi?”, aku bertanya lagi pada hatiku.
”Mungkin saja, tapi kalau aku jadi mereka, aku tentu enggan karena ramainya peziarah”, kujawab lagi
pertanyaan itu.
”Atau mungkinkaaah..., aaah biarlah”, aku mencoba ambil keputusan.
”Dimanapun mereka, pasti nanti kesini, wong gus Udin dan Hagaing masih di dalam dan akan kesini.
Kutunggu saja sambil ngopi”, akhirnya aku memastikan keputusanku.
”Kopi buk, tapi agak pahit”, pintaku pada ibu penjual kopi.
”Enggih lek, tung14?”, dia ganti bertanya. Aku hanya mengangguk saja.
Dari jawaban yang keluar dari mulutnya, kupastikan ibu tersebut berasal dari Pulau Garam, Madura.
Kubeli lembaran koran seharga seribu dari anak-anak kecil yang berjualan kertas koran dan kresek di sekitar
lokasi masjid tersebut. Kupilih tempat yang agak longgar diantara pengunjung warung kopi. Kugelar
lembaran koran itu di atas batako dan lalu aku duduk diatasnya. Beberapa kerumunan orang yang juga
sedang ngopi duduk saling berhadapan di samping kanan-kiri dan belakangku. Sengaja kuhadapkan diriku ke
barisan arus keluar-masuk peziarah dengan harapan dapat menangkap sosok keempat rekanku ketika mereka
melintasi arus tersebut. Kukeluarkan sebungkus rokok kretek dari dalam saku bajuku. Kuambil sebatang
dean kusulut dengan korek gas milik gus Udin, dan kuhisap dalam-dalam.
”Clek clek clek... hhhhhhhh... hshshshshshsh...”, begitulah. Aku mulai melakukan pengamatanku pada tiap sosok
peziarah yang melintas di depanku.
”Nunggu siapa dik?”, tiba-tiba ada suara yang bertanya di samping kananku.
Kutolehkan wajahku ke arah suara itu datang. Aku terkejut. Ternyata suara tersebut keluar dari mulut si
kakek yang tadi mendepak lututku sampai tiga kali dan sempat menimbulkan kemarahanku. Darimana
datangnya orang ini, tadi khan tidak ada ketika Spontan kupasang wajah agak marah padanya, walaupun
masih ada bawah level kemarahanku tadi di makam. Tapi sebagai penghormatanku padanya, kujawab juga
pertanyaan itu.
”Nunggu kawan mbah, masih didalam makam”, jawabku sambil mengalihkan pandanganku darinya.
Sengaja aku tidak mengindahkannya dengan memberikan perhatian berlebih padanya. Kutundukkan
wajahku sambil tangan kiriku memijat-mijat tapak kakiku sendiri.
Tangan kanan si-mbah ini kemudian terjulur kedepan mukaku beberapa jengkal dan mengganggu
pandanganku ke koran yang menjadi alasku duduk. Mau apa dia?
”Ya salaman dulu laaah, kita ini khan masih saudara”, suaranya serak dan agak meledekku.
Kami memang seagama, maka kami juga bersaudara. Bahkan jika dia bukan muslimpun kami juga masih
saudara karena sama-sama keturunan Adam dan Hawa. Tangan kananku menyambut uluran tangannya
untuk bersalaman. Tapi wajahku tidak kurobah dari posisi asalnya.
”Maafkan saya jika tadi sampeyan anggap saya telah mengganggu sampeyan”, ujarnya.
Aku diam saja dan tidak berusaha menanggapi perkataannya.
14 Iya dik, satu saja?
”Saya ini minta maaf karena mungkin tidak ada kesempatan lagi bagi saya untuk meminta kepada sesama.
Makanya saya minta maaf pada sampeyan”, ujarnya.
Aneh. Aku seperti terbawa untuk mau memahami ucapan tersebut. Beberapa saat kami terdiam.
”Sama-sama mbah, saya juga minta maaf”, ujarku sambil menoleh kepadanya.
Pembantu si penjual kopi datang ke arah kami dan membawa dua cangkir kopi dan meletakkan kedua
cangkir tersebut di hadapan kami.
”Saya cuma pesan satu koq mbak”, aku melakukan klarifikasi.
”Saya yang pesan dik”, mbah disampingku menjawab klarifikasiku sebelum pembawa kopi tersebut
menjawab. Akupun mafhhum.
”Saya ini dulu seorang bromocorah15 dik”, dia seperti ingin bercerita tentang dirinya padaku. Lalu dia
keluarkan sebungkus rokok klobot16 dari tas yang ada di delakangnya. Tas yang terbuat dari karung goni.
Sepintas kakek ini seperti pengemis. Dia menyulut rokok klobot tersebut dengan menggunakan korek gasnya
yang bermodel klasik. Pipi keriputnya kempat-kemput berjuang menyulut rokok tersebut. Kuperhatikan saja
tingkah orang tua ini. Tapi aku tetap diam tidak berusaha menanggapi.
”Hampir semua dosa sudah pernah kulakukan. Aku punya sekian banyak kesaktian. Belum ada orang yang
mampu mengalahkanku dalam hal kedigjayaan. Hhhhhhhhh...”, dia menarik nafas panjang setelah berkatakata.
”Lalu....”, kata-katanya terhenti.
”Kenapa mbah”, tanyaku. Aku mulai berpikir bahwa orang ini sedang dalam pendakian memahami kearifan
Tuhan. Mungkin aku dapat membantunya. Aku agak percaya diri. Kulihat senyuman tipis seperti sebuah
hinaan tersungging dari bibirnya.
”Mungkin dia menghina dirinya sendiri”, pikirku.
”Suatu saat, ketika aku mau berbuat dosa, tidak terduga muncul bayangan wajah putriku melintas di depan
mataku. Kuhalau bayangan tersebut agar menjauh, dan aku tetap melakukan perbuatan dosa tersebut”, dia
menarik nafasnya kembali dalam-dalam.
Aku mendengarkan dengan seksama dengan harapan akan memberikan saran yang mungkin dibutuhkannya
di akhir cerita nanti.
”Aku lalu pulang. Ternyata putriku yang wajahnya melintas di hadapanku tersebut sudah meninggal dunia.
Dunia terasa akan kiamat. Badanku lunglai. Kuanggap diriku adalah orang paling berdosa”, matanya melihat
lalu-lalang peziarah tapi kosong menerawang.
”Terus mbah?”, tanyaku.
”Tidak hanya itu. Beberapa waktu kemudian istri dan anak-anakku lainnya menyusul meninggalkanku.
Mereka meninggal juga”, dia tetap menerawang.
”Maaf mbah”, aku ganti meminta maaf padanya. Mungkin pertanyaanku menggugah kedukaan di hatinya.
Tapi aku merasa tidak begitu bersalah karena dia sendiri yang memulai cerita. Dia tidak menjawab
permintaan maafku, mungkin dia sudah menyadari bahwa cerita tersebut tidak datang dariku, melainkan
dari dirinya sendiri.
”Aku merasa tidak dipercaya Allah untuk mendidik anak dan istriku dik. Mungkin karena kelakuanku,
sehingga aku tidak dipercaya lagi”, dia menyambung ceritanya.
”Aku lalu berguru tentang agama pada salah seorang ulama di Cirebon. Kudalami agama agar dapat
dipercaya Allah lagi”, katanya.
”Kenapa mbah, Allah khan selalu berikan rahmatnya pada kita tanpa kita minta”, aku mulai menanggapi.
”Jika kita tidak percaya padaNya, itu tidak akan mempengaruhi kekuasaanNya pada semesta ini. Tapi jika Dia
tidak percaya pada kita, apa jadinya diri kita ini?”, kata-katanya ada benarnya juga. Aku hanya menganggukangguk
saja.
Agaknya dia ingin meneruskan ceritanya.
15 Penjahat dan pembuat onar.
16 Rokok yang dibungkus batangnya dengan klobot, pelindung biji-biji jagung.
”Lalu oleh guruku aku disuruh berziarah ke sebuah makam. Saat itu aku tidak tahu itu makam siapa. Aku
hanya disuruh untuk berdiam disana untuk berzikir dan mengkhatamkan al Qur’an. Aku dilarang
meninggalkan tempat itu sebelum mengkhatamkan al Qur’an”.
”Dimana makam itu mbah”, tanyaku.
”Itu tidak penting, yang penting pengalamanku melakukan perintah guruku di makam itu”, ujarnya
mengalihkan content pertanyaanku.
”Penting bagaimana mbah?”, aku terpancing juga.
”Tiap akan mengkhatamkan al Qur’an, dari dalam makam itu pasti muncul gangguan sehingga aku urung
mengkhatamkan al Qur’an sesuai perintah guruku”, ucapnya.
”Gangguan apa mbah?”, tanyaku tertarik.
”Muncul makhluk mengerikan yang tidak tahu datangnya dan menakutkan nyaliku. Aku lari tunggang
langgang dan gagal meleksanakan perintah guruku”, ujarnya sambil tetap tidak menoleh padaku.
”Seperti apa mengerikannya mbah?”.
”Yaaa mengerikan sekali. Belum pernah kulihat sosok seangker itu”, kata si mbah sambil menggelenggelengkan
kepalanya.
”Berkali-kali kucoba, berkali-kali itu pula aku gagal”, dia mulai menyruput kopinya. Aku juga melakukan hal
yang sama.
”Sampai suatu saat, aku merasa capek juga”, kata-kata orang tua ini mulai menampilkan indikasi sebuah
kesimpulan.
”Kulakukan perintah guruku selama beberapa hari, dan sebelum khatam kubaca al Qur’an, muncul mahluk
yang mengerikan menggangguku. Aku lalu bangun dari tempatku. Kudekati mahluk itu, kupegang dan injakinjak
sekuat tenagaku. Aku kesal dengannya karena terus-terusan menggangguku. Mahluk itupun sirna. Tapi
aku merasa gagal. Aku menghadap guruku dan mohon maaf karena tidak sanggup melaksanakan
perintahnya. Aku menangis di pangkuan beliau. Tapi beliau malah menganggap apa yang telah kualami
sebagai sebuah keberhasilan”, kata-katanya meluncur memasuki ruang dengar telingaku.
Aku sempat berpikir orang ini mengada-ada. Tiba-tiba tampak serombongan peziarah berbaju putih-putih
dan semua mereka bersorban. Ada keteduhan di wajah kesemua orang di rombongan itu. Dengan
penglihatanku, kusimpulkan mereka ini orang-orang baik. Mereka berjalan dari utara dan akan melintas di
depan kami. Sangat terlihat jika perhatian mereka hanya terfokus pada tujuan mereka sendiri. Mereka tidak
terlihat peduli dengan situasi yang mengelilinginya. Sekonyong-konyong, salah seorang dari mereka melihat
ke arah kami lalu berhenti dan meminta kawan-kawannya berhenti juga. Mereka lalu mendatangi kami
dengan bersemangat.
”Assalaamu ’alaikum”, ucap salah seorang dari mereka ketika posisi mereka kira-kira masih sepuluh meter
dari tempat kami duduk.
”Wa ’alaikum salaaam”, aku menjawab lirih. ”Siapa yang mereka tuju, apakah diriku, aku tidak kenal
mereka?”, aku agak keheranan.
Sejurus kemudian mereka membungkukkan badan dan menyalami dan mencium tangan si kakek tua
temanku ngobrol tadi. Dari sikap mereka, kusimpulkan bahwa romobongan tersebut sangat menghormati
orang tua ini. Mereka tidak sedikitpun menghiraukanku.
”Siapa kakek ini?”, tanyaku dalam hati.
”Sudah sudah....”, ucap si kakek sambil beranjak berdiri dan mengajak mereka pergi berbalik dari arah
rombongan tersebut datang.
”Saya pamit dulu ya dik, salam alaikum”, ujarnya padaku.
”Wa ’alaikum salam”, jawabku agak heran dengan yang barusan kualami.
Orang-orang di sekelilingku agak heran juga menyaksikan apa yang baru saja terjadi. Belum usai
keherananku, Hagaing, Gemboek, Po dan gus Udin muncul dan menyapaku.
”Sampeyan kemana saja cak, kami cari tidak ketemu-ketemu”, ucap Hagaing.
”Lho, aku dari tadi keluar makam ya disini, tidak kemana-mana”, ucapku membela diri.
”Ah, tadi aku kesini juga tidak lihat sampeyan koq”, Hagaing kembali membenarkan dirinya.
”Benar cak”, kata Gemboek.
”Kamu ngantuk mungkin. Sudahlah, ayo ngopi”, ujarku sambil bersiap duduk kembali.
”Kita pulang saja cak, sudah jam tiga nih. Kita sahur dirumah saja”, Po menolak ajakanku.
”Ah, masak sudah jam tiga”, ujarku agak tidak percaya.
”Jam berapa mas sekarang?”, tanyaku pada orang dibelakangku yang terlihat memakai arloji.
”Jam tiga lebih lima menit mas”, jawabnya. Kawan-kawanku berempat hanya senyam senyum saja.
”Repot, ini namanya belum tua sudah pikun”, Gemboek menggodaku.
”Masak sudah jam tiga, perasaan tadi hanya lima atau sepuluh menit aku duduk disini”, ujarku sambil
melangkah ke ibu penjual kopi untuk membayar kopiku.
”Berapa bu, kopi dua”, kulihat si orang tua tadi belum sempat membayar kopinya.
”Sudah dik, sudah dibayar orang tua tadi”, ucap ibu penjual tersebut.
”Apa betul bu, dia khan belum sempat bayar karena langsung pergi?”, aku tidak percaya.
”Sudah mas, sudah”, ibu tersebut tetap bertahan pada pendiriannya.
”Ya sudah jika begitu, terima kasih”, ujarku sambil berbalik menuju empat sahabatku yang cengengesan
memperhatikanku.
”Kenapa cak, kedatangan pikun lagi?”, tanya Po dengan iringan senyuman keempat manusia tersebut.
Aku tidak menjawabnya dan langsung berjalan ke tempat parkir mobil kami. Mereka berempat seperti
sengaja berjalan di belakangku dan membiarkanku berjalan sendirian di depan mereka.
”Hati-hati cak, nanti tersesat lho”, ujar Hagaing dari belakang.
Tidak kupedulikan ledekan itu, aku hanya geleng-geleng kepala saja.
***
Di sepanjang perjalanan pulang dari makam Sunan Ampel, kuingat-ingat orang tua teman ngopiku tadi. Aku
berpikir-pikir sendiri dalam benakku.
”Siapa orang itu? Dia minta maaf padaku karena khawatir tidak akan punya kesempatan lagi untuk meminta
maaf. Mengapa orang-orang tadi menyalami dan menghormatinya? Siapa dia sebenarnya? Mungkinkah dia
menyindir kebodohan keimananku? Mungkinkah dia sengaja mendepak lututku tadi untuk menguji
kesabaranku? Tidak mungkin dia orang biasa, jika melihat perlakuan orang-orang tadi padanya”, aku
bertanya-tanya sendiri.
Yang jelas.
Aku telah tertipu dengan pandangan mata dan kepandiran hatiku memahai realitas. Kuanggap yang terlihat
putih pasti ”putih”. Kuklaim yang buruk rupa pasti ”buruk hati”. Tidak kupahami rahasia Tuhan ketika Dia
ciptakan perbendaharaan dunia antara dua huruf ”kaf” dan ”nun”. Kulewatkan rahasia huruf ”lam” dan
”mim” yang masih tetap menjadi misteri bagi kebodohan imanku.


Rencana Penulisan Novel Santri
Judul : Spesies Santri
Ancangan daftar isi
Bagian 1 : Kemunafikan yang Percuma = gus yang munafik
Bagian 2 : Darah biru = cerita keluarga
Bagian 3 : Sangkar emas = tuntutan sosial
Bagian 4 : Dibuang untuk belajar = roman belajar
Bagian 5 : Tuntutlah aku = tuntutan ketika kembali dari pondok
Bagian 6 : ana urid, anta turid, wallahu la yurid = roman cinta
Bagian 7 : PR untukmu nak = kewajiban untuk pesantren
Bagian 8 : Kuburan tua = refleksi transendental
Bagian 9 : Cahaya = sinar pesantren yang mulai redup
Bagian 10 : bainal kafi wan nun = pencerahan
Glossary

di Apload 01 januari 2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar